LOGINGaluh menatap Yanto dengan tatapan datar. Wanita yang kini memegang mandat dari Viana untuk mengurus perceraiannya itu tetap bersikap tenang, tak tergoyahkan meski lawan bicaranya terkesan mengintimidasi lewat perkataannya barusan. Sudut bibirnya sedikit melengkung, dia bisa merasakan nada keputusasaan dalam gertakan Yanto itu."Saya memang mengetahui alamat Viana, tetapi Viana sudah berpesan kepada saya untuk tidak memberitahukannya kepada Anda dan saya akan memegang amanat dari Viana itu. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa membantu Anda, Pak Yanto," ucap Galuh jujur."Tolonglah saya, Bu. Beritahukan alamatnya. Saya tidak akan menganggunya, saya hanya ingin mengetahui keadaannya, apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Yanto dengan memelas, berharap Galuh akan luluh.Tidak pernah terlintas dalam pikiran Yanto bahwa Viana akan kembali ke rumah orang tua angkatnya karena Yanto beranggapan bahwa Viana pasti tidak akan berani pulang ke sana. Viana pasti akan malu kalau ketahuan kabur
Di siang hari yang terik itu, sebuah mobil mewah berwarna merah metalik memasuki halaman luas sebuah gedung. Mobil tersebut terus meluncur menuju area parkiran. Setelah menemukan tempat parkir yang pas, mobil pun berhenti dan dari dalam turunlah dua orang pria dan wanita. Keduanya berjalan menuju gedung dengan langkah lebar.Ketika hendak memasuki area dalam gedung, tiba-tiba langkah si pria terhenti dan itu membuat wanita yang berjalan di sampingnya menjadi heran dan bertanya-tanya."Bang, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya si wanita.Si pria tidak menjawab. Dia malah menatap nanar bangunan bercat putih yang berdiri kokoh di hadapannya, mulai dari bagian atas gedung hingga ke bawahnya."Bang!" tegur si wanita sekali lagi.Si pria memandang si wanita lalu menghembuskan napas berat."Abang kenapa sih? Kok jadi galau kayak gini?" protes si wanita."Apakah ini akhirnya, Run? Apa memang harus begini nasib pernikahanku dengan Viana?""Ish, Abang ini gimana sih, tadi sebelum datang ke sini, A
Tok tok tok.Suara ketukan di pintu kamarnya mengalihkan atensi Bayu yang semula fokus pada layar televisi di depannya."Siapa?" tanyanya seraya beringsut turun dari ranjang."Ini Riani, Pa," sahut orang di balik pintu.Refleks Bayu menolehkan kepalanya menatap jam pada dinding kamarnya."Sudah jam sepuluh malam. Tidak biasanya Riani belum tidur jam segini. Ada apa, ya?"Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Bayu berjalan ke pintu kamar lalu membukanya."Riani? Ada apa, Nak?""Papa...aku boleh masuk ke dalam? Ada yang ingin Yani tanyakan sama Papa.""Tentu saja boleh, ayo masuk Sayang."Keduanya lalu berjalan beriringan masuk ke dalam kamar Bayu dan duduk di pinggir ranjang. Bayu mengambil remote TV lalu dengan sekali pencet, layar TV langsung berubah gelap."Nah Riani, sekarang apa yang mau kamu tanyakan?"Riani terlihat ragu sejenak, tetapi sejurus kemudian gadis cilik itu memberanikan dirinya."Pa...apa benar tante Viana tidak mau jadi mamanya Yani?" tanyanya dengan suara lirih.
