แชร์

Bab 45. Bangga

ผู้เขียน: Selvia_Rqyanzah1104
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-11 20:30:54

"Sangat berusaha," jawab Revan, "hanya kalian yang menutup mata dari perjuangan Maira sampai aku pun tersesat lewat jalan pilihan kalian."

"Tapi tetap saja kan dia susah untuk punya anak." Wita masih tidak mau disalahkan.

"Ma, jangan kayak orang yang nggak tau terimakasih gitu. Dulu Maira keguguran sampai susah hamil lagi juga gara-gara kebodohan aku sebagai suami, jadi stop nyalahin Maira," tegas Revan.

Wita berdiri mematung di r
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 53 : Masa depan

    Satu bulan berlalu sejak malam Maira bercerita pada kakak iparnya . Luka Maira masih ada, masih menggores setiap kali ia mengingatnya, tapi setiap pagi ia memaksakan dirinya bangun dengan niat bahwa hidupnya harus terus berjalan.Milan di awal musim gugur terasa berbeda kali ini. Udara dingin yang dulu membuat malas keluar rumah kini justru menjadi teman yang menenangkan. Maira mulai menemukan ritme baru, ritme seorang perempuan yang sedang membangun kembali dirinya dari puing-puing masa lalu.Maira berusaha terus bangkit meskipun tidak meniru yang Maira banyangkan. Setiap saat Maira selalu merindukan Revan, akan sangat munafik rasanya jika Maira mengaku dia sudah benar-benar melupakan sang mantan suami.Pagi itu, Maira berdiri di depan etalase butik kecilnya yang baru selesai rekreasi. Di kaca depan tertulis nama: ARUNA ATELIER. Huruf kaligrafi elegan warna emas tampak kontras dengan dinding marmer putih di belakangnya.Maira menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Akhirnya jad

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 52 : Menambah masalah

    Setelah makan malam dengan kelurganya selesai, Maira membantu Hani membereskan meja makan meski sang mama terus menghalanginya."Udah, Runa. Kamu pasti capek setelah lama di pesawat. Sana istirahat," ujar Hani sambil merebut piring dari tangan Maira.“Tapi Ma, aku nggak capek.”“Kamu istirahat dulu, nurut sama Mama,” sahut Hani dengan sangat memaksa karena Hani tau Maira itu anaknya tidak enakan.Maira tersenyum kecil, lalu pamit naik ke lantai dua. Suasana rumah itu terasa begitu tenang. Cahaya lampu temaram, aroma khas rumah yang ia rindukan, dan suara AC halus yang menemani langkah kakinya.Begitu sampai di ujung koridor, pintu kamar Beno terbuka sedikit. Dari dalam, suara rengekan bayi terdengar di telinga Maira.Karena tak tahan untuk bertemu sang ponakan, Maira mengetuk pelan pintu kamar sang kakak.“Teh?” panggil Maira dengan suara yang selalu lembut.Pintu kamar itu segera terbuka. Tari langsung muncul dengan menggendong Tasya yang akhirnya tertidur setelah drama panjang. Ramb

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 51 : Rindu

    Begitu memasuki ruang keluarga yang luas itu, Maira langsung disergap aroma makanan khas Sunda yang begitu familiar. Wangi kencur, bawang goreng, dan santan gurih bercampur jadi satu.Meski tinggal di luar negeri, nyatanya keluarga Maira lebih sering mengonsumsi makanan Indonesia.Hani, mama Maira, masih memeluk putrinya erat seperti enggan melepas. “Aduh, Neng kurus amat sekarang. Lihat pipi kamu, Mama sampai pengen cubit biar balik chubby seperti dulu lagi.”Hani mati-matian menyembunyikan wajah sedihnya dari Maira, bagi orang tua saat melepas suaminya dalam keadaan gemuk tapi pulang-pulang sangat kurus tentu saja adalah hal yang sangat menyakitkan.Maira terkekeh kecil, Maira benar-benar tidak menyadari ada kesedihan dibalik kalimat sang ibu. "Ma, Maira nggak sereceh itu juga kali. Aku suka kok badan kayak gini."“Ehem.” Sebuah suara bariton terdengar dari dekat pintu. Robert berdiri sambil menyilangkan tangan, ekspresi tegasnya mencair begitu mata mereka bertemu. “Anak Papa sudah

