Accueil / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 9. Istri Sah VS Istri Siri

Partager

Bab 9. Istri Sah VS Istri Siri

last update Date de publication: 2026-10-01 14:21:15

"Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?"

Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV."

"Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila.

Skakmat!

Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya.

"A-akh! Mas!" Keisya mendadak memegangi perut yang mulai buncit, menunduk dengan napas tersengal-sengal. "Mas ... perutku kencang lagi! Ya Allah, sakit banget, Mas ... kram! Anak kita di dalam pasti stres ibunya dituduh macam-macam!"

"Cih! Drama banget, takut di usir kan kamu? Kamu pasti takut pergi dari rumah ini jadi ngedrama. Dasar uler!"

"Aku ... aku serius, Mbak! Perutku kram!"

Arga yang tadi mulai curiga, seketika panik kembali. Perhatian pria itu beralih 100% pada perut Keisya. "Sayang! Ayo, kita ke kamar, kamu harus istirahat!"

Tanpa repot-repot membahas CCTV lagi, Arga langsung membopong tubuh Keisya. Sebelum keluar dari kamar, Arga sempat menoleh ke arah Nabila dengan tatapan tajam. "Urusan kita belum selesai, Nabila!"

Nabila hanya mendengus sinis melihat sandiwara murahan itu. "Iya, aku juga tidak mau ini selesai begitu saja. Setelah drama wanita ini selesai, ayo kita lihat CCTV."

Keisya semakin mengaduh kesakitan. "Ayo, Mas!"

Begitu Arga dan Keisya menghilang di balik pintu, Nabila melangkah maju dan membanting pintu kamarnya kuat-kuat, lalu menguncinya.

"Pengecut," desis Nabila, tersenyum miring. Ia tahu persis Arga sebenarnya mulai meragukan Keisya, namun ego pria itu terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia telah dibodohi oleh istri mudanya sendiri.

***

Keesokan harinya, Arga berangkat ke kantor lebih pagi karena ada rapat direksi.

Sekitar pukul 10 siang, saat Nabila sedang mengajari Aisyah menggambar di ruang keluarga lantai dua, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking dan obrolan berisik dari arah ruang tamu di lantai bawah.

Nabila mengernyitkan dahi. Ia meminta Aisyah untuk meneruskan gambarnya sebentar, lalu berjalan keluar menuju balkon dalam yang menghadap langsung ke ruang tamu di lantai satu.

Dari atas sana, pemandangan yang tersaji sukses membuat darah Nabila mendidih.

Keisya rupanya mengundang tiga orang temannya yang berdandan menor layaknya sosialita untuk bertamu. Mereka duduk di sofa kulit mahal ruang tamu, berfoto selfie dengan latar belakang kemewahan rumah Nabila.

Namun, bukan itu yang membuat Nabila marah. Matanya terpaku pada meja marmer di tengah-tengah sofa. Di sana, tersaji set cangkir teh keramik Royal Albert bermotif bunga vintage berlapis emas. Itu adalah barang koleksi kesayangan Nabila, hadiah Anniversary kelima dari Arga yang dibeli langsung dari Inggris, yang selama ini selalu ia simpan rapi di lemari pajangan kaca dan tak pernah sembarangan dipakai.

"Gila ya, Sya! Rumah laki lo gede banget! Kapan gue bisa dapet sugar daddy tajir melintir kayak laki lo ini?" seru salah satu teman Keisya yang berambut merah, menatap sekeliling dengan kagum.

Keisya tertawa bangga, menyibakkan rambutnya dengan gaya angkuh. "Iya dong. Mas Arga tuh royal banget sama aku. Apa aja yang aku minta pasti diturutin. Jangankan rumah, nyawanya aja dia kasih buat anak laki-laki di perutku ini."

"Terus, istri pertamanya gimana tuh? Kasihan banget udah expired, pasti sekarang lagi nangis-nangis di pojokan," cibir teman Keisya yang lain, disusul tawa renyah mereka bertiga.

