LOGIN"Kau?! Si pelakor?!" seru Dinta dengan suara yang cukup keras.
Silvia yang meski sudah menduga sebelumnya, tak urung kaget juga melihatnya.
"Runi?" lirih Silvia.
Tak pernah mereka sangka bahwa mereka akan bertemu dengan Runi, si perusak rumah tangga mereka, di mall itu.
"Heh, pelakor! Mau cari gara-gara kau ya. Sudahlah suami kami kau ambil, harta kami juga kau nikmati, sekarang kau malah berbuat kasar kepada kami. Apa urat malumu sudah putus atau otakmu yang sudah
“Bang, aku minta uang, dong. Aku mau shopping sama teman-teman aku,” pinta Runi sambil menadahkan tangan di depan Yanto yang sedang mengetik di depan laptop di ruang tamu.Yanto menghentikan kegiatannya sejenak, menatap jam dinding lalu mengerutkan keningnya.“Malam-malam begini?”“Iya, Bang. Soalnya hari ini ada temanku yang ulang tahun dan malam ini dia mau traktir aku dan teman-temannya yang lain makan-makan di restoran dan habis itu rencananya kami juga mau shopping di mall,” jelas Runi.Yanto memperhatikan penampilan Runi dari atas ke bawah. Runi tampak cantik malam itu dengan dress ala sabrina berwarna peach yang membalut sempurna tubuhnya yang langsing ditambah lagi dengan berbagai aksesoris dan perintilan yang serasi dengan bentuk dan warna pakaiannya. Wajahnya dirias dengan make up flawless dan rambutnya dicurly pada bagian ujungnya dengan sebuah jepit berwarna silver disematkan di rambut bagian samping.“Nanti jam berapa pulangnya?” tanya Yanto.“Belum tau, Bang. Soalnya ini
Viana terus menatap kedua orang itu dengan tajam. Rasa kesal mencuat dalam hatinya. Sungguh, dia malas sekali kalau harus berurusan lagi dengan mereka.“Mau apa lagi kalian kemari?!” tanya Viana dengan ketus ketika dua orang itu telah berdiri di hadapannya. Mereka adalah Yanto dan Feyla. Seperti yang diketahui sebelumnya, Yanto dan Feyla berniat menemui Viana dan membujuknya untuk mencabut laporannya lantaran saat ini Feyla tengah berbadan dua.Reva yang saat itu masih berdiri di samping Viana tercengang melihat perubahan sikap Viana yang tadi terlihat ceria sekarang berubah menjadi dingin ketika bertemu dengan kedua orang itu.“Kita harus bicara, Dek. Ada—““Viana. Panggil aku Viana. Aku tidak suka dipanggil seperti tadi!” tekan Viana ketus.“Baiklah. Viana, ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu,” ucap Yanto dengan nada serius.Viana menatap Yanto dan Feyla bergantian. Dia bisa menangkap aura ketegangan pada wajah keduanya meskipun Feyla berusaha menutupinya dengan sikap s
Yanto serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri sehingga dia mengulangi kembali ucapan dokter Rico.“Benar, Pak. Tapi saat memeriksa kondisi pasien tadi, kami menemukan bahwa tekanan darahnya naik. Pasien sempat bercerita kalau tadi dia sedang emosi. Kondisi ini dapat membahayakan kandungannya. Jadi Pak, saya harap dengan mengetahui kehamilan ini, Bapak bisa membantu istri Bapak untuk menjaga emosinya agar lebih stabil dan tidak gampang marah-marah,” papar dokter Rico.Wajah Yanto yang tadinya sumringah kini berubah sedikit muram. Rasa penyesalan timbul di dalam hatinya. Bagaimana tidak, karena ulahnya yang nekat mencari Viana secara diam-diam membuat dirinya bertengkar dengan Feyla yang berujung pada terancamnya calon anak mereka yang saat ini ada dalam rahim istrinya itu meskipun pada awalnya dia sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilan Feyla tersebut.“Baik, Dok. Terima kasih telah menolong istri saya.”“Sama-sama, Pak. Itu sudah merupakan tugas kami. Saat ini istri Bap
