Home / Rumah Tangga / Madu Pemberian Ipar / Bertemu Teman Lama

Share

Bertemu Teman Lama

Author: Kurnia_cy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-14 08:12:50

Setelah puas meluapkan segala emosinya, Viana pun lalu berkata kepada Bu Resti.

"Ayo Bu, kita pulang sekarang. Langit sudah semakin mendung. Sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan."

Bu Resti mengangguk lalu berdiri. Keduanya bergegas melangkah keluar dari area pemakaman dan berniat langsung pulang supaya bisa terhindar dari kehujanan.

"Nenek Resti!"

Terdengar suara seseorang yang memanggil nama Bu Resti dari arah belakang. Sontak keduanya membalikkan badan hendak melihat siapakah orang ters
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Madu Pemberian Ipar    Usaha Yang Gagal

    “HANCUR! HANCUR SEMUANYA! PERUSAHAAN, RUMAH, ASET, TABUNGAN DAN UANGKU SUDAH DIAMBIL OLEH SI BAJINGAN DEON! AKU JATUH MISKIN, HU... HU... HU... AKU MISKIN SEKARANG....” Feyla mengumpat sambil terisak sedih. Dia duduk di atas sofa dengan kedua lengan memeluk lututnya. Saat ini dia dan Yanto sudah tiba di rumah dengan membawa segunung rasa marah, benci, kecewa dan kesal atas semua kejadian yang menimpa mereka. Sementara itu Yanto hanya terdiam di sudut ruangan yang sepi. Mbok Nah yang melihat dari kejauhan hanya bisa memendam tanya atas apa yang dilihatnya sedangkan Susi tidak ada di rumah karena sedang menjemput Randy pulang sekolah. Untuk beberapa saat keheningan melingkupi ruang tamu di rumah megah itu, hanya sesekali terdengar isak tangis Feyla memecah keheningan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas? Aku tidak mau jatuh miskin, aku tidak mau hidup melarat hu...hu...hu...”Bagaikan anak kecil yang kehilangan mainan, Feyla menangis tersedu-sedu sambil menatap Yanto dengan p

  • Madu Pemberian Ipar    Terusir

    Yanto yang sudah tidak dapat lagi menahan emosi karena mendengar perkataan Deon tersebut langsung melontarkan umpatannya. Rasa malu tak terkira membuat dirinya seolah tak punya muka lagi untuk menghadapi Feyla. Kini dia sadar bahwa akibat kebodohannya, perusahaan milik istrinya itu telah direbut oleh Deon, tapi di sudut hatinya yang lain dia tidak sepenuhnya merasa ini semua adalah kesalahannya. Ini semua karena Feyla yang tidak lagi mau membimbingnya padahal dia masih baru dan perlu banyak belajar dari para seniornya yang dalam hal ini diharapkannya adalah Feyla, istrinya. Jadi menurut Yanto, Feyla juga punya andil dalam kekacauan ini.“Ha...ha...ha... baguslah kalau kau sadar. Tapi itu semua tidak ada gunanya lagi, semuanya sudah terlambat. Sejak kau gagal menyelesaikan masalah di perusahaan dan aku mulai mendapat perhatian dari para investor, dari situlah aku mulai melobi dan mendekati mereka perlahan-lahan. Aku menanamkan dalam pikiran mereka bahwa aku lah yang pantas menjadi pemi

  • Madu Pemberian Ipar    Fakta yang Terungkap 

    Deon balik menatap Feyla dengan tenang, tidak terintimidasi dengan sikap Feyla tersebut. “Untuk masalah ini, kau bisa tanya suami kesayanganmu itu.” “Aku? Kenapa aku? Aku tidak pernah loh menjual saham kepadamu,” tukas Yanto dengan raut wajah sedikit kaget karena Deon melemparkan ‘bola’ kepadanya. “Lalu bagaimana dengan Pak Iwan? Apa kau juga merasa tidak menjual saham kepadanya?” Lagi-lagi Deon berucap dengan santai. Yanto terdiam sejenak. Tentu saja dia mengenal Pak Iwan dan memang benar apa yang dikatakan Deon bahwa dia telah menjual saham miliknya dan Feyla kepada Pak Iwan.“Kenapa kamu diam, Mas? Kamu kenal gak sama dia?” cecar Feyla.“Ke-kenal, Fey,” jawab Yanto terbata.“Benar kamu menjual saham kita padanya?”Yanto mengangguk pelan, otaknya kini dipenuhi banyak tanda tanya besar tentang apa hubungan antara Pak Iwan dengan Deon.“Kenapa kamu berani-beraninya menjual saham kita, Mas?! Apa aku ada memberi izin padamu?! Kau sungguh lancang sekali, Mas!” seru Feyla dengan amara

  • Madu Pemberian Ipar    Feyla Syok.

