Home / Rumah Tangga / MADU YANG BERACUN / Bab 5 | Aku Ikhlas, Mas.

Share

Bab 5 | Aku Ikhlas, Mas.

Author: Dara Kirana
last update Huling Na-update: 2023-05-29 15:11:33

Embun melenggang ke dalam toko kue dengan wajah sembab, tidak dipedulikannya jika nanti ada mata yang memperhatikan. Ia mendaratkan bokong di kursi kebanggaannya, tubuhnya lelah. Wanita itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi sambil mendongakkan kepala ke atas dengan mata terpejam. 

Embun mulai memikirkan skenario hidupnya, andai saja dirinya dapat memberikan keturunan untuk keluarga Svarga tentulah sang suami tidak akan menikah lagi. Sungguh malang nasibnya, berharap bahagia di pernikahan keduanya malah terjebak dalam lembah derita yang lebih menyakitkan. Bertahan sakit, pergi sulit itulah yang dirasakannya kini. 

Embun mengganti posisi, wanita itu menumpukan kedua sikunya di atas meja dengan telapak tangan menutupi wajah, menahan air mata yang hendak lolos karena perih hati tak kunjung reda. 

Apa dirinya terlalu egois karena tidak ingin berbagi cinta suami? Tapi wanita mana yang rela jika disposisi dirinya. Dirinya tidak sesolehah itu, dengan lapang dada menerima dipoligami. Namun, Embun sadar jika usia manusia tidak selamanya muda. Siapa yang akan menjaga mereka di hari tua nanti jika tidak memiliki anak. Embun tau, Lintang juga pasti mendambakan seorang anak. 

"Ya Allah, jika ini takdir yang terbaik untukku, ku mohon beri aku kekuatan untuk menjalaninya," batin Embun. 

Tiba-tiba terdengar suara pintu ruanganya diketuk, Embun segera menyeka bulir bening yang berhasil menembus pertahanannya, ia juga mengatur napas agar lebih tenang. 

"Masuk!" titah Embun yang mengira jika itu adalah karyawannya, ia langsung berpura-pura menyibukkan diri dengan laptop. Tidak lama kemudian terdengarlah derit pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat serta aroma parfum yang sangat dikenal menguar di indera penciumannya. Ia tahu siapa yang datang. 

"Embun," tukas Lintang setelah mendaratkan bokong di kursi yang berseberangan dengan meja Embun. 

"Ada apa, Mas?"  Mata sembab Embun memberanikan diri menatap wajah orang yang menyebut namanya. Untuk beberapa saat mata mereka bertemu, menyiratkan sesuatu yang tidak mampu mereka katakan. Embun berusaha terlihat tenang, meski hatinya terasa seperti disayat-sayat. 

Lintang meraih kedua tangan Embun dengan lembut dan menggenggamnya, Embun tidak menolak. Embun telah memutuskan untuk berdamai dengan kenyataan hidupnya dan menerima Jasmine sebagai madunya, meski sulit. 

"Embun, aku …." 

"Maafkan aku, Mas. Aku terlalu egois,  tidak seharusnya aku menyalahkanmu, kamu berhak bahagia. Mulai sekarang aku ikhlas berbagi hatimu denga dia, aku ikhlas kita berjalan bertiga beriringan untuk mencapai kebahagiaan," sela Embun, berusaha menetralkan suara agar terlihat kuat, meski air mata terus mendesak ingin keluar. Wanita itu mengatur napas sebelum melanjutkan perkataannya, ia harus mengumpulkan kekuatan yang lebih besar lagi. 

"Untukmu," lanjut Embun dalam hati. Dadanya begitu sesak, nyatanya ikhlas tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

"Ini bukan salahmu, Mas. Ini salahku sendiri, salahku yang tidak bisa memberikamu keturunan, aku tidak sempurna," tambah Embun dengan mata berkaca-kaca, sulit sekali menyembunyikan perasaannya saat ini. Namun, Embun terus membendung air mata itu agar tidak tumpah. 

