LOGINBERSAMBUNG...
Lintang malah sengaja duluan menegur dengan kalimat yang menjatuhkan mental orang yang tak diduganya adalah ayah kandungnya sendiri.Songongnya lagi, Lintang bersikap santai dan menatap tajam pria paruh baya di depannya, nggak ada gentar-gentarnya sedikitpun.Padahal selama ini tidak ada seorang pun berani dengan Bhaskoro, termasuk aparat mulai dari level paling bawah sampai para jenderal tunduk dengan kuasa DUIT-nya yang tak berseri lagi."Biarpun status Tante Surti sekarang sudah menjadi istri sah orang lain. Tapi harus aku akui... bentuk bodinya dari depan belakang memang masih teramat oke dan kencang, bukan?" sambung Lintang menyeringai nakal, benar-benar ngolok sang taipan ini di level paling tinggi dan penghinaan tiada tara.DEG...!Bhaskoro kontan tersentak kaget bukan main mendengar rentetan ucapan yang meluncur mulus dari bibir putra kandungnya sendiri.Nakal, slengean dan…sangat merendahkan egonya.Darah jantan sang CEO flamboyan sesaat langsung naik ke ubun-ubun, emosinya
"Lohh... Itukan Om Bhas?! Si pemilik hotel mewah Sanjaya Hotel di Banjarbaru waktu itu? Kok bisa-bisanya dia kenal sangat akrab dengan Tante Surti sih?!" batin Lintang tak enak hati.Matanya terus menatap tajam dari balik kaca helm full-face tertutupnya yang sengaja belum ia lepas.Keheranan Lintang malam itu makin berubah menjadi. Pasalnya, di depan matanya sendiri, Tante Surti yang biasanya hanya liar bertekuk lutut di bawah kendalinya, kini terlihat bermanja-manja, bahkan sesekali bergelayut manja dan merapatkan dada padatnya ke arah lengan kekar milik pria matang tersebut."Kurang ajar... Jangan-jangan, Om Bhas itu selama ini adalah kekasih terselubung atau simpanan rahasia milik Tante Surti?!" batin Lintang mendadak merasa sangat tidak nyaman hati.Kejantanannya berdenyut brutal, tidak rela melihat "gawang janda matang" yang selama ini rutin ia bobol sampai banjir.Lhaa…sekarang malah sedang asyik dimainkan pria lain—yang sama sekali belum ia sadari bahwa pria necis di depan matan
Menjelang subuh, Bhaskoro kini tampak duduk bersimpuh khusyuk di depan sebuah gundukan makam tua yang terletak di TPU desa kecil pedalaman Loksado.Inilah tempat peristirahatan terakhir sang belahan jiwa, sekaligus mendiang istri keduanya, Dewi Ramita.Sepasang mata tajam Bhaskoro tampak berkaca-kaca menatap nisan batu yang berlumut tersebut.Area pemakaman itu masih diselimuti kegelapan dan embun pagi yang dingin menusuk tulang. Karena jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30 pagi.Satu-satunya sumber cahaya di sana hanyalah berkas lampu dari senter kecil yang dipegang oleh Bruno.SREKKK...Tiba-tiba, Detektif Bruno tersentak kaget setengah mati. Bulu kuduknya mendadak meremang hebat sampai ke urat leher.Tepat di bawah bayangan pohon kamboja besar tak jauh dari posisi mereka saat ini, berdiri sesosok pria paruh baya bertubuh tegap yang garis wajahnya terlihat teramat mirip dengan... Bhaskoro!"P-Pak CEO... I-itu... itu siapa?!" tanya Bruno terbata-bata dengan suara gemetaran.Langkah k
Dia menyalakan mesin mobilnya perlahan, mengikuti motor matik Lintang dari jarak aman demi mengonfirmasi letak kompleks perumahan mewah baru yang menjadi rumah sang berondong tajir nan bangooor ini…!Sementara kita biarkan dulu Detektif Bruno terus menguntit Lintang yang melaju tenang menuju ke rumah barunya, tanpa menyadari sedikit pun bahwa pergerakannya sedang dipantau ketat dari kejauhan sang detiktive senior ini.Kita alihkan fokus kembali kepada sosok Bhaskoro, sang CEO flamboyan yang sudah sangat lama kita tinggalkan.Sejak didera patah hati yang akibat ditinggalkan secara mendadak Dewi Ramita belasan tahun lalu, tabiat flamboyan Bhaskoro justru menjadi-jadi seolah tanpa rem.Dia makin tenggelam dengan gundikk-gundiknya yang muda-muda, tak selera lagi yang tua-tua. Itulah satu-satunya caranya hibur hatinya yang nelangsa.Parahnya lagi, Bhaskoro mnenduga Dewi Ramita sengaja permainkan hatinya, ego nya pun jalan, dengan 'membalas' main gundik yang muda-muda dan cantik-cantik...!
