بيت / Rumah Tangga / MADU YANG BERACUN / Bab 9 | Curahan hati

مشاركة

Bab 9 | Curahan hati

مؤلف: Dara Kirana
last update تاريخ النشر: 2023-06-11 18:56:34
Dering ponsel Embun membangunkannya dari alam mimpi dan mendapati hari sudah pagi, ia belum ingin bangkit dari kasur, tubuhnya terasa remuk.Tangan Embun kemudian meraba ke atas nakas dimana ponselnya masih berdering.

Embun melihat siapa yang menelpon, kemudian mengucek mata yang terasa aneh memastikan tidak salah lihat nama si pebelpon. "Mas Lintang," gumamnya dengan suara serak.

Embun rasanya tidak ingin menerima panggilan itu. Ia tidak mengerti, saat sang suami jauh ia merasa rindu. Namun, b
Dara Kirana

Jangan lupakan tinggalkan komentarnya, ya. Biar Author makin semangat 😇 Follow juga aku di Facebook : Dara Kirana Instagram : dara_kirana21 💋

| إعجاب
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • MADU YANG BERACUN   Bab 78 | Tamu Di Pagi Hari

    Embun bangun sedikit kesiangan. Matahari menyelinap dari celah jendela dan menerpa wajahnya, seolah membangunkannya dari buaian mimpi. Embun mengerjapkan mata, ia menggeliat. Perasaan lebih baik dari biasanya. Pertemuannya kemarin dengan Vito dan Helena, seolah mulai melepaskan satu-persatu tali-tali yang selama ini melilit tubuhnya. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Embun turun ke lantai bawah. Lelah itu masih menempel, tetapi rasanya sedikit lebih ringan. “Pagi, Nya,” Sama Bi Mar dan Tuti. “Pagi, Bi.” Embun menarik kursi langsung duduk.Dia melihat menu sarapan pagi dan mengucapkan terima kasih pada keduanya. Setelahnya dia membubuhkan makanan ke dalam piring. Baru menelan dua sendok tiba-tiba bel rumah berbunyi. Bi Mar segera bergegas ke depan dan membukakan pintu.Sementara, Embun hanya mengernyitkan dahi dan menebak itu Lintang. Seketika selera makannya hilang, perutnya mendadak kenyang. Dia mengembus napas kasar. “Kenapa harus kemari, sih,” gumamnya kesal. “Sela

  • MADU YANG BERACUN   Bab 77 | Permintaan Gila

    Kabar itu pun sampai ke kediaman keluarga Svarga. Semua orang tidak menyangka, mereka masih sedikit belum percaya. Jenar wanita sebaik dan seanggun itu tega melakukan kejahatan itu. Jasmine yakin Embun memfitnah kakaknya karena cemburu dirinya merebut Lintang dari wanita itu. Embun sengaja ingin menyakitinya lewat orang yang disayanginya. Dia tidak terima, dadanya bergemuruh, kebenciannya terhadap Embun semakin membara. “Ternyata kau … sialan!” maki Jasmine, napasnya memburu. Dia berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya dalam balutan amarah. “Sayang …,” kata Lintang sambil berjalan mendekat ke arahnya.Jasmine tidak menoleh, kemarahan dalam dadanya begitu besar sehingga telinganya seolah tuli. “Kamu kenapa, hem?” ucap Lintang sambil memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Lintang dapat melihat kobaran api itu dalam sorot mata sang istri. “Menurut Mas aku kenapa?” ketus Jasmine, baginya pertanyaan itu basi baginya. “Kamu marah?” ucap Lintang hati-hati.“Ya, aku marah!” s

  • MADU YANG BERACUN   Bab 76 | Tak Ada Celah

    “Dedenya menendang,” kata Jasmine. “Kencang sekali, aku terkejut dibuatnya.” Dia menaikkan volume suara agar sampai ke telinga Embun.“Oh, ya ampun. Kamu buat Mas khawatir saja,” kata Lintang. Tangan itu mengusap pelan perut Jasmine. “Syukurlah kalau cuma dede main.”“Iya, Mas. Sepertinya dede senang ke sini.”“Embun menulikan telinga, membentengi hatinya, tidak memberi celah untuk luka yang sama. Iri itu pasti ada, tetapi dia tidak akan membiarkan perasaan itu menggoyahkannya. “Tentu saja senang, kan di sini tempat ibunya juga,” kata Lintang, dia tersenyum hangat. Tangan Embun terhenti lagi, telinganya tidak bisa mengabaikan kalimat itu. Muak, sungguh muak. Ia mengembus napas kasar lalu kembali lagi ke aktivisnya.“Siapa yang Mas Lintang maksud? Aku? Tidak sudih,” batin Embun. Bibirnya tersenyum tipis, sinis.Jasmine jengkel Embun tidak bereaksi apa-apa. Pancingannya tidak berhasil, hatinya membengkak. “Sial! Kenapa susah sekali sekarang?” batinnya.Tidak kehabisan cara, Jasmine pi

