MasukLanjut yaa...
Rangkaian kalimat polos yang meluncur dari bibir ranum Reyna laksana petir di siang bolong, seketika membuat isi otak dan batin Bhaskoro terkejut bukan main untuk kesekian kalinya malam itu. Jantungnya berdegup kencang didera guncangan takdir yang teramat sangat rumit.“Kenapa jadi kebetulan begini?” batin Bhaskoro, mata tajam Bhaskoro menatap Reyna dan baru nyadar, ada kemiripan wajahnya dengan Dewi Ramita.Dunia ternyata selebar daun kelor. Silsilah darah mistis yang selama ini ia selidiki, kini mempertemukannya langsung dengan keponakan kandung dari wanita misterius yang kemarin mengunci tameng gaib di dalam kamarnya di Bogor!Misteri mengapa apartemen megah lantai lima puluh ini memiliki aura negatif pesugihan dari sang mantan kekasih kini mulai terjawab dengan sangat masuk akal.Bhaskoro membetulkan posisi duduknya, menahan getaran emosionalnya rapat-rapat agar penyamarannya tidak terbongkar di mata sang model."Aura... Aura negatif yang bagaimana maksudnya yang dirasakan oleh Bi
"Ke mana aku harus mengantarmu pulang, Reyna?" Bhaskoro membuka suara, menatap lekat garis wajah sang model cantik yang duduk di jok sampingnya."Ke apartemen pribadiku saja, Bang," sahut Reyna lembut, lalu menyebutkan nama kompleks hunian vertikalnya yang berada di kawasan elite di Jakarta Selata.Detik berikutnya, jip sangar mewah milik Bhaskoro langsung meluncur mulus, membelah jaringan aspal jalanan ibu kota yang kondisinya mulai berangsur lengang karena waktu sudah resmi bergeser memasuki tengah malam.Lumayan mewah juga arsitektur gedungnya, batin Bhaskoro memberikan penilaian taktis di dalam hati, sesaat setelah kendaraannya merapat sempurna di area lobi halaman sebuah kompleks apartemen raksasa bertingkat tinggi hingga lima puluh lantai tersebut."Mampir dulu, Bang... Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan santai sembari meminum kopi hangat di atas?" tawar Reyna, melayangkan sebuah draf kode rahasia yang sarat akan undangan manja.Bhaskoro terdiam sejenak, menimbang-nimbang taw
Tapi Bhaskoro tetap bergeming di kursinya. Dia masih ingin melihat sampai di mana kesombongan orang ini.Gurat wajah tampannya sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan seujung kuku pun. Dengan gerakan yang teramat tenang dan dingin, ia mengisap dalam-dalam rokok mild-nya.Lalu tanpa di duga-duga, Bhaskoro mengembuskan asap abu-abu pekat tepat ke arah wajah botak Jack Palijau, membuat pria yng ngaku legislator di Senayan itu terbatuk-batuk menahan geram.Cincin batu akik di jemari Bhaskoro mendadak bergetar tipis, memancarkan hawa hangat yang menegaskan dominasi batinnya yang kuat.Bhaskoro menyunggingkan senyuman sinis yang teramat merendahkan, auranya mistisnya mulai keluar."Menghancurkan hidupku dalam semalam...?" Bhaskoro membuka suara, nada baritonnya terdengar begitu tegap dan berwibawa, sanggup mampu bikin nyali para centeng di sekelilingnya secara instan."Jack Palijau... Anggota dewan fraksi kuning sekaligus pemilik draf izin tambang batu bara ilegal di pedalaman Borneo. Ka
"Duduklah di sini... Siapa namamu?" ujar Bhaskoro dengan nada suara baritonnya yang tenang dan dalam, sembari memperkenalkan namanya sendiri secara singkat demi meredakan ketegangan."Namaku Reyna Andini, Bang Bhaskoro," sahut wanita berparas rupawan tersebut sembari mengembuskan napas lega.Didorong oleh rasa panik yang perlahan mencair, Reyna tanpa canggung bergerak meraih sebatang rokok mild milik Bhaskoro, menyalakan pemantiknya, lalu nekat menyesap sisa cairan wine mahal langsung dari gelas milik pria matang berkharisma di sampingnya itu."Aku bekerja sebagai model, Bang. Malam ini aku sebenarnya diajak ke sini oleh salah seorang temanku, tapi sesampainya di pub, aku malah diperkenalkan secara paksa dengan pria kasar bernama Jack Palijau itu. Penampilannya sih sok kaya raya, ke mana-mana selalu mengabaikan sopan santun dan membawa empat orang anak buah bertubuh kekar. Tapi perilakunya benar-benar tidak beradab, dan malah berubah semakin beringas saat pengaruh alkohol mulai mengua
