Mag-log inHari ini adalah sidang pertama perceraian Maira dan Revan. Suasana di sekitar pengadilan agama sudah cukup ramai, namun di sebuah restoran kecil tak jauh dari gerbang utama, Maira duduk berdua dengan Zila ditemani segelas teh hangat yang sudah mulai kehilangan asapnya.
Maira menatap jam. Masih ada satu jam sebelum sidang dimulai. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Perasaannya tegang, tapi hatinya sudah mantap dengan keputusan ini. Ia sudah mempersiapkan mental sejak laDua minggu setelah butik Maira Atelier dibuka, dunia Maira mulai berputar lebih cepat dari yang ia duga. Awalnya ia hanya ingin butik kecil itu berjalan stabil, menarik sedikit pelanggan lokal, dan menjadi rumah bagi proses penyembuhan dirinya. Namun takdir tampaknya telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar untuk Maira.Pagi Itu, Milan Berhenti Sejenak untuk Mengagumi Maira sang bintang baru yang namanya tiba-tiba mencuat di dunia fashion di Milan.Di sebuah kafe kecil di sudut Via della Moscova, seorang fashion blogger terkenal asal Prancis sedang menggulir timeline Instagram-nya sambil menyesap cappuccino. Matanya berhenti ketika melihat unggahan Zila.Sebuah video slow motion Maira sedang menyentuh kain satin sampanye, dengan butik elegan bernuansa putih-marmer sebagai latarnya.“Siapakah dia?”Kata-kata itu meluncur tanpa ia sadari.Video itu sederhana, nyaris tanpa editan, namun aura seorang perempuan yang terluka dan bangkit lagi terpancar dengan jelas. Gaun yang dikenakan
Satu bulan berlalu sejak malam Maira bercerita pada kakak iparnya . Luka Maira masih ada, masih menggores setiap kali ia mengingatnya, tapi setiap pagi ia memaksakan dirinya bangun dengan niat bahwa hidupnya harus terus berjalan.Milan di awal musim gugur terasa berbeda kali ini. Udara dingin yang dulu membuat malas keluar rumah kini justru menjadi teman yang menenangkan. Maira mulai menemukan ritme baru, ritme seorang perempuan yang sedang membangun kembali dirinya dari puing-puing masa lalu.Maira berusaha terus bangkit meskipun tidak meniru yang Maira banyangkan. Setiap saat Maira selalu merindukan Revan, akan sangat munafik rasanya jika Maira mengaku dia sudah benar-benar melupakan sang mantan suami.Pagi itu, Maira berdiri di depan etalase butik kecilnya yang baru selesai rekreasi. Di kaca depan tertulis nama: ARUNA ATELIER. Huruf kaligrafi elegan warna emas tampak kontras dengan dinding marmer putih di belakangnya.Maira menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Akhirnya jad
Setelah makan malam dengan kelurganya selesai, Maira membantu Hani membereskan meja makan meski sang mama terus menghalanginya."Udah, Runa. Kamu pasti capek setelah lama di pesawat. Sana istirahat," ujar Hani sambil merebut piring dari tangan Maira.“Tapi Ma, aku nggak capek.”“Kamu istirahat dulu, nurut sama Mama,” sahut Hani dengan sangat memaksa karena Hani tau Maira itu anaknya tidak enakan.Maira tersenyum kecil, lalu pamit naik ke lantai dua. Suasana rumah itu terasa begitu tenang. Cahaya lampu temaram, aroma khas rumah yang ia rindukan, dan suara AC halus yang menemani langkah kakinya.Begitu sampai di ujung koridor, pintu kamar Beno terbuka sedikit. Dari dalam, suara rengekan bayi terdengar di telinga Maira.Karena tak tahan untuk bertemu sang ponakan, Maira mengetuk pelan pintu kamar sang kakak.“Teh?” panggil Maira dengan suara yang selalu lembut.Pintu kamar itu segera terbuka. Tari langsung muncul dengan menggendong Tasya yang akhirnya tertidur setelah drama panjang. Ramb
Begitu memasuki ruang keluarga yang luas itu, Maira langsung disergap aroma makanan khas Sunda yang begitu familiar. Wangi kencur, bawang goreng, dan santan gurih bercampur jadi satu.Meski tinggal di luar negeri, nyatanya keluarga Maira lebih sering mengonsumsi makanan Indonesia.Hani, mama Maira, masih memeluk putrinya erat seperti enggan melepas. “Aduh, Neng kurus amat sekarang. Lihat pipi kamu, Mama sampai pengen cubit biar balik chubby seperti dulu lagi.”Hani mati-matian menyembunyikan wajah sedihnya dari Maira, bagi orang tua saat melepas suaminya dalam keadaan gemuk tapi pulang-pulang sangat kurus tentu saja adalah hal yang sangat menyakitkan.Maira terkekeh kecil, Maira benar-benar tidak menyadari ada kesedihan dibalik kalimat sang ibu. "Ma, Maira nggak sereceh itu juga kali. Aku suka kok badan kayak gini."“Ehem.” Sebuah suara bariton terdengar dari dekat pintu. Robert berdiri sambil menyilangkan tangan, ekspresi tegasnya mencair begitu mata mereka bertemu. “Anak Papa sudah
Bandara Malpensa sore itu dipenuhi turis dan pebisnis yang lalu-lalang, tapi dari sekian banyak wajah, dua sosok perempuan yang baru turun dari pintu kedatangan internasional itu mencuri perhatian lebih dari separuh mata yang melihat.``` Mereka tampil dengan pakaian sopan dan tak terlalu terbuka di tengah banyaknya para wanita berpakaian kurang bahan yang ada di sana. Memang ya, barang-barang dari brand mewah yang mereka pakai tidak bisa berbohong, ditambah lagi dengan wajah mereka yang goodlooking. Semuanya ibarat paket komplit. Zila berjalan paling dulu, gaun biru langit yang membalut tubuhnya jatuh anggun mengikuti langkah kaki. Sepatu boot putih yang sampai betis membuatnya tampak seperti model yang kabur dari runway. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, memberi kesan mudah tapi mahal. Satu tangan menarik koper besar berwarna navy, tangan lainnya menyampirkan tas selempang kecil di salah satu bahunya. Di dekatnya, Maira bahkan lebih mencolok. Dress moca yang membent
Maira tersenyum sendu. "Kalau ditanya kasihan, ya aku kasihan sama dia, Zil. Aku masih sangat menyayangi dia, tapi semua itu kalah dengan rasa sakit yang dia torehkan. Keputusan aku untuk benar-benar berpisah dan pergi jauh dari dia sudah menjadi yang terbaik."Zila mengangguk mengerti, biar bagaimanapun tidak mudah menjadi Maira yang harus menyaksikan pengkhianatan sang suami."Kayaknya aku mau keberangkatan kita dipercepat, aku nggak mau goyah lagi kalau sewaktu-waktu Mas Revan menemui aku lagi," ujar Maira."Nggak masalah sih kalau kamu memang mau keberangkatan kita dipercepat. Tapi, Na. Bagiamana dengan rumah yang diberikan Revan sama kamu?" Zila cukup penasaran, apakah benar Maira akan menjual rumah itu."Sesuai dengan yang aku bilang tadi, kalau rumah itu benar-benar dikasih ke aku, maka aku akan jual rumah itu sebelum balik ke Milan." Maira sangat santai mengatakan ingin menjual rumah itu."Kenapa harus dijual? Apa kamu nggak sayang menjual rumah itu?" Zila semakin penasaran d







