LOGINSetelah puas meluapkan segala emosinya, Viana pun lalu berkata kepada Bu Resti."Ayo Bu, kita pulang sekarang. Langit sudah semakin mendung. Sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan."Bu Resti mengangguk lalu berdiri. Keduanya bergegas melangkah keluar dari area pemakaman dan berniat langsung pulang supaya bisa terhindar dari kehujanan."Nenek Resti!"Terdengar suara seseorang yang memanggil nama Bu Resti dari arah belakang. Sontak keduanya membalikkan badan hendak melihat siapakah orang tersebut.Melihat orang yang memanggilnya tadi, senyum Bu Resti langsung mengembang."Riani?" ucapnya.Viana melirik ke arah Bu Resti lalu melemparkan pandangan ke arah seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua yang sedang berjalan menghampiri mereka."Nenek Resti," sapanya lagi sembari mencium tangan Bu Resti dengan takzim."Riani, kenapa ada di sini? Oh...pasti mau ziarah ke makam mama mu ya?" tanya Bu Resti."Iya, Nek. Nenek sedang apa di sini?" Anak perempuan yang bernama Riani itu bali
Yanto tertegun. Ancaman Mika membuatnya sedikit takut. Akhirnya, tanpa banyak bicara lagi, dia segera pergi dari sana. Namun, sebelum itu dia sempat mengatakan sesuatu kepada Mika."Tidak masalah kau tidak mau memberitahuku. Aku akan cari cara lain untuk menemukan Viana.""Terserahmu, tapi yang jelas kau tidak akan dapat informasi apa pun dari aku," ucap Mika.Yanto pun segera berlalu dari sana dengan membawa kekesalan yang menggunung dalam hatinya."Itulah akibatnya Mik kalau kita terlalu ikut campur masalah orang. Kita juga yang bakalan repot. Dulu sudah kubilang, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga Viana, tapi kamu berdalih atas dasar rasa kasihan. Sekarang beginilah jadinya, kita yang dikejar-kejar suaminya. Untung aku tadi cepat keluar, kalau tidak entah apa yang akan diperbuatnya padamu," omel Rizal yang sejak awal mula sudah mewanti-wanti Mika untuk tidak terlibat dalam kisruh rumah tangga Viana karena dia sudah menduga suatu saat nanti hal seperti ini akan terjadi da
Mika menahan napas, dia tidak menduga Yanto akan menanyakan hal ini kepadanya. Namun, sejurus kemudian dirinya sudah bisa memahami alasannya.Akan tetapi, tentu saja Mika tidak akan membocorkan hal tersebut karena dia sudah berjanji kepada Viana untuk menutup mulutnya dari Yanto."Oh, jadi kamu sudah tahu kalau Viana pergi dari rumah?" ucap Mika dingin."Ya dan sekarang aku sedang mencarinya. Kamu tau kan dia ada dimana?"Mika menghela napas panjang."Untuk apalagi kamu mencarinya. Bukankah kamu sudah hidup bahagia dengan keluarga barumu itu. Lepaskanlah Viana, dia juga berhak untuk bahagia setelah apa yang menimpanya akhir-akhir ini." Mika mencoba memberi saran kepada Yanto.Namun, alih-alih menerima saran Mika, Yanto justru tersulut emosi."Jangan mengajariku tentang apa yang harus aku lakukan, Mika. Kau hanya orang luar yang kebetulan dipercayai oleh istriku. Jadi jaga batasanmu, jangan terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Sekarang katakan padaku, dimana Viana
"Apa benar Yanto sudah menikah lagi dengan perempuan lain?" tanya Pak Darma seusai mereka makan malam.Viana mengangkat kepalanya, menatap wajah Pak Darma sejenak lalu kembali menundukkan wajahnya."Benar, Yah," jawabnya dengan suara lirih.Suara hembusan napas yang cukup keras meluncur dari mulut pria paruh baya itu. Demi apa pun, sungguh dia tak rela melihat putri angkatnya disakiti demikian. Emosi dan kemarahan perlahan-lahan mulai merayapi hatinya."Apa alasannya?" tanyanya dengan intonasi sedikit meninggi.Viana menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, tatapan matanya terlihat menerawang."Dia ingin punya anak sedangkan aku sampai detik ini belum bisa memberikannya. Istri keduanya itu adalah janda beranak satu. Dia merasa yakin jika menikah dengan perempuan itu, dia akan bisa punya anak karena istri keduanya itu sudah terbukti subur katanya. Selain itu, dia juga ingin meninggikan statusnya menjadi orang kaya serta terpandang karena perempuan itu adalah anak seorang pengusaha te
