LOGINSetelah Laila keluar dari kamar, dia mencari keberadaan Hanif. Pencarian Habis sudah di seluruh penjuru ruangan. Termasuk ke dalam kamar Yusuf dan Rauzah. Namun tidak terlihat batang hidungnya. Akhirnya Laila memutuskan kembali ke kamar untuk istirahat. Ternyata orang yang dia cari sedang duduk termenung di atas kasur dengan pandangan menghadap ke arah jendela yang masih terbuka kain gorden. Memperlihatkan indahnya langit malam bertabur bintang. "Mas, ternyata Mas di sini. Dari tadi Laila mencari Mas," ujar Laila memutuskan acara termenung Hanif. "Laila, bagaimana dengan Nur?" tanya Hanif tidak beranjak sama sekali dari atas kasur. "Kak Nur langsung istirahat. Jadi Mas, apa yang sebenar terjadi. Kenapa Mas juga bersikap dingin kepada Kak Nur?" "Laila, duduk di sini," suruh Hanif menepuk kasur di sampingnya. Menyuruh Laila menemaninya. Kemudian kembali menatap ke arah langit. Laila mengikuti perintah Hanif. Dia duduk di samping Hanif tanpa banyak kata. Melirik sang suami yang sud
"Oke Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, daripada kalian berdua terus bertengkar, apa kalian ingin mendengar perkembangan janin dari Ibu Nur dulu," ujar Dokter meleraikan Nur dan Hanif. Sekarang bukan saatnya mereka bertengkar. Dua sebagai dokter harus melakukan tugasnya dan melanjutkan memeriksa pasien-pasien lain. Bukan hanya mereka pasien yang harus ditangani. Apalagi mendengar dan menyaksikan perdebatan suami istri. "Jadi bagaimana Dok," ujar Nur buka suara untuk bertanya. "Saya tidak tahu harus bicara bagaimana." "Maksudnya Dokter?" Hanif juga penasaran bagaimana dengan keadaan Nur dan calon anaknya. Jadi dua memasang kuping agar bisa mendengar dengan baik. "Ini merupakan suatu keajaiban, Bu. Walaupun sel kanker sedikit menyebar tapi janin dalam Ibu sangat kuat. Kalau seperti ini terus, janin ini bisa bertahan sebulan lagi. Lalu kita bisa melakukan tahap kemoterapi lebih lanjut. Jadi kemungkinan untuk Ibu dan bayi selamat sedikit ada harapan," terang Dokter. "Jadi kemungkin
"Nur, Mas tahu anak ini adalah anak yang kita tunggu selama bertahun-tahun. Tapi Mas tidak mau kehilangan kamu gara-gara anak ini. Lebih baik kita gugurkan saja anak ini dan menganggap rahim kamu. Kesehatan kamu lebih penting untuk sekarang. Kita sudah mempunyai Yusuf dan Rauzah," kata Hanif dengan sesak. Hanif menangis dalam diam. Takut jika suatu saat Nur akan meninggalkannya dengan penyakit itu. Dia belum siap kehilangan Nur. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nur adalah wanita yang sangat dicintainya. Bahkan melebihi Laila. Bukan karena Hanif tidak mencintai Laila, lantaran Nur lah yang telah menemaninya dari mereka nol. Jadi ada posisi khusus di hati Hanif untuk Nur yang tidak bisa digantikan dan disentuh oleh orang lain. Termasuk anak-anaknya. *** Nur baru tersadar setelah satu jam kemudian. Saat dia terbangun, perutnya sudah mulai sedikit lebih enak dibandingkan sebelum dia pingsan. Di samping Nur, Hanif sama sekali tidak meninggalkan Nut satu senti pun. Untuk ke kamar mandi s
"Nur tidak argh …." Nur kembali berteriak kesakitan. Perutnya kembali berdenyut lebih sakit dari tadi. Kali ini sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Sampai dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. "Nur! Nu!" seru Hanif. "Bunda! Bunda!" teriak Yusuf dengan suara keras sambil menangis. Yusuf sedih melihat sang Bunda jatuh pingsan. "Bunda!" Rauzah juga tidak kalah histeris dari Yusuf. Ada rasa bersalah karena dia tadi yang memeluk Bunda dengan erat. "Bunda, maapin Lau. Lau janji ndak akan natal lagi. Bangun Bunda," sambung Rauzah dengan isak tangisan. "Tidak apa-apa sayang. Itu bukan salah kamu. Bunda memang dari tadi sudah tidak enak badan," bujuk Laila menenangkan Rauzah. "Mas tolong bawa Kak Nur ke rumah sakit. Biar anak-anak Laila yang jaga," suruh Laila beralih ke Hanif. "Iya." Hanif segera mengangkat tubuh Nu menuju ke mobil. Di belakang, Laila yang menggendong Rauzah dan Yusuf mengikuti Hanif. Hanif membawa masuk Nur ke dalam mobil dibantu Pak Yuda yang merupakan
"Iya Dok, saya mengerti. Dokter sudah menjelaskan semuanya kemarin.""Baiklah, jika itu keputusan kalian. Saya akan memberikan obat-obatan agar bisa menekan sel kanker. Jadi usahakan agar Ibu tetap rutin untuk minum obat ini," ujar Dokter dengan pasrah. Tidak bisa memaksa pasien. Pasien bisa memilih sendiri bagaimana kesanggupan mereka. Itu diluar tanggung jawabnya."Baik Dok. Tapi seberapa pengaruhnya obat ini untuk calon anak saya?""Sudah saya bilang kemarin, kalau Ibu minum obat ini, maka anak Ibu bisa lahir dengan cacat. Ibu tidak bisa tidak memilih satu dari ketiga prosedur itu sekaligus. Jika Ibu tidak mau pembedahan, setidaknya Ibu harus minum obat ini untuk memperlambat sel kanker.""Baik Dok, terima kasih," ujar Nur dengan tenang. "Jangan lupa setiap minggu Ibu harus melakukan cek rutin, ya," kata Dokter memperingati."Iya Dok."***Nur keluar dari ruangan Dokter setelah menerima obat yang harus diminum. Begitu dia tiba di dekat tong sampah, dia membuang semua obat-obat itu
"Tumben kamu manja sama Bunda," timpal Laila meneruskan acara memasaknya "Apa Rauzah sudah tidak sayang lagi sama Ayah," ujar Hanif merubah raut wajah sesedih mungkin untuk menarik perhatian Rauzah. Rauzah paling tidak suka dia sedih. Rauzah melirik ke arah Hanif untuk memeriksa raut wajah sang Ayah yang kesepian ditinggal olehnya. Tapi hanya sebentar saja, dia kembali menenggelamkan wajahnya di perut Nur. 'Apa Rauzah bisa merasakan kalau aku sedang hamil. Biasanya anak kecil lebih sensitif. Mereka bisa merasakan ada bayi di dalam kandungan untuk menjadi temannya. Tidak, aku harus menjauhkan Rauzah untuk sementara. Aku tidak mau membuat Mas Hanif dan Laila curiga,' batin Nur mulai panik dengan keanehan Rauzah yang lebih lengket kepadanya daripada Hanif. "Sayang, main sama Ayah dulu ya. Ibu dan Bunda harus masak," bujuk Hanif setelah menghela nafas dengan keanehan Rauzah. "Ndak mau," tolak Rauzah lagi. "Kalau Rauzah ganggu Bunda dan Ibu terus, nanti jangan nangis kalau kamu kel







