LOGINSiang itu, awan hitam bergelayut di langit biru Kota U, menciptakan nuansa mendung yang pekat. Sang surya seolah menghilang di balik kepungan barisan awan yang siap memuntahkan jutaan liter air ke permukaan bumi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalanan kian mempercepat langkahnya supaya mereka bisa terhindar dari guyuran air yang disebut hujan itu.Akan tetapi, pada sebuah area pemakaman, di sebuah makam yang tampak baru dengan tanah yang masih basah dan taburan bunga-bunga yang masih segar, terlihat orang - orang yang hadir di sana tetap berdiri di tempatnya seolah-olah tidak terpengaruh dengan kondisi cuaca saat itu. Beberapa orang tampak mulai membuka payung yang rupanya sudah mereka siapkan sebelumnya untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang berubah-ubah saat mereka merasakan tetesan air mulai jatuh di atas kepala mereka.Seorang wanita berpakaian serba hitam berjongkok di samping makam. Wajahnya pucat bersimbah air mata yang tiada hentinya mengalir dari kedua ma
“Anak kita, Mas... anak kita tidak selamat... Dia meninggal... hu... hu...hu.. .” tangis Feyla dalam pelukan Yanto.Degh!Yanto terkejut kala mendengar Feyla sudah tahu perihal bayi mereka yang telah meninggal itu. Dalam pikirannya, Feyla belum mengetahui hal tersebut dan dia berencana untuk menunda memberitahukannya minimal sampai kedatangan Pak Indra.Kondisi Feyla yang baru selesai operasi menjadi pertimbangan Yanto untuk mengambil keputusan tersebut. Dia tidak ingin Feyla menjadi stress karena mendengar berita tersebut sehingga dapat memperburuk kondisinya pasca operasi.Akan tetapi, harapannya tidak terkabul. Feyla sudah mengetahui perihal kematian bayi mereka dan hal itu membuat Yanto menjadi khawatir dengan kondisi fisik dan mental Feyla ke depannya.Yanto mengelus surai hitam milik Feyla dengan lembut, berusaha menenangkan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.“Iya, mas juga sudah mengetahuinya. Kamu yang saba
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja, kan? Anak yang dalam kandungannya juga baik-baik, kan?” cecar Yanto bertubi-tubi ketika mereka sudah berada di dalam ruangan Dokter Nilam, dokter yang menangani Feyla.Dokter Nilam menatap Yanto dengan wajah serius.“Pak Yanto, setelah kami melakukan pemeriksaan pada istri Bapak, ternyata istri Bapak mengalami ruptur uterus atau perobekan pada rahim dimana kerasnya benturan menyebabkan dinding rahim robek atau pecah sehingga mengakibatkan pendarahan hebat. Untuk itu kami harus segera melakukan operasi guna mengeluarkan janinnya dan untuk melakukan operasi tersebut, kami harus mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari keluarga pasien,” jelas Dokter Nilam.“Tidak mungkin...tidak mungkin, Dok. Tidak mungkin sampai separah itu!” Tanpa sadar, Yanto menolak penjelasan dokter.“Tapi itulah kenyataannya, Pak dan berhubung kondisinya darurat, kami sangat mengharapkan
Dua orang secara serentak menyerukan nama Feyla dengan nada penuh kepanikan.Orang itu adalah Runi dan Yanto yang baru kembali dari toilet. Yanto sangat terkejut bukan main melihat kondisi istrinya yang berlumuran darah.“Kak Feyla!”“Feyla, Sayang....Kamu...kamu berdarah!” seru Yanto panik.Keduanya kini sudah berada di samping kiri dan kanan Feyla. Yanto memeluk dan memangku tubuh Feyla yang mulai terasa dingin.Saking paniknya, Yanto bahkan sampai tidak menyadari bahwa Viana, mantan istrinya berada tidak jauh dari tempatnya saat ini.Feyla yang masih setengah sadar dan melihat suaminya sudah datang segera mencengkram kuat lengan Yanto, wajahnya pucat pasi dan jari jemarinya terlihat bergetar menahan rasa sakit yang melilit perutnya.“M-mas... tolong. Tolong selamatkan anak kita. Aakkh... Sakitttt...” rintih Feyla dan setelah itu tiba-tiba saja dia pingsan.“Feyla....Feyla... Bangun,
