Início / Male Adult / Main Api / Menakhlukan

Compartilhar

Menakhlukan

Autor: NomNom69
last update Data de publicação: 2026-09-21 22:28:05

“Saya tidak tertarik.”

Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.

Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.

“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”

Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”

“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”

Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.

Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.

Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pink Swan. Kartu Fony mungkin diperolehnya dari seseorang yang berada di gedung tersebut.

Lalu, siapa?

Arman tiba di gang kontrakannya lebih cepat dari perkiraan. Ia memarkir motor beberapa rumah dari tempat tinggalnya agar Keysha tidak mengetahui dirinya sudah pulang.

Ketika berjalan mendekati kontrakan, sebuah mobil hitam baru saja bergerak meninggalkan ujung gang.

Arman sempat memperhatikan pelat kendaraannya, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk dibaca. Hanya kilatan bodi mahal dan kaca gelap yang sempat tertangkap matanya.

Pintu kontrakannya tidak tertutup rapat.

Dari dalam, terdengar suara Keysha berbicara melalui telepon.

Arman hendak masuk, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar tawa perempuan lain dari pengeras suara ponsel.

“Enak banget jadi lo, Key,” ujar perempuan di seberang. “Tinggal dandan, nemenin sebentar, terus dapat uang banyak.”

“Enak apanya?” Keysha membalas sembari meletakkan tasnya. “Capek juga harus ngikutin maunya.”

“Capek sedikit enggak masalah. Lihat saja tas sama baju yang lo dapat. Kalau mengandalkan suami lo, kapan bisa punya begituan?”

Arman berdiri diam di balik pintu.

Jemarinya yang semula hendak mendorong daun pintu perlahan turun ke sisi tubuh.

“Jangan bawa-bawa Mas Arman,” tegur Keysha, tetapi suaranya tidak terdengar benar-benar marah.

“Kenapa enggak? Gue cuma bilang kenyataan.” Temannya tertawa kecil. “Suami lo modal tampang sama badan doang. Duit enggak ada. Sampai kapan lo mau hidup sama OB?”

Keysha tidak langsung membela.

Keheningan beberapa detik itu terasa lebih menghina daripada ucapan apa pun.

“Cerai saja, sih,” lanjut perempuan tersebut. “Daripada hidup lo habis buat nunggu dia kaya. Belum tentu juga kesampaian.”

Keysha mengembuskan napas panjang.

“Cerai enggak segampang itu.”

“Apanya yang susah? Lo juga sudah enggak menikmati hidup sama dia, kan?”

“Sudah, jangan bahas sekarang.” Keysha menurunkan suaranya. “Gue mau mandi. Nanti gue telepon lagi.”

Sambungan berakhir.

Arman mundur perlahan dari depan pintu sebelum keberadaannya diketahui. Ia berjalan kembali menuju motornya, kemudian duduk di atas jok tanpa menyalakan mesin.

Jadi, bukan hanya Keysha yang menganggap penghasilannya memalukan.

Teman-temannya pun mengetahui betapa kecil gaji Arman, seberapa sempit kontrakan mereka, dan seberapa mudah dirinya dibandingkan dengan orang yang selama ini memberikan barang-barang mahal kepada Keysha.

Lebih menyakitkan lagi, Keysha tidak membantahnya.

Arman menunduk menatap seragam biru muda yang masih melekat di tubuhnya.

Selama bertahun-tahun, ia membersihkan toilet, mengangkat sampah, dan mengepel lantai tanpa pernah merasa pekerjaannya merendahkan dirinya. Semua pekerjaan halal selama dilakukan dengan jujur.

Namun, rupanya kerja keras saja tidak cukup membuatnya dihargai oleh istrinya sendiri.

Tiba-tiba ia teringat ucapan wanita tadi saat ia salah alamat. Bayaran satu produksi itu sangat besar.  Arman mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu hitam Pink Swan. Ibu jarinya mengusap nomor yang tercetak di bagian bawah.

Ia tidak tertarik menjadi talent. Setidaknya, itulah yang diyakininya ketika meninggalkan Gedung Altama.

