MasukTangan seorang juru tulis seharusnya hanya mengenal dua hal, yaitu kuas dan tinta.
Namun saat aku selesai menyalin dokumen itu, aku merasakan sesuatu yang lebih berat daripada batu tinta menekan pergelangan tanganku. Rasa bahwa setiap goresan yang kutulis barusan tidak akan pernah bisa dihapus dari hidupku, bahkan bila gulungan kertasnya dibakar. Pejabat Kementerian Catatan memeriksa salinan itu tanpa tergesa-gesa. Ia membaca tiap baris dengan mata yang tenang, seolah yang ia nilai bukan isi dokumen, melainkan ketepatan garis tinta. Ketika sampai di bagian nama, ia berhenti sepersekian napas, lalu melanjutkan lagi. Tidak ada kerutan di dahinya, tidak ada perubahan di raut wajahnya. Orang yang mampu membaca sesuatu yang mustahil tanpa terganggu adalah orang yang paling berbahaya. Ia menggulung kembali kertas itu rapi, lalu menyerahkannya kepada seorang Burung Hitam. Setelah itu, ia menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku memasuki Paviliun Utara, ia berbicara lebih dari satu kalimat. “Shen Yu, dengarkan baik-baik.” Aku menunduk. “Hamba mendengar.” “Yang kau lihat di sini tidak pernah terjadi,” ucapnya. “Yang kau salin di sini tidak pernah ada.” Aku mengangguk. Kalimat itu bukan sekadar perintah, itu semacam aturan hidup. Pejabat itu melanjutkan, suaranya datar seperti air dingin. “Mulai hari ini kau bekerja untuk Paviliun Utara. Perintahmu tidak lagi lewat Pengawas Arsip. Jika ada yang bertanya, kau hanya perlu menjawab bahwa kau dipindah sementara untuk menyalin naskah upacara.” Aku tidak bertanya siapa yang memutuskan, siapa yang memberi kuasa. Di istana, pertanyaan hanya menambah lubang pada kuburan. Aku menjawab pelan, “Baik.” Seorang Burung Hitam mendekat, menyerahkan sebuah token tipis dari kayu hitam. Tidak ada lambang kekaisaran, hanya satu garis merah membelah tengahnya. “Akses keluar-masuk,” katanya. Aku mengambilnya dengan dua tangan, merasakan permukaannya halus namun dingin. Token itu bukan untuk melewati pintu biasa, melainkan gerbang yang tidak semua orang tahu. Pejabat itu memberi isyarat kecil. “Masih ada tugas.” Aku membeku sepersekian detik. “Sekarang, Tuan?” “Sekarang.” Ia menunjuk gulungan salinan yang sudah rapi di tangan Burung Hitam. “Dokumen ini harus sampai ke tangan seseorang di luar istana sebelum matahari melewati puncak.” Aku mengangkat kepala sedikit, tanpa sadar. “Di luar istana?” Pejabat itu menatapku, dan tatapan itu cukup untuk membuatku menyesal telah menunjukkan keterkejutan. “Jangan khawatir. Kau tidak akan pergi sendirian.” Ia melirik ke sisi ruangan. “Liu.” Salah satu Burung Hitam melangkah maju. Ia lebih tinggi dariku, bahunya lebar, gerakannya senyap. Wajahnya tetap tertutup kain, tetapi di matanya ada sesuatu yang membuat kulitku mendingin. Bukan kebencian, bukan pula kesenangan, melainkan ketidakpedulian seseorang yang terbiasa menyelesaikan tugas tanpa mengingat wajah orang yang dilaluinya. “Kau ikut dengannya,” ucap pejabat itu, lalu menoleh pada Liu. “Pastikan gulungan sampai dan pastikan juru tulis ini kembali utuh.” Kembali utuh. Kalimat itu terdengar seperti belas kasihan, namun di istana, kata-kata semacam itu sering berarti sebaliknya. Jika ia tidak kembali, buang saja dan lupakan. Aku menelan ludah. “Siapa… orang