Beranda / Romansa / Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku / Bab 281: Diplomasi di Atas Kebohongan

Share

Bab 281: Diplomasi di Atas Kebohongan

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-08 08:04:32

Lobi hotel mewah di pusat kota Budapest yang biasanya tenang, mendadak terasa mencekam saat Bima Adnyana melangkah masuk. Jejak kakinya yang basah tertinggal di atas karpet Persia tebal, menyebarkan aroma lembap salju yang meleleh. Wajah Bima mengeras, giginya tampak menggesek satu sama lain, menyembunyikan getaran tubuhnya yang kedinginan setelah petualangan nekatnya di tepi Sungai Donau. Matanya langsung menemukan Alvin Mahawira, yang sedang duduk santai di salah satu sudut lobi, menyeduh k

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 293: Hujan di Tengah Hari yang Panas

    Lantai keramik bandara yang dingin membisu, menjadi saksi bisu pertemuan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Gabriel Wisesa dan istrinya, Riana Irwanto Wisesa, melangkah terburu-buru melintasi hall kedatangan, wajah mereka pucat pasi dan hancur lebur oleh kecemasan. Setiap langkah terasa berat, seolah menarik beban seribu ton. Tujuan mereka jelas: penerbangan tercepat menuju Budapest, untuk menjemput Darren, putra mereka. Kabar dari Kevin, adik ipar Riana, beberapa jam yang lalu telah mengoyak ketenangan mereka.Kevin menceritakan segalanya, detail demi detail yang terasa menusuk jantung. Darren, putra tunggal Gabriel yang selalu dibangga-banggakan, terluka parah. Perutnya robek akibat perkelahian di kelab malam. Stok darah di rumah sakit Budapest kritis, dan pada detik-detik genting, di tengah ketiadaan donor yang cocok, musuh bebuyutan mereka, Bima Adnyana, dengan tanpa ragu telah mendonorkan nyawanya. Darahnya. Gabriel dan Riana bagai dihantam godam raksasa. Fakta itu membuyar

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 292: Diplomasi di Atas Awan

    Deru mesin jet pribadi yang membawa mereka pulang ke Jakarta terdengar stabil, seolah ikut menenangkan pikiran, namun tidak dengan suasana di dalam kabin mewah itu. Di tengah ruangan, Aradea Karna dan Bramantya Dharma duduk berhadapan langsung dengan dua klien mereka yang entah kenapa ego dan emosinya setinggi langit — atau mungkin setinggi awan yang sekarang sedang mereka terobos. Ketegangan memenuhi udara, jauh lebih padat dari tekanan kabin."Poliamori??" Alvin menumpahkan kekesalannya, mengerutkan dahi dalam-dalam sampai garis-garis samar terlihat di antara alisnya. Matanya yang kelelahan menatap tajam Aradea, seolah pengacaranya itu baru saja menyarankan mereka semua memakai toga pink ke pengadilan. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Dea? Kita di Budapest untuk urusan keselamatan Lidya dan malah berakhir dengan saran gila seperti ini?"Aradea mencoba tetap tenang. Dengan gerakan anggun yang biasa, ia memperbaiki letak kacamatanya, bola matanya yang hitam legam bertemu tatap

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 291 Fajar di Budapest

    Fajar menyingsing di atas Budapest, membias warna keemasan ke hamparan salju yang menyelimuti kota. Cahaya dingin, namun begitu terang, menembus kaca jendela kantor pusat kepolisian Hungaria, menerangi sel tahanan di lantai bawah. Di sana, Dr. Surya duduk bersandar di dinding semen yang lembap, tatapannya kosong, terpaku pada ubin abu-abu di hadapannya. Ia resmi menjadi tahanan. Kepergiannya ke Eropa, rencana jahatnya, semua berakhir begitu saja di tempat yang paling tidak pernah ia duga.Koordinasi cepat antara Bramantya Dharma, agen interpol yang selama ini bekerja di balik layar bersama Kevin, serta kepolisian setempat, telah menutup rapat setiap celah pelarian bagi Surya. Proses ekstradisi segera diatur. Pengkhianatannya terhadap profesi medis, serangkaian tindakan kriminal yang disamarkannya di bawah jubah dokter, kini telah mencapai garis finis di benua lain, jauh dari Jakarta dan jejak kekejaman yang telah ia tanam.Sementara itu, di bangsal perawatan intensif Szent Imre Hospit

