Share

Koin Kedua

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-08-21 20:20:57

"Ihh... Lepasin, nggak?!"

Teriakan Ririn menggema di halaman belakang. Dengan wajah yang merah padam, gadis itu berjuang keras mendorong dada Maman.

Namun, posisi paha mulusnya yang mengapit pinggul Maman justru membuat gesekan tak sengaja terjadi, membuat si belut di balik celana jebol Maman semakin menegang bukan main.

"Rin, Rin... Jangan gerak-gerak dulu, ntar ada yang bangun!" ringis Maman sambil memegangi kedua pinggul ramping Ririn agar gadis itu tidak oleng lagi.

"Bangun? Apanya yang ban
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 106

    "Man, itu... itu monster dari dimensi mana lagi?! Gede amat!" teriak Togel.Di tengah ruang kendali utama laboratorium yang porak-poranda, celah dimensi ungu kegelapan terus berputar liar, mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang membuat gendang telinga berdengung sakit.Dari dalam pusaran itu, sesosok makhluk raksasa berkulit hitam legam dengan taring panjang mencuat keluar, menginjak lantai baja hingga melengkung ke dalam.Profesor Jatmiko tertawa terkekeh-kekeh, separuh wajahnya yang telah bermutasi berkedut ngeri. Aliran listrik ungu menyala di sepanjang kabel-kabel yang menembus lengan kirinya."Rasakan kekuatan mutasi tingkat akhir ini, Maman! Makhluk itu dipanggil dari jurang kehampaan, dan dia tidak bisa dihancurkan oleh peluru maupun kepalan tangan biasa!" pekik Profesor Jatmiko penuh kemenangan.Maman tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia maju dua langkah ke depan, menempatkan dirinya tepat di garis terdepan melindungi Togel. Tatapannya tajam menatap monster raks

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 105

    "Bau apa nih, Man? Hidung gua mau copot rasanya!" gerutu Togel sambil menutup hidungnya menggunakan ujung kerah jaket. Ia memegang senter di tangan kiri dan linggis besi di tangan kanan, berjalan mengendap-endap di belakang Maman.Mereka baru saja melompat keluar dari poros lift darurat dan mendarat di lantai bawah tanah laboratorium rahasia Sang Naga Hitam.Suasana di dalam lorong sangat mencekam. Lampu-lampu darurat berwarna merah berkedip-kedip redup, memproyeksikan bayangan panjang dinding besi yang dipenuhi bercak darah kering dan goresan cakar tajam berukuran besar.Maman tidak bersuara. Ia berjalan paling depan dengan langkah tegap, membiarkan pendar cahaya keemasan dari rajah bintang panca di telapak tangan kanannya menerangi kegelapan lorong laboratorium yang lembab."Tetap di belakang saya, Gel. Jangan jauh-jauh," bisik Maman tajam, matanya awas menatap setiap pintu laboratorium di sisi kiri dan kanan yang sebagian besar sudah jebol dari dalam.Tiba-tiba, suara decitan logam

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 104

    "Baru aja kita selesaikan urusan kuntilanak galau di desa antah berantah, sekarang malah disuruh ngebut balik ke kota gara-gara laboratorium rahasia jebol?!" Togel berteriak protes di belakang.Maman tidak membalas teriakan sahabatnya itu. Ia fokus menatap jalanan aspal malam yang lengang, memutar gas lebih dalam.Di belakang mereka, Ririn memeluk pinggang Maman erat-erat sambil merapatkan jaket tebalnya untuk menahan terpaan angin malam yang dingin."Pegangan yang kuat, Rin!" seru Maman singkat saat motor mereka melibas tikungan tajam menjelang gerbang masuk kawasan ibu kota.Langit di atas sektor barat kota tampak tidak wajar. Awan hitam tebal berputar-putar membentuk pusaran raksasa tepat di atas kawasan industri mangkrak—bekas markas rahasia sindikat Sang Naga Hitam pimpinan Kreshna yang seharusnya sudah disegel rapat oleh militer.Dari pusaran awan itu, kilatan petir berwarna ungu kebiruan menyambar-nyambar tanpa suara, menciptakan pemandangan yang mencekam.Sret!Motor Maman ber

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 103

    "Wih, gila! Ini balai desa apa arena uji nyali dadakan?!" teriak Togel histeris sambil merunduk di balik meja, menutupi kepalanya dengan kedua tangan.Di luar jendela yang pecah, bayangan putih bergaun compang-comping melintas sangat cepat, meninggalkan jejak kabut hitam pekat yang berbau anyir bunga kenanga. Pak Kades sudah terduduk lemas di lantai, meretih ketakutan sambil memegang dadanya sendiri."Ampunilah saya... Ampuni dosa ayah saya, Nyi Sekar!" rintih Pak Kades gemetar ketakutan.Maman tidak membuang waktu. Ia melangkah keluar lewat pintu depan balai desa dengan tenang.Di telapak tangan kanannya, rajah bintang panca memancarkan pendar keemasan yang terang benderang, membelah kegelapan halaman balai desa dan mengusir kabut hitam yang menyelimuti tanah."Sekar Arum!" panggil Maman dengan suara tegas dan berwibawa, menggema di seluruh sudut halaman desa. "Keluar dan tunjukkan wujudmu. Pelaku utama yang menguburmu hidup-hidup sudah lama mati, dan anak cucunya tidak harus menangg

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 102

    "Cincin... cincin apa itu, Pak Maman?" tanya Pak Kades terbata-bata. Wajah pria paruh baya itu mendadak pucat pasi begitu melihat benda kecil berkilau yang baru saja dimasukkan Maman ke dalam saku jaketnya. Keringat dingin tampak bercucuran di pelipisnya meski angin malam pegunungan bertiup sangat dingin.Maman tidak langsung menjawab. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku, menatap lurus ke arah mata Pak Kades dengan tatapan menyelidik yang membuat siapa pun merasa terintimidasi.Di samping Maman, Ririn melipat tangan di dada, sementara Togel sibuk membersihkan debu di celananya sambil melirik tajam ke arah warga desa yang ikut turun dari mobil pikap."Cincin perak berukir inisial K.S dengan lambang kepala banteng di sisinya," jawab Maman datar namun sarat tekanan. "Anehnya, cincin ini jatuh tepat di tempat kuntilanak tadi berdiri. Padahal, kalau dilihat dari ukiran dan bahannya, ini adalah cincin buatan penguasa tanah wilayah ini puluhan tahun lalu."Pak Kades menelan ludah susah

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 101

    "Baru juga tiga hari nikmati status pengantin baru, ini badan belum sempat pegel-pegel amat di ranjang, lu udah diseret lagi ke desa antah berantah gara-gara urusan lelembut?"Togel mengelap kaca spion motor bebeknya yang kecipratan lumpur jalanan desa. Mereka bertiga—Maman, Togel, dan Ririn—sedang berhenti di sebuah pos ronda reyot di tepi jalan berbatu yang dikelilingi hutan bambu lebat.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan suasana di sekitar desa itu sunyi senyap.Ririn yang duduk di boncengan motor sambil memeluk pinggang Maman mendengus pelan dari balik helmnya."Makanya, Gel, dari kemarin aku udah bilang ke Maman biar nolak ajakan Pak Kades setempat. Tapi dasar suami aku ini emang punya jiwa detektif kesasar, denger ada warga ilang langsung semangat 45."Maman turun dari motor, meregangkan otot-otot pinggangnya yang kaku akibat perjalanan jauh. Ia melirik plang kayu lapuk di pinggir jalan yang nyaris roboh, bertuliskan: SELAMAT DATANG DI DESA SUKAMATI."Bukan masalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status