Share

Maha Dimensi
Maha Dimensi
Penulis: Alen D.

Murka Sang Maha

“Kembali kau, Makhluk Gelap. Tempatmu bukan di sini. Hanya manusia dan “mereka” saja yang kuizinkan untuk tinggal di tempat ini! Kau tahu ini bukan tempatmu. Berani sekali kau lari dari hukuman dan memasuki daerah terlarang untukmu dan kaummu!”

Suara itu terdengar memekakkan telinga. Ditengah-tengah pengejaran, suara penuh amarah membuat Mafalda Ofelia mulai ketakutan. Namun, tak ditunjukkan sedikit pun rasa takut itu. Berlari dan terus belari, napas tersengal dan lelah mulai mendera. Deru napas yang berkejaran serta memikirkan cara untuk melarikan diri membuat Mafalda semakin lelah.

Nam!” Mafalda mengumpat dengan bahasa dari asalnya, Dimensi Gelap.

“Kau mengucapkan kata sial untuk siapa? Mengumpat dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh duniamu saja.” Suara itu kembali mengejek Mafalda, serta tawa mengerikan yang semakin membuat makhluk mana pun ketakutan.

“Diam kau, Sang Maha! Kalau berani, tunjukkan sosokmu! Aku akan menghabisismu. Sekarang! Saat ini juga!” Teriakan frustrasi terdengar jelas di telinga.

Sungguh. Mafalda sudah semakin tak berdaya. Jantung mulai memacu dengan cepat, paru-paru semakin sulit menerima oksigen masuk ke dalam tubuh, keringat bercucuran tanpa henti. Setiap sendi mulai tak mampu untuk membantu pergerakannya. Tulang-tulang pun terasa ingin lelah.

“Kenapa? Tubuhmu sudah mulai lelah?” tanya Sang Maha dengan nada yang sedikit tenang.

“A-apa yang kau lakukan?” Mafalda berhenti dan tubuh lunglai. Lututnya menempel di atas aspal hitam.

“Lihat saja. Karena kebodohanmu, masalah besar menyapa. Sekarang, sisa-sisa kekuatanmu hanya menunggu waktu untuk menghilang dan meninggalkan sarcag-nya, tempat bersemayam ilmu sihir makhluk Dimensi Gelap.” Maha memprovokasi dan memancing amarah Mafalda.  

“Kau … mau apa, Maha?” Terdengar Mafalda sudah putus asa, pasrah untuk lenyap dari kehidupan.

“Menunggu dan akan menyaksikan lenyapnya satu makhluk pemilik Mireco.” Maha mengutarakan maksud dari amarah. “Dan, menjadikan kau sebagai sosok rones, pahlawan kejahatan dari Dimensi Gelap, duniamu!”

“Kau tahu, Maha? Banyak sekali yang ingin menghancurkanmu dari duniaku! Kau hanya makhluk pilihan yang sebentar lagi akan lenyap. Masamu akan hilang,” ucap Mafalda seraya bangkit berdiri tanpa menyadari sesuatu terjadi pada raganya. “Kau tahu, mereka akan bergerak dan melakukan sesuatu jika aku menghilang. Kau akan ….”

“Mereka tidak akan melakukan sesuatu padaku,” potong Maha cepat dan marah. “Karena kalian, makhluk dari Worark, dunia kegelapan, sejatinya hanyalah makhluk yang penuh ketakutan.”    Sekarang ini, tidak ada satu pun dari mereka yang berani datang dan menolongmu, Mafalda Ofelia.”

Mafalda terdiam. Benar saja, sejak dia berhasil masuk ke dunia manusia melalui Purohid -gerbang terlarang- yang disembunyikan sejak ratusan ribu tahun. Mafalda terkekeh dan masih fokus pada tujuan masuk ke dunia manusia, tetap saja dia belum mengetahui yang terjadi pada raganya.

“Jangan berbicara omong kosong kau, Sang Maha, sudah setahun aku berada di sini. Selama itu pula aku hidup dengan baik bersama manusia yang kucintai!” protes Mafalda tidak terima.

“Hidup dengan baik katamu?” Lagi, suara Sang Maha menggema penuh amarah. “Kau tahu jelas yang terjadi pada tahun lalu! Kematian akibat dari bencana alam, siapa pemicunya? Aku menjaga keseimbangan dan sudah ratusan ribu tahun aku membantu mereka untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Untuk semua fenomena alam, mereka bisa mengetahui. Tetapi, kau merusak dengan melakukan hal terlarang. Mengacaukan pikiran para manusia, mengendalikan pikiran mereka dan ingin menguasai mereka. Bahkan, sebagian dari penghuni bumi ini berani meninggalkan Sang Pencipta. Lalu, kau katakan hal seperti itu adalah hidup berdampingan? Kau mengacaukan pekerjaanku!”

