FAZER LOGINRayhan masih menatapku dengan senyum miring di bibirnya, dan sebelum sempat aku bereaksi lagi—cup! Bibirnya menempel sebentar di bibirku. Hanya sepersekian detik, cepat, singkat ... tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku refleks menahan napas, dan mataku membelalak kaget. Rasanya, dunia berhenti berputar dalam detik itu juga. Keringat dingin menyasar di seluruh tubuhku selaras dengan hatiku yang kia
"Lagian, lo berdua sesama CEO kerjaannya tukar pikiran mulu, tapi masalah hati bisa-bisanya lo kecolongan, Ray," goda Fina, menyenggol lengan Adrian dengan akrab.Rayhan mendengus, ia meraih gelas minumannya, lalu menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. "Gue masih nggak habis pikir aja. Seorang Adrian yang kalau di forum bisnis omongannya cuma seputar saham dan ekspansi pasar, tiba-tiba bisa se-sat-set ini ngelamar anak orang."Adrian hanya tersenyum tipis, ia merapikan sedikit kemejanya untuk menghilangkan rasa gugup. "Kalau udah ketemu yang pas, buat apa ditunda-tunda, Ray? Lo sendiri dulu pas nikahin Kayla juga nggak pakai lama, kan?"Skakmat. Rayhan langsung terdiam, membuatku dan Fina spontan tertawa keras melihatnya mati kutu."Tuh, dengerin!" sahut Fina puas. "Sahabat lo aja lebih pinter nyari celah daripada lo yang biasanya paling hobi ceramah.""Iya, iya, gue kalah," pasrah Rayhan sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Namun, sedetik kemudian wajahnya melembut. Ia me
Rayhan menarik napas panjang, sebelum is menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gila ya lo, Fin. Diam-diam menghanyutkan. Gue pikir lo bakal jadi perawan tua yang sibuk ngurusin perusahaan orang lain, ternyata malah langsung melipir ke Paris.""Mulut lo ya, Ray!" Fina melempar tisu yang sudah diremas ke arah Rayhan, yang langsung disambut tawa renyah oleh suamiku. "Gue tuh cuma malas denger ceramah lo berdua kalau gue masih dalam proses penjajakan. Jadi begitu dia ngajak serius, ya langsung gue sikat."Aku masih memegangi kartu undangan tebal itu, mengusap ukiran namanya dengan ibu jari. Rasa tidak percaya masih menggelitik dadaku. "Fin, tapi kenapa harus di Paris? Maksud gue... lo bakal tinggal di sana?" tanyaku, mendadak ada rasa kehilangan yang mencubit hatiku. Baru tadi siang dia bilang tidak akan pernah meninggalkanku, tapi sekarang dia memberikan undangan pernikahan di belahan bumi yang berbeda.Fina yang seolah bisa membaca perubahan raut wajahku langsung menghela napas. Dia me
Aku membuka mulut, menerima suapan steak pertama dari Rayhan dengan perasaan yang membuncah. "Enak?" tanya Rayhan lembut, matanya menatapku penuh perhatian. Aku mengangguk cepat sambil mengunyah. "Enak banget." "Gila ya, dunia serasa milik berdua," celetuk Fina ketus, sengaja mendengus keras-keras sambil menusuk potongan melon di piringnya dengan brutal. "Gue yang mesen kamar, gue yang nyetir, gue yang nyulik bumil, tapi ujung-ujungnya gue cuma jadi nyamuk di pojokan." Rayhan tertawa renyah, sama sekali tidak terganggu dengan protes sahabatku itu. "Makanya, Fin, buruan cari pasangan. Biar nggak sirik tiap liat orang bahagia." "Idih, ogah! Ribet amat hidup musti laporan sana-sini kayak Kayla," balas Fina cepat, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Dia beralih menatapku, tatapannya melembut. "Tapi serius, Kay. Habisin itu makanan. Lo kurusan banget setelah keluar dari rumah sakit kemarin. Pipi lo sampai tirusan gini." "Ini efek rambut aku digulung aja kali, Fi
