Partager

Malam Keji di Bus Menuju Desa
Malam Keji di Bus Menuju Desa
Auteur: Richy

Bab 1

Auteur: Richy
Namaku Nadia Arkana, baru masuk tahun pertama kuliah.

Sejak pacarku merenggut mahkotaku, setiap hari aku selalu menginginkannya. Rasanya amat menyiksa kalau sehari saja tidak melakukannya.

Berhubung libur semester baru dimulai, aku menahan rasa dahagaku ini untuk pulang ke rumah.

Rumahku terletak di Papoya yang sangat jauh, sehingga membutuhkan perjalanan dua hari naik kereta dan setengah hari naik bus desa.

Begitu melangkah naik ke dalam bus, aku langsung merasakan tatapan lapar yang tidak terhitung jumlahnya mengarah padaku.

Penumpang bus seluruhnya pria-pria kekar yang bekerja di ladang dengan kulit gelap dan tubuh kekar, membuat kabin bus yang tua dan kumuh itu dipenuhi aroma hormon pria yang pekat.

Aku yang sudah menahannya selama dua hari, merasa makin gatal dan makin tidak tertahankan.

Kalau terus menahannya, organ dalamku mungkin bisa terbakar.

Bus hampir terisi penuh oleh pria, jadi aku membawa barang bawaanku dan duduk di kursi kosong bagian belakang.

Di sampingku duduk seorang pekerja kasar berseragam loreng hijau yang menatapku sambil tersenyum mesum.

Saat itulah aku sadar, pakaian yang kukenakan sangat kontras dengan mereka.

Aku mengenakan gaun berwarna merah muda lembut, dengan kaus kaki ketat berwarna kulit yang tampak persis seperti kulit asliku.

Senyumnya membuat kerutan di wajahnya makin jelas, lalu matanya menatap ke arah pahaku.

"Nak, musim hujan begini kok nggak pakai celana, apa kakimu nggak dingin?"

Rupanya aku salah sangka, kaus kaki tebal yang kukenakan terlalu mirip kulit asli, membuatnya mengira aku tidak pakai celana.

"Nggak dingin kok, Om. Ini tuh celana, kalau nggak percaya coba aja pegang."

Telapak tangannya yang lebar dan kasar, serta penuh kapalan langsung meraba pahaku.

Sentuhan tangan kasar itu membuat hasrat di dalam diriku makin membara, bahkan dia sengaja meraba ke balik gaun dan meremas bagian dalam pahaku.

"Ternyata beneran celana, rasanya enak banget ya pas dipegang." Dia menarik bahan kaus kakiku, lalu melepaskannya hingga menepuk kulitku dengan kencang.

Senyuman pria itu makin lebar, ketika dia tersenyum seperti itu, tiba-tiba aku merasa tidak asing dengannya.

Wajahnya mirip sekali dengan Om Ferry yang tinggal di dekat rumahku.

"Om ... Om ini Om Ferry dari Desa Arkana, bukan?"

Begitu mendengar pertanyaanku, otot-otot di wajahnya tampak bergetar.

"Kok kamu bisa kenal sama Om?"

Ternyata benar dia!

Aku pun segera berkata, "Aku Nadia, anaknya Pak Bagas. Aku udah bertahun-tahun nggak pulang."

Sejak masuk SMA di kota kabupaten, aku jarang sekali pulang dan sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Om Ferry.

Perkembangan tubuhku sangat pesat sejak lulus SMP hingga kuliah, jadi aku bukan lagi gadis kecil berwajah kemerahan seperti dulu.

Om Ferry memegang tanganku dengan penuh semangat.

"Aduh, Nadia toh! Udah gede banget sekarang, Om sampai nggak mengenali."

"Om 'kan lihat kamu dari kecil, nggak nyangka sekarang tumbuh jadi cantik banget begini."

Mendengar perkataan itu, beberapa pria kekar di sekitar kami ikut mendekat.