"Alah, perempuan kayak dia mah udah gak ada harganya di mata Mas Arga," sungut Keisya sambil menuangkan teh ke dalam cangkir mahal Nabila. "Sekarang di rumah ini, dia udah turun kasta jadi babu. Kalian santai aja, anggap aja ini rumah gue sendiri. Minum tehnya, ini teh impor mahal loh."

Di lantai dua, tangan Nabila mengepal kuat. Ia menarik napas panjang, menegakkan postur tubuhnya, lalu merapikan daster rumahan elegannya. 'Berani-beraninya benalu ini mengundang hama ke istanaku,' batin Nabila.

Dengan langkah tenang dan pelan, Nabila menuruni anak tangga. Bunyi ketukan sandal selopnya di lantai marmer menarik perhatian geng sosialita jadi-jadian itu.

Tawa di ruang tamu mendadak berhenti. 3 teman Keisya menatap ke arah tangga dengan mulut sedikit terbuka. Nabila turun layaknya seorang ratu sungguhan, wajahnya bersih tanpa make up tebal, kulitnya nampak glowing dan postur tubuhnya yang sedang hamil justru menambah keanggunannya.

Keisya menelan ludah, senyum angkuhnya mendadak luntur melihat kedatangan Nabila.

"E-eh, Mbak Nabila," sapa Keisya dengan nada sedikit gugup, berusaha bersikap wajar di depan teman-temannya.

Nabila tak menjawab. Ia melangkah anggun menghampiri meja. Tanpa permisi, tangannya langsung meraih teko keramik Royal Albert beserta tiga cangkir yang baru saja diisi teh oleh Keisya, lalu meletakkannya kembali ke atas nampan.

"Maaf, cangkir dan teko ini bukan untuk menjamu tamu sembarangan," ucap Nabila dengan nada suara yang teramat lembut, tapi menusuk. "Ini barang koleksi pribadiku, harganya tiga puluh juta, khusus dibeli dari London. Aku tidak mau barang berhargaku tertular kuman dari mulut orang-orang yang tidak tahu tata krama."

3 teman Keisya seketika melotot, wajah mereka memerah menahan malu karena secara tidak langsung baru saja disamakan dengan pembawa kuman.

"Mbak! Apa-apaan sih?!" Keisya tak terima melihat teman-temannya dipermalukan. Ia berdiri, menatap Nabila dengan nyalang. "Mereka ini tamuku! Mas Arga udah bilang semua yang ada di rumah ini adalah milikku juga! Aku berhak pakai!"

Nabila tersenyum manis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menatap Keisya dari atas sampai bawah.

"Milikmu?" Nabila tertawa kecil, melirik ke arah tiga teman Keisya yang kini saling berpandangan canggung. "Teman-temanmu ini tahu tidak, Keisya? Kalau kamu di sini statusnya cuma istri siri yang menumpang beranak? Istri siri loh, bukan istri SAH!" ucap Nabila menekan kata Sah. "Dan perlu kalian tahu semua. Nama di sertifikat rumah mewah yang kalian kagumi ini adalah namaku. Nabila Azzahra."

Keisya pucat pasi. "Mbak! Tutup mulutmu!"

Nabila mengabaikan Keisya, ia beralih menatap ketiga teman Keisya dengan tatapan kasihan. "Kalian hati-hati saja berteman dengan dia. Kalau dia bisa merebut suami orang dan dengan jahatnya bersikap seperti ratu di rumah istri sah pria itu, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, suami-suami kalian yang akan jadi target dia selanjutnya demi numpang hidup enak. Dengar ya, kalau aku cerai dengan Arga, kemungkinan harta lebih besar ada padaku karena aku yang memulai bisnis dari nol dan saham lebih banyak punyaku! Kalau suamiku itu miskin, si Keisya ini mana mau. Kemungkinan, setelah ini dia akan mengincar pria lain. Yang mungkin salah satunya adalah pasangan kalian. Ih, kalau aku sih takut ya berteman dengan perempuan macam si Keisya ini."