Sudah bisa diduga sejak awal, desakan berahi dan sama-sama daam usia puber, alih-alih takut, ia dan Hana malah menghabiskan waktu bersama di dalam salah satu kamar cottage privat hingga pukul sembilan malam.Hasilnya? Gaya jalan Hana terlihat berubah sedikit, agak canggung dan menahan pegal saat keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.Begitu motor matik Lintang merapat di halaman rumah megah Hana, Tante Surti sudah berdiri menunggu di teras.Sebagai wanita matang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, Surti hanya perlu sekali lirik untuk membaca situasi.Melihat putri tirinya berjalan dengan gaya yang sedikit berubah, Surti langsung geleng-geleng kepala sembari menahan senyum penuh arti.Hana yang wajahnya masih merona merah merona akibat "gempuran" Lintang di cottage tadi, buru-buru melesat masuk ke dalam rumah demi menghindari tatapan menyelidik ibunya.Aksi kabur itu praktis membiarkan Lintang berdiri berduaan saja di teras bersama sang ibu tirinya, yang diam-diam juga su
Awalnya Hana memang kaku melayani ciuman lembut Lintang, tapi lama-lama dia rileks karena Lintang sangat lembut dan sabar melakukannya.Hana baru merasakan sesuatu yang bikin sukmanya mulai melayang, saat tangan kokoh Lintang mulai menggrepe seragamnya dan meremas-remas melon kencangnya yang terhalang seragam sekolahnya, sementara ciuman keduanya terus bergelora tak lepas.Tanpa sadar, Hana malah melepaskan seragam sekolahnya dan ini memudahkan Lintang meremas kedua melon kencangnya yang sebesar bola tenis, ujungnya yang item masih kecil, hingga Lintang makin gemas ajee. “Argghhh….enakk Lintang, terusin,” desah Hana, saat ciuman Lintang pindah ke leher dan kini malah sudah mengecup kedua melonnya bergantian.Hana bahkan membuka semua pakaian yang dia kenakan. Lintang kini menjadi lelaki pertama yang pernah melihat tubuh indah Hana telanjang buleeeet bagian atasnya.“Kok cuman aku lepas, kamu juga donk…?” bisik Hana malu-malu mau, akaiii.Lintang bangkit, baju seragamnya dia lepas, ju
Anthony Johansyah dan Idam Hasibuan saling melempar senyum, menatap sang CEO yang duduk di hadapan mereka.Bhaskoro tetap tampil bersahaja—hanya kaus oblong hitam polos dan jins pudar—namun atmosfer di sekelilingnya kini telah berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa keputusasaan dari masa lalunya ya
Bhaskoro maju satu tindak. Dengan gerakan cepat sambil menekan jatungnya, dia buru-buru merapikan pakaian Diana, menutupi kembali lekuk tubuh aduhai sang manajer jelita ini dari pandangan gaib yang kotor.“Huh... laki-laki sok alim! Hidangan lezat sudah ada di depan mata, malah dilewatkan begitu saj
“Bayangan itu menyerupai sosok berpakaian hijau, tapi wujudnya samar, Bang. Baik wajah maupun bentuk tubuhnya sama sekali tidak jelas,” aku Diana, sepasang matanya yang indah tampak diselimuti ketakutan yang mendalam.“Apakah makhluk itu mengganggumu secara fisik?” tanya Bhaskoro lagi, firasatnya ki
Surti tersentak panik setengah mati. Dia buru-buru menarik kembennya yang nyaris lepas. "Mati aku, Bang... Pak RT!" bisik Surti gemetar ketakutan. Tanpa menunggu jawaban Bhaskoro, wanita aduhai itu lari terbirit-birit kabur lewat pintu belakang.Bhaskoro menghela napas kasar. Kepalanya pening dan se







