Home / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 10. Ceraikan Aku

Share

Bab 10. Ceraikan Aku

last update publish date: 2026-10-02 08:01:30

Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.

Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam.

"Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu.

"Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.

Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"

Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan sedunia. "Tadi siang teman-temanku datang jenguk aku, Mas. Terus aku cuma pinjam cangkir teh yang ada di lemari pajangan buat nyuguhi mereka. Tapi tiba-tiba Mbak Nabila turun, dia ngamuk, Mas!"

"Ngamuk karena cangkir doang?!" dengus Arga tak percaya.

"Iya! Dia ngusir teman-temanku secara kasar! Dia bilang teman-temanku bawa kuman! Terus ... terus yang paling bikin aku sakit hati, dia bilang ke teman-temanku kalau aku ini cuma numpang beranak di sini. Katanya semua aset, rumah ini, restoran, semuanya punya dia! Katanya kamu tuh cuma numpang hidup dan gak bakal berani macem-macem sama dia karena saham restoran banyakan punya dia!" adu Keisya dengan licik, sengaja memelintir kalimat Nabila untuk memukul titik terlemah seorang laki-laki.

Egonya.

Dan benar saja. Mendengar kalimat itu, wajah Arga langsung memerah padam. Rahangnya mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi yang saling bergesekan. Ego kelaki-lakiannya terasa diinjak-injak hingga hancur lebur.

"Berani-beraninya dia merendahkan aku seperti itu!" geram Arga dengan napas memburu. Matanya berkilat penuh amarah. "Biar aku kasih pelajaran perempuan sombong itu!"

Arga melepaskan pelukan Keisya dengan kasar, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga, mengabaikan Keisya yang kini diam-diam menyunggingkan senyum kemenangan dari belakang. 'Mampus kamu, Nabila!' batin Keisya kegirangan.

Di lantai dua, Nabila baru saja selesai membacakan buku cerita untuk Aisyah hingga putrinya itu tertidur lelap. Ia baru saja menutup pintu kamar Aisyah perlahan dan berbalik menuju kamarnya sendiri, Arga tiba-tiba muncul dari arah tangga dengan langkah menghentak.

"Nabila!" bentak Arga menggema di lantai dua.

Nabila menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap suaminya dengan wajah tenang yang luar biasa dingin.

"Jangan teriak-teriak, Mas. Aisyah baru saja tidur," ucap Nabila datar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, tak gentar sedikit pun melihat wajah suaminya yang sudah seperti banteng mengamuk.

"Bodo amat! Kamu yang bikin aku teriak!" Arga menunjuk wajah Nabila tepat di depan hidung wanita itu. "Apa maksudmu ngomong yang enggak-enggak ke teman-teman Keisya, hah?! Kamu bilang rumah ini punya kamu?! Kamu bilang aku cuma numpang hidup?! Otakmu itu di mana, Nabila?! Aku ini suamimu, kepala keluarga! Kamu bisa makan enak juga dari uangku!"

Nabila menghela napas panjang, lalu tersenyum miring. "Cepat banget ya CCTV berjalannya ngelapor. Terus, bagian mana dari ucapanku yang salah, Mas?"

"Kamu—"

"Aku cuma meluruskan fakta," sela Nabila cepat, suaranya naik satu oktaf, tak lagi mau ditekan. "Istrimu yang gila hormat itu mengklaim barang-barangku sebagai miliknya. Dia bersikap seolah dialah nyonya di rumah ini! Mengatakan pada teman-temannya kalau sekarang aku jadi babu di rumah ini. Aku lho, cuma mengingatkan dia tempatnya di mana. Perempuan lain pasti sudah menendang dia dari rumah ini."

"Cuma perkara cangkir teh, Nabila! Cangkir doang! Kenapa kamu pelit banget sih?!" bentak Arga tak habis pikir. "Besok aku belikan sepuluh lusin yang lebih mahal dari itu!"

"Beli saja!" tantang Nabila dengan mata menyalang. "Kasih ke istrimu, suruh dia minum dari cangkir barunya! Tapi jangan pernah sentuh barang-barangku!"

