Share

Bab 108-Bayangan Kelam

Author: Ayuwine
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 23:42:28

Ternyata sosok itu adalah Leo. Malik kaget bukan main saat melihat pria itu berdiri di sana. Malik langsung beranjak berdiri menatap ke arahnya.

"Leo? Sedang apa kamu di sini?" tanya Malik heran.

Leo menghela napas panjang.

"Kamu benar-benar lupa ya, Lik? Aku kan sudah bikin janji sama kamu. Lihat sekarang, sudah jam setengah sepuluh! Selama tiga puluh menit aku menunggu di kafe seberang cuma buat memperhatikan kamu," ucap Leo. Nadanya kini sama sekali berbeda. Nada permusuhan dan tatapan iri d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 181—Pipi Yang Selalu Merona

    Dengan cepat Malik bangkit. Suasana di dalam kafe itu menjadi semakin riuh."Apa?! Memang iya, kan?! Kamu menggoda mantan suami saya! Kenapa sih dia harus bekerja sama kamu?! Awas aja, kalau kamu semakin berani, aku adukan hal ini pada suamimu dan aku viralkan!" ancam Maya seraya menunjuk-nunjuk wajah Sheila dengan penuh kebencian.Teman-teman Sheila ikut bangkit, menatap heran pada Maya dan Sheila secara bergantian."Siapa dia, Sheila? Dan apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" sela salah seorang teman Sheila dengan raut bingung.Tubuh Sheila menegang kaku. Ia benar-benar dibuat malu oleh kelakuan perempuan yang bahkan tak ia kenal dan tak mau ia kenal itu."Orang gila dia!" balas Sheila, matanya mendelik tajam ke arah Maya."Kurang ajar kamu, heh!"Tangan Maya sudah mencengkeram pergelangan tangan Sheila dengan sangat kuat. Tanpa aba-aba, tangan Maya melayang ke atas udara. Sheila yang melihat itu tak sempat menghindar; mau tak mau ia menutup mata rapat-rapat, bersiap menerima tampa

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 180—Keributan

    Mendengar pertanyaan yang semakin membuatnya bingung itu, Malik tak bisa menyembunyikan raut keheranannya."Nama kakek saya?" tanya Malik mengulang perkataan arya.Arya mengangguk tegas."Maaf, Pak... Saya juga tidak tahu.""Tidak tahu? Kenapa?" Arya menatap kaget. Jari-jarinya diketuk-ketuk pada meja, berusaha mencari kebohongan dari ekspresi wajah Malik. Namun, Arya tak menemukan dusta di tatapan itu."Bagaimana bisa?" tanya Arya lagi."Kedua orang tua saya selalu mengatakan jika saya tak punya kakek atau nenek, baik dari pihak ibu maupun ayah. Dan mereka tak pernah memberitahu tentang keduanya," jelas Malik apa adanya.Mendengar penjelasan itu, Arya tampak benar-benar gusar.Malik masih diam. Ia benar-benar tak paham dengan sosok pria di hadapannya ini—bagaimana bisa ada orang yang ingin tahu secara terperinci latar belakang dirinya?"Tapi... mata kamu dan seluruh raut wajahmu sangat mirip dengan seseorang," ucap Arya seraya kembali menelisik wajah Malik dengan saksama."Siapa, Pak

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 179—Latar Belakang Yang Dipertanyakan

    Malik sempat tertegun, namun akhirnya ia memberanikan diri melangkah masuk. Anehnya, Aris sama sekali tidak menatapnya."Duduk," ucap Arya seraya menunjuk kursi kosong di sebelah Aris yang berada tepat di hadapannya.Malik tak menjawab, namun pria itu langsung duduk. Perasaannya kembali tak karuan; ia takut jika apa yang dicemaskannya benar-benar terjadi."Ekhem! Baik, akan saya mulai tujuan saya memanggil kalian ke sini," Arya membuka suara, yang langsung disambut anggukan patuh dari kedua pria di hadapannya."Pak Malik, kinerja Anda sangat bagus. Bahkan Pak Aris saja tidak pernah sebagus Anda," ucap Arya menohok, membuat Aris maupun Malik seketika membeku kaku."Pak Aris, jangan sampai lengah dengan pekerjaan Anda. Sampai-sampai pekerjaan yang seharusnya Anda selesaikan justru dibereskan oleh karyawan baru yang bahkan baru masuk beberapa bulan ini," tegur Arya tajam.Malik mulai memahami bahwa tujuan pemanggilan ini adalah untuk menegur Aris. Namun, kenapa harus sampai memanggil dir

