Share

Bab 3

Penulis: Richy
"Celananya tipis begini, gunting aja langsung, 'kan bisa."

"Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi."

Om Ferry menepuk jidatnya, mengambil gunting besar dari dalam tas, lalu mulai menggunting kain di antara kedua kakiku.

"Nadia, jangan gerak-gerak, ya, nanti kena gunting."

Aku ketakutan setengah mati dan tidak berani menggerakkan kedua kakiku sedikit pun, takut gunting itu melukai kulitku.

"Pe ... pelan-pelan ...," bisikku pelan.

"Tenang aja, teknik Om dijamin aman."

Tidak lama kemudian, aku merasakan angin dingin menyapu bagian di antara kedua kakiku, celanaku sudah tergunting terbuka.

Om Ferry berusaha melihat ke bagian dalam.

"Di dalam sini gelap banget, nggak kelihatan apa-apa."

Setelah berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel androidnya yang sudah menguning, lalu menyalakan lampu kilat dan mengarahkannya ke dalam.

Orang-orang itu berteriak kegirangan seolah menemukan benua baru.

"Tumbuh, tumbuh! Udah tumbuh bulu!"

Om Ferry makin antusias, matanya membelalak lebar.

"Cairan juga makin banyak yang keluar, kelihatannya Nadia beneran butuh laki-laki."

Aku merasa sangat malu. Meski biasanya gairahku cukup tinggi, aku tidak pernah memperlihatkan bagian bawahku kepada pria sebanyak ini.

Terlebih lagi, mereka semua pria-pria kekar bersosok tegap.

Pacar brondongku di kampus sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan mereka.

Pacarku selalu menyerah dalam tiga menit, tidak sanggup memuaskan hasratku yang makin meluap.

Namun, pria-pria kekar ini sangat berbeda. Terbiasa bekerja di ladang, tubuh mereka kuat dan kekar, terlihat seperti ahli dalam mengolah ladang.

Om Ferry mendadak berdiri, melepas sabuk dari pinggangnya, lalu bersiap melorotkan celana.

Aku panik luar biasa dan bertanya dengan gugup.

"Om Ferry, Om ... Om mau ngapain?"

Om Ferry langsung menurunkan celananya sampai ke lutut, mengeluarkan organ miliknya yang berukuran besar persis di hadapanku.

Astaga! Besar sekali!

Ukuran sebesar ini bisa membunuhku.

"Kamu nggak paham, Nak. Om cuma mau bantu redakan rasa sakitmu. Sekarang bagian bawahmu terasa gatal dan menyiksa, 'kan?"

Memang benar, begitu dia mengatakannya, bagian bawahku terasa seperti dirayapi semut yang mencoba merayap masuk hingga ke tulang.

Bahkan darah di tubuhku mulai bergolak dan mengalir makin kencang.

Aku mengangguk malu-malu, "Agak gatal ...."

"Nah, benar 'kan. Kamu udah dewasa sekarang, kalau nggak ada laki-laki rasanya bakal gatal dan menyiksa. Biar Om bantu."

Sambil berkata begitu, dia langsung menerjang ke arahku.

Bagian miliknya yang menegak itu bersiap merangsek ke celanaku.

Seketika, aku merasakan tekanan besar menindih tubuhku, membuatku makin tegang dan sangat malu.

Bagaimanapun juga, dia tetap Om Ferry yang tinggal tetanggaan denganku. Nanti kalau pulang dan sering bertatap muka, rasanya pasti akan canggung sekali.

Aku buru-buru menutupi lubang celana dengan tangan, lalu menggeleng sambil menangis.

"Ngg ... nggak boleh, nggak boleh begitu."

Om Ferry terhalang oleh tanganku. Miliknya yang panas menekan tanganku dan tidak bisa masuk, membuatnya agak jengkel.

"Kamu ini kok nggak nurut, sih? Om 'kan lakuin ini demi kebaikanmu."

"Gilang, Wisnu, pegangin tangannya!"

Begitu kalimat itu terucap, dua pria kekar lainnya maju dan menarik tanganku dengan paksa ke belakang kepala.

