LOGIN5 tahun kemudian…Salju turun begitu tebal, suasana di hotel semakin terasa dingin, tetapi tidak membuat dua insan yang sedang menatap langit itu masuk ke dalam kamar. Keduanya asyik memandang langit dengan saling memeluk satu sama lain di balkon kamar. Sedangkan ketiga anak mereka sudah tidur di kamar masing-masing yang ada di sebelah kamar mereka bersama dengan pengasuh mereka.“Gak kerasa pernikahan kita sudah berjalan hampir 7 tahun ya, Mas,” celetuk Jessica dengan tersenyum.Tubuhnya hangat walaupun udara sangat dingin. Karena pakaian tebal dan pelukan Damian mampu menghangatkan dirinya.“Iya, Sayang. Sudah sejauh ini ya ternyata. Bahkan si kembar sudah berusia lima tahun, padahal baru kemarin rasanya Mas gendong, Mas timang-timang mereka sekarang sudah besar saja,” gumam Damian terkekeh membayangkan ketika anak kembar mereka masih bayi, ternyata waktu cepat sekali berlalu.Jessica juga menerawang, sekarang Oliver dan Olivia sudah berlarian, suara cerewet Olivia. Tingkah jahil O
Kebahagiaan David dan Crystal sudah sampai ke Jessica. Karena Jessica sudah sebagai kakak untuk Crystal, orang tuanya sama sekali tidak peduli.Dan menanggapi kehamilan Crystal, Jessica tampak sangat bahagia sekali. Mereka terus mengirimkan pesan hingga Jessica mengabaikan suaminya.“Kamu chattingan sama siapa, Sayang? Sampai Mas kamu cuekin,” tanya Damian dengan mengeluh karena Jessica sama sekali tidak melihat ke arahnya.Jessica melirik sekilas, ia meletakkan ponselnya di selimut yang ia pakai. “Sama Crystal, Mas. Tahu gak, Mas? Crystal hamil lagi. Aaa… Senangnya aku, semoga anaknya cewek deh,” ucap Jessica dengan hebohnya.Damian menghela napasnya dengan pelan. “Kamu masih mau menjodohkan Aland dengan anak Crystal, Sayang? Ya ampun, itu masih lama banget loh.”“Kita juga gitu kok sudah dijodohkan dari Mama hamil aku dan kamu langsung jatuh cinta juga, kan?”Damian terdiam. Kata-kata istrinya sangat telak untuk dirinya karena memang benar, ia langsung jatuh cinta dengan mata indah
Ketika Jessica membuka pintu kamar, ia sudah disambut dengan tangisan kedua anak kembarnya.Damian yang berada di belakang sang istri langsung panik melihat kedua wajah anaknya yang sudah berlinang air mata.“Uluh-uluh sedihnya anak-anak Mama,” ucap Jessica dengan kasihan tetapi juga gemas.Yang lucunya tangan Oliver terulur meminta digendong Mamanya sedangkan Olivia menatap sang Papa seperti memelas ingin segera digendong.Kedua pengasuh Oliver dan Olivia merasa tidak enak hati, apalagi melihat bekas kissmark begitu banyak di leher Jessica yang tidak disadari oleh wanita itu sendiri.Mereka menunduk dengan malu, sedangkan Aryana memaklumi karena bagaimana pun ini adalah hari bahagia anak dan menantunya, seperti pengantin baru tentu saja.Keduanya langsung menggendong si kembar. Dan benar saja Oliver dan Olivia seketika berhenti menangis.“Kangen Mama sama Papanya ternyata,” celetuk Aryana dengan terkekeh.“Bawa masuk saja. Mama dan Mbak-Mbak ke sana dulu. Pengantin baru tidak lapar?
“A-aku bersihkan make up dulu, Mas.”Damian menatap wajah istrinya, perlahan ia menjauh dari Jessica dan tidak lagi mengukung sang istri di tembok.“Mas bantu,” bisik Damian memeluk Jessica dari belakang.Jessica merasa merinding ketika Damian sudah seperti ini, suaranya berat dan ia dapat merasakan milik suaminya yang menegang.“M-mas bisa lepasin dulu gak? Aku gak akan kabur kok,” bujuk Jessica dengan tersenyum tipis—merasa lucu dengan tingkah suaminya.“Aku risih banget sama gaunnya, mau aku lepas dulu,” rengek Jessica dengan manja.Damian terkekeh, akhirnya ia melepaskan pelukannya. Menunggu dan menatap istrinya tanpa berkedip.“Lepasin aja di sini, Sayang. Kenapa diam?” tanya Damian dengan menaikkan satu alisnya.Jessica mendengus. “Mesum banget udah punya tiga anak juga,” gumam Jessica.Damian tidak menimpali ucapan istrinya, ia menikmati wajah kesal Jessica.Jessica melepaskan gaun pengantin yang ia pakai di hadapan Damian. Sebenarnya ia malu, tetapi toh mereka sudah sering mel
Damian terpanah, bahkan ia tidak berkedip sama sekali ketika melihat istrinya memakai gaun pengantin pengantin berwarna putih.Di gedung besar ini, dekorasi bunga putih cream memenuhi ruangan. Cahaya lampu yang tamaran semakin membuat suasana romantis.Kursi-kursi tamu undangan sudah terisi penuh, suara tepuk tangan gembira ketika tangan Damian terulur ke hadapan Jessica karena ingin menjemput pujaan hatinya, begitu menyentuh para tamu undangan yang hadir.Jessica menyambut tangan suaminya, keduanya berjalan beriringan menuju pelaminan.Di kursi paling depan ada keluarga inti yang turut hadir. Senyuman bahagia terpancar di wajah mereka semua.Aland dan Oliver memakai baju yang senada dengan Papa mereka sedangkan Olivia memakai gaun yang senada dengan Jessica. Kedua bayi itu digendong masing-masing oleh Adithama dan juga Arthur.“Cantik sekali kamu hari ini, Sayang,” bisik Damian dan mencium punggung tangan Jessica di hadapan semua orang, tentu saja tindakan suaminya mampu membuat waja
Aland tampak cemberut melihat ekspresi terkejut kedua orang tuanya.Apa yang salah?Itu hanya keinginan kecil dirinya karena memang Crystal seperti barbie baginya, apalagi wanita itu sangat baik dan menjadi dokter serta sahabat mamanya.“Kenapa Mama dan Papa bengong?” tanya Aland sedikit kesal.Jessica dan Damian saling berpandangan, tidak menyangka jika Aland akan meminta menikah dengan anak Crystal dan David ketika dewasa nanti.Apakah benar kisah cinta mereka berdua akan terulang kembali kepada Aland nantinya?“Sekolah yang benar dulu kamu, Aland. Lalu bekerja di perusahaan menggantikan Papa baru bahas nikah,” ucap Damian dengan datar.“Iya, Papa. Aland akan bekerja dengan giat nanti supaya istri Aland bahagia.”Damian menghela napasnya dengan berat. Kenapa pembahasan anaknya terasa begitu berat untuk dirinya sih? Padahal semua itu masih sangat lama tapi mampu membuat dirinya kepikiran.“Oke… Untuk hari ini stop membahas nikah ya, Aland. Papa tiba-tiba pusing,” keluh Damian memijat