"Aku tahu kamu sakit, Embun. Tapi, bukan inginku melukaimu, sekali lagi maafkan aku," ucap Lintang semakin mengeratkan genggamannya, matanya menatap ke dalam mata Embun, Ia dapat melihat dengan jelas luka yang menganga di sana dan merasa semakin bersalah. Lintang memejamkan mata sambil mengatur napas, menghalau sesak yang bersarang di dada sebelum kelanjutan kalimatnya. 

"Seperti namamu, hatimu juga sebening embun, terima kasih atas keikhlasanmu. Aku tidak ingin menjanjikan apapun lagi untukmu karena aku takut menyakitimu lebih lagi." Lintang menundukkan kepala, tidak sanggup menatap manik mata sang istri. 

"Aku tidaklah sebaik yang kau katakan, Mas. Aku hanya berusaha dan semoga Tuhan memberiku kekuatan." Embun menarik tangannya dari genggaman Lintang. Lagi-lagi ia mengatur napas sebelum melanjutkan kalimatnya. 

"Aku memang tidak ingin lagi mendengar janji apapun, aku membenci janji sebab karena janji aku terluka," tambah Embun sambil memalingkan wajah ke kiri, hatinya berdenyit-denyit ketika janji-janji manis yang pernah keluar dari mulut orang yang dicintainya terngiang-ngiang di kepala. 

"Maafkan aku, aku salah." Lintang tertunduk, merasa tertampar karena ucapan sang istri. 

"Bukan salahmu, ini sudah takdir." Embun menatap Lintang yang tertunduk. 

"Aku sadar hidup ini bukan cuma tentang kita berdua saja, Mas. Mama, papa, mereka berhak bahagia, aku lupa memikirkan mereka karena terlalu egois, maafkan aku. Sebagai istri harusnya aku  mendukungmu berbakti pada mereka karena surgamu tetap berada di bawah telapak kaki ibumu. Aku ikhlas, Mas, aku ikhlas." Suara Embun bergetar, pertahanannya sejak tadi runtuh juga. Melihat itu Lintang mengulurkan tangan hendak menghapus bulir bening yang mengalir di pipi sang istri. Namun, belum sampai menyentuh kulitnya, Embun menahan tangan Lintang. 

"Biar ku hapus sendiri, Mas," ujar Embun lalu mengambil tisu dan menyeka air mata. Lintang menarik kembali tangannya, hatinya berdenyit atas penolakan Embun. Namun, ia sadar Embun seperti itu karena dirinya. 

"Karena kaulah penyebab air mata ini jatuh" Lanjut Embun dalam hati. 

"Sekali lagi aku minta maaf …." 

"Tidak perlu terus-terusan meminta maaf, Mas. Sudah kukatakan ini bukan salahmu dan aku sudah ikhlas," sela Embun sambil menyeka sisa air matanya. 

Lintang berdiri, kemudian berjalan mendekati Embun lalu memeluknya. Embun ragu ingin membalas pelukan itu, nyatanya pelukan itu rasanya tidak lagi sama. Lintang saat ini memeluknya, tetapi mengapa Embun merasa jauh. 

"Terima kasih atas pengertiannya, Embun. Kamu wanita paling baik yang pernah aku kenal, aku …." 

"Tidak perlu memujiku berlebihan, aku hanya manusia biasa," sela Embun lagi. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar karena hatinya menjerit. 

Cukup lama mereka berpelukan hingga dering ponsel Lintang mengurai pelukan mereka berdua. Lintang segera merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelpon, Embun tidak segaja melihat nama yang tertera di layar ponsel suaminya, hatinya berdenyit, untuk berpelukan saja mereka tidak bisa berlama-lama. Embun tersenyum getir, dirinya dapat membayangkan jika setelah ini ia akan terus kalah oleh sang madu, terlebih jika nanti Jasmine hamil. Bukan tidak mungkin dirinya terlupakan karena semua orang lebih memprioritaskan Jasmine termasuk suaminya sendiri. 

