LOGINMalam semakin larut. Emily menatap jam dinding. Jarumnya menunjuk setengah satu. “Ada apa?” suara Vincent terdengar dari sampingnya. Emily menoleh. “Aku gak bisa tidur.” “Apa mual?” tanya Vincent. Emily menggeleng pelan. Pandangannya meredup. “Aku masih kepikiran Lisa. Di mana wanita itu sekarang?” Ia menatap Vincent. “Bawa aku ke tempat Lisa.” “Buat apa?” Vincent mengernyit. Tangan Emily mengepal di atas selimut. “Kalau kamu gak mau, aku ke sana sendiri.” Ia hendak bangkit, tapi pergelangan tangannya ditahan. Vincent menghela napas. “Baiklah.” “Ayo, sekarang,” desak Emily. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak, menuju tempat Lisa berada. ••• Sesampainya di sana, Emily melangkah masuk dengan tergesa. “Sayang, hati-hati.” Brak. Pintu dibukanya kasar. Lampu temaram menggantung, mengayun pelan. Di sudut ruangan, seorang wanita meringkuk di lantai. Senyum Emily terangkat tipis. “Grace. Menyedihkan.” Pandangan itu lalu bergeser. Sosok lain duduk terikat tak jauh dari sa
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti mendadak. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di hadapannya, dikelilingi anak buah berbaju hitam, yang tak lain adalah anak buahnya.Saat ia keluar...“Bos, Mr. R ada di dalam,” lapor salah satu dari mereka.Vincent turun tanpa menoleh. Langkahnya tegas, tatapannya dingin.Pintu dibuka paksa.Brak.“Apa yang kalian—!” seorang pria paruh baya terkejut.“Seorang wanita membeli racun di sini,” ucap Vincent datar. “Akibatnya, adik istriku sekarat.”“Aku tidak ingat—”Vincent mengangkat tangan. Sebuah foto ditunjukkan tepat di depan wajah pria itu.“Kenal?”Wajah pria itu pucat. “I—iya. Dua minggu lalu. Dia membeli racun.”“Penawarnya, berikan padaku, Mr. R.”Pria itu menelan ludah. “Ada.”“Di mana? Tunjukkan.”“Di rak belakang.” Ia menunjuk ke arah sebuah lemari.Vincent mengikuti kemana arah jari itu menunjuk. Ia mengangguk kecil dan menara ke arah Grayson. Anak buahnya langsung bergerak menggeledah.“Yang mana?” tanya Grayson.Mr. R gemetar.Vincent su
Di dalam perjalanan, pandangan Emily kosong. Adegan di gudang tadi masih melekat, berulang tanpa izin. Jarinya saling meremas.“Mampir ke taman?” suara Vincent memecah lamunannya.Emily mengangguk.Mobil berhenti. Mereka duduk di bangku kayu, angin sore menyentuh wajahnya. Emily menatap danau kecil di depan, riaknya bergetar pelan.“Aku sudah berjanji,” ucap Vincent rendah, “akan membalas apa pun yang orang lain lakukan padamu.”Emily tak menjawab. Dadanya naik turun, perlahan.“Hai, Kakak Ipar.”Emily menoleh. “Tuan Dominic?” Tatapannya turun pada tangan Elowen. “Kenapa—”“Aku sudah melamar adikmu,” ujar Dominic santai. “Tunjukkan cincin yang kuberikan, Owen.”Elowen mengangkat jari, matanya berbinar.“Owen mau menikah dengan—”“Bukan paman,” Dominic memotong lembut. “Calon suami.”“Iya. Calon suami, Owen,” ulang Elowen, tersenyum kecil.“Owen,” suara Emily bergetar tipis, “pernikahan bukan seperti permainan.”“Aku sudah menjelaskan,” sahut Vincent. “Waktu kamu dirawat.”Dominic mela
Emily duduk di balkon, menatap langit hitam yang dipenuhi bintang. “Sudah setengah dua belas, belum tidur?” suara Vincent terdengar di belakangnya.Emily tak langsung menoleh. “Kalau Owen menikah, tugasku sebagai kakak selesai.”“Tentu,” jawab Vincent tenang. “Tugas menjaga itu akan beralih ke Dominic.”Emily menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dengan sikap Tuan Dominic seperti itu, aku masih ragu.”Kedua bahunya tiba-tiba ditarik. Tubuhnya berbalik, memaksanya menatap Vincent. Mata mereka bertemu, jaraknya dekat.“Owen pasti mengadu kalau Dominic menyakitinya,” ucap Vincent pelan. “Sekarang, apa ada aduan darinya?”Emily terdiam. Ingatannya berputar, namun tak menemukan satu keluhan pun.“Tidak, kan?” lanjut Vincent.“Tidak,” jawabnya lirih.Emily menyandarkan kepala ke dada Vincent. Detak jantung pria itu terasa stabil di pelipisnya.“Aku ngantuk,” gumamnya. “Nyanyikan lagu tidur untukku.”Vincent menghela napas kecil, lalu suaranya mengalun rendah.“Tidurlah… pejamkan matamu…mal
“Eugh…”Emily mengerang lirih. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka. Cahaya menusuk samar, membuat kepalanya berdenyut. Pandangannya sempat mengabur, lalu perlahan kembali jelas.“Sayang…”Ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. “Tuan…” ucapnya terhenti saat melihat sebelah suaminya berdiri seorang gadis kecil dengan mata berkaca-kaca.“O—Owen…”“Kak Ely…” suara Elowen gemetar. “Maafkan Owen.”Jari-jari kecil itu menggenggam tangannya erat. Emily menelan napas, lalu mengalihkan pandangan ke Vincent. “Sayang, maaf. Aku terlambat,” ucap Vincent rendah.Emily memalingkan wajah. “Tuan… kita bercerai saja.”“Jangan bercanda,” jawab Vincent cepat.“Aku tidak bercanda.” Suaranya lirih, nyaris patah. “Tuan sudah meniduri Grace.”Vincent tersenyum tipis, “Aku sama sekali tak melakukan apapun, atau mungkin kamu.”Alis Emily berkerut. “Maksud Tuan?”“Kamu mengkhianatiku.”“Aku tidak—”“Jelaskan,” potong Vincent. Sebuah foto dilemparkan ke atas ranjang.Emily meraih foto itu.
Satu Bulan Kemudian. Vincent tak lagi mencari keberadaan Emily. Sejak foto itu jatuh ke tangannya, sejak kata pengkhianatan bergaung di kepalanya, ia memilih menutup semuanya. Yang ia lakukan kini hanya satu, menjadi dirinya yang dulu. Bos mafia tanpa celah, tanpa hati. Hari-harinya diisi rapat gelap, transaksi kotor, dan perintah berdarah. Malam itu— Sebuah ruangan dipenuhi musik keras dan tawa yang dipaksakan. Lampu berkelip, gelas-gelas beradu. Vincent duduk di sudut, botol di tangannya hampir kosong. Tatapannya nanar, tajam, rahangnya mengeras setiap kali cairan panas itu melewati tenggorokannya. “Hei, berhentilah minum,” tegur Ethan sambil menepis botol di tangannya. “Tidak sayang dengan dirimu?” Vincent menepis tangan itu kasar. “Jangan mengaturku.” “Tapi bukan begitu cara menyiksa diri,” sambung Adrian, nada suaranya ditekan. Bibir Vincent terangkat, senyum getir terbentuk. “Kalian tidak mengerti.” “Sudah-sudah,” sela Lucien, menepuk pundaknya. “Malam ini buang saja se