ANMELDEN"Apa-apaan kalian ini! Orang baru tiba sudah diberondong pertanyaan kayak gitu. Sabar dikit napa. Biarkan Viana belanja dulu, baru setelah itu kalian bertanyalah. Ini orang baru sampai, belum sempat atur nafas, kalian malah nyerocos duluan," bela Bu Reni.
"Eh, Reni. Nggak usah ikut campur. Kami bertanya sama Viana, bukan sama kamu," sewot Bu Lela.
"Iya, tapi--"
"Nggak apa-apa, Bu Reni. Biar saya jawab pertanyaan ibu-ibu ini," potong Viana yang tak ingin Bu Reni jadi berte
“APA?! MENIKAH LAGI?!” teriak Yuda dengan mata melotot.“Iya, Yud. Mama sama papa sudah tidak bisa lagi menunggu. Teman-teman mama semuanya sudah pada punya cucu bahkan ada anaknya yang baru satu tahun menikah malah sudah melahirkan. Ini kalian malah belum sama sekali. Jangankan melahirkan, hamil pun belum,” ucap Elvina sedikit ketus.Yuda menyugar rambutnya ke belakang. Sungguh, dia tidak pernah menduga kedua orang tuanya mempunyai rencana seperti ini. Selama ini dia melihat hubungan istri dengan kedua orang tuanya itu baik-baik saja, tidak pernah terlihat Elvina maupun Bagas menekan Clara untuk segera hamil sehingga Yuda beranggapan bahwa kedua orang tuanya itu fine – fine saja dengan masalah ini.Akan tetapi, pada malam hari ini semuanya terungkap bahwa sebenarnya ayah dan ibunya tidak sepenuhnya bisa menerima kondisi Clara yang masih belum hamil sampai detik ini.“Tapi, Ma... aku sangat mencintai Clara dan tak ada sedikit pun keinginan di hatiku untuk menikah dengan perempuan lain
Beberapa hari kemudian di sebuah kafe...“Selamat siang, Tante. Maaf, saya terlambat dan membuat Tante menunggu lama,” ucap Runi sembari memasang wajah penuh penyesalan di hadapan seorang wanita paruh baya. Wanita itu adalah Elvina, mertua Clara.“Tidak apa-apa, Runi. Duduklah. Sebelum kita ngobrol, ada baiknya kita makan dulu. Kamu mau pesan apa?”Runi menatap wanita paruh baya di depannya itu seraya menyunggingkan senyum manisnya.“Terserah Tante saja. Saya tidak cerewet untuk urusan makanan. Semua makanan saya suka,” bual Runi.“Baiklah, kalau gitu tante pesan yang sama dengan punya tante saja, ya.”“Boleh, Tan.”Elvina segera memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk Runi.Sembari menunggu, mereka berdua mulai mengobrol.“Bagaimana keadaan Tante sekarang? Apakah luka Tante sudah sembuh?”“Sudah Runi dan tante terima kasih banget sama kamu. Karena pertolonganmu, tante bisa selamat dari para perampok itu.”Runi tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya.“Sama – sama,
Seraut wajah tampan menyapa indra penglihatannya. Rahang yang tegas dan kokoh, hidung yang mancung dan alis mata yang tebal ditambah lagi dengan tubuh yang tegap berbalut jas mahal berwarna hitam dan aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat Runi seketika menjadi mabuk kepayang.‘Siapa gerangan laki-laki tampan ini? Tadi kalau aku tidak salah dengar, dia memanggil Clara dengan sebutan ‘sayang’ Apakah dia kekasih Clara atau malah suaminya?’ Pertanyaan itu bergema di dalam hati Runi.“Oh ya? Tunggu sebentar ya, Hubby. Aku lagi bicara sama temanku. Sebentar lagi aku akan ke sana,” ucap Clara.“Baiklah, kalau gitu aku tinggal dulu ya. Aku mau ketemu sebentar dengan relasi bisnisku,” pamit pria yang dipanggil hubby oleh Clara tersebut tanpa sedikit pun menoleh ke arah Runi.“Oke,” jawab Clara singkat lalu kembali menghadapkan tubuhnya kepada Runi.“Itu siapa Cla? Pacarmu?” tanya Runi yang tidak dapat lagi membendung rasa penasarannya karena selama bergabung di circle nya Cla