yang harus menerima dokumen ini?” Pejabat itu mengangkat tangan, menghentikan pertanyaanku sebelum selesai. “Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau tahu hanya, yang menerimanya adalah orang yang tidak bisa dipanggil dengan nama.” Ia menatapku, suaranya menajam sedikit. “Dan setelah tugasmu selesai, kau akan berpura-pura tidak pernah melihat wajahnya.” Jantungku berdegup lebih cepat. Orang yang tidak boleh dipanggil namanya biasanya adalah orang yang terlalu tinggi, atau yang terlalu kotor. Kadang satu orang bisa menjadi keduanya. “Baik,” jawabku. Mereka tidak memberiku waktu untuk berpikir lagi. Kami keluar dari Paviliun Utara lewat pintu samping yang sempit, bukan lorong utama. Jalan itu melewati taman dalam, menyusuri dinding batu yang ditutupi lumut tipis, lalu menurun ke pintu kecil yang hampir menyatu dengan tembok belakang istana. Sepanjang jalan, Burung Hitam bernama Liu tidak bicara. Aku pun tidak berani memulai pembicaraan. Aku hanya mengikuti langkahnya, memegang token kayu hitam erat-erat di lengan baju. Langit pagi tampak cerah, namun hatiku tidak. Setiap pengawal yang kami lewati menunduk sedikit kepada Liu, bukan hormat kepada jabatan, melainkan takut kepada pekerjaan. Ketika kami sampai di pintu kecil itu, Liu menunjukkan tokennya kepada penjaga. Penjaga itu tidak memeriksa lama. Ia membuka pintu tanpa bertanya mempersilahkan kami keluar. Untuk sesaat, sinar matahari terasa terlalu terang. Aku tidak sering meninggalkan kompleks arsip, apalagi keluar gerbang dalam istana pada jam seperti ini. Di luar tembok batu, dunia terlihat lebih hidup. Suara burung, angin yang membawa bau tanah, dan dari kejauhan, samar-samar terdengar hiruk pikuk kota. Liu berjalan cepat, menyusuri jalan yang tidak biasa dilewati rakyat. Kami melewati gang kecil, melewati pintu kayu yang tak berlabel, lalu akhirnya tiba di tempat yang tampak seperti gudang tua dengan pintu depan retak, papan nama pudar. Liu mengetuk tiga kali dengan gerakan lambat, cepat, lambat. Pintu terbuka sedikit. Dari dalam, muncul seorang pria tua berambut putih, matanya menyipit tajam. Liu tidak berkata apa pun. Ia hanya menunjukkan token garis merah itu lagi. Orang tua itu membukakan pintu lebar. “Masuk,” katanya pendek. Kami masuk ke gudang itu, tetapi di dalamnya tidak ada bau barang busuk atau kayu basah. Justru bau cendana tipis. Di sudut ada meja kecil, ada teko teh, dan di lantainya terdapat sebuah karpet lusuh. Orang tua itu menutup pintu rapat-rapat, lalu menatapku. “Juru tulis?” tanyanya. Aku menelan ludah. “Ya.” Orang tua itu mendekat, mengitari aku sekali seperti menilai barang. Lalu ia berkata pada Liu, “Anak ini terlalu bersih untuk pekerjaan seperti ini.” Liu menjawab datar, “Itu bukan urusanmu.” Orang tua itu terkekeh, tapi tidak ada tawa di matanya. Ia menoleh padaku lagi. “Namamu?” Aku ragu. Aku seharusnya tidak memberi nama, tapi jika aku terlalu diam, itu bisa dianggap tidak sopan dan orang-orang ini bukan orang yang menghargai alasan. Aku menjawab pelan, “Shen Yu.” Orang tua itu mengangguk seolah menyimpan nama itu untuk kebutuhan lain. “Ikuti aku.” Ia membawa kami ke belakang gudang, melewati rak kosong, sampai tiba di sebuah pintu jebakan di lantai. Ia menggeser karpet, membuka