Share

Bab 7

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-04-17 17:27:52

Cahaya matahari mulai mengintip dari balik gorden, menandakan jika waktu sudah mulai pagi.

Aluna mulai membuka matanya dan menyadari jika dirinya sedang berada di kamar hotel tempat acara berlangsung tadi malam. Saat ia ingin menggerakkan tubuhnya, ia sadar jika ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.

“Jam berapa Mas Ragil masuk ke kamar, ya. Kok aku nggak kebangun,” gumamnya.

Aluna menyingkirkan tangan itu dari perutnya sebab ia yang mau bangun. Namun saat telapak tangannya menyen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 83

    Aluna mengemudikan mobilnya tanpa arah. Untuk pulang ke rumah pun rasanya enggan, karena pikirannya saat ini masih kusut. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan mengendarai mobil putih kesayangan itu membelah jalanan kota Jakarta, walau dirinya sendiri sama sekali tidak punya tujuan yang pasti.Di telinganya suara bentakan keras dari Ragil dan untaian kalimat provokasi beracun dari Anggun masih saja berdenging kencang, seolah-olah kedua orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Hal ini terus-menerus menyiksa batinnya.“Dia pantas, Luna! Aku yang lebih tahu dia seperti apa! Aku yang tahu kemampuan dia!”“Pak Ragil benar-benar pria yang sangat menepati ucapannya jika menyangkut kenyamanan saya…”“Aku yakin kalian berdua punya hubungan istimewa. Kamu tidak mungkin membelanya segila itu jika dia hanya sebatas sekretaris biasa!” Aluna bermonolog lirih dengan suaranya tercekat di tenggorokan.Kedua tangan Aluna menggenggam erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah canti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 82

    “Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 81

    “Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 80

    Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 79

    Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 78

    “Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 39

    “Aku pulang dulu ya, Lun,” pamit Ririn saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.“Kok cepat?” tanya Aluna dengan nada sedikit kecewa.“Aku mau tidur bentar dulu sebelum nanti piket malam,” jawab Ririn yang sudah berdiri.“Iya deh,” ucap Aluna dengan nada lesu. Ia ikut berdiri dan mengantarkan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 38

    Hari demi hari berjalan dengan ritme yang sama. Ragil masih tetap sibuk dengan pekerjaan margernya di Hongkong.Pria itu masih terus menghubungi Aluna walau hanya sebentar di waktu-waktu tertentu. Meski hanya mengirim pesan singkat atau hanya menelepon sebentar, Aluna tetap menunggunya setiap hari.

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 36

    Sejak malam mendengar suara Anggun itu, Aluna kembali banyak diam. Ia memang tidak menangis. Aluna juga tidak bertanya lebih jauh pada Ragil. Namun pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan yang berusaha ia tepis sendiri.Hampir setiap pagi, siang, bahkan malam sebelum tidur, tangannya tanpa s

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 35

    Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang untuk Aluna. Setidaknya itu yang ia rasakan setelah video call malam itu bersama Ragil.Walau hanya sebentar karena Ragil yang masih dipenuhi urusan pekerjaan, Aluna tetap merasa bahagia karena pria itu kembali memperhatikannya. Bahkan beberapa hari setela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status