Arga tertawa hambar, mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu bener-bener udah berubah, Bil. Kamu bukan lagi Nabila yang penurut. Kamu sombong, kamu merasa karena kamu ikut merintis restoran dari awal, kamu bisa menindas suamimu sendiri?!"

"Aku menindasmu?" Nabila menatap Arga dengan pandangan tak percaya. "Kamu yang membawa masuk pelakor ke rumah ini, kamu yang menelantarkan aku dan Aisyah, lalu kamu bilang aku yang menindasmu?!"

"Cukup!" potong Arga. Pria itu menegakkan tubuhnya, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai laki-laki untuk menundukkan istrinya.

"Mulai besok," ucap Arga dengan nada mengancam, "Kunci mobil HRV putih yang biasa kamu pakai, serahkan ke Keisya."

Dahi Nabila berkerut. "Maksud kamu apa?"

Keisya yang rupanya menyusul dari bawah dan kini berdiri di belakang Arga, tersenyum sinis.

"Keisya butuh mobil yang nyaman untuk periksa kandungan," lanjut Arga, "Dia lagi hamil anak laki-lakiku, dia butuh fasilitas yang lebih baik. Kamu di rumah saja, kalau mau pergi, pakai taksi online! Dan satu lagi, semua kartu kredit tambahan atas namamu, akan aku blokir malam ini juga. Ini hukuman karena kamu sudah sangat lancang merendahkan aku dan istriku!"

Arga dan Keisya menunggu Nabila menangis, memohon, atau setidaknya ketakutan kehilangan fasilitas mewahnya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Nabila memiringkan kepalanya, lalu tertawa. Sebuah tawa renyah yang terdengar sangat elegan namun sarat akan ejekan. Tawa itu membuat bulu kuduk Arga tiba-tiba meremang.

"Kamu mau ambil mobil HRV putih itu, Mas? Boleh, emang istri mudamu itu pantasnya dapat barang bekas punyaku kok, termasuk suami. Semuanya bekas aku!" ucap Nabila dengan senyum manis yang sangat mematikan.

"Mbak?! Jaga bicaramu!"

"KAMU YANG DIAM BRENGSEK!" pekik Nabila tidak tahan.

Mendengar teriakan itu, Keisya dan Arga langsung terdiam. Apalagi Arga, ia belum pernah mendengar Nabila mengatakan kata kasar seperti itu.

"Silakan ambil kuncinya. Tapi ingat satu hal, Mas. Mobil itu BPKB-nya atas namaku, Nabila Azzahra. Mobil itu kubeli lunas dari hasil laba bersih restoran cabang pertama yang sepenuhnya aku kelola sendiri. Kalau istrimu ini berani menyentuhnya sedikit saja, aku pastikan besok paginya dia sudah duduk di kantor polisi atas tuduhan pencurian kendaraan."

Wajah Keisya yang tadinya tersenyum menang, kini langsung pias seketika. "M-mas ...," cicitnya sambil menarik ujung kemeja Arga.

Arga menelan ludah, terkejut karena baru menyadari fakta tersebut. Dulu, Nabila memang yang mengurus semua administrasi karena Arga terlalu sibuk.

"Dan soal kartu kredit?" Nabila melangkah maju mendekati Arga, menatap lurus tepat di manik mata suaminya. "Blokir saja, Mas. Blokir semuanya malam ini juga."

Nabila mendengus pelan.

"Sekalian aku beritahu kamu sebuah berita bagus, Mas. Siang tadi, aku baru saja mendatangi bank pusat. Sesuai dengan perjanjian pranikah kita dan pembagian persentase saham awal, aku sudah menarik enam puluh persen dana dari joint account restoran pusat kita, dan memindahkannya ke rekening pribadiku. Mulai bulan ini, kamu urus urusanmu, dan biarkan aku mengurus asetku sendiri."

Mata Arga terbelalak lebar hingga nyaris keluar dari sarangnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Dana joint account itu adalah nyawa perputaran bisnis mereka!

"Kamu ... kamu gila, Nabila?! Kamu memindahkan dana perusahaan tanpa izinku?!" bentak Arga dengan suara bergetar karena syok.

"Itu hakku! Aku pemilik saham mayoritas, kalau kamu lupa!" desis Nabila tajam.