pintu itu. Tangga batu menurun ke bawah, gelap dan sempit. Tanpa menunggu kami, ia turun duluan. Liu memberi isyarat singkat agar aku ikut. Aku menuruni tangga, pelan, menjaga agar tidak terpeleset. Bau tanah lembap naik. Di bawah, ruangan sempit terbuka, semacam lorong bawah tanah. Dindingnya batu kasar, tetapi bersih. Aku merasakan udara lebih dingin dan lebih tua. Lorong itu tidak panjang, namun berkelok dua kali. Di ujungnya ada pintu besi. Orang tua itu mengetuk pintu besi dengan pola yang sama, lambat, cepat, lambat. Pintu terbuka dari dalam. Bukan penjaga yang muncul, melainkan seorang pria muda berpakaian sederhana. Rambutnya terikat rapi, wajahnya biasa—terlalu biasa untuk tempat seperti ini. Namun ketika matanya menatap kami, aku merasakan tekanan yang sulit dijelaskan, seperti berada di dekat seorang pendekar yang tidak sedang menunjukkan pedang, tetapi bisa menebas kapan saja. Pria muda itu menatap Liu. “Gulungan?” tanyanya. Liu mengangkat gulungan yang dibawa. “Perintah Paviliun Utara.” Pria muda itu mengulurkan tangan. Namun sebelum Liu menyerahkan, pria muda itu menatapku. “Siapa dia?” Aku menahan napas. Liu menjawab tanpa emosi, “Tangan yang menyalin.” Pria muda itu menatapku lama—terlalu lama—seolah menimbang apakah aku ancaman, beban, atau sekadar serangga. Aku berdiri tegak, menunduk sedikit sebagaimana etika istana. “Hamba hanya menjalankan perintah.” Mata pria muda itu menyipit halus. Ia berkata pelan, seperti sedang memberi nasihat yang tidak akan terdengar sebagai ancaman. “Di luar istana, tulisan bisa lebih berbahaya dari pedang. Karena pedang membunuh satu tubuh, tetapi tulisan membunuh sebuah nama.” Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menunduk lebih dalam. Pria muda itu akhirnya mengambil gulungan dari Liu, menggulungnya lebih rapat, lalu menyelipkannya ke dalam lengan bajunya. Ia menoleh pada orang tua, memberi isyarat kecil. Orang tua itu melangkah mundur. Namun pria muda itu belum pergi. Ia masih menatapku. “Shen Yu,” ucapnya, memanggil namaku tanpa perlu bertanya lagi. Darahku seakan turun. Liu juga tampak sedikit tegang, meski hanya dari perubahan kecil pada bahunya. Pria muda itu melanjutkan, “Kau orang istana. Kau tahu cara diam. Itu bagus.” Ia melangkah mendekat, hanya satu langkah, tapi cukup membuat dadaku sesak. Lalu ia berkata, lebih pelan, “Jika suatu hari kau ingin hidup, jangan menunggu istana mengizinkanmu bernapas.” Aku tidak mengerti maksudnya sepenuhnya. Namun aku mengerti makna di baliknya, istana tidak pernah berniat membiarkanmu hidup lama. Pria muda itu mundur. Dalam sekejap, pintu besi tertutup kembali. Suara besi bertemu besi terdengar berat. Aku berdiri terdiam, merasakan keringat dingin mengalir di punggungku. Orang tua itu menatap kami, lalu mengangkat bahu kecil seolah urusan selesai. Liu menoleh padaku. “Kita kembali.” Aku berjalan di belakangnya melewati lorong yang sama, menaiki tangga, keluar ke dunia siang yang hangat, seakan-akan aku baru saja pulang dari tempat yang bahkan tidak seharusnya ada di bawah kota. Namun sebelum kami kembali ke istana, Liu berhenti di gang sempit, menatapku. “Dengar,” ucapnya. “Hari ini kau melakukan tugas dengan baik. Jangan merasa itu membuatmu aman.” Aku menatapnya. Ia melanjutkan, suaranya