LOGIN"Tapi ... kamu benar-benar ingin cerai, kan dengannya?""Tentu saja. Aku lebih memilih mati daripada harus terus menjadi istrinya," jawab Nabila tanpa keraguan sedikit pun. Tatapannya lurus menembus kaca mobil, dingin dan tajam.Nabila lalu menoleh, menatap mata Dennis dalam-dalam. "Aku sudah menganggapnya mati sejak melihat Rania dimasukan ke liang lahat. Aku sudah tidak menganggapnya sebagai suami sejak saat dia lalai menjemput Aisyah dan membuat Aisyah tiada," jawab Nabila dengan nadanya yang teramat tenang namun mematikan. "Jangankan berstatus sebagai istrinya, menghirup udara yang sama dengan pria pembunuh itu saja membuatku mual."Dennis mengembuskan napas lega. Ketegangan yang sejak tadi mengikat dadanya perlahan mengendur. Ia mengangguk pelan. "Kamu tidak perlu khawatir, Bil. Malam ini juga pengacaraku akan menyusun draf gugatannya. Besok pagi, atau paling lambat besok sore, surat itu akan mendarat di hadapan bajingan itu," "Tapi Dennis... soal menghancurkan Arga dan merebu
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Nabila! Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Arga. Pria itu menolak bangkit dari tanah merah yang mengotori celananya. Ia justru merangkak maju, berusaha menggapai ujung baju gamis hitam Nabila dengan tangan bergetar. Rasa bersalah dan ketakutan kehilangan wanita yang menemaninya berjuang dari nol itu tiba-tiba meremukkan sisa-sisa kesombongannya. "Aku tahu aku salah! Aku juga sadar kalau aku ini memang bajingan! Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, Bil..." isak Arga terdengar begitu menyedihkan. "Aku masih sayang sama kamu, aku masih mencintai kamu. Kita bisa perbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Oke? Aku mohon. Aku tidak bisa kalau tidak bersama kamu. Tolong ... beri aku kesempatan, tolong kamu ingat bagaimana dulu kita berjuang bersama." Nabila menatap tangan Arga yang mencengkeram ujung bajunya dengan tatapan jijik. Dengan satu sentakan keras, ia menarik kain itu hingga Arga kembali terjerembap ke tanah."Demi apa pu
"Maafkan kami, Bu Nabila, Pak Arga. Selama dua hari ini kami sudah berjuang memberikan penanganan medis yang paling maksimal, namun... tubuh kecilnya tidak lagi mampu bertahan. Bayi Rania telah berpulang."Kalimat dari dokter anak itu mengakhiri segala sisa harapan yang Nabila miliki. Selama empat puluh delapan jam terakhir, Nabila tak beranjak dari depan kaca ruang NICU, menatap putrinya yang dipenuhi selang dan alat bantu napas. Namun pada akhirnya, maut tetap merenggut nyawa bayi tak berdosa itu.Arga yang berdiri tak jauh dari sana langsung merosot jatuh ke lantai rumah sakit. Pria itu menangis terisak. Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, ia telah mengantarkan dua putri kandungnya menuju kematian akibat kelalaian dan keegoisannya sendiri.Namun berbeda dengan Arga, Nabila tidak menangis histeris. Air matanya memang mengalir, tapi wajahnya sedingin es. Jiwanya seolah telah ikut mati. Ia sudah tidak lagi punya semangat untuk hidup. Rasanya, dunia berhenti berputar. **Hari
"Bagaimana? Mau?" tanya Dennis sekali lagi. Nabila nampak diam sebentar untuk berpikir. Ia rasa, hanya Dennis lah yang kini bisa membantunya. Ia lalu menatap Dennis. "Aku—""Hebat sekali! Istri macam apa kamu, pagi-pagi buta sudah berduaan dengan mantan kekasih. Di rumah sakit pula!"Belum sempat Nabila menjawab, suara bentakan keras itu memotong ucapan Nabila. Nabila dan Dennis serempak menoleh. Dari ujung lorong, Arga melangkah dengan langkah lebar dan napas memburu, rahangnya mengeras menahan cemburu yang berusaha ia tutupi dengan kemarahan. Di belakangnya, Keisya mengekor dengan wajah yang malas dan langkah gontai. Begitu sampai di hadapan mereka, Arga menatap Dennis dengan kilat kebencian, lalu beralih menatap Nabila dengan sinis. "Jadi ini alasanmu tidak mengangkat teleponku? Karena kamu sedang berduaan dengan laki-laki lain?" Arga menatap Nabila dengan raut wajah yang penuh amarah, apalagi saat melihat keberadaan Dennis. Tadi pagi, ia bingung kenapa Nabila tidak ada di rumah
"Suster! Dokter! Tolong anak saya!" Jeritan Nabila pecah seketika saat kakinya melangkah memasuki lobi Instalasi Gawat Darurat rumah sakit. Ia berlari dengan napas terengah-engah, memeluk erat tubuh Rania yang semakin membakar kulitnya.Di belakang Nabila, supir pribadi Dennis yang mengantarnya tampak tergopoh-gopoh mengikuti, memastikan keselamatan wanita itu sesuai dengan apa yang dipinta oleh majikannya.Beberapa perawat dengan sigap langsung mengambil alih Rania dari pelukan Nabila dan membawanya ke ruang tindakan. Nabila hanya bisa berdiri kaku di depan pintu kaca buram, menangis tanpa suara dengan kedua tangan yang saling meremas kuat.1 jam yang terasa seperti penyiksaan akhirnya berlalu. Seorang dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah serius."Keluarga bayi Rania?" panggil dokter tersebut.Nabila langsung menghampirinya. "Saya ibunya, Dok. B-bagaimana keadaan anak saya? Anak saya tidak apa-apa, kan?" Dokter itu menghela napas pelan, menatap Nabila dengan sorot mata penuh
"Haruskah, aku meminta tolong pada Dennis?" Nabila diam sejenak untuk berpikir, tapi kemudian dia langsung menggeleng kepalanya. "Tidak. Terlalu tidak tahu malu rasanya kalau aku harus meminta bantuan pada Dennis setelah apa yang kulakukan padanya dulu."Nabila bergumam lirih di tengah isak tangisnya yang tertahan. Rasa bersalah menampar nuraninya. Dulu, ia meninggalkan pria itu secara sepihak, membuang cintanya tanpa sudi mendengarkan penjelasan apa pun dari pria itu. Lalu sekarang, di saat hidupnya dihancurkan oleh pria yang ia pilih sendiri, beraninya ia merengek meminta pertolongan pada Dennis? Gengsi dan rasa bersalahnya terlalu besar.Nabila meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu berbaring di samping boks bayi. Dengan mata yang sembap dan hati yang hancur berkeping-keping, ia memaksa dirinya untuk memejamkan mata, berharap esok hari ia bisa menemukan jalan keluar dari rumah yang seperti neraka ini.Pukul 2 dini hari. Nabila yang tertidur itu terbangun saat mendengar suara r







