MasukLanjut yaa...
Sofia memeluk leher Lintang, kukunya mencakar punggung suaminya. “Lebih ganas… sayang… seperti di istana dulu… ahh… hancurkan aku…”“Sialan, ini bukan Sofia, ini Maharatu…dasarrrr!” batin Lintang menahan tawa.Lintang lalu menggeram. Ia membalik tubuh Sofia hingga tengkurap, menarik pinggulnya ke atas, lalu menumbuk dari belakang dengan tempo yang semakin liar.Tangan kanannya meraih rambut Sofia, menariknya ke belakang hingga leher ramping itu terekspos.Ia menggigit tengkuk istrinya sambil terus menghentak tanpa ampun.Sofia hanya bisa mendesah dan mengerang, tubuhnya gemetar hebat. Cairan membasahi paha mereka berdua.Setiap hentakan Lintang membuatnya semakin dekat dengan puncak.“Aku… aku mau keluar…” desah Sofia putus-putus.“Keluar bersamaku,” perintah Lintang, tempo hentakannya semakin brutal.Beberapa detik kemudian, Sofia menjerit panjang. Tubuhnya kejang, fefeknya berdenyut hebat mengapit kejantanannya.Lintang ikut meledak di dalamnya, memompa spermanya dalam-dalam sambil te
Tubuhnya menegang, dinding dalamnya berdenyut kuat mengapit Lintang, dan ia memejamkan mata sambil mendesah panjang.Sensasi itu menarik Lintang ikut menyusul. Ia menanam dirinya sedalam mungkin dan melepaskan semuanya di dalam, dengan erangan rendah yang serak.Mereka terdiam lama setelahnya. Masih tersambung. Masih saling memeluk. Lintang mengecup peluh di kening Sofia, lalu tersenyum kecil.“Enak banget sayaaang….”Sofia hanya bisa tersenyum lelah dan bahagia, sambil mengusap punggung suami. “Sama, aku jugaaa… suamiku.”Di luar, angin malam Desa Sukarami berhembus pelan, seolah ikut menjaga keintiman mereka yang baru saja utuh kembali.Baru saja keduanya akan terlelap, tiba-tiba suasana kamar berubah.Seekor ular sebesar lengan orang dewasa muncul di tengah lantai kayu.Sisiknya mengkilap di bawah cahaya lampu tidur, dan matanya menyala kuning kehijauan.Sofia langsung melonjak, merebut baju tidurnya yang tergeletak di kursi, lalu buru-buru memakainya sambil mundur beberapa langkah.
Setelah meletakkan bayi Banjar dengan hati-hati di tengah kasur yang sudah diberi bantal pengaman, Lintang berbalik menghadap Sofia.Tanpa banyak kata, ia menarik tubuh istri barunya ke dalam pelukan erat. Tangannya merayap pelan di punggung Sofia, menekan lembut seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar ada di pelukannya.Lalu bibirnya turun, melumat bibir Sofia dengan lambat, dalam, dan penuh rindu. “Kangen, sayang…” bisik Lintang di sela ciuman, suaranya serak dan hangat.Sofia menggeliat pelan dalam pelukannya.Tubuhnya yang masih sensitif setelah melahirkan langsung bereaksi. Ia membalas ciuman itu dengan sama laparnya, tangan kecilnya naik memeluk leher suami.“Aku juga…” desahnya pelan di antara bibir yang saling bertemu.“Sudah lama banget… aku nggak merasakan lumatan kamu di sini.”Tangan Sofia mengambil tangan Lintang, lalu membawanya turun pelan-pelan. Melewati perut yang masih agak mulus, lalu lebih bawah lagi, hingga jari-jari Lintang menyentuh area yang sudah sedikit
Begitu tiba di sebuah rumah yang lumayan bagus di kawasan Bandung, Teh Diana—atau yang biasa dipanggil Tante Diana, ibu Sofia—langsung terkejut.Keterkejutannya semakin menjadi saat mengetahui bahwa pemuda di depannya adalah anak dari Bhaskoro Sanjaya.Dalam hati, wanita paruh baya itu bergumam, “Sejak awal aku sudah curiga. Kenapa Sofia memberi nama Sanjaya di ujung nama bayinya… Kini rasa penasaranku terjawab sudah.”Diana dan Bhaskoro pernah terlibat skandal manis di masa lalu. Kenangan itu sempat melintas di benaknya, membuat dada terasa sesak sesaat.Ia menatap Lintang serius. “Jadi… kamu mau menikahi Sofia, Nak Lintang?”Lintang mengangguk tegas tanpa ragu.“Iya, Tante. Lagipula aku pernah bersumpah akan menikahinya. Ditambah lagi, sekarang kami sudah memiliki anak.”Diana terdiam sejenak, menimbang, lalu menghela napas panjang.“Hmm… baiklah. Tante setuju. Hari ini juga kalian menikah secara siri.”Lintang tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Ia langsung mengangguk setuju.Tan