tetap datar, tetapi kini seperti mengandung sesuatu yang lebih tajam. “Istana tidak membuang alat yang masih berguna. Tapi setelah alat selesai dipakai…” Kalimat itu tidak selesai. Ia tidak perlu menyelesaikannya. Kami kembali berjalan. Dan di sepanjang jalan pulang, aku tahu satu hal dengan pasti, aku telah menyentuh dunia luar istana. Jianghu yang penuh bayangan dan ia telah menyentuhku balik. Sejak hari ini, tidak ada lagi batas yang jelas antara tinta dan pedang.Malam itu Yunling terasa seperti sarang yang ditusuk dari dalam. Kabut turun semakin tebal, menelan jalan setapak dan menutupi lentera-lentera yang tergantung di pohon pinus. Kadang cahaya tampak seperti titik kecil yang hampir mati, lalu menghilang lagi. Angin dingin menyapu dinding kayu Paviliun Pengawas, membuatnya berderit pelan, seolah bangunan pun sedang waspada. Aku duduk di depan meja, menatap gulungan salinan yang sudah diikat kembali oleh Lin Suyin. Benangnya hitam, simpulnya rapi, kain pembungkusnya bersih. Semuanya tampak seperti benda yang sudah lama disiapkan, bukan benda yang ‘kebetulan’ ditemukan malam ini. Lin Suyin berdiri di sisi pintu, telinga tajamnya menangkap suara diluar. Ia tidak menyalakan pelita terang, hanya lentera kecil yang redup, tapi cukup untuk membuat ruangan berpendar hangat. “Masih ada waktu,” katanya pelan. Aku mengangkat kepala. “Sampai pagi?” Lin Suyin mengangguk. “Sampai Han Qiao membawa gulungan itu ke tetua. Setelah itu… semua sudah
Paviliun Pengawas terasa lebih sempit ketika aku kembali. Bukan karena dindingnya bergerak, melainkan karena setelah sidang tadi, aku akhirnya mengerti, Yunling tidak menahanku demi melindungi, tetapi demi memastikan aku tetap berada di tempat ketika mereka membutuhkan kambing hitam. Dua karakter yang kutulis di aula masih terbayang di mata: 忍 dan 任. Aku menulisnya sebagai cara bertahan, sebagai cara menahan nama lamaku agar tidak bangkit. Tetapi aku tahu, bagi orang-orang yang memandangku dengan curiga, permainan karakter hanya akan dianggap licik. Lin Suyin berjalan di belakangku sepanjang jalan pulang tanpa berkata apa pun. Aku bisa merasakan napasnya tertahan seperti marah yang tidak dikeluarkan, curiga yang terus bekerja. Begitu pintu paviliun tertutup, ia menoleh padaku. “Kau sengaja menulis 任?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. “Aku tidak bisa menulis nama lamaku.” Lin Suyin menatapku beberapa napas, lalu berkata, “Benar.” Aku terkejut. Lin Suyin menambahkan, “Kalau k
Pagi di Yunling datang dengan bunyi lonceng yang berat dan dingin. Kabut belum pergi ketika seorang murid datang ke Paviliun Pengawas, mengetuk pintu tiga kali dengan ritme resmi. Aku sudah duduk sejak sebelum fajar, karena tidurku patah-patah oleh bayangan jarum racun dan suara pedang di dalam gelap. Di luar, dua penjaga berganti jaga. Di dalam, Lin Suyin berdiri seperti biasa—diam, tetapi siaga. Murid itu menangkupkan tangan pada Lin Suyin. “Saudara Lin. Tetua memanggil Ren ke Aula Pedang.” Dadaku langsung mengencang, tapi Lin Suyin tidak tampak terkejut. “Sekarang?” “Sekarang,” jawab murid itu. Aku menarik napas pelan dan berdiri. Kakiku masih terasa nyeri, tetapi aku memaksa wajahku tetap tenang. Aku sudah menjadi “tamu” Yunling. Artinya setiap langkahku akan dinilai. Kami berjalan menuju Aula Pedang melewati halaman latihan. Pagi itu lebih ramai dari kemarin. Murid-murid berlatih, namun tidak ada tawa. Pedang beradu dengan suara yang terlalu keras, seperti orang yang