Mereka mulai berebut membicarakanku.

"Ternyata anaknya Bagas, ya? Mulus banget kulitnya."

"Aku ingat waktu kecil kamu suka lari-lari keliling desa pakai celana bolong, tahu-tahu udah besar aja."

"Dulu bagian bawahmu masih polos, sekarang udah tumbuh bulu belum?"

....

Orang desa memang tidak pernah tabu membicarakan hal seperti itu. Mereka langsung bertanya apakah buluku sudah tumbuh atau belum, hingga membuatku sangat malu di tengah kerumunan pria ini.

Namun, saat bagian rahasia di dalam tubuhku tersentuh oleh percakapan itu, jari-jari kakiku seketika mencengkeram erat.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 7

    Aku gemetar saat membuka pintu, melihat wajah ayah yang sudah membiru menahan amarah.Aku menangis membela diri, "Me ... mereka perkosa aku ...."Tanpa mendengarkan penjelasanku, ayah menyeretku keluar dan membawaku berdiri di hadapan orang-orang.Matahari menyengat terik, membuat mataku silau sampai sulit terbuka."Anak saya ada di sini, kalau kalian ada masalah, kita selesaikan langsung di depan orangnya."Melihat penampilanku yang terlihat cantik dan segar, amarah Sari makin membumbung tinggi, "Perkosa? Siapa yang percaya! Kamu berpakaian kecantikan begitu, di kota belajar nakal, begitu pulang malah merusak laki-laki desa!"Hinaan para warga berhamburan mengeroyokku, ada yang berteriak, "Usir dia dari desa! Keluarga Arkana bikin malu aja!"Beberapa wanita galak itu maju hendak memukulku.Mereka semua terbiasa bekerja di ladang, tubuh mereka jauh lebih kuat dan kekar dari diriku.Ayah langsung pasang badan melindungiku di belakangnya, berteriak ke arah kerumunan."Urusannya belum jel

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 6

    Ayah melirikku sebentar, lalu berkata santai."Kalau nggak apa-apa ya udah makan, mumpung bisa pulang ke rumah."Selesai makan, aku keluar main bersama anjing kecilku, menggendong dan mengelusnya puas-puas.Tapi, perasaanku tetap terasa berat, seolah tatapan orang-orang desa padaku sudah berubah.Sesekali berpapasan dengan warga desa, melihatku sudah pulang, mereka menyapa dengan ramah."Nadia udah pulang, ya? Udah lama nggak ketemu, makin pangling aja."Aku kaget setengah mati, mengira mereka sedang membicarakan kejadian di bus tadi.Setelah hari itu, aku mengurung diri di rumah dan tidak berani keluar.Namun, desas-desus di pelosok desa malah berembus makin liar.Yang pertama curiga adalah Sari, istrinya Gilang.Dia wanita yang galak dan paling suka bergosip, kejadian sekecil apa pun di rumah warga tidak akan luput dari telinganya.Sore itu, Sari sedang menyiangi rumput di ladang, mendengar Tante Ayu dan Tante Tika di petak sebelah sedang berbisik-bisik."Kamu udah dengar belum? Gila

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 5

    "I ... iya ... betul," jawabku terbata-bata sambil mengangguk, hanya ingin segera kabur dari tempat ini. "A ... aku mau pulang dulu, ibu sama ayah udah nungguin."Tanpa menunggu Tante Ayu berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari kencang ke arah rumah.Saat mendorong pintu rumah, aku rasanya sudah mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya."Bu?" panggilku ragu-ragu, ada nada gemetar dalam suaraku.Dari dapur terdengar benturan alat-alat masak, suara ibu terdengar agak lelah, "Udah pulang? Lapar, ya? Makanan sebentar lagi siap."Aku teringat bagian tengah celanaku yang robek dan tubuhku yang dipenuhi bau laki-laki.Takut ibu menyadari ada yang aneh, aku berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani bergerak."Lho, kok baru datang malah berdiri aja di situ?" Ibu menoleh dari dapur. Melihat wajahku yang pucat, alisnya berkerut bingung, "Kenapa kamu? Muka kok pucat banget begitu? Ada apa-apa di luar?""Ngg ... nggak ada apa-apa." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menu