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 290: Pukulan Penebusan

    Di tengah desiran angin malam Budapest yang dingin, suasana di luar rumah sakit masih sepanas api yang melahap dendam. Surya, dalam usahanya yang kalut untuk melarikan diri, mengambil rute yang paling tidak terpikirkan: jalur tikus di balik gudang mesin rumah sakit. Lorong sempit dan gelap itu berbau oli dan besi, menjadi saksi bisu kepanikannya yang melampaui batas. Ia bergerak cepat, yakin bisa lolos dari pengawasan yang ia duga terfokus di lobi utama. Tapi dia lupa, ini Eropa, dan orang yang mengejarnya bukan sembarang orang. Bramantya Dharma telah berpikir satu langkah di depannya. Sejak awal Bramantya sudah berkoordinasi dengan kepolisian Budapest, memastikan setiap akses keluar rumah sakit – sekecil apa pun – tertutup rapat."Monitor semua pintu belakang dan jalur servis," suara Bramantya terdengar tegas melalui earpiece Komandan László, kepala regu kepolisian yang bertanggung jawab. "Ada pintu darurat di ujung lorong sebelah tenggara, dekat ruang sterilisasi. Itu mungkin target

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 289: Pisau Bedah yang Bergetar

    Lampu indikator di ruang operasi Szent Imre itu merah menyala, bikin siapa pun yang lihat langsung tahu, ini situasi gawat darurat. Di atas meja bedah, Darren tergeletak pucat pasi, terus-menerus kehilangan cairan kehidupannya yang berharga. Suara monitor jantung di sudut ruangan berbunyi bip pendek dan cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur, menandakan tekanan darahnya terus merosot tajam. Parahnya, di dalam ruangan ini, setiap suara monitor seakan menjadi gema ketegangan yang menindih, membuat udara terasa sesak dan berat."Sialan! Tekanan sistoliknya di bawah 60!" Alvin, kepala tim bedah, berseru lantang. Jemarinya sibuk menahan laju perdarahan yang membanjiri area aorta abdominalis Darren. Wajahnya keras, fokus, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kecemasan yang membayangi. "Mana kantong darah tambahan?! Kita butuh O-negatif sekarang juga!"Seorang perawat muda, Dinda, buru-buru berlari masuk, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pucat pasi seperti kert

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 288: Sumpah di Atas Dendam

    Kamar pemulihan Lidya di lantai atas rumah sakit VIP itu mendadak jadi semacam kapsul kedamaian. Di tengah desahan lelah sang ibu, tangisan renyah bayi laki-laki yang baru lahir tadi terasa seperti simfoni paling indah yang pernah mereka dengar. Suara tangisnya, yang tadinya terasa sangat nyaring, perlahan meredup, digantikan dengkuran halus saat si kecil menempel di dada ibunya, merasakan hangat dan denyut kehidupan yang akrab. Bima membungkuk, menyorotkan tatapan lembut pada Lidya, tangannya menyentuh kening istrinya yang berkeringat dingin dengan gerakan yang hati-hati, penuh kasih sayang yang dalam."Kau luar biasa, Lidya," bisik Bima, suaranya berat tapi terdengar seperti lagu pengantar tidur. Dia mengecup kening Lidya, bibirnya lama menempel di sana, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan kelelahan wanita itu. "Istirahatlah, jaga si kecil baik-baik. Aku akan segera kembali, aku sedang menyiapkan sebuah nama yang indah untuknya."Lidya tersenyum tipis, kelopak matanya yang te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status