Partager

Bab 2

Auteur: Richy
Pria kekar lain yang juga memakai seragam loreng hijau ikut mengulurkan tangannya.

"Ferry, pas kamu megang paha anaknya Bagas tadi, rasanya gimana? Lebih mulus dari paha istrimu, nggak?"

Begitu kata-kata itu diucapkan, semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak sambil menatapku dengan tatapan menggoda.

Om Ferry tidak merasa malu sedikit pun, dia menggerakkan bibirnya lalu berkata.

"Nggak bisa dibohongi, paha Nadia ini mulus banget kayak akar teratai. Dipegang rasanya licin sama halus. Nggak bisa dibandingin sama kita yang kerja kasar, dia 'kan anak kuliahan."

Pria kekar itu membalas, "Memangnya kenapa kalau anak kuliahan? Tetap aja warga Desa Arkana kita. Coba aku pegang, mau tahu seberapa mulus pahanya."

Tidak lama kemudian, beberapa pria kekar di belakangnya ikut mengulurkan tangan, "Aku juga mau pegang!"

Dalam sekejap, beberapa pasang tangan kasar meraba dan meremas pahaku.

"Mulus banget pahanya, enak banget megangnya."

Hasrat di dalam diriku yang memang sudah tertahan, mendadak bergejolak saat didekati beberapa pria sekaligus, hingga tubuhku rasanya tidak sanggup menahannya.

Tangan-tangan kasar itu seperti dialiri arus listrik, membuat sekujur tubuhku terasa gatal sampai aku tidak sanggup menahan desahan pelan.

"Aduh! Udah, jangan dipegang terus, Nadia sampai engap-engapan begitu." Om Ferry menepis tangan mereka.

Tawa mereka makin keras, lalu menimpali.

"Kalau perempuan sampai ngeluarin suara begitu, artinya dia lagi mau. Nadia 'kan udah 18 tahun, tubuhnya pasti udah berkembang."

Mendengar perkataan itu, mukaku langsung merah sampai ke telinga.

Orang-orang ini semuanya berasal dari desa yang sama, bahkan ada yang pernah menggendongku sewaktu kecil.

Sejak kecil aku sering mendengar mereka membicarakan hal-hal seperti itu tentang perempuan, tapi waktu masih kecil aku tidak acuh.

Sekarang setelah dewasa, tentu saja aku paham apa maksudnya.

Om Ferry mendekatkan wajahnya ke bawah gaunku untuk mengintip, lalu menatapku kembali.

"Di balik gaun ini masih ada celana, nggak kelihatan apa-apa."

"Nadia, coba kasih tahu Om, kamu udah tumbuh bulu belum? Kalau udah tumbuh, artinya kamu udah dewasa dan butuh laki-laki."

Mana mungkin aku mau membicarakan topik seperti itu, wajahku memerah dan aku hanya menunduk diam.

Melihat reaksiku, beberapa pria kekar itu mulai menghasut.

"Ferry, dia malu buat ngomong. Kamu pelorotin aja celananya buat lihat!"

"Benar tuh, kalau cuma nanya terus mau dapat jawaban apa? Buka aja celananya, ajak kita semua lihat sekalian."

Jantungku berdetak kencang, ini 'kan di dalam bus, apa mereka beneran mau menurunkan celanaku?

Tapi, melihat tubuh kekar mereka, di dalam hatiku justru timbul sedikit rasa gairah.

Mendengar hal itu, Om Ferry langsung menyingkap gaunku, memperlihatkan kaus kaki ketat berwarna kulit yang kukenakan di dalamnya.

Aku menjerit pelan, buru-buru menutup gaunku dengan tangan.

"Nadia, nggak usah takut. Waktu kecil kamu telanjang bulat aja udah pernah Om lihat. Om cuma mau bantu periksa kamu udah berkembang atau belum."

"Kalian anak perempuan nggak paham, perempuan kalau udah usianya itu butuh dipuaskan laki-laki."

Tangan Om Ferry makin bertenaga, merenggut celanaku dengan paksa.

Aku buru-buru berteriak, "Om Ferry, jangan ditarik lagi, nanti celanaku bisa sobek!"

Aku merapatkan kedua paha erat-erat, takut celanaku benar-benar ditarik lepas.