“Bang, aku minta uang, dong. Aku mau shopping sama teman-teman aku,” pinta Runi sambil menadahkan tangan di depan Yanto yang sedang mengetik di depan laptop di ruang tamu.Yanto menghentikan kegiatannya sejenak, menatap jam dinding lalu mengerutkan keningnya.“Malam-malam begini?”“Iya, Bang. Soalnya hari ini ada temanku yang ulang tahun dan malam ini dia mau traktir aku dan teman-temannya yang lain makan-makan di restoran dan habis itu rencananya kami juga mau shopping di mall,” jelas Runi.Yanto memperhatikan penampilan Runi dari atas ke bawah. Runi tampak cantik malam itu dengan dress ala sabrina berwarna peach yang membalut sempurna tubuhnya yang langsing ditambah lagi dengan berbagai aksesoris dan perintilan yang serasi dengan bentuk dan warna pakaiannya. Wajahnya dirias dengan make up flawless dan rambutnya dicurly pada bagian ujungnya dengan sebuah jepit berwarna silver disematkan di rambut bagian samping.“Nanti jam berapa pulangnya?” tanya Yanto.“Belum tau, Bang. Soalnya ini
Viana terus menatap kedua orang itu dengan tajam. Rasa kesal mencuat dalam hatinya. Sungguh, dia malas sekali kalau harus berurusan lagi dengan mereka.“Mau apa lagi kalian kemari?!” tanya Viana dengan ketus ketika dua orang itu telah berdiri di hadapannya. Mereka adalah Yanto dan Feyla. Seperti yang diketahui sebelumnya, Yanto dan Feyla berniat menemui Viana dan membujuknya untuk mencabut laporannya lantaran saat ini Feyla tengah berbadan dua.Reva yang saat itu masih berdiri di samping Viana tercengang melihat perubahan sikap Viana yang tadi terlihat ceria sekarang berubah menjadi dingin ketika bertemu dengan kedua orang itu.“Kita harus bicara, Dek. Ada—““Viana. Panggil aku Viana. Aku tidak suka dipanggil seperti tadi!” tekan Viana ketus.“Baiklah. Viana, ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu,” ucap Yanto dengan nada serius.Viana menatap Yanto dan Feyla bergantian. Dia bisa menangkap aura ketegangan pada wajah keduanya meskipun Feyla berusaha menutupinya dengan sikap s
Yanto serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri sehingga dia mengulangi kembali ucapan dokter Rico.“Benar, Pak. Tapi saat memeriksa kondisi pasien tadi, kami menemukan bahwa tekanan darahnya naik. Pasien sempat bercerita kalau tadi dia sedang emosi. Kondisi ini dapat membahayakan kandungannya. Jadi Pak, saya harap dengan mengetahui kehamilan ini, Bapak bisa membantu istri Bapak untuk menjaga emosinya agar lebih stabil dan tidak gampang marah-marah,” papar dokter Rico.Wajah Yanto yang tadinya sumringah kini berubah sedikit muram. Rasa penyesalan timbul di dalam hatinya. Bagaimana tidak, karena ulahnya yang nekat mencari Viana secara diam-diam membuat dirinya bertengkar dengan Feyla yang berujung pada terancamnya calon anak mereka yang saat ini ada dalam rahim istrinya itu meskipun pada awalnya dia sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilan Feyla tersebut.“Baik, Dok. Terima kasih telah menolong istri saya.”“Sama-sama, Pak. Itu sudah merupakan tugas kami. Saat ini istri Bap
Viana terdiam, dia mencoba mempertimbangkan saran dari Mika itu.'Bagaimana ya, apa aku harus menerima saran dari mbak Mika itu? Apakah aku sanggup bertahan jika melihat mereka bermesraan di depan mataku? Tapi jika tidak dengan cara ini, aku tidak bisa mendapatkan bukti yang kuinginkan. Mbak Mika b
"Tentu saja aku bersedia. Hanya saja-""Kenapa, Mbak? Apa ini tentang masalah biaya? Kalau untuk hal itu saya akui, saya mungkin tidak bisa membayar jasa Mbak secara penuh untuk saat ini. Sekarang ini saya hanya punya sedikit tabungan dan perhiasan. Saya akan membayar jasa Mbak dengan uang dan perh
Viana memindai penampilan Galuh dari atas hingga ke bawah.Setelan kemeja putih lengan panjang yang dihiasi renda di bagian depannya dipadukan dengan rok panjang warna biru membalut tubuhnya yang ramping.Rambut coklatnya yang dipotong model pixie cut tampak manis membingkai wajah ovalnya. Make up
FLASHBACK ONBeberapa jam sebelumnya..."Jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Vi?" tanya Mika di siang hari itu ketika mereka sedang duduk santai di ruang tengah sehabis makan siang.Viana menghela napasnya, batinnya merasa lelah dengan semua yang terjadi pada akhir-akhir ini."Entahlah, Mb