Paviliun Pengawas berdiri di sisi timur Yunling, sedikit lebih tinggi daripada Paviliun Samping. Tempat itu tidak besar, namun posisinya seperti mata yang menatap lereng gunung. Dari serambinya, aku bisa melihat jalan setapak menuju gerbang, barisan pohon pinus, juga kabut yang menggulung turun seperti ombak. Di sinilah orang-orang sekte menahan tamu yang “terlalu penting untuk dilepas” dan “terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.” Aku disuruh duduk di dalam ruangan kayu yang cukup rapi. Tidak ada tali yang mengikat, tetapi dua murid berjaga di luar pintu, pedang mereka tidak pernah jauh dari tangan. Lin Suyin berdiri di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tiang, matanya menghadap ke luar jendela yang tertutup setengah. Ia tidak bicara. Ia tampak seperti patung yang diletakkan untuk mengingatkan bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak bebas. Aku mencoba menenangkan detak jantungku. Kabut di luar bergerak pelan, namun pikiranku bergerak lebih cepat. Aku teringat kat
Malam di Yunling biasanya sunyi. Sekte pedang tidak suka suara berlebihan setelah lonceng malam berbunyi. Para murid kembali ke paviliun masing-masing, tetua beristirahat, dan hanya penjaga gerbang yang tetap berjalan di lorong-lorong batu, langkah mereka teratur seperti ritme napas. Namun malam ini, kesunyian itu patah. Aku mengikuti Lin Suyin keluar dari Paviliun Samping dengan jubahku yang basah oleh kabut dan keringat dingin. Di belakang kami, lentera paviliun bergoyang pelan, seolah ikut gemetar. Lin Suyin tidak memberi waktu untuk menenangkan diri, tidak memberi ruang untuk bertanya. Ia menggenggam lenganku kuat, menarikku berjalan cepat di bawah pohon pinus yang menjulang seperti bayangan. “Kau yakin harus sekarang?” bisikku. Lin Suyin tidak menoleh. “Sekarang atau terlambat.” Kami melewati jalan setapak yang naik ke Aula Pedang. Kabut makin tebal. Aku hampir tidak bisa melihat ujung langkahku sendiri. Di kejauhan, suara gong kecil terdengar sekali, lalu dua kali seba
Langit di Yunling selalu tampak lebih dekat. Kabut menggantung di antara pohon pinus, menyapu pelan atap-atap bangunan sekte yang berjajar rapi di lereng gunung. Angin membawa aroma kayu basah dan daun, serta satu bau lain yang tidak pernah ada di istana, bau besi dari pedang yang sering disarungkan dan ditarik, bau keringat latihan, bau tanah yang diinjak ribuan langkah. Aku berjalan mengikuti seorang murid sekte menuju Paviliun Samping, tempat aku ditempatkan. Di belakangku, Aula Pedang sudah tertutup kembali, namun suasana barusan tidak hilang begitu saja. Kata-kata tetua masih menempel di telingaku. Mandat Langit. Aku bahkan tidak tahu sepenuhnya apa maksudnya, tapi aku tahu itu bukan istilah ringan. Istana tidak akan mengirim Burung Hitam, sekte tidak akan menghunus pedang di gerbang, hanya untuk sesuatu yang kecil. Murid yang membawaku tidak berbicara banyak. Wajahnya muda, mungkin baru belasan, tetapi langkahnya tegas. Di pinggangnya ada pedang pendek, tangannya sesek