Lintang berjalan sedikit menjauh menjawab panggilan dari istri barunya, Embun hanya bisa mengikuti langkah Lintang dengan tatapan sendu. Ingin mencegah, berteriak, tetapi tidak ada gunanya selain menguras energi. Membuat jiwanya semakin lelah, lebih baik ia pendam saja di dalam hati.

Setelah beberapa menit panggilan pun berakhir, Lintang pamit pada Embun dan tidak lupa mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala sang istri sebelum ia keluar dari ruangan itu. "Aku pergi dulu, ya, love you!" 

Embun bergeming, jika dulu hatinya berbunga-bunga mendengar kata itu, saat ini rasa itu tidak lagi sama. Terasa hambar karena hatinya terlanjur sakit. 

"Ya Allah, kenapa rasanya sulit sekali untuk ikhlas, meski bibir ini sudah mengatakan ikhlas. Namun, hati ini tetap sakit," batin Embun sambil menolehkan kepala, mengikuti langkah Lintang lewat ekor mata hingga menghilang di balik pintu. 

Bersambung …. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • MADU YANG BERACUN   Bab 71 | Manis Di Lidah Lelaki

    Hari yang ditunggu Jenar pun tiba. Namun, pagi ini dia justru sibuk mengurusi Ethan yang tiba-tiba demam. Bayi itu terbangun pukul empat pagi dengan tangisan keras. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya cukup tinggi. Jenar mendadak lesu, kecewa. Namun, khawatir keadaan anaknya.Terpaksa dia mengundur masuk kerja hingga beberapa hari. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Eros meminta hal yang sama. Ini membuatnya hanya bisa menghela napas berat. Jenar tak setega itu meninggalkan Ethan yang sakit demi pekerjaan, meskipun dia mempunyai rencana lain dibalik itu. Wanita itu hanya harus memastikan jalannya tetap lancar, meski ada kendala sedikit.Tidak mengapa dia mengalah sedikit, daripada restu suaminya dicabut. Itu lebih berbahaya dibanding menunda masuk kantor beberapa hari.Senin ini harusnya Jenar sudah berada di kantor, tetapi semuanya batal karena Ethan sakit. Dengan berat hati dia menelpon papanya dan memberitahukan keadaan tersebut.Pak Wijaya pun meminta Jenar masuk kantor

  • MADU YANG BERACUN   Bab 70 | Pagi yang Kacau

    Tangan Embun bergerak pelan, menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut yang terasa hambar. Rasanya yang tersaji di meja itu bukanlah makanan, tetapi kekecewaan.Matanya selalu menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Hanya sunyi yang menjelaskan perasaan tidak dianggap dan tersisihkan. Embun menghela napas panjang melepaskan sesak yang menghimpit dada.Denting suara sendok beradu dengan piring semakin menegaskan kalau kini dia sendirian di meja itu. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum getir, tetapi di balik itu, ada api kecil yang masih menolak padam. Api keberanian untuk tidak selalu tunduk pada keadaan.Tiba-tiba ponselnya bergetar. Embun menatapnya dengan mata membulat, berharap, tetapi benci. Ternyata pesan itu dari sahabatnya, Helena.“Embun, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku menunggumu di lotus cafe.” Isi pesan itu membuat hatinya menghangat, ternyata masih ada orang peduli padanya. Embun menatap pesan itu lama, dia bimbang mau da

  • MADU YANG BERACUN   Bab 69 | Tujuh Bulanan

    Hari yang ditunggu pun tiba. Siang itu kediaman keluarga Yolan Svarga telah disulap menjadi area acara tujuh bulanan yang begitu indah, dengan nuansa biru pastel seperti permintaan Jasmine.Balon-balon bergelantungan di gerbang masuk. Tirai-tirai tipis terikat di tiang-tiang dekorasi. Bunga-bunga dengan warna senada menghiasi meja tamu dan panggung kecil di tengah halaman.Jasmine duduk di tengah pelaminan kecil. Perut buncitnya dibalut kebaya biru muda. Wajahnya berseri, bibirnya tersenyum kecil. Kecantikannya semakin terpancar.Ini bukan hanya sekadar acara tujuh bulanannya, tetapi juga ajang pembuktian bahwa dia kini adalah pusat di dalam keluarga Svarga. Di sampingnya, Lintang duduk dengan tenang, namun dengan jelas wajahnya memancarkan semburat bahagia.Embun melangkah perlahan, dia mengenakan dress biru sesuai tema hari ini. Tidak ada senyum, tidak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang mencoba tegar di hadapan semua kenyataan kini.Melihat kedatangan menantu pertamanya, Bu Ing

