LOGIN"Aku hanya ingin memberikan berkas ini, Ris. Kata Pak Arya kamu yang urus," titah Malik santai namun tetap sopan, membuat dada Aris terasa jauh lebih panas terbakar cemburu dan kekesalan. "Jesika, ambil!" perintah Aris ketus, seolah meluapkan amarahnya pada kekasih gelapnya itu. Malik masih belum bereaksi apa-apa, bahkan saat Jesika melangkah ke arahnya dan mengambil tumpukan dokumen tersebut. "Hanya itu saja. Permisi," ucap Malik singkat, suaranya sedikit bergetar menahan gejolak emosi. Setelah berada di luar ruangan kerja Aris, Malik menghela napas panjang dan berat, meraup pasokan oksigen dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang sesak. "Malik?" "Pak Arya..." balas Malik sedikit terkejut tatkala mendapati sosok pria paruh baya itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. "Di mana Aris?" Lagi-lagi Malik tercekat. Ini belum saatnya, pikirnya. Akan sangat kacau jika Pak Arya melihat apa yang baru saja dilakukan menantunya di dalam ruangan—terlebih ada kemungkinan besar
Mendengar pertanyaan itu, Malik terkekeh pelan. "Mbak, itu belum pasti..." Sheila mengkerucutkan bibirnya sebal. "Semoga saja..." lirihnya, yang justru membuat Malik di seberang layar ponsel semakin merasa gemas padanya. "Tidurlah, Mbak. Biar besok aku jemput ya?" Mendengar tawaran itu, Sheila menoleh cepat. Namun ia berusaha keras menyembunyikan binar bahagia di matanya demi menahan gengsi dan egonya. "Iya deh. Aku tidur duluan ya... Besok jemput aku setelah kamu pulang kerja saja, ya?" Setelah pesan singkat itu disepakati, panggilan video terputus. Keduanya memejamkan mata malam itu dengan perasaan hangat yang membuncah di dada masing-masing. .... "Mas, aku gak mau begini terus! Aku gak mau jadi yang kedua terus! Aku juga mau diutamakan, mau dipublikasikan!" renggut seorang perempuan dengan nada suara mendayu-dayu. "Sabar dong! Ini belum waktunya, aku masih belum punya apa-apa!" desis sang pria seraya melepaskan cengkeraman tangan perempuan itu dari lengannya. Mel
DUAR! Sheila merasa perkataan terakhir itu bak petir di siang bolong yang membuatnya syok luar biasa. "Apa maksudmu?!" bentak Sheila bengis. Ia merangsek maju, secara spontan mendorong kuat tubuh ibu tirinya itu. "Loh, kenapa kamu semarah itu? Dia bukan siapa-siapa kamu kan, Sheila?" balusnya sedikit kaget. Namun tatapannya seketika berubah menyipit penuh selidik. Sheila mendadak salah tingkah, bingung harus membalas apa. Namun, ucapan kurang ajar perempuan di hadapannya ini benar-benar membuat darahnya naik pitam. "Tante, cepat keluar... atau aku benar-benar akan mencakar wajahmu!" desis Sheila mengancam. Dan itu jelas bukan sekadar gertakan biasa. "Galak banget sih kamu sama Mama!" protes perempuan itu, sama sekali tak merasa bersalah ataupun canggung meski baru saja melontarkan pengakuan liar secara terang-terangan. "Aku adukan ke Papa, tahu rasa kamu!" "Hahaha! Jangankan aku, Papamu saja sepertinya sangat menyukai pria itu. Selain tampan, dia sangat pintar, Sayan
Perempuan itu terperanjat kaget. Dengan spontan ia langsung membalikkan posisi ponselnya, namun lupa mematikan sambungan video call. Sementara itu, Malik di ujung sana langsung bungkam seribu bahasa. Ia sebenarnya ingin segera mematikan sambungannya, namun rasa penasaran yang membuncah membuat Malik terpaku cemas—takut Sheila melakukan tindakan ceroboh yang justru bisa membuat jantung sang Ayah kambuh. "Eh, Pa..." sela Sheila kikuk. Pak Arya melangkah masuk ke dalam kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan cepat Sheila bangkit dan ikut duduk, memasang senyum canggung—sebuah momen langka yang sudah sangat jarang mereka rasakan lagi setelah sekian tahun berlalu. "Ada apa, Hm? Papa kepikiran... Kalian baik-baik saja, kan, dengan pernikahan ini?" tanya sang Papa lembut seraya membelai rambut Sheila, seolah memperlakukannya seperti gadis kecil yang tidak pernah beranjak dewasa. Sheila menggeleng pelan. Matanya mulai basah oleh genangan air mata, namun ia menahannya kuat-kuat;
"Loh, Aris? Ada apa kalian ini? Kenapa?" Sialnya, perkataan Sheila mendadak disela oleh Papanya sendiri saat melihat Aris berlari masuk ke arah mereka dengan napas ngos-ngosan. Belum lagi Sheila datang dengan keadaan yang sangat kacau—sungguh tidak biasanya seperti ini. "Ada apa sih?" kini giliran istri Pak Arya yang bertanya. Perempuan itu juga tampak sedikit khawatir melihat keadaan anak tirinya, meski hubungan mereka berdua sebenarnya tidak terlalu akur. "Ada masalah keluarga biasa lah, Pa... Sheila ngambek, aku cuma khawatir dia kenapa-napa di jalan, makanya aku susul," balas Aris cepat, masih mengontrol napasnya yang terengah-engah. Sheila yang mendengar kebohongan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat. "Kamu pulang saja. Aku mau menginap di rumah Papa," balas Sheila dingin tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aris. "Loh, Sheila Sayang... Jangan begitu, dong. Bagaimanapun dia kan suamimu. Kalian menginap saja berdua di sini," sela sang ibu tiri dengan nada d
"Katakan, Mas! Ancaman apa lagi yang akan kamu berikan padaku?!" tanya Sheila lagi dingin namun tenang. "Sheila, jangan seperti ini! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bahkan sebentar lagi... Sheila, sabar sebentar lagi. Rencana kita untuk memiliki momongan akan tercapai, agar semua aset Papa jatuh padamu dan kamu bebas mengelolanya tanpa rasa canggung lagi karena sudah sah milik kita..." Jelas Aris berusaha selembut mungkin. Pria itu melangkah satu-dua pijakan ke depan dengan raut gugup. Sheila mengerutkan dahi mendengar ucapan itu. Ia terkekeh pelan menyikapi kehalusan kata-katanya. Namun belum sempat Sheila membuka suara, Aris kembali memotong. "Maka dari itu, cepatlah hamil dengan Malik! Setelah kamu mengandung dan melahirkan anaknya, kita usir Malik! Aku akan memecatnya di kantor agar dia tidak menjadi ancaman. Kita akan bahagia menjadi keluarga yang harmonis, Sheila!" Mata Sheila membelalak kaget. Entah kenapa, mendengar rentetan kalimat kedua itu terasa jauh lebih m







