Share

2. Sebuah misi

Author: Rossy Dildara
last update publish date: 2026-04-21 12:16:01

Setelah selesai berkunjung ke salon, di mana Mawar sempat dibuat terkejut dan canggung dengan semua perubahan yang terjadi pada penampilannya, perjalanan mereka pun berlanjut.

Hingga akhirnya, kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan besar yang tampak megah dan berkelas.

Saat melihat tulisan di depan gedung itu, mata Mawar terbelalak tak percaya—mereka berada di depan sebuah restoran bintang lima. Tempat itu terlihat begitu mewah, bersih, dan penuh dengan nuansa kemewahan yang sama sekali tak pernah dia rasakan sebelumnya, sangat jauh berbeda dengan restoran kecil tempat dia bekerja setiap hari.

"Mama, ini restoran mewah banget. Pasti harga satu porsi makanan di sini seharga ginjal kita, Ma!" seru Mawar dengan nada penuh kekhawatiran. Dia bahkan berhenti melangkah, enggan masuk ke dalamnya, merasa tempat ini bukanlah tempat untuk rakyat jelata seperti mereka.

Namun, reaksi Aulia justru berbeda. Wanita itu terlihat kesal dengan keraguan anaknya, lalu tanpa banyak bicara dia menarik tangan Mawar dengan agak kuat, memaksanya untuk terus berjalan masuk.

"Kita ke sini bukan mau makan, tapi mau ketemu orang. Udah kamu nurut aja, nggak usah bawel!" tegas Aulia sambil melotot, wajahnya terlihat tidak sabar karena merasa Mawar sejak tadi terlalu banyak bertanya dan ragu.

Mawar tak punya pilihan lain selain mengikuti langkah mamanya. Mereka berjalan menyusuri lorong yang luas dan rapi, hingga akhirnya berhenti di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan.

Di sana sudah ada dua orang yang sedang duduk, seorang pria dan seorang wanita, yang terlihat sudah berumur. Raut wajah mereka dipenuhi kerutan sebagai tanda usia, dan bentuk mata mereka terlihat berbeda dari kebanyakan orang yang biasa ditemui Mawar (sipit), seolah-olah mereka berasal dari negara lain.

Meski begitu, ada sesuatu yang membuat Mawar merasa tak berani menatap mereka terlalu lama. Dari cara mereka duduk, pakaian yang mereka kenakan, hingga suasana yang menyelimuti keduanya, terlihat jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan—sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari yang dijalani Mawar dan Aulia.

"Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Maaf kami lama," ucap Aulia segera, suaranya terdengar lembut dan penuh rasa hormat. Dia bahkan sedikit membungkukkan badannya sebelum segera merangkul bahu anaknya, menariknya lebih dekat agar terlihat jelas oleh kedua orang itu. "Perkenalkan... ini anak saya, namanya Mawar."

Kedua orang itu, yang bernama Paul dan Yeri, langsung mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya kepada Mawar.

Mereka memandangnya dari ujung kaki hingga ke atas kepala, seolah sedang memeriksa barang dagangan yang akan dibeli. Tatapan mereka terasa begitu menilai, membuat Mawar merasa tidak nyaman. Jantungnya berdegup makin kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

"Bagaimana Tuan, Nyonya? Anak saya Mawar masuk kriteria, kan?" tanya Aulia kemudian. Suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya, seolah ada nada memohon yang terselip di dalamnya, membuatnya terlihat begitu berharap.

Paul dan Yeri saling memandang sebentar, lalu saling mengedipkan mata seolah sedang berkomunikasi tanpa suara, sebelum akhirnya keduanya kembali menatap ke arah Mawar.

"Dari luarnya sih masuk kriteria," ujar Yeri perlahan, suaranya terdengar datar dan berat. "Tapi dalamnya gimana?"

Mendengar pertanyaan itu, Aulia segera menjawab dengan cepat, seolah sudah siap dengan jawaban apapun yang akan diajukan.

"Mawar ini anak yang baik hati, penurut dan pintar memasak, Tuan, Nyonya. Dijamin kalian nggak akan menyesal kalau memilih dia," katanya dengan nada meyakinkan, berusaha agar mereka melihat kelebihan yang ada pada anaknya.

