LOGINEmbun mengerjapkan mata akibat pancaran sinar matahari yang berhasil menyelinap lewat celah jendela, matanya terasa aneh akibat menangis semalaman. Embun melirik ke samping, kosong, tidak ada lagi senyum hangat yang menyambutnya dan mengucapkan selamat 'pagi matahariku'. Embun tersenyum getir, dadanya kembali sesak mengingat semua yang sudah terjadi dalam waktu singkat ini.
Embun berharap jika pagi ini dirinya bangun dari mimpi buruk. Namun, sayang yang terjadi adalah nyata. Embun bangkit lalu meregangkan badan yang terasa pegal, rasanya bukan hanya hati yang hancur, tapi raganya juga. Wanita itu segera menuju kamar mandi, dia akan melakukan aktivitas seperti biasa.
Sehabis mandi Embun berpakaian rapi dan merias wajahnya yang sembab, meskipun sulit menyembunyikan kondisinya dibalik make-up. Embun mencoba berdamai dengan kenyataan, tidak ada gunanya terus menangis karena keadaan tidak akan berubah. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menyiapkan mental untuk menghadapi segala kemungkinan kedepannya. Dia tidak tahu apa yang telah menunggunya di depan sana, entah itu kesakitan ataupun kebahagiaan.
"Mulai sekarang aku harus membahagiakan diriku sendiri karena aku tidak bisa menggantungkan kebahagiaanku kepada siapapun lagi, termasuk suamiku sendiri," gumam Embun sambil memandang pantulan dirinya yang menyedihkan di cermin. Wanita itu meraih tasnya lalu turun ke bawah.
"Bi, sarapannya mana?" tanya Embun melihat meja makan kosong.
"Nyonya mau Bibi buatkan sarapan?" tanya bi Marsinah setelah mendekati Embun.
"Iya, mulai sekarang saya sudah tidak mau lagi mengurusi soal makanan."
"Nyonya mau Bibi buatkan sarapan apa?"
"Tidak usah, Bi. Besok saja, hari ini saya sarapan di luar saja." Embun menenggak segelas air lalu beranjak dari kursi.
Memang selama ini untuk urusan makanan Embun yang memasak dan pekerjaan lain ART yang mengerjakan, Lintang sangat menyukai masakan Embun karena cocok di lidahnya. Namun, mulai hari ini Embun tidak mau lagi terjun langsung ke dapur. Dia merasa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia.
Terdengar suara sepatu seseorang beradu dengan lantai, menggema di rumah sepi itu. Embun mengernyitkan dahi dan tidak lama kemudian Langkah Embun terhenti ketika melihat siapa yang datang pagi-pagi.
"Mas, mau apa di sini?" Mata Embun melirik koper yang dibawa Lintang dan istri barunya.
"Embun, aku pulang."
"Maksud, Mas?" Embun mengernyitkan dahi, perasaannya mulai tidak enak.
"Kami akan tinggal di sini juga, Mba. Kita akan tinggal bersama," ucap Jasmine merobek jantung Embun, meruntuhkan kekuatan yang baru saja terkumpul.
"Ti-tinggal di sini?" Embun tergagap. Jantungnya berdegup cepat, kepedihan apa lagi yang akan menimpa hidupnya. Tidak memberi jeda untuk lukanya mengering sudah digores dengan luka yang baru. Setega itukah Lintang padanya.
"Iya, Embun. Mas harap kamu bisa menerima, Jasmine orang yang baik, Mas yakin kalian bisa akur. Anggaplah kalian bersaudara," tutur Lintang semakin memperdalam luka hati Embun.
"Iya, Mba. Kata Mas Lintang biar dia bisa selalu menjaga kita berdua," imbuh Jasmine.
Perkataan Jasmine membuat gendang telinga Embun sakit, Embun tersenyum miring sambil menekan sesak di dada.
"Aku mau bicara, Mas!" Embun menatap Lintang tajam dan melesat ke dalam.
Lintang memerintah Jasmine untuk duduk dulu di sofa kemudian lelaki itu menyusul Embun yang sudah menghilang.