Namun, menolak sesuatu tanpa mengetahui syarat dan bayarannya juga bukan keputusan yang masuk akal.

Arman mengeluarkan ponsel, memasukkan nomor Fony, lalu menekan tombol panggil.

Sambungan baru diangkat setelah nada dering ketiga.

“Halo?” Suara Fony terdengar tenang dari seberang. “Siapa?”

Arman memandangi mobil-mobil yang melintas di ujung gang. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.

“Kalau saya mencoba pekerjaan itu, satu produksi dibayar berapa?” lalu terdengar kekehan dari seberang. “Untuk produksi pertama, lima juta.”

Arman menegakkan punggungnya.

Jumlah itu lebih besar daripada penghasilannya selama sebulan, termasuk tambahan gaji setelah diangkat sebagai pegawai tetap.

“Kalau hasilnya bagus?” tanyanya.

“Bisa dua atau tiga kali lipat. Kalau respons pasar menyukai wajahmu, nilainya akan terus naik.”

Arman terdiam sambil menghitung cepat di dalam kepala. Satu hari kerja dapat menghasilkan uang yang selama ini harus dikumpulkannya berbulan-bulan.

Namun, uang itu tentu datang dengan konsekuensi yang belum ia pahami sepenuhnya. Arman kembali menatap pintu kontrakannya dari kejauhan.

Di dalam sana, Keysha mungkin sedang menikmati barang-barang mahal yang diperolehnya dengan menyembunyikan sesuatu dari sang suami.

Sementara Arman terus memeras tenaga untuk mendapatkan penghasilan yang bahkan dianggap tidak memiliki arti.

Jika istrinya berani bermain di luar pernikahan demi uang, mengapa dirinya tidak bisa?

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Main Api   Pertama Yang Memuaskan

    Pintu ruangan tebal itu tertutup rapat, menyisakan Arman dan Veronica dalam keheningan yang serasa menghimpit. Veronica berjalan amat anggun mendekati sofa kulit hitam di sudut ruangan. Ia memiringkan tubuhnya, membiarkan gaun malam berbahan sutra merah hati yang melekat ketat itu membingkai lekuk pinggulnya secara sempurna."Duduk di sini, Arman," titah Veronica pelan, suaranya seperti bisikan halus yang menuntut kepatuhan.Arman menelan ludah, menatap gaun berbelahan dada rendah yang memperlihatkan kulit mulus dan jenjang leher wanita di hadapannya. Ia melangkah ragu, lalu mendaratkan tubuhnya di ujung sofa.Veronica tersenyum tipis melihat ketegangan pria muda di sampingnya. Ia mendekatkan duduknya tanpa ragu, membiarkan aroma parfum vanila yang hangat dan manis langsung mengurung indra penciuman Arman."Kamu beneran OB?" tanya Veronica tiba-tiba.Jemari lentiknya yang dingin mulai merayap lembut dari lutut Arman, naik perlahan menyusuri paha pria itu. Arman tersentak kaget, berus

  • Main Api   Aku Pun Bisa

    Dada Arman masih naik turun teratur di atas jok motor matiknya. Irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup menyapu gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya. "Lima juta..." bisik Arman pelan. Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang OB, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Arman mengalihkan pandangannya ke arah pintu kontrakan bercat hijau kusam di hadapannya. Cahaya kuning tipis mengintip dari balik celah ventilasi, menandakan kehidupan di dalam sana masih berlangsung. "Kalau aku punya uang sebanyak itu tiap beberapa hari..." gumam Arman pada diri sendiri. Ia mematikan mesin motornya, membiarkan sepi kembali menguasai gang. Arman melangkah pelan menaiki dua anak tangga semen, lalu mendorong pintu kayu yang tidak terkunci rapat. Bau

  • Main Api   Menakhlukan

    “Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin

  • Main Api   Undangan Pribadi

    “Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran

  • Main Api   Wanita Yang Sudah Menunggu

    Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu

  • Main Api   Nama Di Balik Kardus

    Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”Arman tidak langsung membantah.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.“Kalau begitu, ini siapa?”Keysha menatap foto tersebut.Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”“Aku kenal istriku sendiri.”“Dari belakang?”“

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status