Derit pintu terdengar halus ketika Viana membuka dan mendorong daunnya ke samping. Sambil menenteng tas yang berisi barang-barangnya, Viana melangkah masuk dengan pelan."Hm...suasana kamar ini masih sama seperti waktu ku tinggalkan dulu. Ternyata ibu masih rajin merawat dan membersihkannya."Seketika itu juga timbul rasa bersalah dalam hati Viana karena selama ini terkesan mengabaikan ibu angkatnya itu."Ibu... maafkan aku karena selama ini tidak pernah menghubungimu," ucapnya lirih.Viana lalu membongkar isi tas nya dan meletakkan barang-barang bawaannya pada tempat yang semestinya. Kegiatan itu ternyata cukup menguras tenaganya sehingga Viana memutuskan untuk beristirahat sebentar.Viana membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Kilas balik kenangan saat dia masih hidup berumah tangga dengan Yanto dan bayang-bayang pengkhianatan Yanto berputar dan bermain-main di benaknya, menciptakan perasaan rindu dan benci dalam waktu yang
"Ayahmu kan sedang di toko. Jam-jam segini biasanya orang rame belanja, jadi dia tidak bisa pulang," jawab Bu Resti."Di toko? Maksudnya, Bu?" tanya Viana dengan heran karena sepengetahuannya ayahnya itu berjualan secara online dari rumah.Bu Resti malah balik menatap Viana dengan heran. Namun, sejurus kemudian, dia menepuk keningnya sambil tertawa kecil."Owalah, pikunnya ibumu ini, Res. Kamu kan belum tahu kalau ayahmu udah punya toko. Jadi gini, dua tahun setelah kamu pergi ke Kota U ikut suamimu, ayahmu dapat warisan dari orang tuannya di kampung. Jumlahnya lumayan besar dan dari warisan itulah, ayahmu memutuskan untuk membeli sebuah ruko dan berjualan sembako di sana karena omset penjualan onlinenya makin lama makin berkurang seiring dengan masuknya pesaing baru. Awal mulanya ya...masih sepi gitu, belum banyak pembelinya. Tapi untungnya ayahmu itu orang yang gigih dan tidak mudah putus asa. Dia melakukan berbagai cara supaya toko itu dikenal banyak orang termasuk promosi baik mel
Keduanya serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana mereka melihat Yanto yang baru pulang dari kantor sedang berdiri terpaku dengan mata melotot melihat ke arah mereka."Ada apa ini?" tanya Yanto sambil berjalan mendekati istri dan adiknya itu.Runi yang merasa cengkraman pada t
"Wah, ternyata sudah hampir jam lima. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Vi. Mau beres-beres rumah sebentar sebelum mertuaku datang," ujar Mika."Baiklah. Terima kasih ya, Mbak untuk kolaknya," sahut Viana."Iya, sama-sama Vi."Mika pun segera beranjak meninggalkan rumah Viana.
Tok...tok...tok...Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Viana yang sedang menyapu lantai di ruang tamu pada sore hari itu. Viana bergegas menuju ke pintu lalu membukanya. Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahunan telah berdiri dihadapannya. Wanita itu mengenakan dress rumahan
"Runi! Runi! Bangun! Sudah jam berapa ini!" teriaknya di depan pintu.Hening, tak ada sahutan dari dalam kamar. Yanto kembali mengetuk pintu kamar Runi bahkan terkesan menggedor pintu tersebut.Beberapa menit kemudian, barulah terdengar Runi bersuara dari dalam kamar."Iya, i