Arga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah, rasa malu, dan ego yang hancur bercampur menjadi satu. Merasa kekuasaannya sebagai suami tidak lagi dihormati, Arga akhirnya meledak.

"Kamu berani mengancam suamimu pakai harta, hah?!" teriak Arga menggelegar. "Istri durhaka! Kalau kamu terus-terusan bersikap kurang ajar seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku ceraikan kamu malam ini juga, Nabila!"

Keisya yang berada di belakang Arga langsung tersenyum lebar. Akhirnya! Kata-kata sakti itu keluar juga dari mulut Arga!

Namun, reaksi Nabila sungguh di luar nalar. Wanita itu tidak menangis, tidak juga bersujud memohon ampun seperti adegan di sinetron.

Nabila justru menegakkan dagunya tinggi-tinggi. Ia menatap Arga dengan sorot mata yang begitu tajam dan menantang.

"Ceraikan aku, Mas," tantang Nabila dengan suara yang sangat tenang dan mematikan. "Ayo. Ceraikan aku sekarang. Ucapkan talaknya detik ini juga. Talak tiga kalau perlu. Berani kamu? Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Adalah Maut    Bab 33. Benar-benar Ingin Bercerai, Kan?

    "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Nabila! Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Arga. Pria itu menolak bangkit dari tanah merah yang mengotori celananya. Ia justru merangkak maju, berusaha menggapai ujung baju gamis hitam Nabila dengan tangan bergetar. Rasa bersalah dan ketakutan kehilangan wanita yang menemaninya berjuang dari nol itu tiba-tiba meremukkan sisa-sisa kesombongannya. "Aku tahu aku salah! Aku juga sadar kalau aku ini memang bajingan! Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, Bil..." isak Arga terdengar begitu menyedihkan. "Aku masih sayang sama kamu, aku masih mencintai kamu. Kita bisa perbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Oke? Aku mohon. Aku tidak bisa kalau tidak bersama kamu. Tolong ... beri aku kesempatan, tolong kamu ingat bagaimana dulu kita berjuang bersama." Nabila menatap tangan Arga yang mencengkeram ujung bajunya dengan tatapan jijik. Dengan satu sentakan keras, ia menarik kain itu hingga Arga kembali terjerembap ke tanah."Demi apa pu

  • Madu Adalah Maut    Bab 32. Sumpah

    "Maafkan kami, Bu Nabila, Pak Arga. Selama dua hari ini kami sudah berjuang memberikan penanganan medis yang paling maksimal, namun... tubuh kecilnya tidak lagi mampu bertahan. Bayi Rania telah berpulang."Kalimat dari dokter anak itu mengakhiri segala sisa harapan yang Nabila miliki. Selama empat puluh delapan jam terakhir, Nabila tak beranjak dari depan kaca ruang NICU, menatap putrinya yang dipenuhi selang dan alat bantu napas. Namun pada akhirnya, maut tetap merenggut nyawa bayi tak berdosa itu.Arga yang berdiri tak jauh dari sana langsung merosot jatuh ke lantai rumah sakit. Pria itu menangis terisak. Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, ia telah mengantarkan dua putri kandungnya menuju kematian akibat kelalaian dan keegoisannya sendiri.Namun berbeda dengan Arga, Nabila tidak menangis histeris. Air matanya memang mengalir, tapi wajahnya sedingin es. Jiwanya seolah telah ikut mati. Ia sudah tidak lagi punya semangat untuk hidup. Rasanya, dunia berhenti berputar. **Hari

  • Madu Adalah Maut    Bab 31. Nyawa Dibayar Nyawa

    "Bagaimana? Mau?" tanya Dennis sekali lagi. Nabila nampak diam sebentar untuk berpikir. Ia rasa, hanya Dennis lah yang kini bisa membantunya. Ia lalu menatap Dennis. "Aku—""Hebat sekali! Istri macam apa kamu, pagi-pagi buta sudah berduaan dengan mantan kekasih. Di rumah sakit pula!"Belum sempat Nabila menjawab, suara bentakan keras itu memotong ucapan Nabila. Nabila dan Dennis serempak menoleh. Dari ujung lorong, Arga melangkah dengan langkah lebar dan napas memburu, rahangnya mengeras menahan cemburu yang berusaha ia tutupi dengan kemarahan. Di belakangnya, Keisya mengekor dengan wajah yang malas dan langkah gontai. Begitu sampai di hadapan mereka, Arga menatap Dennis dengan kilat kebencian, lalu beralih menatap Nabila dengan sinis. "Jadi ini alasanmu tidak mengangkat teleponku? Karena kamu sedang berduaan dengan laki-laki lain?" Arga menatap Nabila dengan raut wajah yang penuh amarah, apalagi saat melihat keberadaan Dennis. Tadi pagi, ia bingung kenapa Nabila tidak ada di rumah

