Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / madu satu atap

Share

madu satu atap

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2025-02-04 18:00:27

ucapnya pada diri sendiri saat menghadapi ke cermin. Lalu ia segera menyudahi ritual mandinya bersamaan dengan air mata yang ia halus dengan kasar.

Usai melaksanakan kewajibannya, dia mulai keluar kamar. Mulai hari ini dia harus bisa berdamai dengan kenyataan.

"Mbak... "

"Astagfirullah,"

"Eh, maaf mbak. Kaget ya... Maaf maaf. Soalnya kamar mandi atas nggak bisa di pakai," ucap Nisa saat baru keluar dari kamar mandi dapur, ketika Zahra tengah membuat roti bakar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sri Ana
klo bs Thor jgn br Zahra mau di sentuh dimas aq aj thor bacanya jijik walaupun Zahra masih isteri nya dimas tp Zahra harus py pendirian Dimas tu cm nafsunya aj yg mau di ikutin Zahra harus bs nolak bagus sich cerita nya tp jgn buat pelakor di ata angin y klo bs hrs menderita
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Madu Suamiku   Ruang USG yang hening

    ​[Zul, ini aku Zahra. Makasih ya buat obrolannya tadi di cafe. Oh ya, Senin nanti kalau jadwal praktik kamu nggak padat, aku boleh main ke rumah sakit tempatmu dinas? Mau mulai tanya-tanya soal program yang aku bilang tadi, hehe. Kebetulan ada riwayat lama yang mau aku konsultasikan juga.]​Sent.​Zahra mengembuskan napas lega setelah menekan tombol kirim. Gawai pintarnya ia letakkan kembali ke dalam tas. Ia menoleh ke arah Zean yang fokus menyetir, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami.​Zean melirik sekilas, lalu melepaskan satu tangannya dari kemudi untuk mengusap lembut puncak kepala Zahra. "Sudah selesai kirim pesannya, hmm?"​"Sudah, Mas. Hari Senin aku mau main ke tempat Zulfa," sahut Zahra dengan nada riang.​Zean hanya tersenyum tipis, meski di dalam hati kecilnya, insting tajamnya masih menyisakan sedikit riak ganjil tentang pertemuan sore tadi. Namun demi kebahagiaan istrinya, Zean memilih untuk menggenggam jemari Zahra erat, membiarkan sisa perj

  • Madu Suamiku   Promil baru

    Mobil SUV hitam itu mendadak berhenti sedikit mendadak di tepi jalan setelah Zean menginjak rem dengan refleks yang cukup mengejutkan. Beruntung, jalanan menuju hotel siang itu tidak terlalu padat, sehingga manuver Zean tidak membahayakan kendaraan lain.​Zean langsung memutar tubuhnya menghadap Zahra sepenuhnya. Gurat canda di wajahnya menguap, digantikan oleh ekspresi serius, namun sarat akan pancaran rasa sayang yang begitu dalam. Ia menatap lekat sepasang mata Zahra yang kini tengah menatapnya dengan binar menuntut sekaligus rapuh.​"Hei... dengar Mas," ucap Zean lembut, suaranya berat dan menenangkan. Ia meraih kedua tangan Zahra, menggenggamnya erat di atas pangkuan wanita itu. "Kenapa bicaranya begitu, hmm?"​Zahra terdiam, melirik ke luar jendela sekilas sebelum kembali menatap suaminya. "Ya lagian... respons Mas selalu begitu setiap kali aku bahas soal anak. Seolah-olah Mas sengaja membatasi diri, atau... Mas memang merasa kehadiran Rayyan dan Zahwa sudah merepotkanmu?"​Mend

  • Madu Suamiku   Rencana Promil

    Zahra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.​Zulfa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan wajah yang mendadak pias, campur aduk antara tidak percaya dan kecewa yang mendalam. Di dalam hatinya, sosok Dimas, pria yang dulu ia kagumi diam-diam karena kesalehan dan ketegasannya di organisasi masjid seketika runtuh berkeping-keping. Pria yang dulu sempat membuatnya patah hati karena lebih memilih Zahra, ternyata bisa berbuat sekeji itu pada wanita sebaik Zahra.​"Aku... aku benar-benar nggak menyangka Dimas bisa seperti itu," bisik Zulfa, suaranya terdengar agak serak. Ia menatap Zahra dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus iba. "Maaf ya, Ra... aku malah mengorek luka lama kamu."​Zahra tersenyum tulus, menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Zul. Itu sudah lewat. Sekarang aku sudah jauh lebih bahagia bersama Mas Zean. Masa lalu itu yang membentuk aku jadi wanita yang lebih kuat sekarang."​Zulfa beralih menatap Zean yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh kedewasaan

  • Madu Suamiku   Mengenang...