  • MADU YANG BERACUN   Bab 68 | Surat Undangan

    Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supaya lebih profesional. Dia terus mengayun-ayunkan tubuh mungil sang putra dalam gendongan yang mulai terlelap. “Sayang … Ethan tidak boleh rewel, ya. Ethan harus jadi anak baik. Mama harus bekerja biar kita bisa Bahagia terus, ya sayang. Bantu Mama, ya,” gumam Jenar lembut sambil menatap buah hatinya penuh perasaan.“Maafin Mama, ya, kalau nanti sering ninggalin Ethan sama kakak Embun, ya. Mama Janji, kalau Mama libur akan main bareng, ya. Mama sayang kalian.”Jenar mencium kening sang bayi yang sudah terlelap dan perlahan membaringkannya ke dalam box dengan hati-hati.*****Jasmine senyum-senyum sendiri sambil memandangi bunga seruni yang bermekaran di taman belakang. Sama seperti perasaann

  • MADU YANG BERACUN   Bab 67 | Mawar Tanda Luka

    Setelah sarapan, Lintang bergegas naik ke kamar, dia teringat akan sesuatu. Jasmine pun menyusul sang suami.“Mas, kau sedang apa?” tanya Jasmine muncul dari balik pintu. Dia melihat suaminya sibuk dengan mencari dan mengeluarkan kertas dari laci.“Mas sedang siapkan berkas-berkas dan bukti untuk mengajukan sidang isbat nikah nanti. Kalau semua sudah lengkap, Mas tinggal bawa ke pengadilan,” kata Lintang sambil tangannya bergerak lincah. Dia tidak menoleh pada sang istri.Jasmine senang mendengarnya, tetapi di sisi lain dia mau Lintang menceraikan Embun. Tidak mengapa, mengalah sebentar. Yang penting status yang sama dulu dengan Embun. Rencana kedepannya dia akan pikiran lagi.“Mau di bawa kemana semua itu, Mas?” tanyanya lembut sambil memperhatikan berkas-berkas dimasukkan ke dalam tas kerja. Jasmine duduk di atas tempat tidur menghadap sang suami.“Mas akan membawanya ke kantor. Di sana mas bisa fotokopi dokumen yang perlu,” kata Lintang tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berka

  • MADU YANG BERACUN   Bab 66 | Rencana Tujuh Bulanan

    Di kediaman keluarga Svarga, saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Dentingan piring beradu dengan sendok mengisi ruangan ditambah dengan obrolan ringan yang membuat hubungan kekeluargaan semakin erat.“Lintang, kamu sudah punya rencana untuk syukuran tujuh bulanan istrimu?” tanya Bu Inggrid di sela-sela makannya. Lintang mengangkat kepala dan menatap sang ibu. “Lintang belum kepikiran soal itu, Ma.”“Kamu Ini memang tidak perhatian menjadi suami, jangan-jangan kamu tidak tahu berapa usia kandungan istrimu,” sahut Pak Yolan menyela ucapan Lintang. “Kami saja sebagai calon kakek dan nenek selalu menghitung setiap bulannya,” tambah Bu Inggrid.“Bukan seperti itu, Ma, Pa. Lintang sibuk berkerja, jadi terkadang tidak terpikirkan yang lain lagi. Yang penting bagiku istri dan anakku sehat dan selamat. Itu saja,” kata Lintang.“Mas Lintang benar, Ma. Jasmine juga hanya berharap anak kami lahir dengan sehat dan s selamat tanpa kekurangan satu apapun,” imbuh Jasmine.“

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status