LOGINMaman duduk di teras sambil menyeruput kopinya, memperhatikan kesibukan kedua sahabatnya itu dengan senyuman geli.Ririn keluar dari dalam rumah membawa sepiring pisang goreng panas, lalu duduk di sebelah Maman."Togel itu kelihatan paling bersemangat ya, Man. Padahal yang mau nikah kan kita berdua," bisik Ririn sambil terkikik pelan melihat Togel yang sedang berteriak memberikan instruksi pemasangan tenda kecil.Maman menoleh, tersenyum hangat kepada calon istrinya itu. "Biarin saja, Rin. Sesekali dia butuh pelampiasan energi setelah kemarin kecapean muter-muter pantai di Bali. Kalau nggak disuruh sibuk begini, nanti dia malah bikin rusuh."Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah gerbang depan. Seorang pria berbadan kurus mengenakan kaos partai kuning kusam—siapa lagi kalau bukan Slamet alias Mbing dari Dusun Sumberrejo—muncul sambil membawa karung beras ukuran kecil dan seikat pisang raja besar di pundaknya."Wah, selamat pagi calon pengantin paling sakti se-k
Malam menyelimuti kota dengan ketenangan yang teramat dalam. Bintang-bintang bertaburan di langit luas tanpa ada gangguan awan mendung sedikit pun.Di ruang tengah, suasana terasa lengang sejak Togel dan Lisa bertolak ke Bali siang tadi.Hanya ada Maman dan Ririn yang duduk bersantai di sofa panjang, menikmati secangkir teh chamomile hangat untuk meredakan kepenatan setelah seharian beraktivitas.Ririn meletakkan cangkirnya di atas meja kayu, lalu menoleh ke arah Maman yang duduk di sampingnya. Matanya menatap lekat telapak tangan kanan Maman yang kini tampak begitu bersih, tanpa ada sisa pendar cahaya mencolok seperti masa-masa genting dulu."Man... kalau diingat-ingat perjalanan hidup kita selama beberapa bulan ke belakang, rasanya kayak lagi nonton film aksi di bioskop kota," ucap Ririn memulai obrolan dengan nada suara yang lembut dan bernada nostalgia. "Mulai dari koin-koin misterius, dikejar-kejar preman berkedok juragan tanah, sampai berhadapan langsung sama sindikat internasio
Dua minggu telah berlalu sejak malam penangkapan besar-besaran terhadap Tuan Besar Kreshna dan sisa-sisa anggota sindikat Sang Naga Hitam di pelabuhan tua sektor barat.Pagi itu, suasana di ruang tengah tampak sedikit berbeda. Sebuah koper besar berwarna hitam tergeletak rapi di dekat pintu keluar, sementara Togel sibuk mondar-mandir sambil mengecek isi ranselnya dengan ekspresi serius yang jarang sekali terlihat."Wah, gila ya... Nggak terasa kita udah hampir sebulan lebih tinggal di rumah ini kayak buronan internasional," gumam Togel sambil memasukkan sebatang cokelat ke dalam saku samping tasnya.Ia melirik ke arah Maman yang sedang duduk santai di kursi rotan beranda."Man, lu beneran nggak mau ikutan liburan seminggu ke Bali bareng gua sama Lisa? Mumpung Kolonel Hartono ngasih cuti khusus dan fasilitas tiket gratis dari negara lho!"Maman menyeruput kopi hitamnya perlahan, lalu tersenyum tipis menatap sahabat setianya itu."Kalian berdua saja yang pergi liburan ke Bali, Gel. Kasi
Suara deburan ombak di pelabuhan tua mendadak tenggelam oleh suara kokangan senjata laras panjang yang dilakukan secara serentak oleh puluhan anak buah Sang Naga Hitam. Suasana di dermaga itu berubah menjadi sangat mencekam, dibalut warna jingga kemerahan matahari yang nyaris tenggelam seutuhnya di garis horizon barat.Tuan Besar Kreshna berdiri tegak di atas lambung kapal kargo hitam, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil memasang senyum meremehkan.Di bawah sana, Maman dan Togel berdiri berdampingan tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gentar.Pendar cahaya keemasan dari rajah bintang panca di telapak tangan kanan Maman bersinar semakin terang, memantulkan bias cahaya berkilau di atas permukaan air laut yang bergolak."Wah, Maman... Muka bos besar mereka itu kok songong banget ya minta dilempar pakai jangkar kapal?" bisik Togel di samping Maman, matanya melirik tajam ke arah puluhan preman bersenjata yang mulai merangsek maju melingkari mereka.Maman tidak mengalihkan pandangan
Setelah membersihkan serpihan kayu pintu depan yang hancur dan mengamankan situasi, Maman meminta Togel, Ririn, dan Lisa untuk kembali beristirahat di kamar masing-masing. Sementara itu, Maman memilih duduk sendiri di kursi kayu beranda depan, menghadap langsung ke arah halaman yang gelap gulita.Pendar cahaya keemasan dari rajah bintang panca di telapak tangan kanannya sesekali berdenyut pelan, seolah merespons udara malam yang dingin.Maman tahu, serangan dari kelompok Sang Naga Hitam malam ini hanyalah babak pembuka dari konfrontasi yang jauh lebih besar.Surya—mantan anak buah Tuan Senjaya yang sempat memberikan peringatan lewat telepon—telah tewas atau dibungkam sebelum sempat membocorkan lokasi markas pusat sindikat tersebut.Itu artinya, Maman harus memancing mereka keluar atau mencari petunjuk baru keesokan harinya.Kring! Kring! Kring!Suara dering ponsel Maman yang tergeletak di atas meja mendadak memecah kesunyian subuh.Maman langsung menyambar ponsel tersebut tanpa menun
Ruangan tengah rumah aman yang tadinya terang kini berubah gelap gulita setelah aliran listrik diputus secara paksa.Hanya pendar cahaya keemasan dari rajah bintang panca di telapak tangan Maman yang menjadi satu-satunya sumber penerangan, memantulkan bayangan tegas di dinding ruangan.Ririn dan Lisa berdiri berdekatan di dekat sudut ruang keluarga, napas keduanya terdengar memburu akibat rasa panik yang mendadak menyerang.Togel langsung bergerak sigap, merangkul bahu kedua wanita itu sambil menarik mereka mundur perlahan menjauhi area pintu depan."Jangan jauh-jauh dari gua, Rin, Lis! Tetap di belakang badan gua!" bisik Togel setengah berbisik namun tegas, matanya awas menatap bayangan-bayangan hitam yang mulai merayap mendekati teras rumah lewat jendela kaca."Man, bagaimana ini? Mereka datang dalam jumlah banyak!" seru Lisa dengan suara bergetar ketakutan, menatap ke arah pintu depan yang mulai diguncang keras dari luar.Maman tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak di tengah ru