“Benar. Kau kaget mendengarnya, bukan?” jawab Viana dengan senyuman sinis.“Tidak mungkin! Kau pasti bohong. Mana mungkin Nyonya Julia mau merekrut orang sepertimu. Ini semua pasti akal – akalan mu saja supaya kau bisa bebas dari hukuman. Dasar licik dan pembohong!” cerca Feyla dengan raut wajah marah.“Ya ya ya... terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas aku telah berkata sejujurnya.”“Aku tidak percaya! Kau pasti bohong!” tunjuk Feyla di depan wajah Viana.“Ya benar, dia pasti bohong, Kak. Mana mungkin wanita seperti dia bisa bekerja di perusahaan bonafit,” timpal Runi yang diam-diam mencari informasi tentang PT. Cindera Kilau Murni di ponselnya dan dia begitu terkejut saat mendapati kenyataan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan besar yang jangkauan pasarnya sudah merambah skala internasional.“Sudahlah Feyla, Runi. Jangan membuat masalah lagi. Pergilah segera
Viana mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah si satpam.“Bapak bicara sama saya?” tanya Viana seraya menunjuk dirinya.“Benar, Mbak. Bisa ikut saya sebentar?” ulang satpam tadi.“Tunggu dulu, Pak. Ini ada apa? Kenapa saya harus ikut Bapak? Memangnya saya salah apa?” tanya Viana bertubi-tubi.“Saya mendapatkan laporan bahwa Mbak telah mencuri di toko ini. Untuk itu saya minta kerjasamanya supaya masalah ini menjadi jelas.”“Saya mencuri?” Viana terbengong mendengar penjelasan pak satpam.Satpam tersebut menganggukkan kepalanya.“Siapa yang melaporkan saya? Apa dia punya bukti kalau saya mencuri di sini?” tukas Viana kesal.“Kami yang melaporkanmu! Dasar pencuri, tidak tahu malu kau! Sebegitu parahnya kah hidupmu sekarang ini? Apa gajimu sebagai karyawan minimarket tidak mencukupi sehingga kau nekat mencuri di toko orang? Sungguh, aku sangat mal
Runi menatap bergantian kedua orang yang ada di depannya itu, tetapi tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Akhirnya, Runi yang sudah tidak sabaran lagi segera menarik kertas yang ada di hadapan Yanto dan Feyla.Dengan cepat, matanya menelusuri deretan huruf – huruf yang tertulis di sana.
Setibanya di dalam rumah, Feyla dan Runi hanya melihat Yanto yang sedang duduk di kursi ruang tamu sedangkan Viana tidak terlihat sosoknya di sana."Kamu kenapa duduk di sini, Mas? Viana mana?" tanya Feyla sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Yanto."Viana lagi di dalam kamar dan
"Ya, memang harus begitu, Mas. Kamu harus tegas. Jangan mau kalah sama istrimu itu. Bisa besar kepala dia nantinya," hasut Feyla.Meski dalam hati dia merasa keberatan akan keputusan Yanto itu, tetapi dia berusaha bermain cantik dengan menunjukkan sikap prihatin dan memberi dukungan kepada
Ya, Feyla memanfaatkan tawaran kerjasama yang diajukan oleh perusahaan pak Edo dengan perusahaannya untuk membuat Yanto keluar dari perusahaan itu.Melalui Deon, Feyla berjanji akan menerima tawaran kerjasama tersebut jika Yanto dipecat dari sana.Meskipun sedikit heran dengan permi