Tangan Om Ferry masih tidak berhenti.

"Mumpung ketemu di bus, Om periksa sebentar aja terus selesai."

Setelah berkata begitu, dia memanggil orang-orang yang lain.

"Kalian jangan cuma diam aja, bantu pegangin kakinya!"

Pria-pria itu dengan antusias mendekatiku, masing-masing memegang satu sisi dan melebarkan kedua pahaku dengan paksa.

Ini pertama kalinya kedua kakiku dilebarkan oleh orang sebanyak ini, rasanya dingin sekali.

Sensasi seperti ini sungguh terlalu merangsang, gairah di sekujur tubuhku langsung melonjak ke kepala, bagian perut bawahku terasa makin membara.

Tangan Om Ferry meraba-raba di sekitar pinggulku cukup lama, tapi sama sekali tidak menemukan lubang celananya.

Padahal ban celana ini ada di pinggang dan tertutup gaun, orang desa yang belum pernah melihatnya tentu tidak tahu.

"Model baju orang kota banyak anehnya, ya, celana aja susah dilepas. Apa kalian kalau buang air besar nggak dilepas dulu?"

Setelah sibuk mengutak-atik cukup lama, pria-pria kekar di belakangnya mulai tidak sabar dan memberi saran.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 7

    Aku gemetar saat membuka pintu, melihat wajah ayah yang sudah membiru menahan amarah.Aku menangis membela diri, "Me ... mereka perkosa aku ...."Tanpa mendengarkan penjelasanku, ayah menyeretku keluar dan membawaku berdiri di hadapan orang-orang.Matahari menyengat terik, membuat mataku silau sampai sulit terbuka."Anak saya ada di sini, kalau kalian ada masalah, kita selesaikan langsung di depan orangnya."Melihat penampilanku yang terlihat cantik dan segar, amarah Sari makin membumbung tinggi, "Perkosa? Siapa yang percaya! Kamu berpakaian kecantikan begitu, di kota belajar nakal, begitu pulang malah merusak laki-laki desa!"Hinaan para warga berhamburan mengeroyokku, ada yang berteriak, "Usir dia dari desa! Keluarga Arkana bikin malu aja!"Beberapa wanita galak itu maju hendak memukulku.Mereka semua terbiasa bekerja di ladang, tubuh mereka jauh lebih kuat dan kekar dari diriku.Ayah langsung pasang badan melindungiku di belakangnya, berteriak ke arah kerumunan."Urusannya belum jel

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 6

    Ayah melirikku sebentar, lalu berkata santai."Kalau nggak apa-apa ya udah makan, mumpung bisa pulang ke rumah."Selesai makan, aku keluar main bersama anjing kecilku, menggendong dan mengelusnya puas-puas.Tapi, perasaanku tetap terasa berat, seolah tatapan orang-orang desa padaku sudah berubah.Sesekali berpapasan dengan warga desa, melihatku sudah pulang, mereka menyapa dengan ramah."Nadia udah pulang, ya? Udah lama nggak ketemu, makin pangling aja."Aku kaget setengah mati, mengira mereka sedang membicarakan kejadian di bus tadi.Setelah hari itu, aku mengurung diri di rumah dan tidak berani keluar.Namun, desas-desus di pelosok desa malah berembus makin liar.Yang pertama curiga adalah Sari, istrinya Gilang.Dia wanita yang galak dan paling suka bergosip, kejadian sekecil apa pun di rumah warga tidak akan luput dari telinganya.Sore itu, Sari sedang menyiangi rumput di ladang, mendengar Tante Ayu dan Tante Tika di petak sebelah sedang berbisik-bisik."Kamu udah dengar belum? Gila