"Mbak! Jaga bicaramu ya!"

Dan mendengar itu, wajah teman-teman Keisya berubah pias. Mereka memang tahu Keisya menjadi istri kedua, tapi Keisya selalu bercerita bahwa Arga sudah membuang istri pertamanya dan menjadikan Keisya nyonya tunggal.

Fakta bahwa Keisya hanya istri siri yang menumpang di rumah istri sah membuat mereka langsung terdiam.

"Eee ... Sya, kayaknya kita harus balik sekarang deh. Ada ... ada urusan mendadak," pamit si rambut merah dengan wajah canggung, buru-buru menyambar tas KW-nya.

"Iya Sya, makasih tehnya. Mari, Mbak," tambah yang lain, menunduk sungkan pada Nabila sebelum berlari keluar pintu setengah kabur.

"Eh! Kalian kok pulang?! Heh, tunggu!" Keisya berteriak memanggil teman-temannya yang sudah hilang di balik pintu utama.

Ruang tamu kembali hening. Keisya memutar tubuhnya, menatap Nabila dengan dada kembang kempis menahan murka. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak hingga rata dengan tanah di depan teman-temannya.

"Puas kamu, hah?!" jerit Keisya histeris. Ia menunjuk wajah Nabila. "Kamu sengaja bikin aku malu di depan teman-temanku! Berani-beraninya kamu merendahkanku, Mbak! Lihat saja, nanti malam saat Mas Arga pulang, aku akan pastikan dia menampar mulut busukmu itu!"

Nabila mengangkat nampan berisi set cangkir teh mahalnya dengan tenang. Ia membalas tatapan Keisya dengan sorot mata sedingin es di kutub utara.

"Adukan saja. Silakan menangis, berguling-guling, atau pura-pura pendarahan sekalian. Lakukan sepuasmu, Keisya," bisik Nabila tepat di dekat telinga wanita itu, nada suaranya mengancam. "Tapi ingat satu hal ... selama aku masih bernapas di rumah ini, jangan pernah bermimpi kamu bisa duduk di singgasanaku."

Bersambung ...

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Madu Adalah Maut    Bab 15. Jangan Bertingkah

    "Mas!" rengek Keisya. Wanita muda tersebut menarik-narik lengan kemeja Arga dengan kasar. Air mata buayanya mengalir deras, membasahi pipinya yang masih merah dan berdenyut panas akibat tamparan Nabila. "Kamu kok diam aja sih?! Aku ditampar lho, Mas! Istri tua kamu itu udah gila! Berani-beraninya dia ngatain aku LC murahan dan mukul aku di depan matamu! Ceraikan dia sekarang, Mas! Usir dia!"Arga yang isi kepalanya sudah hampir meledak memikirkan nasib bisnisnya, seketika menepis tangan Keisya dengan sangat kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang.Ucapan terakhir Nabila menampar telak egonya. Kenyataan bahwa ia kini tak berdaya secara finansial, ditambah kemunculan Dennis Pratama yang terlihat sangat berkuasa, membuat napas Arga tersengal-sengal layaknya orang yang nyaris tenggelam."Kamu bisa diem nggak sih?!" bentak Arga dengan suara menggelegar, matanya melotot tajam hingga membuat Keisya terperanjat.Ini adalah kali pertama Arga membentaknya dengan raut wajah sebengis itu. S

  • Madu Adalah Maut    Bab 14. Berselingkuh

    "Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da

  • Madu Adalah Maut    Bab 13. Merebut Kembali Berlian

    "Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca

  • Madu Adalah Maut    Bab 12. Cinta Pertama Masa SMA

    Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh

  • Madu Adalah Maut    Bab 11. Karma Belum Berjalan

    "Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening

  • Madu Adalah Maut    Bab 10. Ceraikan Aku

    Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status