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 178—Panggilan Dari Arya

    Malik langsung terdiam di tempat. Secara refleks, ia menundukkan pandangannya, memberikan penghormatan penuh pada pemilik perusahaan tempat ia bekerja.Melihat kesopanan Malik, Arya tersenyum tipis."Pak Malik, nanti setelah makan siang masuk ke ruangan saya," titahnya.Perintah itu membuat Malik yang sedang menunduk seketika mengerutkan dahi. Tubuhnya mendadak meremang dingin. Ada ketakutan merayapi benaknya—apakah ia telah melakukan kesalahan? Atau mungkin...?Mata Malik tiba-tiba membelalak lebar. Apa Pak Arya tahu tentang...?Malik semakin menegang. Namun tiba-tiba, suara bernada berat milik Arya kembali terdengar."Malik, jangan menunduk saat orang lain sedang berbicara denganmu!" ucapnya tegas.Malik langsung mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap mata pemilik perusahaan itu."Maaf, Pak," ucap Malik sopan seraya menatap Arya dengan tatapan teduh.Anehnya, ada desiran janggal saat Arya menelisik raut wajah Malik dengan begitu intens."Tidak apa-apa. Tapi nanti jangan

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 177—Perlakuan Manis

    "Apa maksudmu?!" tanya Sheila, seketika kembali ke mode ketus dan mengomel. "Aku mengatakan itu untuk menyadarkanmu, ya! Bukan malah untuk kamu balikan padaku!" balasnya lagi seraya melipat tangan di dada lalu membalikkan badan dengan raut wajah yang kembali galak. Melihat respons itu, Malik terkekeh gemas. "Baiklah... Maaf, ya, Mbak. Aku janji gak akan begitu lagi," ucap Malik seraya maju selangkah menghadap Sheila yang tadi membelakanginya. Melihat langkah Malik, Sheila memutar bola matanya malas. Namun di balik keangkuhannya, kedua pipi mulusnya terlihat memerah merona. "Sana, ih! Pergi ngantor!" ujar Sheila ketus. Namun, amarahnya perlahan hilang saat Malik melangkah mendekat. Entah kenapa, hanya dengan berada di dekat pria itu, Sheila langsung kehilangan niat untuk marah. Malik mengangguk. "Baik, Mbak... Aku berangkat dulu, ya. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku," ucapnya tersenyum tipis. Tangannya secara refleks terangkat, mengelus lembut ram

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 176—Membalikan Perkataan

    Tak hanya Maya yang terperanjat; Sheila yang sedang berada dalam pelukan Malik pun ikut terperanjat. Ini adalah kali pertamanya Sheila mendengar suara bentakan penuh amarah dari seorang Malik."Sudah, Maya... Aku mohon pergilah jika tidak ingin aku marah lebih jauh lagi. Dan jangan pernah bahas masa lalu di hadapanku lagi! Mbak Sheila benar, masa lalu kita tidak ada yang terkesan... Aku saja yang bodoh saat itu!"Jleb!Maya merasakan rasa sakit yang luar biasa saat Malik menuturkan kata-kata itu. Walaupun dalam hati Maya membenarkan bahwa masa lalu mereka memang tak ada bahagianya, ia tak bisa mengelak.Dulu Maya selalu menelan Malik mentah-mentah: membandingkannya, meremehkannya, bahkan tak ayal kata-kata kasar, cacian, makian, hingga ludahan selalu ia berikan pada Malik—seolah Malik bukan manusia yang memiliki hati.Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Malik justru semakin mempererat pelukannya di tubuh Sheila. Anehnya, Sheila menerima dekap pasrah pelukan hangat tersebut. Maya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status