LOGINucapnya pada diri sendiri saat menghadapi ke cermin. Lalu ia segera menyudahi ritual mandinya bersamaan dengan air mata yang ia halus dengan kasar.
Usai melaksanakan kewajibannya, dia mulai keluar kamar. Mulai hari ini dia harus bisa berdamai dengan kenyataan."Mbak... ""Astagfirullah,""Eh, maaf mbak. Kaget ya... Maaf maaf. Soalnya kamar mandi atas nggak bisa di pakai," ucap Nisa saat baru keluar dari kamar mandi dapur, ketika Zahra tengah membuat roti bakar.Zahra menoleh ke arah Nisa, melihatnya dari ujung rambut dan ujung kaki, baru pertama kali ini dia melihat Nisa dengan pakaian kimono dan rambut terurai basah. Ah, pantas saja Dimas sulit untuk meninggalkannya. Bodynya saja aduhai dan kulitnya sangat putih, berbeda dengannya yang agak sawo matang. Batin Zahra sembari menggelengkan kepala."Kenapa mbak?""Oh eng enggak... Nggak apa... ""Kenapa Sa?" ucap Dimas saat keluar kamar mandi. Ternyata Nisa tak sendiri di kamar mandi,Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin tegang setelah ponsel Dimas berbunyi.Dimas semakin lepas kendali hingga mobil yang ia bawa menuju tempat yang asing menurutnya. Tiba di sebuah tempat, sebuah Villa, Dimas menyeret Rayyan dan Zahwa keluar dari mobil. Menyeretnya dengan kasar hingga mereka menangis, dan membanting mereka di lantai kamar vila itu sambil Dimas marah-marah tidak jelas."Aduh Mas, kemana kita harus cari mereka. Kita udah muter-muter satu jam, tapi tidak ketemu. Aku khawatir." ucap Zahra cemas.Sementara Zean masih fokus dengan kemudi sembari sesekali melirik jalanan. Tapi tetap saja dia juga tak melihatnya."Apa kita lapor polisi aja ya, Mas?"Zean diam sesaat. Berusaha berpikir dengan fikiran jernih."Sepertinya
"Kenapa kamu disini, nduk ? Terus, ini..." Bu Sukma tampak kaget, sembari memandangi Zahra yang tiba-tiba didepannya dan masih mengenakan baju pengantin."Iya, aku disini bu. Anak-anak dimana bu, kenapa mereka belum sampai sana. Dimana mereka ?""Loh. Tadi pagi sudah berangkat, jam 7 pagi sama Dimas, Zahra. Tadi mereka sudah pada dndan, sudah berangkat. Dimas juga tadi berangkatnya buru-buru kok. Ibu rencananya juga mau ikut. Tapi tiba-tiba perut ibu mules setelah sarapan tadi, mangkanya ibu suruh Dimas berangkat aja duluan, takutnya telat.""Ya Allah. Nggak ada bu. Nggak ada Mas Dimas dan anak-anak sampai sana. Aku sudah nungguin dari tadi pagi, tapi nggak ada. Mereka tidak datang.""Ya Allah nduk. Tenan ! Dimas wes berangkat dari pagi. Demi Allah !""Ya tapi nggak ada, buk ! Enggak ada. Iya kan mas ?" Zahra menoleh ke Zean seolah minta validasi."Nggih, Bu Sukma. Dimas ataupun anak-anak belum datang. Itulah sebabnya kami kesini. Kami khawatir, soalnya nomor Dimas tidak bisa dihubung
Langit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti."Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terlihat jelas, Jarum jam panjang yang terus berputar melewati angka sepuluh."Gimana Sayang, belum datang juga ?" tanya Zean mendekat."Belum Mas, aduuuh... gimana ya mas, udah mau dimulai ya akadnya ? Aduh... ini mana sih Mas Dimas ?! Semalam janjinya pagi mau di antar tepat waktu, tapi sampai jam segini kenapa mereka belum sampai sini sih," Zahra semakin panik. Apalagi melihat jarum jam yang terus berputar dan seorang penghulu sudah duduk di kursi yang disediakan. Para saksi dan para tamu juga sud
Zahra sempat menunduk, pura-pura fokus sama tas di pangkuannya, tapi sudut bibirnya tersenyum kecil. Zean sempat melirik sebentar ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.“Papa Zean, nanti kalau aku udah bisa coding, aku bikin aplikasi buat Bunda deh. Biar Bunda bisa pesan kopi dari rumah, terus langsung nyampe ke meja,” Rayyan mulai berimajinasi.“Wah, mantap! Kalau gitu aku jadi user pertama aplikasimu, Ray,” sahut Zean. “Tapi jangan lupa… bikin fitur promo khusus buat aku ya.”Rayyan cengar-cengir. “Siap, Papa Zean! Kamu nanti dapet diskon seratus persen.”Zahra spontan menoleh. “lho, jangan gitu dong. Kalau semua gratis, siapa yang bayar aplikasinya?”Rayyan garuk-garuk kepala. “Hehe… iya juga ya. Ya udah Papa Zean bayar separo aja deh.”“Deal!” Zean menepuk setir sambil ketawa.Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu tersenyum tipis. Sesekali matanya melirik Zean, tapi buru-buru dialihkan lagi begitu tatapan mereka hampir beradu.Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah
Sambungan pun terputus. Zahra meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan diri. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena amarah atau sedih—melainkan karena hangat. Rasa takut yang tadi membebani hatinya seakan mencair, diganti dengan rasa tenang. Ia menarik selimut, menutup mata, membiarkan lelahnya hilang bersama malam yang kian hening.______Malam berganti pagi. Langit sudah mulai terang ketika Zahra terlonjak dari tidurnya.“Ya ampun!” serunya, panik melihat jam dinding. Jarum sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.Perutnya masih terasa tidak nyaman—datang bulan membuat tubuhnya lebih lemah dari biasanya. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Ia langsung melompat ke dapur.“Bunda, aku udah mandi loh!” Zahwa berlari ke meja makan sambil setengah mengenakan dasi sekolah.“Iya, iya, bentar ya sayang. Sarapannya hampir jadi. Aduh…” Zahra sibuk menggoreng telur sambil menyiapkan roti di toaster.Rayyan muncul dengan wajah santai, kaos oblong dan celana pendek.“B
Jam sudah menunjuk lewat sebelas malam.Di luar, jalanan kompleks tampak lengang. Lampu-lampu jalan sesekali berkelip, dihampiri serangga malam yang berputar-putar di sekitarnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah lembap sisa hujan beberapa jam tadi. Suasana begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara motor yang melintas jauh di jalan besar.Zahra menutup pintu dengan perlahan, seolah takut suara denting kunci mengusik ketenangan malam. Hatinya masih terasa berat, sisa perdebatan barusan membuat dadanya sesak. Ada rasa lega karena tamunya akhirnya pulang, tapi juga gelisah yang menempel di pikirannya.Ia melangkah masuk ke kamar. Lampu kamar menyala temaram, hanya cahaya kuning hangat dari meja kecil di sisi ranjang. Zahra menjatuhkan tubuhnya ke ujung ranjang, lalu menarik napas panjang. Pikirannya penuh, tapi justru hening di sekitarnya membuatnya semakin mendengar degup jantungnya sendiri.Belum sempat menenangkan diri, layar ponselnya menyala. Panggilan masuk video call dar