    “Gimana, Viana? Apa kamu sudah mulai mengerjakan pesanan dari Nyonya Adinata?” tanya Bu Julia di siang hari itu. “Sudah, Bu. Ini saya lagi membuat sketsa kasarnya,” ucap Viana sembari menunjukkan lembaran kertas putih di hadapannya yang telah berisikan sketsa dasar desain yang hampir rampung.Nyonya Julia memperhatikan sketsa yang dibuat oleh Viana dengan seksama lalu dia bertanya tentang konsep dari sketsa yang dibuat tersebut beserta alasan dia memilih konsep itu. Dengan lugas, Viana langsung menjelaskannya di hadapan bos nya itu.Mendengar penjelasan Viana, Nyonya Julia menggangguk-anggukkan kepala, dalam hatinya dia merasa kagum pada kemampuan Viana dalam mendesain dan menjelaskan konsep desain tersebut dengan begitu detail. “Baiklah, kalau begitu lanjutkan lagi pekerjaanmu.”“Baik, Bu.”Nyonya Julia melangkah meninggalkan ruang kerja Viana, tapi tiba-tiba dia berbalik lagi ke meja Viana. “Viana, bagaimana pendapatmu tentang Jimmy?” tanya Nyonya Julia to the point.Seketika Via

  • Madu Pemberian Ipar    Ancaman Bu Elvina

    “Mas Jimmy? Anda Mas Jimmy, kan? Saudara iparnya Mbak Mika?” tanya Viana dengan setengah ragu, takut salah orang. Pria berkemeja navy yang diduga Viana merupakan Jimmy, terlihat memandang Viana dengan intens. ‘Benar, saya Jimmy. Kamu siapa, kenapa bisa mengenali saya? Tapi... tunggu dulu, rasanya saya sedikit familiar dengan wajahmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” ucap Jimmy sambil terus menatap Viana. “Saya Viana, Mas. Saya dulunya tetangga Mbak Mika sewaktu masih tinggal di Kota U,” jelas Viana. “Viana... Viana... Oh iya, saya ingat sekarang. Kalau tidak salah, waktu itu kamu pernah hampir ketabrak sama mobil saya. Iya, kan?” “Iya, benar, Mas.”“Tapi kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu harusnya ada di Kota U?” Jimmy mengungkapkan keheranannya. Viana tersenyum kecil melihat kebingungan Jimmy.“Saya kerja di sini, Mas dan sekarang saya juga tinggal menetap di kota ini.”“Oh, begitu ya.”“Iya, Mas. Kalau gitu saya permisi dulu, Mas.”“Oke, eh... maaf ya, tadi saya udah n

  • Madu Pemberian Ipar    Kedatangan Nyonya Adinata

    “Siapa cewek tadi itu, Kak? Datang-datang langsung marah-marah saja,” ucap Ayu ketika Viana sudah kembali. “Oh...itu mantan adik ipar kakak. Biasalah, dia memang kayak gitu orangnya. Sehari saja gak ngebully kakak, gak senang dia, meriang, panas dingin badannya,” seloroh Viana bercanda. “Ha...ha...ha... Kakak ini, bisa aja bercandanya. Tapi Kak...serius nih, tadi aku dengar dia nyebut - nyebut Kakak penyebab kakak iparnya keguguran, itu ceritanya gimana sih, Kak dan kapan kejadiannya?” tanya Ayu penasaran. “Oh itu. Jadi gini...” Viana lalu mulai menceritakan kejadian beberapa waktu lalu yang melibatkan dia, Runi dan Feyla. Ayu mendengarkan dengan seksama. Di sepanjang Viana bercerita, raut wajah perempuan bertubuh mungil itu berubah-rubah, campuran antara marah, kesal dan juga geram. “Haissh....gila! Gak nyangka aku ada orang se-bloon itu. Dipikirnya gampang apa mencuri di toko perhiasan sekelas Sparkle n’ Shining Diamond. Pengamanannya gak main-main, CCTV bertebaran dimana-mana.

  • Madu Pemberian Ipar    Panas!

    "Heh, pelakor! Tidak perlu merisaukan anak-anak kami. Yang perlu kau risaukan itu adalah dirimu sendiri yang sampai hati merusak rumah tangga orang lain hanya demi materi dan kesenangan sesaat," balas seorang ibu yang bernama Wulan."Benar dan kalau kau menuding kami tidak punya sopan sant

  • Madu Pemberian Ipar    Permintaan Warga

    Pak RT terdiam sesaat. Pria berkemeja batik itu menoleh sekilas ke arah rombongan ibu yang berbaris di belakangnya kemudian berbalik menatap Viana. Tampak jelas di wajah pria paruh baya itu perasaan tidak enak hati.Akan tetapi, pria itu juga menyadari bahwa sudah menjadi tanggung jawabnya

  • Madu Pemberian Ipar    Tamu Di Rumah Yanto

    "Lho, kenapa Run? Kok berhenti?" tanya Mita."Mmm...gimana ya." Runi terlihat ragu-ragu.Dia sibuk melirik ke kanan dan kiri. Perseteruannya tadi dengan Silvia dan Dinta telah menyita perhatian cukup banyak pengunjung. Dia khawatir kalau nanti ada lagi orang yang akan membullynya ji

  • Madu Pemberian Ipar    Cerita Ala Runi

    Sejenak Runi terdiam, memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan. Tak mungkin dia berkata jujur karena itu sama saja dengan dia membuka aibnya sendiri."Udah nggak ada lagi kecocokan diantara kami, Kak. Daripada mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat lagi, bukankah lebih baik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status