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 5

    "I ... iya ... betul," jawabku terbata-bata sambil mengangguk, hanya ingin segera kabur dari tempat ini. "A ... aku mau pulang dulu, ibu sama ayah udah nungguin."Tanpa menunggu Tante Ayu berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari kencang ke arah rumah.Saat mendorong pintu rumah, aku rasanya sudah mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya."Bu?" panggilku ragu-ragu, ada nada gemetar dalam suaraku.Dari dapur terdengar benturan alat-alat masak, suara ibu terdengar agak lelah, "Udah pulang? Lapar, ya? Makanan sebentar lagi siap."Aku teringat bagian tengah celanaku yang robek dan tubuhku yang dipenuhi bau laki-laki.Takut ibu menyadari ada yang aneh, aku berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani bergerak."Lho, kok baru datang malah berdiri aja di situ?" Ibu menoleh dari dapur. Melihat wajahku yang pucat, alisnya berkerut bingung, "Kenapa kamu? Muka kok pucat banget begitu? Ada apa-apa di luar?""Ngg ... nggak ada apa-apa." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menu

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 4

    Dia bertanya, "Tadi rasanya gatal dan menyiksa banget, 'kan?"Aku mengangguk kesakitan, "Menyiksa banget, Om Ferry katanya mau bantu aku? Cepat bantu aku!"Aku tidak perlu ditahan oleh pria-pria itu lagi, aku dengan sukarela merenggangkan kedua kakiku.Om Ferry mengangkat kedua kakiku ke atas bahunya, lalu mendorong tubuhnya dengan bertenaga."Om Ferry nggak bohong, 'kan. Kalau bilang mau bantu, pasti Om bantu."Emh ... aku tidak pernah merasakan tekanan sekuat ini sebelumnya.Bahkan helaian rambutku terasa berdiri karena kenikmatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.Kedua kakiku gemetar hebat akibat dorongan keras yang bertubi-tubi.Pria-pria di belakangku melepas sepatu kulit kecilku, lalu memainkan kedua kakiku.Kaus kaki putihku ternoda oleh air liur dan keringat mereka.Pakaianku ikut ditarik terbuka, menyingkap dua bukit dadaku yang putih dan berukuran cukup besar.Bentuk bukit dadaku terus berubah seiring remasan telapak tangan mereka.Terkadang menjadi bulat, terkadang

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 3

    "Celananya tipis begini, gunting aja langsung, 'kan bisa.""Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi."Om Ferry menepuk jidatnya, mengambil gunting besar dari dalam tas, lalu mulai menggunting kain di antara kedua kakiku."Nadia, jangan gerak-gerak, ya, nanti kena gunting."Aku ketakutan setengah mati dan tidak berani menggerakkan kedua kakiku sedikit pun, takut gunting itu melukai kulitku."Pe ... pelan-pelan ...," bisikku pelan."Tenang aja, teknik Om dijamin aman."Tidak lama kemudian, aku merasakan angin dingin menyapu bagian di antara kedua kakiku, celanaku sudah tergunting terbuka.Om Ferry berusaha melihat ke bagian dalam."Di dalam sini gelap banget, nggak kelihatan apa-apa."Setelah berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel androidnya yang sudah menguning, lalu menyalakan lampu kilat dan mengarahkannya ke dalam.Orang-orang itu berteriak kegirangan seolah menemukan benua baru."Tumbuh, tumbuh! Udah tumbuh bulu!"Om Ferry makin antusias, matanya membelalak lebar."Cairan

  • Malam Keji di Bus Menuju Desa   Bab 2

    Pria kekar lain yang juga memakai seragam loreng hijau ikut mengulurkan tangannya."Ferry, pas kamu megang paha anaknya Bagas tadi, rasanya gimana? Lebih mulus dari paha istrimu, nggak?"Begitu kata-kata itu diucapkan, semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak sambil menatapku dengan tatapan menggoda.Om Ferry tidak merasa malu sedikit pun, dia menggerakkan bibirnya lalu berkata."Nggak bisa dibohongi, paha Nadia ini mulus banget kayak akar teratai. Dipegang rasanya licin sama halus. Nggak bisa dibandingin sama kita yang kerja kasar, dia 'kan anak kuliahan."Pria kekar itu membalas, "Memangnya kenapa kalau anak kuliahan? Tetap aja warga Desa Arkana kita. Coba aku pegang, mau tahu seberapa mulus pahanya."Tidak lama kemudian, beberapa pria kekar di belakangnya ikut mengulurkan tangan, "Aku juga mau pegang!"Dalam sekejap, beberapa pasang tangan kasar meraba dan meremas pahaku."Mulus banget pahanya, enak banget megangnya."Hasrat di dalam diriku yang memang sudah tertahan, men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status