"Embun …." Lintang masuk ke kamar dan mendekati istrinya yang berdiri menghadap jendela. Lelaki itu memeluk Embun dari belakang. Namun, belitan tangan Lintang dihempas Embun. Embun merasa jijik, membayangkan apa yang sudah terjadi antara Lintang dan Jasmine semalam.
"Belum puas kau menyakitiku, Mas? Luka yang kemarin belum kering, Mas. Dan sekarang kau perparah lagi dengan membawa duri masuk ke rumah kita?" sarkas Embun, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa tidak kau ceraikan saja aku daripada menyiksaku seperti ini?" tambah Embun meledak-ledak, ia sangat kecewa.
"Embun, aku selalu ingin di dekatmu, aku tidak bisa jauh darimu …." Tangan Lintang terulur hendak mencoba meraih tubuh Embun. Namun, tidak sampai menyentuh karena Embun terus menghindar.
"Tapi kenapa harus membawa istrimu ke sini, kenapa kalian tidak tinggal di rumah lain saja, kenapa Mas? Atau aku yang harus tinggal di tempat lain?" sela Embun.
"Embun, tolong mengertilah, cobalah untuk menerima Jasmine. Aku ingin menjaga kalian berdua, tinggal di tempat yang terpisah hanya akan menyulitkanku dalam menjaga kalian. Kalian berdua istriku dan aku ingin kalian berdua selalu di sampingku."
"Kau egois sekali, Mas! Tidak ada sedikitpun kau memikirkan bagaimana perasaanku, yang penting egomu terpenuhi tanpa peduli jika nanti lukaku semakin parah."
"Embun tolong …."
"Terserah kau saja, Mas. Aku tidak berhak mengaturmu." Embun bergegas keluar kamar meninggalkan Lintang. Lintang meremas rambut, frustasi.
*****
"Mengapa kau tega sekali, Mas?" gumam Embun sambil fokus menyetir, sesekali tangannya menyeka lelehan air mata di pipi. Tidak lama kemudian Embun menepikan mobil di tepi jalan karena pandangannya kabur akibat air mata yang tidak ingin berhenti keluar.
"Aku baru saja mulai belajar mengikhlaskan, tapi kenapa kekuatanku kau runtuhkan? Aku baru saja mau mulai berdamai dengan kenyataan, tapi kenapa kau terus-terus menorehkan luka, Mas! Tidakkah kau empati padaku sedikit saja, setidaknya sampai lukaku sedikit membaik!" Embun menelungkupkan wajah di atas setir dan menangis tersedu-sedu.
Setelah cukup puas menumpahkan air mata, Embun kembali melajukan mobil menuju toko kue miliknya. Tidak berapa lama mobilnya berhenti karena rambu menunjukkan warna merah. Embun menghela napas kasar, ada saja hal yang membuat kepalanya terasa berat.
Embun dengan tidak sabar menunggu rambu berubah hijau, mata wanita itu menatap ke depan berharap barisan kendaraan di depannya segera bergerak. Seorang pedagang asongan menghampiri mobil Embun dan menawarkan barang dagangannya. Kasihan melihat bapak tua yang menjajakan dagangan, Embun pun memutuskan membeli tisu.
Setelah kepergian pedagang asongan tersebut, tak sengaja mata Embum menangkap pemandangan yang memedihkan mata dan hatinya. Sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia, sepasang suami istri berboncengan di atas motor sederhana, ditengah-tengah mereka ada seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun. Gadis kecil itu tampak cerewet dan sesekali tangannya menunjuk objek yang menarik perhatiannya.
Embun mengamati tingkah lucu anak kecil itu dari balik kaca mobil dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hati Embun memekik, dia juga ingin berada di posisi seperti ibu gadis kecil itu, tapi apalah daya wanita mandul sepertinya. Air mata yang baru saja mengering kini kembali tumpah.
"Kenapa aku harus mengalami semua ini, Tuhan? Apa dosaku dimasa lalu hingga engkau hukum aku dengan cara seperti ini? Aku tidak sekuat itu, Tuhan. Ini terlalu sakit, aku rapuh," racau Embun tersedu-sedu lalu memukul setir mobil.
"Dulu aku percaya dengan pepatah yang mengatakan akan ada pelangi setelah hujan, aku pikir kamulah pelangi itu, Mas. Ternyata kamu adalah badai yang memporak-porandakan hidupku!"
