로그인Di layar ponsel itu, tampak Leo terikat di atas kursi dengan tangan kebelakang dan wajah yang sudah babak belur."Cepat ke sini! Aku akan memberikan alamatnya. Jika telat dalam sejam, kamu akan menemukan dia tinggal nama," ucap pria misterius di balik ponselnya.Malik melotot tajam. Rahangnya semakin mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut menahan amarah."Saya tidak main-main, Malik. Kalau saja kamu telat..."Pria itu berjalan mundur perlahan, lalu mencengkeram dan menarik rambut Leo dengan kuat hingga kepala sahabatnya itu mendongak menghadap kamera. Wajah Leo sangat memprihatinkan—sudah babak belur dan lebam di mana-mana.Tangan Malik yang menggenggam ponsel meremasnya dengan sangat kuat."Pilihan ada di tanganmu, Malik: membiarkan sahabatmu mati atau menolongnya. Waktu dimulai dari sekarang! Aku tidak main-main... Telat beberapa menit saja, pria sialan ini akan mati!"Tuuut!Panggilan video itu terputus begitu saja. Malik membelalakkan matanya.Ting!Sebuah notifikasi masuk.
Malik pulang di tengah guyuran hujan yang sangat lebat. Ia menyetir mobil dengan perasaan yang tak karuan.Di mana Leo? batinnya terus bertanya-tanya. Malik sudah beberapa kali mencoba menelpon ke ponsel Leo, namun tak kunjung ada jawaban. Panggilan yang hampir kesepuluh kalinya itu bahkan mendadak berubah menjadi tidak aktif.Di sanalah kepanikan Malik mulai memuncak. Perjalanan menuju rumah yang seharusnya hanya menempuh waktu tiga puluh menit, kali ini membengkak hingga enam puluh menit akibat cuaca buruk dan beban pikiran yang berkecamuk.Dengan perasaan cemas yang makin membakar, Malik memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.Ia berlari menembus hujan deras masuk ke dalam rumah hingga pakaiannya basah kuyup. Malik langsung membuka pintu depan, tanpa menyadari sejak awal bahwa pintu rumahnya sama sekali tidak terkunci.Mata Malik seketika membelalak kaget saat melihat siapa yang sedang berada di hadapannya. Seorang perempuan duduk di sofa dengan tatapan tajam dan kedua tangan terlipa
Mendengar perkataan itu, Maya menatap Malik tanpa berkedip. Air matanya mulai menetes basah, namun Malik langsung membuang wajahnya dengan kasar."Jika dalam satu menit kamu gak keluar, tanganku sendiri yang akan menyeretmu dan melemparmu keluar, Maya!" tegas Malik lagi.Ucapannya kali ini sukses membuat Maya benar-benar tak bisa berkutik. Perasaan Maya semakin tak karuan. Ia menatap lurus punggung Malik yang melangkah masuk ke dalam ruangannya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya."Awas saja, Malik! Aku akan buat kamu bertekuk lutut padaku lagi seperti dulu... Bahkan aku akan menyuruhmu bersujud di kakiku!" desisnya penuh dendam. Pandangannya masih tertuju pada koridor tempat Malik menghilang."Ah, lama! Ayo..."Leo yang tak sabar langsung menarik tangan Maya dengan cepat. Hentakannya memang tak terlalu kuat, namun cukup membuat Maya sedikit terhuyung."Heh! Jangan lancang, kurang ajar!" teriak Maya pada Leo seraya berusaha melepaskan pergelangan tangannya."Diam! Daripada mengurusi
Malik langsung melangkah cepat keluar dari dapur. Kini semua orang menatap ke arahnya. Aura di dalam ruang kerja kantor itu seketika berubah tegang."Malik say—"Perkataan dan langkah Maya seketika terhenti saat tangan Malik terangkat ke atas, mengisyaratkan perempuan itu untuk diam di tempat.Wajah Maya langsung berubah sendu, seolah sengaja memancing rasa iba dari para karyawan di sana. Bisik-bisik antar-pegawai kembali terdengar riuh."Apa perempuan ini yang membuat Pak Malik kacau sampai merokok dan tersedak kemarin?" bisik salah seorang karyawan perempuan.Kebetulan Maya mendengar bisikan itu. Wajah sendunya dalam sekejap berubah ceria dan percaya diri."Malik... Apa itu benar? Kamu juga sama-sama terpuruk setelah kita berpisah?" tanya Maya tanpa mempedulikan tatapan tajam yang dilemparkan Malik padanya.Ia kembali melangkah mendekat, namun Malik dengan sigap mundur beberapa langkah. Pria itu sangat enggan berdekatan dengan perempuan yang sudah benar-benar menginjak-injak harga d
Setelah Malik merebahkan tubuh Sheila di kamarnya bahkan menyelimuti perempuan itu hingga dada, Malik langsung bergegas keluar untuk pulang. Tubuhnya terasa begitu lelah—bukan karena lelah membopong Sheila, melainkan karena tenaganya terkuras habis saat ia mati-matian menahan rasa cemburunya.Saat melangkah melewati meja makan—tempat buket bunga besar itu masih tersimpan rapi, persis di area di mana mereka baru saja saling merasakan peluapan gairah—Malik langsung membuang wajahnya dengan kasar.Ia memacu langkahnya keluar dengan cepat......Keesokan paginya, Malik tampak sedang duduk menyantap bubur langganannya di depan kantor. Ya, Malik memang selalu bersikap sederhana. Padahal, tabungannya saat ini sudah lebih dari cukup. Ia bahkan berencana membeli sepeda motor sport impiannya dalam waktu dekat ini. Sejak hidup di bawah bayang-bayang tekanan Aris, Malik tak bisa memungkiri bahwa kondisi finansialnya jauh lebih stabil."Bro!"Tiba-tiba suara seorang pria yang sangat ia kenal meng
"Malik! Apa kamu akan diam saja seperti orang dungu, hah?!"Kali ini kesabaran dan rasa penasaran Sheila sudah benar-benar habis. Ia seolah menuntut ingin mendengar kata-kata yang sempat tertahan di bibir pria itu."Katakan, Malik!" desak Sheila lagi.Perempuan itu turun dari atas meja makan dan mulai mendorong dada tegap Malik berulang kali. Namun, tubuh tinggi nan tegap itu sama sekali tak bergeming dari posisinya. Malik masih dilanda kebingungan dan tak memiliki keberanian untuk menyuarakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan."Lupakan saja, Mbak... Itu hanya perkataan bodoh," balas Malik pelan."Bodoh! Dungu! Keparat! Menyebalkan! Katakan, Bodoh!"Sheila seketika lepas kendali. Tiba-tiba saja amarahnya meledak sedemikian hebat. Kedua tangan lentiknya memukul-mukul dada bidang Malik dengan kuat, melampiaskan seluruh rasa frustrasi dan kekesalan yang berkecamuk di dadanya. Air mata perempuan itu kembali menetes terisak.Melihat kekacauan emosi Sheila, Malik hanya bisa terdiam pasra