    ​"Zulfa...?" sebut Zahra, suaranya nyaris tenggelam di antara bisingnya pengeras suara supermarket yang mengumumkan diskon akhir pekan.​Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi kedua wanita itu. Tangan Zahra masih menggantung di udara, memegang pelembap wajah milik Zulfa yang belum sempat berpindah tangan.​Zulfa. Agadis yang dulu sama-sama aktif di organisasi dakwah kampus bersama Zahra dan Dimas, kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang jauh lebih matang. Jika dulu ia identik dengan gaya mahasiswi kedokteran yang selalu membawa diktat tebal dan tampak lelah, kini Zulfa terlihat anggun, memancarkan aura seorang wanita karier yang mapan.​"Zahra, ini beneran kamu?" Zulfa akhirnya bersuara, mencoba tersenyum meskipun gurat kecanggungan dan keterkejutan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia segera menerima barangnya dari tangan Zahra, lalu berdiri tegak. "Ya ampun, sudah berapa tahun ya kita nggak ketemu?"​Zahra ikut berdiri, berusaha menguasai diri dan menata detak j

  • Madu Suamiku   Perempuan Masalalu

    Siapa yang menyangka bahwa pengacara wanita yang semalam berhasil meruntuhkan dominasi Bramantyo di panggung gala dinner, pagi ini justru tidak berdaya di bawah pelukan erat suaminya sendiri?​Zahra mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, hanya untuk mendapati wajah tampan Zean berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Sebelah tangan Zean melingkar posesif di pinggangnya di balik selimut tebal, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, wanita luar biasa di hadapannya ini akan menghilang.​"Sudah bangun, Sayang?" bisik Zean. Senyumnya langsung terkembang begitu melihat semburat merah muda mendadak terbit di kedua pipi polos Zahra yang tanpa riasan.​Meningkatnya detak jantung Zahra membuat ingatan tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu hingga dini hari tadi berputar kembali. Refleks, ia menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi separuh wajahnya. Namun, kekehan geli Zean justru terdengar semakin dekat, disusul oleh kecupan lembut yang mendarat tepa

  • Madu Suamiku   Pondasi pernikahan

    "Maaas, bisaa nggak sih kitaa pulang duluuuu. Capeek aku tuh. Udah terkuras habis tenagaku inii," protes Zahra sembari mengerucutkan bibirnya kesal,Zean terkekeh geli. Ketegangan yang sejak kemarin malam mencengkeram dadanya seketika runtuh melihat kemanjaan istrinya yang telah kembali. Ia mengulurkan tangan kirinya, mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut.​"Iya iya, Sayang. Ya udah ayo kita pulang dulu. Nanti saja ceritanya di rumah kalau udah nggak capek," ucapnya halus, penuh rasa bersalah sekaligus lega.​Mobil itu kembali melaju santai membelah keheningan malam, melewati rimbunnya pepohonan di sepanjang Jalan Besar Ijen yang ikonik, lalu berbelok menuju kawasan perumahan tenang di sudut Malang Kota. Udara malam yang sejuk khas Malang perlahan merayap masuk, membuat suasana di dalam kabin mobil terasa semakin hangat dan intim.Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok memasuki pekarangan rumah. Begitu melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah yang sunyi, mereka berdua melepas

  • Madu Suamiku   Memar dipunggung Zahwa

    Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk

  • Madu Suamiku   Nahkoda kapal yang baru

    "Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju

  • Madu Suamiku   Tabir yang tersingkap

    "Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka ke

  • Madu Suamiku   Villa 2

    Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status