Namun, dia berbohong dengan mengatakan Mawar pintar memasak. Padahal yang sebenarnya gadis itu hanya bisa memasak air biar mateng saja, selain itu tidak bisa, karena Mawar sendiri jarang berada di rumah, apalagi di dapur. Dia terlalu sibuk bekerja diluar.

"Maksudku, apakah dia masih perawan?"

Mendengar pertanyaan itu, mata Mawar seketika membulat lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan cepat dia mengangkat kepalanya, lalu menatap lurus ke wajah Yeri dengan raut wajah yang jelas-jelas tersinggung.

Baginya, pertanyaan itu menyentuh hal yang sangat pribadi dan sensitif, sesuatu yang seharusnya tidak pernah diucapkan di hadapan orang lain, apalagi ditanyakan oleh orang yang baru saja dikenalnya.

"Kenapa Nenek nggak sopan sekali, bertanya seperti ... Mmmppptt!?"

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, tangan Aulia sudah bergerak cepat dan menekan mulutnya rapat-rapat, membungkam setiap kata yang hendak keluar. Suara protes Mawar hanya terdengar teredam, membuatnya semakin bingung dan marah dalam hati.

"Tentu saja anakku ini masih perawan tingting, Nyonya. Dia pacaran saja nggak pernah," sahut Aulia segera, suaranya terdengar mantap.

"Serius?? Anak zaman sekarang, nggak pernah pacaran??" Yeri membalas dengan nada yang penuh keraguan. Matanya menyipitkan pandangan, seolah sedang meneliti apakah ucapan Aulia itu benar atau hanya kebohongan belaka.

"Mmmppptt!!" Suara Mawar kembali terdengar, kali ini terdengar lebih keras seolah dia berusaha sekuat tenaga untuk berbicara, namun tangan mamanya tetap tak bergerak dari mulutnya.

"Serius lah, Nyonya," tegas Aulia lagi, tak mau memberi ruang bagi keraguan itu untuk tumbuh.

"Berarti dia masih polos dong?"

"Betul, Nyonya." Aulia mengangguk cepat beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar didengar dan dipercaya. "Namanya juga masih perawan tingting, tentu saja dia masih polos."

"Mmmppptt!!" Mawar semakin gelisah.

Dia ingin sekali berbicara, ingin bertanya apa sebenarnya maksud dari semua percakapan ini, apa tujuan mereka menanyakan hal-hal seperti ini, dan apa sebenarnya misi yang dimaksudkan mamamya. Namun, bibirnya masih tertutup rapat oleh tangan Aulia.

"Diam dulu, Mawar!!" tekan Aulia, lalu membungkuk sedikit dan berbisik di telinga anaknya dengan nada yang terdengar lembut namun penuh tekanan. "Biarkan Mama bicara dengan tambang emas kita."

'Tambang emas katanya?? Apa-apaan sih Mama ini. Dan kenapa nenek-nenek bermata sipit ini nanya masalah aku perawan atau bukan? Nggak sopan banget!' batin Mawar, hatinya dipenuhi rasa kesal dan bingung yang semakin memuncak.

"Kalau anakmu polos berarti dia nggak masuk kriteria. Dia tidak terpilih," ucap Yeri tiba-tiba dengan nada yang datar.

"Lho kok gitu sih, Nyonya? Janganlah ...."

Aulia kaget seketika. Dia segera melangkah lebih dekat ke arah meja tempat mereka duduk, refleks melepaskan cengkeramannya dari mulut Mawar, lalu tubuhnya kembali membungkuk dalam-dalam, seolah sedang memohon dengan sekuat tenaga. Wajahnya yang tadinya penuh harapan kini berubah menjadi cemas, takut semua harapannya akan hancur begitu saja.

"Bukannya di informasi tertera jelas kalau Nyonya dan Tuan mencari perempuan yang cantik, masih muda dan perawan, ya? Itu semua 'kan ada pada diri Mawar," lanjutnya dengan nada yang terdengar sedikit tergesa-gesa, berusaha mengingatkan mereka agar tidak membuat keputusan yang salah. Dia benar-benar tidak mengerti, jika semua syarat itu sudah terpenuhi, mengapa sekarang justru dikatakan tidak sesuai.