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 4

    Dia bertanya, "Tadi rasanya gatal dan menyiksa banget, 'kan?"Aku mengangguk kesakitan, "Menyiksa banget, Om Ferry katanya mau bantu aku? Cepat bantu aku!"Aku tidak perlu ditahan oleh pria-pria itu lagi, aku dengan sukarela merenggangkan kedua kakiku.Om Ferry mengangkat kedua kakiku ke atas bahunya, lalu mendorong tubuhnya dengan bertenaga."Om Ferry nggak bohong, 'kan. Kalau bilang mau bantu, pasti Om bantu."Emh ... aku tidak pernah merasakan tekanan sekuat ini sebelumnya.Bahkan helaian rambutku terasa berdiri karena kenikmatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.Kedua kakiku gemetar hebat akibat dorongan keras yang bertubi-tubi.Pria-pria di belakangku melepas sepatu kulit kecilku, lalu memainkan kedua kakiku.Kaus kaki putihku ternoda oleh air liur dan keringat mereka.Pakaianku ikut ditarik terbuka, menyingkap dua bukit dadaku yang putih dan berukuran cukup besar.Bentuk bukit dadaku terus berubah seiring remasan telapak tangan mereka.Terkadang menjadi bulat, terkadang

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 3

    "Celananya tipis begini, gunting aja langsung, 'kan bisa.""Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi."Om Ferry menepuk jidatnya, mengambil gunting besar dari dalam tas, lalu mulai menggunting kain di antara kedua kakiku."Nadia, jangan gerak-gerak, ya, nanti kena gunting."Aku ketakutan setengah mati dan tidak berani menggerakkan kedua kakiku sedikit pun, takut gunting itu melukai kulitku."Pe ... pelan-pelan ...," bisikku pelan."Tenang aja, teknik Om dijamin aman."Tidak lama kemudian, aku merasakan angin dingin menyapu bagian di antara kedua kakiku, celanaku sudah tergunting terbuka.Om Ferry berusaha melihat ke bagian dalam."Di dalam sini gelap banget, nggak kelihatan apa-apa."Setelah berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel androidnya yang sudah menguning, lalu menyalakan lampu kilat dan mengarahkannya ke dalam.Orang-orang itu berteriak kegirangan seolah menemukan benua baru."Tumbuh, tumbuh! Udah tumbuh bulu!"Om Ferry makin antusias, matanya membelalak lebar."Cairan

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 2

    Pria kekar lain yang juga memakai seragam loreng hijau ikut mengulurkan tangannya."Ferry, pas kamu megang paha anaknya Bagas tadi, rasanya gimana? Lebih mulus dari paha istrimu, nggak?"Begitu kata-kata itu diucapkan, semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak sambil menatapku dengan tatapan menggoda.Om Ferry tidak merasa malu sedikit pun, dia menggerakkan bibirnya lalu berkata."Nggak bisa dibohongi, paha Nadia ini mulus banget kayak akar teratai. Dipegang rasanya licin sama halus. Nggak bisa dibandingin sama kita yang kerja kasar, dia 'kan anak kuliahan."Pria kekar itu membalas, "Memangnya kenapa kalau anak kuliahan? Tetap aja warga Desa Arkana kita. Coba aku pegang, mau tahu seberapa mulus pahanya."Tidak lama kemudian, beberapa pria kekar di belakangnya ikut mengulurkan tangan, "Aku juga mau pegang!"Dalam sekejap, beberapa pasang tangan kasar meraba dan meremas pahaku."Mulus banget pahanya, enak banget megangnya."Hasrat di dalam diriku yang memang sudah tertahan, men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status