Bu Ajeng memasuki rumah dengan langkah gontai. Setibanya di dalam rumah, dia melemparkan tas nya begitu saja di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Peristiwa tadi masih membayang di pelupuk matanya membuat rasa geram di hatinya kembali membuncah."Kurang ajar perempuan itu! Aku ditipunya mentah-mentah. Di depanku berlagak seperti perempuan baik dan anggun, tetapi di belakangku dia tak ubahnya seperti perempuan murahan yang tidak ada harga dirinya bahkan kini dia sedang mengandung anak haram dalam perutnya. Benar-benar menjijikkan. Untung Bayu bersikeras menolak, kalau sempat Bayu juga tertarik padanya, mau dikemanakan mukaku ini, punya menantu yang kelakuannya kayak pelacur!" umpat Bu Ajeng dengan suara lirih."Apa Nek? Nenek ngomong apa?" tanya Riani yang mendengar suara gumaman neneknya."Hah? Oh...eh...nenek tidak ngomong apa-apa, kok," bohong Bu Ajeng."Masak sih, Nek? Tadi Riani dengar Nenek kayak bicara-bicara sendiri, kayak ngomel-ngomel gitu," cecar Riani dengan dah
Meskipun bibirnya menggumamkan beberapa kali kalimat sangkalan, tetapi kenyataan di depan matanya tetap tidak berubah. Sosok wanita berbalut selimut itu masihlah tetap Veby meskipun wajahnya terlihat lebam dan di sudut bibirnya terdapat cairan merah, entah karena apa.Saking syoknya, Bu Ajeng sampai terhuyung mundur dua langkah dan secara tidak sengaja dia menginjak kaki orang yang berdiri di belakangnya."Hei, Bu. Hati-hati, dong! Liat nih, kaki saya keinjek sama Ibu," protes orang tersebut."Ma-maaf, saya tidak sengaja," ucap Bu Ajeng menatap orang itu, tetapi sejurus kemudian dia terperanjat ketika melihat wajah orang yang kakinya dia injak."Lastri?"Wanita yang dipanggil Lastri itu pun menatap Bu Ajeng dengan dahi berkerut, berusaha mengingat siapa orang di depannya ini dan kenapa orang ini bisa tahu namanya."Ajeng? Benar ini kamu, Jeng?" Lastri malah balik bertanya."Iya, benar. Kok kamu bisa ada di sini, Las?" tanya Bu Ajeng."Lah, aku kan tinggal di sini," sahut Bu Lastri."O
Siang itu, Bu Ajeng tampak tengah bersiap-siap hendak pergi. Kali ini dia akan membawa Riani ikut serta dengannya berhubung Riani sedang libur sekolah karena guru-guru rapat. Setelah keduanya siap, mereka lalu duduk di teras, menunggu kedatangan taksi online yang sudah dipesan oleh Bu Ajeng"Kita mau kemana, Nek?" tanya Riani. Bocah perempuan itu sudah tampak rapi dan cantik dengan dress selutut berwarna merah muda. Riani memang penyuka warna merah muda sehingga barang-barang kepunyaannya didominasi oleh warna merah muda mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan rambut hingga tas sekolahnya juga berwarna merah muda."Kita mau ke rumah Tante Veby," jawab Bu Ajeng singkat sambil matanya menatap ponsel untuk mengetahui posisi driver taksi online yang sudah dipesannya. Ya, Bu Ajeng mengetahui bahwa hari ini Veby tidak masuk kerja karena mengambil cuti dan kesempatan itu digunakannya untuk mendekatkan Veby dengan Riani. Bu Ajeng yang menyadari bahwa Bayu menaruh hati kepada Viana memutuskan un
"Hhh...tidak kusangka Mbak Silvia orangnya pendendam gitu. Untuk apa dia posting hal begituan. Bukankah hal itu sama saja dengan membuka aib rumah tangganya sendiri?" ucap Yanto setelah terdiam beberapa saat."Mbak Silvia? Maksud Mas?" Viana mengerutkan keningnya."Ya, itu. Pasti Mb
Yanto menghela nafas sejenak. Lelah, itulah yang dia rasakan saat ini. Disaat konflik antara istri dan adiknya masih belum menemukan titik penyelesaian, kini datang pula komplain dari para warga yang didominasi oleh kaum ibu-ibu dimana mereka merasa sangat keberatan dengan kehadiran Runi di kompl
Menyadari bahwa dirinya mulai terancam, Runi kini melayangkan tatapan memohon kepada Viana, berharap agar kakak ipar nya itu tirun tangan untuk menyelamatkannya. Akan tetapi, Viana malah membuang pandangan ke arah lain, membuat Runi menjadi geram.'Keterlaluan betul dia. Tidak mau menolong
"Heh, pelakor! Tidak perlu merisaukan anak-anak kami. Yang perlu kau risaukan itu adalah dirimu sendiri yang sampai hati merusak rumah tangga orang lain hanya demi materi dan kesenangan sesaat," balas seorang ibu yang bernama Wulan."Benar dan kalau kau menuding kami tidak punya sopan sant







