Se connecterDada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.
Lima juta rupiah untuk satu kali produksi. Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite. "Lima juta..." bisik Arman pelan. Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia tidak perlu lagi menundukkan kepala di hadapan atasannya demi meminta jam lembur tambahan. Arman mengalihkan pandangannya ke arah pintu kontrakan yang bercat hijau kusam di hadapannya. Cahaya kuning tipis mengintip dari balik celah ventilasi, menandakan kehidupan di dalam sana masih berlangsung. Di balik pintu itu, ada istrinya yang baru saja pulang membawa barang-barang mahal dari tempat yang tak pernah jujur diakuinya. Godaannya kini terasa begitu nyata dan masuk akal. Ini bukan lagi soal gairah atau keinginan membalas dendam secara membabi buta, melainkan tentang daya tahan seorang pria yang lelah diinjak-injak. Jika Keysha bisa mendapatkan semua kemewahan itu dengan cara menjual harga dirinya di luar, mengapa Arman harus tetap bertahan menjadi orang bodoh yang berpura-pura tidak tahu? Arman mematikan mesin motornya, membiarkan sepi kembali menguasai gang. Ia melangkah pelan menaiki dua anak tangga semen, lalu mendorong pintu kayu yang tidak terkunci rapat. Keysha sedang berdiri di dekat meja makan kecil, merapikan sebuah kantong belanjaan baru bermerek ternama yang tergeletak di atas meja. Gaun malamnya masih melekat rapi di tubuh, memperlihatkan jenjang leher yang sempat memamerkan bekas kemerahan beberapa hari lalu. Biasanya, Arman akan langsung berjalan mendekat, menatap kantong belanjaan itu dengan kening berkerut, lalu melontarkan pertanyaan yang sama. Namun malam ini, Arman memilih bungkam. Ia melewati meja makan begitu saja tanpa mengalihkan pandangan dari langkah kakinya. Keysha menghentikan jemarinya yang sedang membelai bahan kain tas barunya. Ia menoleh, menatap punggung Arman dengan dahi berkerut heran. "Mas kok diam?" tanya Keysha, suaranya memecah keheningan ruangan. Arman menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar. Ia tidak berbalik, hanya menatap dinding semen yang agak lembap di hadapannya. "Capek," jawab Arman datar. Keysha tertegun sejenak mendengar nada suara suaminya yang terlampau dingin dan tanpa beban. Ada kekosongan yang asing dari jawaban singkat itu, sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya dari bibir pria yang biasanya selalu menuntut penjelasan. Keysha mendengkus pelan, berusaha mengembalikan kendali percakapan yang biasa ia pegang. Ia berjalan mendekat ke arah sofa kusam, melempar tas lamanya dengan gerakan asal. "Besok aku mau pergi lagi, ya," cetus Keysha, nadanya sengaja ditinggikan untuk memancing reaksi. "Sama Bunga lagi, ada acara dari siang sampai malam." Ia menyilangkan tangan di dada, bersiap memasang benteng pertahanan jika Arman kembali menginterogasi atau melarangnya seperti biasa. Pria itu biasanya akan bertanya ke mana tujuannya, naik apa ia pergi, atau siapa saja yang hadir di sana. Namun, Arman hanya memutar sedikit kepala ke samping. "Ya sudah," sahut Arman singkat. Keysha mematung di tempatnya. Matanya mengerjap beberapa kali, memperhatikan raut wajah Arman yang sama sekali tidak menunjukkan pendar emosi atau rasa cemburu. Perubahan sikap Arman yang mendadak pasif justru menghadirkan rasa tidak nyaman yang merayap perlahan di tengkuknya. Pria itu biasanya selalu peduli, selalu ingin tahu, dan selalu berusaha memperbaiki hubungan mereka yang retak. Sekarang, ketenangan Arman terasa seperti tebing curam yang gelap. Di dalam kamar yang remang, Arman merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan Keysha mulai menyibukkan diri. Arman merogoh saku celananya, menarik keluar ponsel yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut. Jemarinya bergerak mekanis membuka aplikasi pesan, mencari kontak bernama Fony Allister yang baru saja ia simpan. Ibu jarinya menggantung di atas papan ketik virtual. Ada keraguan singkat yang sempat melintas, sebuah pertimbangan terakhir antara moralitas tua yang mengikatnya dan jalan baru yang membentang di depan mata. Arman mengetik lima huruf. Saya tertarik. Ia menatap tulisan itu selama beberapa detik. Terlalu pasrah, pikirnya. Ibu jarinya bergerak menekan tombol hapus hingga layar kembali bersih. Arman menghela napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara malam yang dingin. Ia menyusun kembali kata-katanya, mencari kejelasan atas langkah gila yang akan ia tempuh. Kalau saya mau mencoba, apa yang harus saya lakukan? Layar ponsel menyorotkan pendar putih ke wajah Arman yang mengeras. Tanpa ragu lagi, ibu jarinya menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim seketika. Tanda centang berubah warna dalam hitungan detik, menandakan sang pemilik nomor sedang menggenggam ponselnya di ujung sana. Jantung Arman berdegup sedikit lebih cepat. Ia menatap layar itu tanpa berkedip, menunggu balasan yang akan menentukan nasibnya mulai esok hari. Tiga titik kecil muncul di bawah layar, menandakan Fony sedang mengetik balasan. Tidak sampai setengah menit, sebuah pesan balasan masuk. Besok datang ke kantor. Pakai pakaian santai yang formal. Arman membaca pesan itu sekali lagi, lalu mengunci layar ponselnya. Ia memejamkan mata di dalam kegelapan kamar, merasakan bahwa garis batas dalam hidupnya telah resmi terlewati.Dada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.Lima juta rupiah untuk satu kali produksi.Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite."Lima juta..." bisik Arman pelan.Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia
“Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin
“Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran
Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu
Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”Arman tidak langsung membantah.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.“Kalau begitu, ini siapa?”Keysha menatap foto tersebut.Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”“Aku kenal istriku sendiri.”“Dari belakang?”“
"Pinter apanya sih, Bud. Ngaco lu, ah! lagian mana mungkin Keysha kerja di tempat elite kayak gitu," tanggap Arman terkekeh pelan, menolak percaya. "Serius Man! Gua tadi liat dia jalan sama cewek berdua, mana cakep banget lagi tuh cewek yang sama dia tadi," ucap Budi makin berapi-rapi. "Bentar, gua kirim fotonya ke WA lu sekarang!" "Haaahh.. Yaudah.. yaudah! kirim coba!" sahut Arman. Sambungan telepon langsung terputus dari pihak Budi. Arman mematung di tempatnya, menatap layar ponsel yang baru saja meredup dengan jantung yang mulai berdegup tak karuan. "Ngapain Budi bohong soal Keysha?" gumam batin Arman cemas. Notifikasi obrolan masuk bersamaan dengan sebuah berkas gambar. Arman menurunkan ponselnya, lalu mengusap layar untuk membuka foto kiriman Budi. Arman menatap foto itu lebih lama. Wajah perempuan di dalamnya memang tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut, dan tas yang dibawa Keysha terlalu familiar untuk dianggap kebetulan. Jemarinya berhenti bergerak di