"Iya, aku tau. Tapi yang kami cari bukan yang polos, apalagi nggak pernah pacaran sama sekali. Kan misinya di sini supaya bisa menjebak cucuku. Kalau Mawarnya polos, gimana dia bisa memperkosa cucuku?"

"Memperkosa??"

Mata Mawar kembali membelalak lebar. Dia merasa terkejut, bingung, sekaligus tidak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang nenek yang meminta orang lain melakukan hal sekejam itu terhadap cucunya sendiri? Rasanya hal itu terdengar konyol, bahkan seolah orang yang berbicara ini sudah kehilangan akal sehatnya.

Namun, Yeri maupun Paul tentu saja memiliki alasan tersendiri mengapa mereka sampai nekat melakukan hal seperti ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   45. Mencari nama

    Mendengar itu, gerakan tangan Mawar refleks terhenti. Dia perlahan berbalik, menatap lurus ke arah Robert dengan pandangan yang tak percaya sama sekali."Pak Bos barusan bilang saya cantik? Serius?" Dia ingin memastikan, takut kalau-kalau telinganya salah menangkap ucapan itu."Kapan?? Enggak!" Robert langsung menggeleng dengan cepat dan panik, secepat kilat menyangkal ucapannya sendiri. 'Sialan... bagaimana bisa mulutku mengucapkan kata itu? Mawar itu jelek, cantik dari mananya coba,' gerutunya dalam hati, merasa menyesal."Tapi barusan saya dengar jelas Pak Bos." Mawar ingin memastikannya lagi."Kau hanya salah denger. Udahlah ayo kita berangkat. Jangan terlalu lama bersiap-siap, nanti Farrel menunggu lama di sana, kasihan," ucap Robert cepat sambil langsung mengalihkan pembicaraan, berharap hal itu tak dibahas lagi."Ayok Pak Bos." Mawar akhirnya mengangguk singkat, lalu berjalan mengikuti langkah Robert yang sudah bergerak keluar dari kamar. Di dalam hatinya, dia masih sempat bert

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   44. Terpesona padamu

    Sepanjang perjalanan dilanjutkan kembali, Mawar hanya duduk diam seribu bahasa.Bibirnya tertekuk cemberut, pandangannya kosong menatap pemandangan yang melintas cepat di balik kaca jendela, seolah masih terganggu dan kesal dengan kejadian tadi.Di sebelahnya, Robert tidak berusaha mengganggu atau mencairkan suasana. Dia membiarkan saja perempuan itu tenggelam dalam diamnya sendiri. Hingga akhirnya kendaraan berhenti di depan butik langganan keluarga Robert yang sudah lama dikenal.Di sana, dua set busana resepsi sudah disiapkan rapi khusus untuk mereka: satu berupa kebaya yang dirancang untuk dipakai siang hari, dan satu lagi berupa gaun panjang untuk acara malam. Keduanya mengusung konsep busana muslim lengkap dengan penutup kepala yang serasi.Saat keduanya mencoba mengenakan pakaian itu satu per satu, Robert terpaku sejenak. Dia sungguh terkejut melihat perubahan yang tampak begitu mempesona.Meski mulutnya mungkin masih bisa bersikap dingin atau menyangkal, namun jauh di dalam lu

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   43. Saling mencintai

    Mawar segera bereaksi. Dia mendorong tubuh Farrel dengan cukup kuat hingga jarak yang aman tercipta di antara mereka. Wajahnya yang tadinya sempat terkejut kini berubah menjadi masam, bahkan terlihat samar-samar rasa jijik atas perlakuan yang dianggapnya tidak pantas itu."Nggak usah peluk-peluk! Nggak sopan!!" tegaskannya dengan nada yang meninggi, lalu tanpa sadar dia mengelap ringan bahu dan lengannya seolah ingin menghilangkan jejak sentuhan yang baru saja dirasakannya.Farrel pun segera menyadari kesalahannya. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sambil tersenyum canggung dan menunduk sedikit karena malu."Maaf-maaf. Aku cuma refleks karena sangking kangennya sama kamu. Habisnya semenjak kita putus, kamu hilang tanpa kabar. Nomor hapemu ganti, dan rumah kontrakanmu juga sudah pindah," jelasnya sedikit menyesal."Putus??"Begitu mendengar kata itu terlontar jelas dari mulut Farrel, seketika Robert langsung menangkap benang merahnya. Dia tahu persis hubungan apa ya

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   42. Siapa Farrel?