  • MADU YANG BERACUN   Bab 75 | Langkah Baru Dimulai

    Cahaya siang menembus jendela VIP Lotus Cafe menciptakan garis-garis hangat di meja, tempat Embun duduk.Sebelum datang, dia sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Dia hanya ingin semua yang telah direncanakan berjalan mulus.Tanpa sepengetahuan Lintang, dia sudah menyiapkan langkah untuk pergi. Tidak peduli lagi jika nanti lelaki itu akan memohon, dia tahu betul bagaimana suaminya itu. Dia tidak akan goyah.Embun merasa dirinya licik saat mengingat mengurus perkara ini dengan uang bulanan yang diberikan lelaki itu. Namun, dia mengabaikan rasa itu. Jika dia terus mengikuti hatinya yang selalu tidak enak, dia akan terus tersiksa.“Maafkan aku, aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari kayu yang kau beri. Bukan untuk kembali ke tempatmu, tapi untuk mendayung ke pulau seberang,” gumamnya lirih. Tidak lama seorang pria berpakaian rapi dan terlihat profesional muncul dari pintu. Dia adalah Vito Siba, pengacara yang Helena katakan beberapa hari yang lalu.“Selamat siang, Bu Embun.

  • MADU YANG BERACUN   Bab 74 | Kabar Buruk

    Eros menyeret langkah ke dalam rumah, tubuhnya terasa lemas dan penampilannya kacau. Hari ini dia seolah disambar petir, sesuatu yang sungguh mengejutkan. Perasaannya campur aduk. Cemas, kecewa dan bersalah menumpuk dalam dada.Dia tidak langsung naik, dia menjatuhkan diri di sofa lalu bersandar. Dia memijat pangkal mata, kepalanya terasa berat. Bising, penuh pertanyaan yang belum menemukan jawaban.“Eros!” Suara bu Riana mengejutkan lelaki itu. Tangannya berhenti, membuka mata lalu menoleh ke arah sumber suara.Terlihat ibunya berjalan cepat ke arahnya dan duduk di sampingnya. “Kamu dari mana saja? Mama sudah telepon berkali-kali, tidak diangkat. Sebenarnya ada apa ini? Jenar kenapa?” tanya Bu Riana, kepala Eros semakin berdenyut, tatapan mata wanita itu menuntut.Eros menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuh. “Jenar hanya dimintai keterangan,” sahut Eros. “Semuanya belum jelas.”“Keterangan apa? Jenar tidak melakukan apa-apa, kan?” cecar Bu Riana. Masih diperiksa, Ma,” jawabnya

  • MADU YANG BERACUN   Bab 73 | Permulaan yang Runtuh

    Setelah Jenar dibawa oleh polisi, Bu Riana segera menghubungi Eros. Namun, sudah beberapa kali teleponnya tidak dijawab. Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel di depan dada. Dia mencobanya lagi namun hasilnya tetap sama. Matanya menangkap jam dinding yang menggantung dan melihat angkanya. “Ya, Tuhan, bisa-bisa aku lupa Eros pagi ini ada meeting,” gumamnya. Segera jari-jarinya mengetik pesan dan mengirimkannya.“Sebenarnya ada apa ini?” gumamnya penuh tanya. “Apa yang disembunyikan Jenar selama ini?”“Semoga saja benar yang dikatakan Jenar, hanya salah paham,” ucapnya penuh harap. Ia segera berlalu ke dapur, tenggorokannya mendadak terasa kering.“Oma! Mama sudah pergi, ya?” kata Embun yang tiba-tiba muncul di anak tangga paling atas.Bu Riana menoleh. “Iya, Sayang. Kamu main saja sama Mbak dan adik, ya,” sahut Bu Riana. Gadis kecil itu patuh dan berbalik pergi. “Kasihan cucuku, bagaimana kalau dia tahu kalau ibunya dibawa polisi. Semoga saja Jenar sece

  • MADU YANG BERACUN   Bab 53 | Rencana Jahat Jasmine

    Jasmine mengemudikan mobil dengan perasaan kesal. Sesekali tangannya memukul setir. Bayang wajah sumringah Embun dan suaminya tidak mau pergi dari ingatan dan dia membencinya.Setelah kepergian Lintang tadi pagi, Jasmine pun pamit kepada Bu Inggrid dengan alasan mau ke rumah Jenar karena merindukan s

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
  • MADU YANG BERACUN   Bab 43 | Kau yang membuat jarak.

    "Aku mau hakku! Kita sudah lama tidak melakukan ini, kan?" ujar Lintang, "kau pasti juga merindukan sentuhanku," lanjutnya."Tidak, aku tidak mau!"

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • MADU YANG BERACUN   Bab 39 | Kau pantas menerimanya

    "Apa menurutmu aku sejahat itu, Mas? Kau tahu aku seperti apa, tapi mengapa kau sangat mudah percaya dengan omongan yang belum tentu kebenarannya." Mata Embun berkaca-kaca, adanya sesak."Seseorang bisa saja berubah, terlebih kalau sudah memiliki rasa iri dalam hatinya," ucap Lintang dingin dan menus

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
  • MADU YANG BERACUN   Bab 41 | Jangan terlalu kurang ajar!

    Lintang meletakkan kembali makanan itu di atas nakas dengan kasar, dia kesal karena niat baiknya tidak disambut baik oleh Embun. "Terserah! Mau kau makan atau kau buang!" ucap Lintang setelah itu melesat ke luar kamar. "Jasmine, kau sudah tidur?" tanya Lintang setelah memasuki kamar mereka. Ibu hami

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status