Kini kedua tangan dan kakiku dikuasai oleh mereka, membuatku kehilangan seluruh tenaga untuk melawan.

Aku seperti seekor ikan di atas talenan yang pasrah diolah sesuka mereka.

Om Ferry memasukkan satu jarinya ke dalam lubang celana.

"Sudah Om bilang ini demi membantumu, coba kamu rasakan sendiri gatal atau nggak, menyiksa atau nggak."

Jari tangannya yang kasar dan kuat bergerak menelusuri lipatanku.

Dalam sekejap, seluruh sel di tubuhku seperti akan meledak.

Kenapa ... kenapa bisa segatal ini, rasanya sangat menginginkannya ... emh, aku tidak sanggup menahannya lagi.

Kerutan di dahiku makin dalam, desah napas lolos dari tenggorokanku.

Om Ferry terkekeh pelan, memegang miliknya, lalu mendorongnya kuat-kuat ke dalam lubang itu ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 7

    Aku gemetar saat membuka pintu, melihat wajah ayah yang sudah membiru menahan amarah.Aku menangis membela diri, "Me ... mereka perkosa aku ...."Tanpa mendengarkan penjelasanku, ayah menyeretku keluar dan membawaku berdiri di hadapan orang-orang.Matahari menyengat terik, membuat mataku silau sampai sulit terbuka."Anak saya ada di sini, kalau kalian ada masalah, kita selesaikan langsung di depan orangnya."Melihat penampilanku yang terlihat cantik dan segar, amarah Sari makin membumbung tinggi, "Perkosa? Siapa yang percaya! Kamu berpakaian kecantikan begitu, di kota belajar nakal, begitu pulang malah merusak laki-laki desa!"Hinaan para warga berhamburan mengeroyokku, ada yang berteriak, "Usir dia dari desa! Keluarga Arkana bikin malu aja!"Beberapa wanita galak itu maju hendak memukulku.Mereka semua terbiasa bekerja di ladang, tubuh mereka jauh lebih kuat dan kekar dari diriku.Ayah langsung pasang badan melindungiku di belakangnya, berteriak ke arah kerumunan."Urusannya belum jel

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 6

    Ayah melirikku sebentar, lalu berkata santai."Kalau nggak apa-apa ya udah makan, mumpung bisa pulang ke rumah."Selesai makan, aku keluar main bersama anjing kecilku, menggendong dan mengelusnya puas-puas.Tapi, perasaanku tetap terasa berat, seolah tatapan orang-orang desa padaku sudah berubah.Sesekali berpapasan dengan warga desa, melihatku sudah pulang, mereka menyapa dengan ramah."Nadia udah pulang, ya? Udah lama nggak ketemu, makin pangling aja."Aku kaget setengah mati, mengira mereka sedang membicarakan kejadian di bus tadi.Setelah hari itu, aku mengurung diri di rumah dan tidak berani keluar.Namun, desas-desus di pelosok desa malah berembus makin liar.Yang pertama curiga adalah Sari, istrinya Gilang.Dia wanita yang galak dan paling suka bergosip, kejadian sekecil apa pun di rumah warga tidak akan luput dari telinganya.Sore itu, Sari sedang menyiangi rumput di ladang, mendengar Tante Ayu dan Tante Tika di petak sebelah sedang berbisik-bisik."Kamu udah dengar belum? Gila

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 5

    "I ... iya ... betul," jawabku terbata-bata sambil mengangguk, hanya ingin segera kabur dari tempat ini. "A ... aku mau pulang dulu, ibu sama ayah udah nungguin."Tanpa menunggu Tante Ayu berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari kencang ke arah rumah.Saat mendorong pintu rumah, aku rasanya sudah mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya."Bu?" panggilku ragu-ragu, ada nada gemetar dalam suaraku.Dari dapur terdengar benturan alat-alat masak, suara ibu terdengar agak lelah, "Udah pulang? Lapar, ya? Makanan sebentar lagi siap."Aku teringat bagian tengah celanaku yang robek dan tubuhku yang dipenuhi bau laki-laki.Takut ibu menyadari ada yang aneh, aku berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani bergerak."Lho, kok baru datang malah berdiri aja di situ?" Ibu menoleh dari dapur. Melihat wajahku yang pucat, alisnya berkerut bingung, "Kenapa kamu? Muka kok pucat banget begitu? Ada apa-apa di luar?""Ngg ... nggak ada apa-apa." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menu