    "Enggak, Pak Bos. Maaf ... saya nggak bisa."Mawar menggeleng cepat, menepis jauh-jauh usulan yang terdengar salah itu.Balikan dengan mantan?Itu sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya. Baginya, mantan adalah bagian dari masa lalu yang sudah tertutup rapat—sebuah babak kisah yang sudah selesai ditulis, sesuatu yang seharusnya dikubur dalam-dalam dan tidak pernah digali lagi untuk alasan apa pun."Nggak ada ruang bagimu untuk menolak, Mawar!" tegas Robert memperingatkan. Suaranya terdengar menekan, tanpa memberi celah untuk bernegosiasi."Tapi mantan itu masa lalu, Pak Bos. Dan saya paling anti untuk balikan sama mantan."Jika harus memilih, Mawar mungkin akan lebih memilih mengenal orang baru dari nol ketimbang harus kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah menjadi bagian dari riwayat hidupnya."Kau pikir aku peduli akan hal itu? Enggak, Mawar!" Robert menggeleng tak acuh, ekspresinya datar tanpa belas kasihan, lalu matanya kembali menatap jalan raya yang terbentang

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   41. Mantan pacar

    "E-eh, seriusan, Nak? Rendangnya keras sampai membuat gigimu sakit?" Oma Maryam tampak terkejut, matanya membulat sedikit.Padahal dia ingat betul sudah memasak rendang itu selama berjam-jam dengan api kecil, memastikan bumbu meresap dan dagingnya lunak, tapi tak disangka rupanya rendang itu masih keras menurut Mawar."Iya, Oma. Sangat-sangat keras.""Tapi Abi pas makan nggak keras kok, Umi," sahut Opa Hamdan tiba-tiba, suaranya tenang namun terdengar sedikit bingung."Umi juga, Bi. Kamu gimana, Rob?" Oma Maryam menoleh ke arah cucunya itu.Robert mengangguk mantap, lalu melirik sekilas ke arah Mawar."Iya, menurutku juga daging rendangnya sudah empuk. Bahkan mudah terlepas dari seratnya. Nggak tau nih si Mawar, kenapa dia malah bilang dagingnya keras coba?" Kata-katanya terasa menusuk, seolah menyudutkan Mawar di hadapan semua orang—padahal dialah yang diam-diam berbuat hal yang membuatnya bisa berkata demikian."Terserah kalian ingin berpendapat seperti apa, tapi yang jelas... menur

  • Malam Ini Kamu Milikku, Bos!   40. Buat mereka semua membencimu

    "Iya, itu memang kesalahan saya Pak Bos. Tapi saya 'kan kemarin-kemarin sudah meminta maaf dan saya bersedia menuruti permintaan Pak Bos."Mawar mengakui sepenuhnya kesalahan dan kebodohannya mengambil keputusan di masa lalu, namun dalam hatinya merasa dia sudah berusaha menebus semuanya dengan menuruti keinginan Robert tanpa bantahan."Pak Bos tenang saja, apa yang terjadi di antara kita kemarin nggak akan pernah sampai bocor, saya akan tutup rapat soal itu sampai saya mati."Robert tampak terdiam sejenak, matanya menyipit sambil mulai memutar pikiran dan menyusun rencana di dalam kepalanya. "Aku ada permintaan lain untukmu, dan kamu nggak boleh menolaknya.""Apa itu? Katakan saja Pak Bos.""Aku mau ... Mulai besok kamu harus buat Opa dan Oma membencimu.""Membenciku??" Dahi Mawar langsung berkerut dalam, wajahnya terlihat penuh kebingungan mendengar permintaan yang tak terduga itu. "Tapi kenapa?""Supaya kepergianmu nanti nggak akan dicari mereka. Dan bukan hanya pada Oma Maryam dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status