Beranda / Fantasi / Mandat Langit / Bab 2 — Malam Yang Tidak Tenang

Share

Bab 2 — Malam Yang Tidak Tenang

Penulis: Chouw
last update Tanggal publikasi: 2026-02-03 06:56:27

Malam turun perlahan di atas atap-atap istana. Dari jendela tinggi Kompleks Arsip, langit tampak seperti sutra gelap yang ditarik rapat, sementara pelita-pelita minyak di lorong menyala kuning pucat, cukup untuk menampakkan jalan, tetapi tidak cukup terang untuk menenangkan hati.

Aku masih berada di ruang penyortiran ketika lonceng malam pertama berbunyi.

Di atas meja batu, peti dari Paviliun Utara tetap terbuka setengah, dan meski aku sudah menutupnya kembali, bayangannya seolah masih menempel di mataku. Cap merah yang tidak biasa, susunan gulungan yang terlalu rapi, serta tanggal yang seharusnya tidak pernah ditulis. Semua itu membuat gerakan tanganku sepanjang sore terasa kaku, seperti jari-jariku bukan lagi milikku.

Setelah mencatat entri yang aman di registrasi, aku mencoba melakukan apa yang biasa kulakukan setiap hari, yaitu bekerja. Menyortir dokumen lain, mengikat gulungan, memberi nomor, menutup laci. Namun tiap kali kuletakkan satu gulungan, ingatanku kembali pada satu nama yang tertulis di bawah cap kekaisaran itu.

Nama yang tidak boleh ada.

Aku memaksa pikiranku tenang. Di istana, ketenangan bukan hadiah, justru ketenangan adalah perisai terakhir.

“Juru tulis Shen.”

Suara itu datang dari pintu. Aku menoleh dan melihat Pengawas Arsip berdiri di ambang. Pakaian hitamnya tetap rapi tanpa lipatan, seolah ia tidak pernah duduk, tidak pernah beristirahat. Wajahnya tampak biasa saja, namun mata seperti itu tidak pernah benar-benar biasa, seperti mata yang sudah terlalu lama melihat orang jatuh, dan terlalu jarang terkejut.

“Ada perintah,” katanya.

Aku segera berdiri dan menunduk. “Silakan, Tuan Pengawas.”

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti di sisi meja batu, tepat di dekat peti Paviliun Utara. Ia tidak menyentuhnya. Tidak membuka. Bahkan tidak menatap segelnya terlalu lama. Tetapi aku merasakan udara di ruangan itu berubah, seperti pelita menjadi sedikit lebih kecil, bayangan sedikit lebih panjang.

“Kau akan berjaga malam ini,” ucapnya datar. “Di ruang arsip timur. Rak khusus. Sampai lonceng ketiga.”

Aku hampir tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Juru tulis tingkat rendah seperti aku jarang diberi jaga malam, kecuali bila ada perintah khusus atau bila ada yang ingin memastikan seseorang tetap berada dalam jangkauan.

“Baik,” jawabku cepat. “Aku akan menjalankan perintah.”

Pengawas menatapku sejenak. Lalu ia mengeluarkan token perak dari lengan bajunya. Benda kecil, dingin, dan memantulkan cahaya pelita.

“Ini akses untuk rak khusus,” katanya. “Jika ada orang bertanya, tunjukkan ini. Jangan bicara lebih.”

Aku menerima token itu dengan dua tangan. “Baik.”

Ia berbalik pergi tanpa suara. Dan seperti kebiasaan di istana, aku tidak diberi alasan, tidak diberi penjelasan, hanya diberi tugas yang cukup untuk membuat malamku terasa panjang.

Ketika langkahnya menghilang di lorong, aku menatap token itu di telapak tanganku. Lambang di permukaannya adalah lambang istana, tetapi terukir tambahan garis kecil di bawahnya, tanda khusus untuk bagian arsip yang tidak masuk daftar umum.

Rak khusus adalah tempat dokumen paling mudah menghilang.

Aku menelan ludah sekali lagi, lalu menutup peti Paviliun Utara rapat-rapat. Aku pastikan segelnya utuh, benangnya masih pada tempatnya, lalu kubawa peti itu sendiri ke ruang arsip timur.

Lorong istana pada malam hari berbeda dengan siang. Pada siang, orang bisa menahan diri dengan kebisingan langkah para pejabat, suara kertas, denting tinta, panggilan pengawas. Pada malam, tak ada tempat bersembunyi. Bunyi sekecil apa pun terdengar jelas. Bahkan napas sendiri bisa terasa seperti pengkhianatan.

