LOGINAsap cerutu mengepul tebal di ruang kerja berlantai marmer itu, membaur dengan aroma alkohol dan obat antiseptik dari perban di pergelangan tangannya. Devan duduk menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menatap layar televisi yang menampilkan siaran warta lokal tanpa suara.
Pintu ganda ruangan itu diketuk pelan sebelum terbuka. Rendy melangkah masuk dengan langkah hati-hati, membawa selembar salinan berkas dan ponsel yang layarnya masih menyala."Pak Devan," panggil Rendy"Jaga ucapanmu, Kaelan!" pekik Ratna dengan napas tercekat, kedua tangannya gemetar menahan amarah yang meluap ke ubun-ubun. "Kamu tidak berhak menginjak-injak harga diriku di rumah ini!""Harga diri?" Kael tertawa pendek, nada suaranya begitu rendah dan tajam hingga menusuk ke ulu hati. Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada seraya memandang Ratna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan jijik. "Sejak kapan wanita perebut suami orang punya harga diri? Kau lupa bagaimana caramu merangkak masuk ke kamar pria tua itu saat ibuku masih sah menjadi nyonya di rumah ini?"Wajah Ratna memucat pasi, warna merah di pipinya seketika sirna ditelan rasa malu yang membakar. Matanya nanar melirik suaminya yang terbatuk-batuk payah di kursi roda."Mas ... lihat kelakuan anak harammu ini!" adu Ratna serak, suaranya melengking mencari pembelaan. "Dia sengaja menghina aku di depanmu! Usir dia, Mas! Usir!""Diam, Ratna!" desis Mahendra dengan suara parau yang tersengal
Rumah megah bergaya Eropa itu menjadi hal pertama yang Kael lihat saat turun dari mobil, sudah hampir lima tahun dia tidak pulang ke tempat ini. Perasaannya mendadak buruk, rumah ini selalu menyimpan hal menyakitkan bagi dirinya."Selamat pagi, Tuan muda," sapa salah satu penjaga gerbang. Mereka menunduk penuh hormat pada Kaelan.Kael melirik penjaga itu dengan tak minat. "Aku bukan raja, tidak perlu menunduk seperti itu." Masih sama, pria itu selalu enggan di perlakuan berlebihan. Lagipula untuk apa, hanya sekedar nama besar yang terlalu banyak memakan korban demi kekuasaan.Kael melangkah melintasi lorong marmer bertiang pilar tinggi yang dingin, langkah sepatunya beradu mantap dengan lantai mengilap. Aroma lilin aromaterapi vanila dan kayu cendana yang menyengat langsung menyambut indra penciumannya, aroma kepalsuan yang sejak dulu memuakkan baginya."Anda datang tepat waktu, Tuan Muda," sebuah suara berat menyapa dari ujung lorong.
"Kamu mau ke mana sudah rapi?" tanya Aira seraya melangkah keluar dari kamar, mengamati Kael yang tengah mengancingkan kemeja hitam lengan panjangnya di depan cermin ruang tamu. Rambut pria itu tersisir rapi ke belakang, memancarkan kembali aura dingin seorang pewaris klan terpandang.Kael tidak langsung menoleh. Jemarinya sibuk merapikan kerah kemeja, memastikan tidak ada lipatan yang berantakan."Ada urusan mendesak di luar," sahut Kael datar, pantulan matanya di cermin menatap Aira yang berdiri memeluk botol susu bayi."Urusan apa?" cecar Aira melangkah mendekat, rasa cemas seketika merayap di dadanya. "Ini ada hubungannya dengan kedatangan Pak RT tadi pagi?"Kael berbalik, menatap Aira lurus-lurus. "Masalah surat kependudukan dan laporan Pak RT sudah dibereskan orang-orangku dua jam lalu.""Lalu kamu mau ke mana?" suara Aira meninggi tipis, matanya menyipit curiga. "Jangan ada yang kau sembunyikan dariku lagi, Kael. Kita sudah sejauh ini."Kael menghela napas pendek seraya m
Keesokan paginya, embun dingin khas Subang masih menempel pekat di pucuk dedaunan pohon mangga. Aira baru saja selesai menyeduh teh hangat di dapur ketika suara ketukan bertubi-tubi di pagar depan memecah ketenangan fajar."Mas Kael! Neng Aira! Assalamualaikum!" seru suara wanita paruh baya yang melengking kencang dari luar.Kael yang tengah membersihkan teras depan seketika menoleh dengan dahi berkerut dalam. Sapu lidi di tangannya diturunkan perlahan. Dari balik gerbang besi, sosok Bu Teti berdiri berkacak pinggang mengenakan kerudung bergo hijau toska, didampingi Rina yang pagi-pagi begini sudah berdandan mencolok dengan lipstik merah muda dan bedak tebal."Biar aku yang buka," gumam Kael pelan saat melihat Aira melangkah keluar dengan raut cemas dari pintu ruang tamu.Kael melangkah mendekati pagar dan menarik grendelnya. "Waalaikumsalam. Ada apa pagi-pagi begini, Bu Teti?""Aduh, Mas Kael! Maaf pisan ya ganggu pagi-pagi," ceroco
Kael meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dispenser dengan denting pelan yang terdengar tegas. Ia berbalik, menatap Aira yang duduk di kursi dengan pandangan menyelidik."Karena dia menyodorkan peta lewat ponsel," sahut Kael tanpa jeda, suaranya terdengar begitu datar dan meyakinkan. "Udara di luar mulai dingin, dan aku tidak suka bicara sambil berdiri di pinggir jalan jadi tontonan tetangga."Aira menyipitkan mata, raut curiga belum sepenuhnya sirna dari wajah tirusnya. "Hanya melihat peta sampai lima belas menit lebih?""Pria tua itu agak rabun dan banyak tanya," timpal Kael seraya melangkah mendekat, lalu menarik kursi di hadapan Aira. "Dia orang Jakarta yang mau mencari vila keluarganya di lereng atas, tapi sinyal GPS-nya mati. Sudah cukup interogasinya, Nyonya Pratama?"Mendengar panggilan itu, dengusan napas pelan lolos dari bibir Aira. Ketegangannya sedikit mencair, meski keningnya masih berkerut halus."Bukan bermaksud men
"Jaga mulutmu, Bram!" geram Kael dengan suara rendah yang berbahaya, buku jarinya yang memutih bergetar menahan amarah. "Jangan pernah sebut nama mereka dari mulut kotormu."Bram tidak bergeming sedikit pun, ekspresinya tetap sedingin es. "Saya hanya bicara fakta, Tuan Muda Kaelan. Membeli rumah desa dan membiayai bayi serta wanita hamil mungkin terdengar murah untuk saat ini. Tapi bagaimana nanti saat anak itu lahir? Bagaimana saat musuh-musuh mendiang Tuan Devan mengendus tempat persembunyian ini?""Aku bisa mengurus mereka tanpa sepeser pun uang Mahendra," balas Kael sengit."Dengan apa?" potong Bram cepat, matanya menatap tajam ke manik mata Kael. "Dengan identitas buronan? Dengan KTP dan buku nikah palsu cetakan pasar gelap yang Anda siapkan untuk Pak RT tadi?"Napas Kael tertahan sesaat. Rahangnya mengeras kaku mendengar bagaimana anak buah ayahnya itu mengetahui setiap jengkal gerak-geriknya."Tuan Besar tidak meminta Anda berlutut memohon ampun," lanjut Bram seraya menget