Langit pada siang hari itu tampak mendung. Awan-awan hitam menggantung di angkasa, menyembunyikan sang surya dalam dekapannya. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan pasir dan debu yang ada di jalanan membuat pedih mata orang yang dimasukinya. Orang-orang yang sedang berlalu lalang tampak bergegas dan mempercepat langkah karena mereka sudah bisa memprediksi bahwa sebentar lagi sekumpulan air dalam jumlah besar akan mengguyur bumi.Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian hujan turun dengan deras disertai angin yang makin kencang. Udara terasa dingin seketika membuat tubuh menggigil.Akan tetapi, suasana tersebut berbanding terbalik dengan suasana di dalam sebuah ruangan di suatu gedung perkantoran yang saat ini sedang diliputi aura ketegangan karena adanya suatu masalah.“Jelaskan padaku, Mas! Kenapa bisa ada surat panggilan dari kepolisian untukmu? Apa yang sudah kau lakukan sampai kau harus berurusan dengan pihak kepolisian?!” cecar Feyla dengan nada keras sambil mengacung-acun
Tendangan itu cukup membuat Yanto kesakitan sehingga gunting yang tadi dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai sedangkan cekalannya pada Viana mulai melonggar. Menyadari ada kesempatan untuk membebaskan diri, Viana segera mendorong tubuh Yanto ke samping dan dengan cepat dia berlari menjauhi Yanto, bersembunyi di belakang bu Nining dengan tubuh yang masih gemetaran karena syok dengan perilaku Yanto tadi.“KURANG AJAR! SIAPA YANG MENENDANGKU?!” teriak Yanto dengan suara keras. Matanya berputar cepat menyapu wajah orang-orang di sekitarnya. Kilatan amarah terpancar jelas dari bola matanya yang memerah.“AKU!”Sesosok tubuh ramping berbalut baju kaos dan celana jeans dengan potongan rambut pendek maju dan berdiri tegap di hadapan Yanto.‘Vera?’ gumam Viana terkejut dalam hatinya. Vera adalah anak pemilik toko bangunan yang ada di sebelah minimarket bu Nining. Gadis itu berusia dua puluh lima tahun dan Viana sudah berkenalan dengan Vera beberapa hari setelah dia bekerja di minimarket ter
Beberapa hari kemudian...Viana sedang menata kemasan makanan ringan dan bumbu dapur di rak pajangan ketika sebuah suara menyapa indra pendengarannya dari arah belakang."Viana."Seketika tubuh Viana menegang mendengar suara yang familiar itu, suara yang sosok pemiliknya sudah mulai Viana lupakan. Kemasan bumbu dapur yang semula berada dalam genggamannya, tanpa sadar terlepas dan menimbulkan bunyi 'pluk' ketika benda itu bertemu dengan lantai.Dengan dada berdebar kencang, Viana memutar tubuhnya perlahan dan ketika tubuhnya sudah berdiri sempurna berhadapan dengan orang yang menyerukan namanya itu, sepasang bola matanya sontak terbelalak lebar."M-mas Yanto," desisnya lirih.Ya, ternyata orang yang memanggil Viana itu adalah Yanto. Berbanding terbalik dengan Viana yang tampak terkejut melihat kehadiran Yanto, Yanto malah terlihat sangat gembira dan tersenyum lebar melihat sosok yang selama ini begitu dirindukannya sedang berdiri di hadapannya."Benar, Dek. Ini aku, suamimu," sahut Yan
Sementara itu, Runi yang sedang berjalan di lorong mall kembali sibuk memindai toko selanjutnya. Kali ini yang menjadi pilihannya adalah toko sepatu dan terulang kembali hal yang sama seperti di butik tadi dimana hal tersebut cukup memancing emosi para pelayan toko. Namun, Runi tak m
"Apa maksud Lo bertanya demikian? Lo ingin mengejek gue, nyindir gue?" tukas Runi dengan emosi kendati suaranya bernada rendah."Sabar...sabar Run. Gue nggak ada maksud demikian. Sini, gue bisikin alasannya."Seusai berkata demikian, Santi kian mendekatkan wajahnya kemudian berkata
Selepas pelayan itu pergi, Runi mengeluarkan ponselnya, berniat melihat-lihat postingan di salah satu akun medsosnya. Namun, hal tersebut urung dilakukannya ketika mendengar suara pintu kafe dibuka dari arah luar.Runi memicingkan mata untuk melihat siapa yang datang. Saat melihat bahwa or
Yanto menghembuskan nafas kasar. Dalam hatinya, dia merasa sedikit kecewa karena Runi masih belum mau berusaha mendekatkan diri dengan Viana. Padahal Yanto sangat berharap sekali kalau Viana dan Runi bisa akur sehingga keduanya tidak perlu saling bersitegang setiap saat."Ya sudah kalau be