Aku melewati halaman kecil, melewati kolam lotus yang airnya hitam, melewati dinding batu dengan ukiran naga. Angin berembus dari arah utara membawa hawa dingin yang menembus kain tipis jubah juru tulis. Aku merapatkan kerah bajuku, tetapi tidak ada kain yang cukup tebal untuk menahan rasa cemas.

Di pintu ruang arsip timur, dua pengawal berdiri, membawa tombak panjang. Mereka menatap peti di tanganku, lalu menatap token perak yang kugantungkan di jari. Salah satu mengangguk pelan.

“Masuk,” katanya.

Aku mengangguk, melangkah masuk.

Ruang arsip timur lebih tua dari ruang utama. Di sini kayu rak berwarna lebih gelap, lantai batu lebih dingin, dan bau tinta bercampur lebih tajam dengan bau kertas tua. Pelita di dinding hanya ada dua, membuat bagian tengah ruangan redup. Di ujung ruangan terdapat pintu kecil berpagar kayu, diatasnya bertuliskan ‘Rak Khusus’.

Aku berjalan ke sana, lalu memasukkan token ke slot kunci. Suara klik pelan terdengar. Pintu terbuka.

Di dalamnya, rak-rak lebih rapat. Setiap gulungan dibungkus kain, diberi label kecil tanpa penjelasan lengkap. Tidak ada registrasi di sini. Hanya orang tertentu yang tahu apa yang disimpan, dan orang seperti aku seharusnya tidak pernah merasa penasaran.

Namun malam ini, peti dari Paviliun Utara harus diletakkan di sini.

Aku meletakkan peti itu di rak bawah dengan hati-hati, tepat di antara dua kotak kayu lain yang bersegel. Setelah itu, aku menutup pintu pagar dan mengunci kembali. Token perak terasa makin dingin di tanganku.

Tugas jaga malam seharusnya sederhana. Aku Hanya duduk, menunggu, memastikan tidak ada kebakaran atau pencurian. Tetapi di istana, menunggu adalah bentuk lain dari sebuah ketakutan.

Aku duduk di bangku kecil dekat pelita. Di pangkuanku, buku kecil catatan jaga tergeletak. Sebenarnya aku harus menulis jam demi jam, tetapi pena terasa berat. Aku memaksa diriku menulis satu kalimat pendek, “Malam tenang. Tidak ada kejadian.”

Kalimat itu belum selesai ketika suara langkah terdengar dari luar.

Aku berhenti menulis.

Langkah itu pelan, seperti orang yang tahu bahwa lantai batu dapat mengkhianati siapa pun. Langkah itu bukan langkah pengawal berjaga yang biasa lewat. Pengawal selalu punya ritme tegas, seperti tentara. Yang ini lebih seperti bayangan.

Aku menahan napas dan memegang token perak di saku.

Pintu utama ruang arsip timur terbuka sedikit, lalu seseorang masuk. Ia mengenakan pakaian istana warna gelap, bukan seragam pengawal. Di pinggangnya menggantung pedang pendek, jenis pedang yang dipakai untuk tugas cepat, bukan untuk duel. Wajahnya tertutup setengah oleh kain hitam, hanya matanya yang terlihat—mata yang tidak menunjukkan emosi.

Aku berdiri perlahan, menjaga suaraku tetap tenang. “Siapa di sana?”

Orang itu tidak menjawab. Ia melangkah satu langkah lagi, dan cahaya pelita menyentuh lambang kecil di dadanya, sebuah simbol burung hitam.

Aku tahu simbol itu. Bahkan juru tulis rendahan seperti aku tahu.

Burung hitam adalah telinga istana. Orang-orang yang bekerja di bawah perintah langsung pejabat tinggi. Mereka tidak punya nama di daftar. Mereka datang tanpa pemberitahuan dan pergi tanpa jejak. Kadang-kadang mereka membawa dokumen. Lebih sering, mereka membawa perintah.

Dan terkadang mereka membawa akhir.

Tanganku berkeringat, tetapi aku memaksa diri tetap berdiri wajar, seperti seorang juru tulis yang tidak tahu apa-apa.

“Aku sedang berjaga,” kataku. “Jika Anda punya izin untuk masuk rak khusus, mohon tunjukkan token.”

Orang itu berhenti tepat di depan pelita. Lalu dengan gerakan yang sangat tenang, ia mengeluarkan token lain berwarna hitam, bukan perak. Di permukaannya hanya ada satu karakter, 禁.