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 50. Bayang-bayang masalalu

    Bandara Malpensa sore itu dipenuhi turis dan pebisnis yang lalu-lalang, tapi dari sekian banyak wajah, dua sosok perempuan yang baru turun dari pintu kedatangan internasional itu mencuri perhatian lebih dari separuh mata yang melihat.``` Mereka tampil dengan pakaian sopan dan tak terlalu terbuka di tengah banyaknya para wanita berpakaian kurang bahan yang ada di sana. Memang ya, barang-barang dari brand mewah yang mereka pakai tidak bisa berbohong, ditambah lagi dengan wajah mereka yang goodlooking. Semuanya ibarat paket komplit. Zila berjalan paling dulu, gaun biru langit yang membalut tubuhnya jatuh anggun mengikuti langkah kaki. Sepatu boot putih yang sampai betis membuatnya tampak seperti model yang kabur dari runway. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, memberi kesan mudah tapi mahal. Satu tangan menarik koper besar berwarna navy, tangan lainnya menyampirkan tas selempang kecil di salah satu bahunya. Di dekatnya, Maira bahkan lebih mencolok. Dress moca yang membent

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 49 : Masih terukir nama mantan

    Maira tersenyum sendu. "Kalau ditanya kasihan, ya aku kasihan sama dia, Zil. Aku masih sangat menyayangi dia, tapi semua itu kalah dengan rasa sakit yang dia torehkan. Keputusan aku untuk benar-benar berpisah dan pergi jauh dari dia sudah menjadi yang terbaik."Zila mengangguk mengerti, biar bagaimanapun tidak mudah menjadi Maira yang harus menyaksikan pengkhianatan sang suami."Kayaknya aku mau keberangkatan kita dipercepat, aku nggak mau goyah lagi kalau sewaktu-waktu Mas Revan menemui aku lagi," ujar Maira."Nggak masalah sih kalau kamu memang mau keberangkatan kita dipercepat. Tapi, Na. Bagiamana dengan rumah yang diberikan Revan sama kamu?" Zila cukup penasaran, apakah benar Maira akan menjual rumah itu."Sesuai dengan yang aku bilang tadi, kalau rumah itu benar-benar dikasih ke aku, maka aku akan jual rumah itu sebelum balik ke Milan." Maira sangat santai mengatakan ingin menjual rumah itu."Kenapa harus dijual? Apa kamu nggak sayang menjual rumah itu?" Zila semakin penasaran d

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 48. Memikirkan

    Meskipun dalam hatinya Maira sangat mengutuk wanita di hadapannya ini, tapi bibir Maira tetap tersenyum. Tidak akan Maira tunjukkan dengan lantang bahwa dia membenci Riri.“Untuk maaf mungkin nggak semudah itu, Riri. Tapi kalau kamu udah sadar ya itu bagus, aku harap nggak ada lagi korban berikutnya dari serakahnya kamu,” balas Maira sangat menohok hati Riri.Maira masih mempertahankan senyumnya. “Aku permisi, carilah kehidupan terbaik dan aku harap kamu terhindar dari rasa sakit yang aku rasakan karena ulah kamu.”Riri hanya bisa menelan ludah dengan kelu menatap punggung Maira perlahan menghilang.Sedangkan Revan, pria itu sangat kacau. Revan sampai jalan kaki dari pengadilan agama sampai ke rumahnya sambil melamun. Revan bahkan sampai melupakan mobilnya yang masih ditinggal di pengadilan agama.Pria itu sangat linglung dan ingin menolak kenyataan bahwa Maira sudah bukan lagi miliknya.Sesampainya di rumah, Revan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status