LOGIN"Lepaskan aku, Mas! Lepaskan!""Tidak akan! Kau masih istriku dan kau wajib melayaniku, suamimu! Ayolah, Viana. Jangan jual mahal seperti itu. Aku tahu kau juga menginginkannya bukan? Sudah lama juga kita melakukannya. Aku merindukan tubuhmu, Dek."Seketika itu juga bulu-bulu di tubuh Viana meremang. Dia paham akan maksud perkataan suaminya itu."Tidak, jangan lakukan itu. Ingat Mas, kau sudah menandatangani persyaratan yang aku ajukan dan jika kau melanggarnya, kau harus menceraikan aku. Apa kau memang ingin kita bercerai?" Viana berusaha mengingatkan Yanto akan konsekuensi yang harus dihadapinya jika melanggar perjanjian tersebut.Akan tetapi, Yanto yang sudah dikuasai nafsu tidak memedulikan peringatan Viana itu. Rasa rindu, amarah dan kecewa dengan sikap Viana akhir-akhir ini membuatnya gelap mata. Sambil tersenyum menyeringai, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Viana."Persetan dengan semua perjanjian itu! Bagiku yang penting saat ini adalah kau harus melayani hasratku."Setelah
Malam hari itu di kamar Viana."Mau apa lagi kamu ke sini, Mas? Nanti istri muda mu marah kalau tahu kamu ke sini," ucap Viana dengan nada datar."Jangan begitu, Dek. Bagaimana pun juga kamu masih istri mas dan menjadi tanggung jawab mas untuk memperhatikanmu," ucap Yanto."Sudahlah, jangan bertele-tele. Sekarang katakan saja apa mau Mas dan setelah itu keluarlah dari kamarku!"Yanto menatap Viana dengan kecewa. Hatinya terasa sakit melihat perubahan sikap Viana yang begitu dingin padanya."Mas ke sini mau memberikan oleh-oleh untuk kamu. Terimalah, semoga kamu suka. Maaf, mas terlambat memberikannya karena mas tiba-tiba ada urusan pekerjaan mendadak," sesal Yanto seraya menyodorkan sebuah paper bag berukuran cukup besar.Viana hanya melirik sekilas kemudian kembali memalingkan wajah ke arah semula."Aku gak butuh barang-barang itu, Mas. Lebih baik kamu bawa kembali dan berikan pada adikmu. Aku rasa dia lebih membutuhkan barang-barang itu daripada aku."Penolakan dari Viana itu sontak
Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Tanpa terasa seminggu pun telah berlalu dan hari ini adalah hari kepulangan Yanto dan Feyla dari acara bulan madu mereka.Sekitar tengah hari mereka telah sampai ke rumah. Ternyata, Runi pun juga pulang pada hari itu. Hanya saja dia pulang lebih awal dari Yanto dan Feyla.Viana yang waktu itu memang tengah berada di rumah, memperhatikan suami dan madunya yang melangkah masuk ke dalam rumah.Dia melihat keduanya tampak gembira dengan raut wajah yang selalu dihiasi dengan senyuman.Feyla yang menyadari Viana tengah memperhatikan mereka makin mengeratkan pegangannya pada tangan sang suami dengan tujuan untuk membuat Viana menjadi panas dan cemburu.Akan tetapi, Viana hanya mengedikkan bahu, bersikap tidak peduli pada kedatangan kedua orang itu.Berbeda dengan Runi yang tampak begitu antusias menyambut kedatangan Yanto dan Feyla dengan sebuah maksud yang terselubung di baliknya yaitu mendapatkan oleh-oleh dari Feyla."Selamat pulang kembali ke
"Hallo, Mas.""Ya, ada apa Dek? Tumben telepon. Ish....aahhh... sebentar, Fey. Ini Viana lagi telepon."Deg!Walaupun kalimat terakhir diucapkan dengan lirih, tetapi telinga Viana cukup mampu mendengarnya dengan jelas.Dari ucapan Yanto barusan, Viana bisa mengerti apa yang mereka berdua sedang lakukan.Viana memejamkan mata, menarik napas panjang, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya. Meskipun berkali-kali mensugesti dirinya untuk bersikap biasa saja melihat kemesraan Yanto dan Feyla, tapi tak urung benteng yang dibangunnya itu harus porak poranda diterjang badai kecemburuan. Setelah beberapa saat, kala dia merasa sudah cukup tenang, barulah Viana kembali berbicara."Mana Feyla? Ini Bik Imah mau bicara."Hening sejenak dan tidak lama kemudian suara Feyla terdengar dari seberang sana."Ini aku. Ada apa?" ucapnya sedikit ketus karena merasa aktivitas bermesraannya jadi terganggu dengan telepon dari Viana.Alih-alih menjawab, Viana malah menyerahkan ponselny
"Aduh mamaku sayang, aku kan sudah bilang kalau aku gak tertarik sama cewek seperti itu. Aku memang nggak terlalu kenal sama dia walaupun aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia adalah tetangga Mika dan aku ketemu dengan dia waktu aku menginap di rumah Mika. Memang dia itu agak sedikit kegenitan juga, soalnya dia pernah nyamperin aku di rumah Mika dan minta kenalan sama aku secara langsung," jelas Jimmy"What? Jadi dia tinggal di dekat rumah Mika? Wah, bahaya nih. Kalau gitu lebih baik kamu nggak usah sering-sering ke sana, Jimmy. Siapa tahu dia nanti malah nungguin kamu di rumah Mika." Bu Helen tampak khawatir.Mendengar kekhawatiran mamanya, Jimmy tersenyum tipis."Nggak kok, Ma. Aku kan ke sana nggak sering-sering amat. Hanya sesekali saja, itu pun hanya untuk urusan pekerjaan. Lagian Mika juga kurang suka sama dia karena dia itu seorang pelakor, entah gimana ceritanya aku juga nggak tahu jelas karena aku jarang mantau media sosial.""Apa?! Dia pelakor? Wah, bener-bener gak
Runi menepuk pelan keningnya. Saking terburu-burunya ingin pergi dari situ, dia sampai melupakan bahwa dia telah memesan makanan di sana.Namun, sekarang dia tiba-tiba saja tidak berselera lagi dengan makanan itu."Batalin aja, aku lagi buru-buru sekarang. Gak sempat makan," ucapnya sambil bersiap untuk pergi.Mendengar perkataan Runi itu, sontak si pelayan menjadi marah dan kesal."Gak bisa kayak gitu, Kak. Pesanan Kakak sudah ready dan itu berarti Kakak harus bayar. Lain ceritanya kalau pesanan Kakak belum dibuat, baru Kakak boleh cancel," jelas pelayan itu."Ah gitu aja dibikin ribet. Kalian kan bisa tawarkan ke pengunjung lainnya, siapa tahu ada yang berminat," tukas Runi masih bersikeras tidak ingin membayar.Semakin geramlah pelayan itu melihat sikap Runi yang terkesan menggampangkan masalah."Saya nggak mau tahu ya, Kak. Pokoknya Kakak harus bayar makanan yang sudah Kakak pesan atau Kakak mau ya saya viralin di medsos dengan caption "gaya selangit tapi nggak punya duit". Apa ma