Lintang menunggu dengan sabar. Ia bahkan tidak ragu duduk di kursi yang disediakan khusus untuk pembeli di toko oleh-oleh itu. Toko yang namanya sama dengan pemiliknya: Toko Sofia.Walaupun hanya ruko kecil berukuran 4x10 meter dan bertingkat dua, harga sewanya lumayan mahal.Dua pembantu toko terlihat sibuk melayani pembeli di lantai bawah, sementara suasana di dekat kasir terasa semakin sunyi dan kaku.Sofia akhirnya menghela napas pelan. Ia membetulkan posisi bayinya yang masih asyik menyusu, lalu menatap Lintang dengan pandangan yang sulit ditebak.“Lintang… kamu benar-benar ingin tahu siapa ayah dari anakku yang bernama Banjar ini?”Lintang mengangkat alis, mencoba mencairkan suasana dengan candaan. “Banjar…? Kayak nama daerah asal kakekku. Jangan-jangan suamimu berasal dari Kalimantan Selatan, ya?”Senyum kecil sempat muncul di bibir mantan pramugari cantik itu, walaupun saat ini dia tidak berpenampilan berlebihan, bahan cenderung sederhana.Senyum yang getir…“Hmm… aku balik ta
Dan begitulah… kedua Nyonya Lintang Sanjaya ini sangat kompak. Mereka benar-benar bak saudara kandung.Ke mana-mana selalu berdua, curhat bareng, belanja bareng, bahkan rewel bareng.Lintang pun akhirnya membuat jadwal resmi. Dua hari untuk Hana, dua hari untuk Naura.Bergantian, adil, dan tanpa ribut.Namun dua setengah bulan kemudian, setelah Lintang resmi lulus SMA, ia kaget setengah mati.Kedua istrinya kompak… ngidam. Hana ngidam anak kedua, Naura ngidam anak pertama.Bukan itu yang membuat Lintang pusing. Yang membuatnya senewen adalah jatah malamnya berkurang drastis.Kedua istri jelitanya kompak meminta dia membatasi “genjot”. Alasan mereka sama: takut keguguran.“Dueh… gimana ini…” batin Lintang sambil mengucek pelipis. Kepala sudah pusing tujuh keliling.Badan masih muda, nafsu masih menggebu, tapi sekarang harus menahan diri.Yang lucu justru reaksi mertuanya.Bhaskoro dan Dewi Plamita justru senang bukan main mengetahui dua menantu mereka hamil bersamaan.“Bagus, bentar lagi
Surti tersentak panik setengah mati. Dia buru-buru menarik kembennya yang nyaris lepas. "Mati aku, Bang... Pak RT!" bisik Surti gemetar ketakutan. Tanpa menunggu jawaban Bhaskoro, wanita aduhai itu lari terbirit-birit kabur lewat pintu belakang.Bhaskoro menghela napas kasar. Kepalanya pening dan se
Tanpa rasa keder sedikitpun Bhaskoro keluar dari rumahnya, dan dia melihat seorang pria ngamuk di rumah tetangganya yang berjarak 30 meteran dari rumahnya sendiri.Gigi Bhaskoro seketika gemeletuk menahan marah. Apalagi saat melihat si pemilik rumah tentu saja ketakutan. “Katakan di mana Surti, tadi
“Sial, kalau saja aku tidak mengambil keputusan bodoh itu di masa lalu, kini aku pasti bisa hidup tenang!” keluh Bhaskoro, mirip rintihan, ingat kebodohannya dahulu, tapi inilah syarat berat yang sudah ia setujui dan tak bisa di tarik lagi.Dia tak bisa batalkan perjanjian maut ini sepihak, apa yang
Besok paginya jelang siang…“Hemm…ada apa ribut-ribut di depan kantor kelurahan itu?” batin Bhaskoro, lalu buru-buru memarkir mobil jadulnya dan mendekat ke arah keributan ini.“Ganti uang kami, panen kami gagal akibat ulah mantan suaminya yang kurang ajar bawa duit kas desa dan kami tak bisa beli p