“Kay? Kamu di kamar mandi?”Suara berat Rayhan terdengar semakin dekat, disusul bayangannya yang muncul di balik celah pintu kamar mandi yang memang sengaja kubuka sedikit.“Aku masuk, ya,” lanjutnya, melebarkan pintu.Aku menatapnya tanpa kedip dari dalam bathtub, masih dengan badan yang setengah terendam air hangat. “Ray? Kok... kok kamu bisa di sini?” tanyaku tak percaya.Bukan hanya karena kehadiran suamiku yang tiba-tiba di sini—di tengah jam kerja—tetapi karena penampilannya saat ini. Rayhan memakai kemeja kerjanya yang rapi, namun tubuh bagian atasnya hampir seluruhnya tertutup oleh sebuah buket bunga mawar putih dan baby's breath yang ukurannya luar biasa besar. Saking besarnya, wajah gantengnya sampai agak tertutup kelopak bunga.Rayhan menurunkan sedikit buket bunga raksasa itu ke dada, menampakkan senyumnya yang khas—senyum teduh yang selalu sukses bikin semua kepanikanku hilang seketika.“Fina yang nyuruh,” jawabnya enteng, melangkah masuk ke area kamar mandi yang luas lal
Fina mematikan sambungan telepon, lalu menatapku tajam. “Rayhan itu pinter, Kay. Dia tau kapan harus ngasih ruang buat istrinya, dan dia tau lo bakal aman di tangan gue. Sekarang, diem dan istirahat. Atau gue panggilin perawat buat nyuntik lo biar bisa tidur?” ujarnya, mengancam.Aku tertawa renyah, lalu memejamkan mata. “Iya, iya. Gue istirahat.”Aku perlahan tenggelam dalam ketenangan itu, membiarkan diriku untuk sekadar menjadi manusia—tanpa embel-embel ibu hamil, istri, atau karyawan—setidaknya untuk hari ini.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru saja aku terlelap, suara gesekan kain dan langkah kaki Fina yang menjauh memaksa mataku terbuka. Aku melihat Fina sedang berdiri di depan cermin besar, memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan."Mau ke mana?" tanyaku serak. Sembari menyandarkan tubuhku.Fina menoleh, menatapku dengan sebelah alis yang teragnkat. "Keluar bentar. Ada urusan kecil yang harus gue selesaiin di lobi.""Urusan apa? Bukannya tadi katanya mau full
“Nyebelin?” potongnya cepat.“Iya.”“Tapi ada gunanya,” lanjutnya sendiri sambil membuka pintu mobil.Aku menggeleng lemah, lalu mengikuti Fina yang sudah turun terlebih dahulu. Fina melingkarkan lengannya ke lenganku, menarikku masuk pelan.“Ayo,” katanya. “Hari ini lo bukan Kayla yang biasanya. Lo Kayla yang menjadi princess dalam sehari.”Fina berjalan ke meja resepsionis dengan langkah percaya diri. Seolah semua ini memang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Aku hanya mengikuti di sampingnya sambil terus memperhatikan sekeliling.“Fin...,” panggilku pelan saat dia selesai berbicara dengan resepsionis.“Hm?”“Lo udah nyiapin ini dari kapan?”Fina mengambil kartu akses lalu menoleh ke arahku. “Dari hari ketiga.”Aku berkedip. “Hah?”Dia mengangkat bahunya acuh. “Dari hari ketiga setelah lo masuk rumah sakit.”Aku terdiam. Sementara Fina kembali meraih lenganku dan membawanya berjalan menuju lift, sementara benakku masih memproses jawabannya.“Lo serius?”“Iya.”“Tapi kenapa?”.
Aku meremas tanganku cukup keras, sementara tatapanku jauh melayang pada jendela di sampingku. Rasanya, aku udah nggak mampu buat terus-terusan ngelawan ucapan Rayhan yang masih saja menyudutkanku. Untuk beberapa saat, keadaan di dalam mobil terasa begitu sunyi, hanya ada suara mesin yang terdengar
“Seru, ya? Sampe kedengeran rame banget dari luar,” suaranya begitu datar, tapi cukup membuat semua kepala di ruangan ini otomatis menunduk.Aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat, sementara Fina buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya, meredakan tawa yang belum reda setelah makan si
Aku menatap Fina sejenak, lalu menghela napas panjang. “Iya, Fin … keliatan banget dari tadi, beda banget sama biasanya, lebih … dingin dan tegas, gitu.”“Makanya, sumpah gue takut banget kalo sampe salah gerak. Baru dikasih tugas aja rasanya kayak lagi dicekik pelan-pelan ... lo kebayang nggak, ti
“Dah kenyang, saatnya manja sama suami~” ucapku mengusap perut dan berjalan dengan sedikit merapikan penampilanku, rambutku terutama, “Kira-kira Rayhan mau ngomongin apa, ya?” ujarku penasaran dengan senyum yang sulit untuk ditahan.Langkahku berhenti tepat di samping sofa, mencoba menetralkan jantu







