ログインBaru saja kaki Aluna memijak lantai marmer ruang tengah rumahnya, ponsel yang sejak tadi terus berada dalam genggaman eratnya bergetar panjang. Nama ‘Ayah’ terpampang jelas di layar kaca.Aluna menarik napas pelan, mencoba menetralkan sisa-sisa sesak di dadanya sebelum menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Yah…”“Nak, Ayah dengar dari orang rumah katanya kamu di rumah sakit?! Gimana kondisimu sekarang? Apa yang sakit? Bagian mana yang kram?” tanya Pak Beni beruntun tanpa jeda dengan suara baritonnya. Dari suaranya terdengar jelas bagaimana paniknya pria tua itu.Aluna tertawa pelan dan tipis yang ia paksakan untuk menyembunyikan rasa lelahnya yang luar biasa setelah mendengar suara kepanikan sang ayah. Ia melangkah lunglai menuju sofa ruang tengah, mendudukkan diri sembari menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi yang empuk. Mbak Sri yang berdiri tidak jauh darinya hanya menatap iba, lalu pamit ke belakang untuk membuatkan Aluna teh hangat.“Sabar, Yah. Ta
“Halo…”“Al, kamu lagi di mana?” tanya pria di seberang telepon itu dengan nada suara yang lembut, namun tetap terdengar tegas.“Emm…”Aluna menggantung kalimatnya. Ia perlahan mengangkat pandangannya ke atas, menatap ke arah Mbak Sri yang berdiri di samping ranjang IGD dan tengah menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan. Menyadari bahwa majikan mudanya itu membutuhkan ruang privasi untuk berbicara sendiri, Mbak Sri mengangguk paham. Wanita paruh baya itu melangkah pelan keluar dari balik tirai bilik perawatan dan meninggalkan Aluna.“Al…” panggil Dirga lagi setelah beberapa detik hanya mendapati keheningan di seberang sana.“Eh, aku… aku lagi di rumah, Kak,” jawab Aluna sedikit terbata-bata. Ia meremas ujung selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya.Hening seketika melanda di ujung telepon sana. Keadaan itu entah bagaimana langsung membuat Aluna merasa ketar-ketir. Jantungnya berdegup tidak beraturan, takut jika D
“Mas… Mas bisa tidak, kamu sekarang datang ke rumah sakit untuk menemaniku di sini?”Hening beberapa saat diujung telepon sana membuat Aluna tersenyum tipis. Bahkan sebelum suaminya itu sempat menjawab, Aluna sudah tahu jawabannya.“Nggak usah, Mas. Kalau memang Mas Ragil nggak bisa, nggak apa-apa. Aku sendiri aja disini,” katanya dengan nada bicara yang tenang.“Maaf, Lun,” ucap Ragil yang terdengar tidak merasa bersalah sama sekali.“Hm. Aku matiin dulu, Mas. Dokternya sudah datang.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna segera memutuskan panggilan itu.Rasa sakit yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan di bagian perutnya, kini telah hilang berganti dengan rasa sakit di dadanya. Entah karena Anggun atau Ragil sendiri yang memang tidak mau datang, Aluna tidak mau memikirkannya lagi.“Sekarang aku sudah sangat yakin, Mas untuk meninggalkanmu walaupun kamu tidak punya hubungan gelap sekalipun dengan Anggun,” gumamnya.Bagaimana tidak, Aluna sudah berkorban sebesar ini untuk hubungan keduanya
“Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s
Di tengah isak tangis Aluna yang perlahan mulai mereda, benda persegi di atas meja kaca kafe itu tiba-tiba bergetar panjang. Layar ponsel Aluna menyala terang, memecah keheningan yang sempat mencekam di antara kedua wanita tersebut. Sepasang mata sembab Aluna melirik ke arah layar, dan jantungnya berdesir halus saat melihat nama ‘Kak Dirga’ berkedip di sana.Aluna menatap Ririn dengan pandangan bimbang, seolah meminta petunjuk dari sahabatnya itu. Ririn yang masih mencerna situasi dan syok akibat pengakuan gila Aluna tadi langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam menunjuk ke arah ponsel dengan gerakan dagu yang tegas.“Angkat, Lun. Angkat saja. Aku mau tahu bagaimana sikap pria itu setelah semua kejadian ini,” desak Ririn dengan volume suara yang tertahan.Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Aluna menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya. Ia berdeham kecil, mencoba menstabilkan intonasi suaranya yang serak agar tidak terdengar menc
“Sebenarnya… kamu ada hubungan apa sama Kak Dirga?”Aluna tersentak ketika mendengar pertanyaan dari bibirnya Ririn. Jantungnya terasa berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Selain karena beban rahasia yang teramat besar, wajah Ririn yang mendadak menuntut penjelasan dan menatap tajam ke arahnya turut menjadi alasan mengapa Aluna terpaksa memaksakan sebuah senyuman tipis dan berusaha bersikap setenang mungkin.“Hubungan apa emangnya? Biasa saja, nggak ada yang spesial,” elak Aluna.Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam kegugupannya, suara yang keluar dari bibir Aluna masih saja bergetar samar, mengkhianati ketenangan palsu yang ia pamerkan dihadapan sang sahabat.“Jangan bohong, Lun! Aku tahu pasti ada sesuatu yang besar di antara kalian berdua. Kak Dirga itu bersikap seperhatian itu ke kamu, lho. Bahkan… ketika kamu pergi kontrol kehamilan kamu yang terakhir kali di rumah sakit, dia juga ada di sana dan menemani kamu masuk ke dalam ruangan, kan?”Mata Aluna seketika me
“Aku hanya menegur apa yang seharusnya ku tegur, Mas.”Suara Aluna terdengar begitu tenang dan datar. Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan.Ia melangkah santai menuju sofa yang berada di tengah ruangan luas tersebut. Dengan gerakan anggun, ia meletakkan tas jinjingnya di atas
Aluna tersentak di tempatnya berdiri. Suara pintu yang tertutup dengan keras itu seolah meremukkan sisa-sisa gairah yang sempat membakar tubuhnya beberapa saat lalu. Ruang kerja yang megah ini mendadak terasa begitu dingin dan asing. Rasa bersalah, malu, dan cemburu bercampur aduk menjadi gumpalan
“Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama
Aluna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong makanan yang diambilnya dari depan. Ia duduk di ruang tengah dan langsung membuka bungkusan itu.Kali ini Dirga mengirimkan sop iga lengkap dengan jus alpukat. Dan seperti biasa, beberapa menit kemudian pesan dari Dirga masuk.‘Dipaksa habisin min