"Harusnya aku mati saja dalam kecelakaan itu," tambah Embun frustasi. Kecelakaan yang telah merenggut kebahagiaan dan menjadikannya wanita mandul.
Bersambung ….
"Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain."Maaf, Mas. Aku tidak bisa.""Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti."Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. K
Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang. “Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih. Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis d
Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istriMatanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi. Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi. “Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos. “Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya. “Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini. “Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar. “Lintang masih mau di sini
Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana. Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh. “Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi. Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh. Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan. “Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin
“Kenapa memangnya, Ma?” tanya Embun. Kepalanya langsung dipenuhi oleh berbagai prasangka buruk. Pasalnya selama ini, setiap apa yang keluar dari mulut ibu mertua selalu menggores hatinya. “Mama mau kamu menemani Lintang.” Suaranya terdengar bergetar.Embun mengernyitkan dahi mendengar perkataan Bu Inggrid. Prasangka buruk di. Kepalanya makin kuat. “Jasmine kemana, Ma?”“Jasmine … tadi pagi kecelakaan. Sekarang masih di ruang operasi,” sahut Bu Inggrid lesu.Embun menegang mendengarnya. Wanita yang telah melabraknya dengan buas kini terbaring di rumah sakit. Mungkin itu karma pikirnya, seperti tidak punya empati. Persetan dengan empati, hatinya tidak merasakan apa-apa mendengar kabar itu. Tubuhnya menegang karena terkejut. “Lintang terpukul sekali sejak tadi,” lanjut Bu Inggrid lirih. “Mama takut dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri,” lanjutnya. Jujur saja hatinya menolak permintaan itu, dadanya terasa panas. Seolah, jika sesuatu yang buruk dilemparkan kepadanya dan dipaksa
Mobil ambulance berhenti di depan IGD. Pintu langsung dibuka cepat. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar. “Cepat! Pasien kritis!”Tubuh Jasmine langsung dipindahkan lalu didorong cepat memasuki ruang tindakan. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari pahan hingga membasahi kain yang menutupinya.“Tekanan darah turun!”“Siapkan ruang operasi!”Para dokter dan perawat bergerak cepat. Suara alat medis saling bersahutan memenuhi ruangan dengan tegang.“Detak janin melemah, Dok!” kata salah satu perawat. Jantung dokter itu langsung mencelos. “Kita harus hentikan perdarahannya sekarang.”Di tengah kepanikan itu, jemari Jasmine bergerak lemah. Kelopak matanya perlahan terbuka.“Bu Jasmine? Anda dengar saya?” tanya dokter. Napas Jasmine tersengal. Pandangannya buram.” “Bayi saya…” lirihnya pelan sambil memegangi perut.“Kami sedang berusaha menyelamatkan Anda dan bayi Anda.”Air mata Jasmine jatuh. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng lemah. “Bayi saya dulu …,” suaranya hampir
Bel rumah Jenar berbunyi, wanita yang tengah menemani anak-anaknya bermain di ruang depan langsung berdiri.“Pasti ada yang ketinggalan lagi,” gumam Jenar menuju pintu dan mengira itu suaminya.“Ya, ada apa ….” Ucapan Jenar menggantung ketika mendapati dua lelaki berseragam cokelat. Rasanya dia ing
Jasmine mengemudikan mobil dengan perasaan kesal. Sesekali tangannya memukul setir. Bayang wajah sumringah Embun dan suaminya tidak mau pergi dari ingatan dan dia membencinya.Setelah kepergian Lintang tadi pagi, Jasmine pun pamit kepada Bu Inggrid dengan alasan mau ke rumah Jenar karena merindukan s
"Aku mau hakku! Kita sudah lama tidak melakukan ini, kan?" ujar Lintang, "kau pasti juga merindukan sentuhanku," lanjutnya."Tidak, aku tidak mau!"
"Apa menurutmu aku sejahat itu, Mas? Kau tahu aku seperti apa, tapi mengapa kau sangat mudah percaya dengan omongan yang belum tentu kebenarannya." Mata Embun berkaca-kaca, adanya sesak."Seseorang bisa saja berubah, terlebih kalau sudah memiliki rasa iri dalam hatinya," ucap Lintang dingin dan menus