  • Madu Adalah Maut    Bab 30. Curhat Dengan Mantan

    "Suster! Dokter! Tolong anak saya!" Jeritan Nabila pecah seketika saat kakinya melangkah memasuki lobi Instalasi Gawat Darurat rumah sakit. Ia berlari dengan napas terengah-engah, memeluk erat tubuh Rania yang semakin membakar kulitnya.Di belakang Nabila, supir pribadi Dennis yang mengantarnya tampak tergopoh-gopoh mengikuti, memastikan keselamatan wanita itu sesuai dengan apa yang dipinta oleh majikannya.Beberapa perawat dengan sigap langsung mengambil alih Rania dari pelukan Nabila dan membawanya ke ruang tindakan. Nabila hanya bisa berdiri kaku di depan pintu kaca buram, menangis tanpa suara dengan kedua tangan yang saling meremas kuat.1 jam yang terasa seperti penyiksaan akhirnya berlalu. Seorang dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah serius."Keluarga bayi Rania?" panggil dokter tersebut.Nabila langsung menghampirinya. "Saya ibunya, Dok. B-bagaimana keadaan anak saya? Anak saya tidak apa-apa, kan?" Dokter itu menghela napas pelan, menatap Nabila dengan sorot mata penuh

  • Madu Adalah Maut    Bab 29. Menghubungi Mantan

    "Haruskah, aku meminta tolong pada Dennis?" Nabila diam sejenak untuk berpikir, tapi kemudian dia langsung menggeleng kepalanya. "Tidak. Terlalu tidak tahu malu rasanya kalau aku harus meminta bantuan pada Dennis setelah apa yang kulakukan padanya dulu."Nabila bergumam lirih di tengah isak tangisnya yang tertahan. Rasa bersalah menampar nuraninya. Dulu, ia meninggalkan pria itu secara sepihak, membuang cintanya tanpa sudi mendengarkan penjelasan apa pun dari pria itu. Lalu sekarang, di saat hidupnya dihancurkan oleh pria yang ia pilih sendiri, beraninya ia merengek meminta pertolongan pada Dennis? Gengsi dan rasa bersalahnya terlalu besar.Nabila meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu berbaring di samping boks bayi. Dengan mata yang sembap dan hati yang hancur berkeping-keping, ia memaksa dirinya untuk memejamkan mata, berharap esok hari ia bisa menemukan jalan keluar dari rumah yang seperti neraka ini.Pukul 2 dini hari. Nabila yang tertidur itu terbangun saat mendengar suara r

  • Madu Adalah Maut    Bab 28. Masih Cinta!

    "Hak asuh? Kamu mau mengancamku dengan anakku sendiri setelah kamu merampas segalanya dariku, Arga?!" pekik Nabila, suaranya bergetar hebat menahan luapan amarah yang rasanya bisa meledakkan dadanya saat itu juga. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arga yang sekarang, dia sudah dengan tega merenggut semuanya darinya, lalu sekarang? Satu-satunya harta yang ia punya di dunia ini juga akan dia ambil? Benar-benar badjingan! Arga menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Pria itu melangkah maju, menutup akses Nabila menuju pintu keluar. "Aku tidak mengancam, Nabila. Aku hanya memaparkan fakta hukum," ucap Arga dengan nada sedingin es, mencoba menyembunyikan rasa takut kehilangannya di balik sikap arogannya. "Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini? ATM-mu sudah kublokir. Seluruh asetmu sudah beralih nama menjadi milikku. Kamu tidak punya rumah, tidak punya uang sepeser pun, dan fisikmu belum pulih dari operasi." Nabila menatap pria di depannya dengan napas membu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status