"Ini ada sedikit draf rezeki untuk bekal jajan Kakak berdua bersama abang ipar selama menghabiskan waktu di Jakarta," bisik Bhaskoro perlahan, lalu berbalik arah memotong halaman dan langsung memasuki kabin jip mewah miliknya tanpa menunggu jawaban.Mesin sangar kendaraan itu menderu halus sebelum melesat membelah aspal ibu kota. Sarah dan Mona hanya bisa terpaku menatap jalan setelah mobil kokoh itu menghilang di balik tikungan jalanan, Mona dengan rasa penasaran yang memuncak segera membuka draf ikatan kantong plastik pemberian adik bungsunya tersebut.Begitu melihat isi di dalamnya, matanya seketika membelalak sempurna laksana kelereng."Kak Sarah... Lihat ini! Ini... Ini tumpukan uang dolar Amerika Serikat?!" sahut Mona dengan nada suara yang bergetar menahan syok, menatap segepok uang asing bernilai miliaran bila dirupiahkan yang kini berpindah tangan ke pelukannya.Sarah yang berdiri di sampingnya ikut terpaku membisu, kehilangan kata-kata menyadari betapa tak terbatasnya kekuas
Mendengar rentetan kalimat maut yang meluncur tanpa kedipan mata dari bibir tegas Bhaskoro, keempat orang di hadapannya seketika melongo sempurna, membeku di dera syok psikologis yang teramat sangat mengguncang kesadaran mereka.Rentetan kalimat maut dari Bhaskoro seketika melempar memori keempat orang di dalam ruangan itu kembali mundur ke draf masa lampau.Kenangan kelam saat kedua orang tua mereka mengembuskan napas terakhir dengan cara yang teramat aneh dan kini berputar kembali secara nyata di dalam kepala masing-masing.Kala tragedi berdarah itu pecah bertahun-tahun silam, Bhaskoro baru saja mencicipi indahnya biduk pernikahan bersama mendiang Maria.Sementara Sarah dan Mona sudah terlebih dahulu berkeluarga, memilih ikut menetap bersama keluarga suami mereka masing-masing.Mendiang Budi Sanjaya—pria yang semasa hidupnya dikenal sangat memanjakan dan menganakemaskan Bhaskoro sejak masih bayi merah hingga dewasa—saat itu tengah berada di puncak karier.Budi Sanjaya menjabat sebag
Bhaskoro kini bangkit berdiri. Dengan amarah yang meluap-luap membakar dada, dia menyambar sebatang balok kayu sisa reruntuhan sepanjang satu setengah meter. Tanpa ampun, dia mengayunkan balok itu sekuat tenaga.Blarrr... blarrr! Patung ular kobra batu yang angkuh itu dihantamnya bertubi-tubi hingga
Bhaskoro yang dipenuhi kebingungan dan rentetan pertanyaan tak terjawab akhirnya pamit. Dia melangkah pergi meninggalkan rumah itu, terusir secara halus oleh sikap dingin sang wanita jelita.Begitu sedan mewah Bhaskoro bergerak perlahan meninggalkan pekarangan yang diselimuti kabut tipis, 'Dewi Rami
Bhaskoro tak punya pilihan selain menuruti setiap kehendak ‘Dewi Ramita’. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mengendalikan persendiannya.Tubuhnya bergerak sendiri mendekat, sementara aroma khas yang manis, pekat, dan memabukkan itu menyergap hidungnya, langsung membuat darahnya mendidih.Hawa
Bhaskoro kini sudah mengenakan pakaian yang tadi diberikan Dewi Ramita. Wania cantik ini lalu berpaling dan meminta pria ini duduk di lantai ubin yang dingin, lantai tanpa keramik, kecuali di cor biasa.Dewi Ramita juga duduk dari jarak satu meteran dari hadapan Bhaskoro, mereka kini saling berhadap