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 4

    Dia bertanya, "Tadi rasanya gatal dan menyiksa banget, 'kan?"Aku mengangguk kesakitan, "Menyiksa banget, Om Ferry katanya mau bantu aku? Cepat bantu aku!"Aku tidak perlu ditahan oleh pria-pria itu lagi, aku dengan sukarela merenggangkan kedua kakiku.Om Ferry mengangkat kedua kakiku ke atas bahunya, lalu mendorong tubuhnya dengan bertenaga."Om Ferry nggak bohong, 'kan. Kalau bilang mau bantu, pasti Om bantu."Emh ... aku tidak pernah merasakan tekanan sekuat ini sebelumnya.Bahkan helaian rambutku terasa berdiri karena kenikmatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.Kedua kakiku gemetar hebat akibat dorongan keras yang bertubi-tubi.Pria-pria di belakangku melepas sepatu kulit kecilku, lalu memainkan kedua kakiku.Kaus kaki putihku ternoda oleh air liur dan keringat mereka.Pakaianku ikut ditarik terbuka, menyingkap dua bukit dadaku yang putih dan berukuran cukup besar.Bentuk bukit dadaku terus berubah seiring remasan telapak tangan mereka.Terkadang menjadi bulat, terkadang

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 3

    "Celananya tipis begini, gunting aja langsung, 'kan bisa.""Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi."Om Ferry menepuk jidatnya, mengambil gunting besar dari dalam tas, lalu mulai menggunting kain di antara kedua kakiku."Nadia, jangan gerak-gerak, ya, nanti kena gunting."Aku ketakutan setengah mati dan tidak berani menggerakkan kedua kakiku sedikit pun, takut gunting itu melukai kulitku."Pe ... pelan-pelan ...," bisikku pelan."Tenang aja, teknik Om dijamin aman."Tidak lama kemudian, aku merasakan angin dingin menyapu bagian di antara kedua kakiku, celanaku sudah tergunting terbuka.Om Ferry berusaha melihat ke bagian dalam."Di dalam sini gelap banget, nggak kelihatan apa-apa."Setelah berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel androidnya yang sudah menguning, lalu menyalakan lampu kilat dan mengarahkannya ke dalam.Orang-orang itu berteriak kegirangan seolah menemukan benua baru."Tumbuh, tumbuh! Udah tumbuh bulu!"Om Ferry makin antusias, matanya membelalak lebar."Cairan

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 2

    Pria kekar lain yang juga memakai seragam loreng hijau ikut mengulurkan tangannya."Ferry, pas kamu megang paha anaknya Bagas tadi, rasanya gimana? Lebih mulus dari paha istrimu, nggak?"Begitu kata-kata itu diucapkan, semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak sambil menatapku dengan tatapan menggoda.Om Ferry tidak merasa malu sedikit pun, dia menggerakkan bibirnya lalu berkata."Nggak bisa dibohongi, paha Nadia ini mulus banget kayak akar teratai. Dipegang rasanya licin sama halus. Nggak bisa dibandingin sama kita yang kerja kasar, dia 'kan anak kuliahan."Pria kekar itu membalas, "Memangnya kenapa kalau anak kuliahan? Tetap aja warga Desa Arkana kita. Coba aku pegang, mau tahu seberapa mulus pahanya."Tidak lama kemudian, beberapa pria kekar di belakangnya ikut mengulurkan tangan, "Aku juga mau pegang!"Dalam sekejap, beberapa pasang tangan kasar meraba dan meremas pahaku."Mulus banget pahanya, enak banget megangnya."Hasrat di dalam diriku yang memang sudah tertahan, men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status