Suara Maha memekakkan telinga Mafalda. Namun, hanya dia sendiri dan makhluk Worark yang bisa mendengar ledakan amarah itu. Para makhluk Worark benar-benar terdiam di tempatnya. Mereka sadar penuh, jika Sang Maha sudah diberikan blouns –berkat dan karunia- yang tak terbatas.

Mafalda tertawa lepas kemudian dia menarik napas yang terasa sesak. “Aarkk …,” teriak kesakitan tak sanggup lagi ditahan. “Wahai, Sang Maha. Ingat dan camkan dengan baik. Kau pun nanti akan merasakan apa yang kurasakan. Mencintai seorang manusia dan tak bisa berbuat apa pun!” Suara Mafalda berteriak dengan lantang.

“Berkata-kata saja sesuka hatimu. Berikan deurs-mu sebanyak apa pun, kutukan itu tidak akan sampai. Kau tahu, mireco-mu sudah hampir hilang. Sebentar lagi.” Maha kembali mengingatkan Mafalda. “Semua ini adalah hasil dari perbuatanmu yang mencintai manusia dan mengikuti kemauannya. Kesalahan ini tidak akan bisa dimaafkan untuk ribuan tahun di masa depan.” Tanpa perasaan, Maha mengucapkan rentetan kalimat yang menyakitkan itu.

Dalam sekejap, keadaan malam kembali hening. Langit yang semula diterangi cahaya bulan dan bintang, cahaya lampu yang menerangi jalanan kecil di perkotaan dan pedesaan berubah gelap seketika. Tak ada lagi suara binatang kecil yang biasa memenuhi alam. Bahkan, suara Maha pun berhenti.

“Ada apa? Ke mana semua suara itu? Mengapa menjadi tak ada apa pun?” Mafalda kebingungan, ketakutan yang tak biasa menyergapnya. “Apa ini?” Mafalda mulai tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Aku akan lenyap?” Tawa Mafalda semakin mengerikan, sangat putus asa dan cemas.

“Mafalda ….” Suara yang berbeda kali ini membuat Mafalda tersentak. “Kau sudah melanggar batasan. Aku sudah memberikan peringatan 2.500 tahun lalu. Tetapi, kau melanggarnya. Sekarang, tiba saatnya kau luruh dan tak bersisa.”

“Sa … Sang Pencipta? Apa itu Kau?” tanya Mafalda yang masih dalam ketakutan, sedikit harapan muncul dalam benaknya.

“Ya, ini Aku. Yang menciptakan kau, Maha Dimensi dan seluruh alam raya.”

“Sang Pencipta, kumohon bebaskan aku. Aku akan membuat dunia ini jauh lebih baik. Aku akan membuat para manusia itu kembali menyembah-Mu. Bagaimana? Adil, ‘kan?” Mafalda melakukan tawar-menawar.

“Kau memberikan penawaran kepada-Ku? Kau tak layak untuk melakukan itu. Aku ada saat ini hanya untuk memberikanmu kesempatan terakhir. Tetapi, kau justru membuat-Ku kecewa dan marah sekaligus. Nikmatilah pemandangan alam semesta ini sampai detik terakhirmu.”

Suara Sang Pencipta pun menghilang, tapi, gelap masih saja menyelimuti alam semesta. Waktu masih saja berhenti, jarum pun tak ikut bergerak. Namun, di gelapnya malam, di antara batas tipis kegelapan, terdengar suara derap kaki anak kecil yang berlari. Tangisan anak itu mengalihkan perhatian Mafalda. Senyuman licik tergambar di wajah putih dan aura gelap.

“Ah, sepertinya Mireco-ku memiliki tuan yang baru,” ucap Mafalda dengan penuh kemenangan.

Tubuh Mafalda yang seringan kapas langsung saja melayang tanpa aba-aba. Berhenti tepat di depan tuan baru kekuatan dari gelap. Tanpa mempertimbangkan apa pun lagi, kedua tangan dengan jari-jari lentik dan indah mencengkeram kepala kecil dan menutup kedua telinga si tuan baru itu.

“Kau terimalah saja Mireco ini. Pakai sesuka hatimu, jangan pernah ragu dan takut. Hancurkan siapa pun yang menyakitimu tanpa perlu berbelas kasihan,” ucap Mafalda dengan lantang tepat di wajah kecil yang ada di hadapannya itu. Sesaat Mafalda terdiam, hanya sedetik saja. Kemudian dia mengucapkan, “Mireco, gain tonya!” Dengan lantang, Mafalda memerintahkan kekuatan itu untuk masuk pada tubuh kecil si tuan baru.

“Aaa …. Sakit ….”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status