*Terlarang.

Itu bukan izin biasa. Itu adalah izin yang menghapus semua tanya.

Aku menelan ludah. “Silakan.”

Orang itu melangkah melewatiku seolah aku tidak ada, lalu menuju pintu pagar rak khusus. Aku melihatnya membuka kunci tanpa ragu. Ia masuk ke dalam, dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara kayu bergeser.

Suara peti.

Aku berdiri kaku, menatap lurus ke depan. Dalam kepalaku, ada dua pilihan yang sama-sama buruk. Jika aku melangkah dan mengintip, aku mati. Jika aku tetap diam, aku mungkin tetap hidup, tetapi hidup yang seperti apa?

Aku tidak bergerak. Waktu seakan berjalan lambat seperti air dingin.

Akhirnya orang itu keluar membawa peti dari Paviliun Utara. Ia menutup pagar, menguncinya kembali, dan berjalan ke arah pintu tanpa menatapku.

Namun ketika ia melewati sampingku, ia berhenti sejenak. Hanya sejenak. Tapi aku merasakan tatapan matanya langsung mengarah ke wajahku.

Kemudian ia berkata dengan suara pelan, seperti orang yang sedang berbicara pada udara. “Kau sudah membaca?”

Jantungku hampir jatuh, tapi aku memaksa bibirku bergerak. “Aku tidak berani, Tuan.”

Hening beberapa napas. Lalu orang itu melanjutkan langkahnya. Pintu tertutup kembali. Suara langkahnya menghilang dalam lorong.

Aku berdiri tanpa bergerak lama sekali sampai akhirnya napasku kembali normal.

Pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa, itu sebuah peringatan.

Dan dalam istana, peringatan seperti itu berarti satu hal, seseorang sudah tahu aku melihat terlalu banyak. Bahkan mungkin mereka sudah tahu aku tidak mencatat isi peti di registrasi.

Aku duduk perlahan, memegang lututku agar tidak gemetar. Pelita masih menyala, tetapi cahaya itu terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih jauh.

Aku menatap pintu rak khusus. Peti itu sudah pergi.

Dengan begitu, satu-satunya benda yang tersisa di ruangan ini bukan peti, bukan dokumen, bukan segel. Yang tersisa hanyalah diriku dan pikiranku.

Aku baru menyadari sesuatu yang membuat darahku seperti turun ke dasar kaki. Aku telah diberi tugas jaga bukan untuk menjaga dokumen, melainkan untuk memastikan aku berada di tempat ketika mereka datang.

Seolah aku adalah bagian dari rencana. Seolah aku sedang diperiksa.

Lonceng kedua berbunyi dari menara jauh. Suaranya berat, melintasi lorong-lorong batu dan halaman-halaman sepi.

Aku kembali menulis di buku jaga dengan tangan yang lebih kaku daripada sebelumnya.

“Malam tidak tenang.”

Namun bahkan kalimat itu pun kuhapus. Aku menutup buku itu tanpa menulis apa pun lagi.

Di istana, kalimat bisa menjadi pedang.

Aku, Shen Yu, hanya juru tulis rendahan. Aku tidak punya pedang, tidak punya nama besar. Yang kumiliki hanya kemampuan untuk bertahan.

Dan malam ini aku mengerti, untuk bertahan hidup di istana, terkadang yang harus kulakukan bukan melarikan diri melainkan berpura-pura tidak tahu, meski setiap tulang dalam tubuhku menjerit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mandat Langit   Bab 14 — Orang Baik yang Datang Terlalu Cepat

    Paviliun Pengawas berdiri di sisi timur Yunling, sedikit lebih tinggi daripada Paviliun Samping. Tempat itu tidak besar, namun posisinya seperti mata yang menatap lereng gunung. Dari serambinya, aku bisa melihat jalan setapak menuju gerbang, barisan pohon pinus, juga kabut yang menggulung turun seperti ombak. Di sinilah orang-orang sekte menahan tamu yang “terlalu penting untuk dilepas” dan “terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.” Aku disuruh duduk di dalam ruangan kayu yang cukup rapi. Tidak ada tali yang mengikat, tetapi dua murid berjaga di luar pintu, pedang mereka tidak pernah jauh dari tangan. Lin Suyin berdiri di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tiang, matanya menghadap ke luar jendela yang tertutup setengah. Ia tidak bicara. Ia tampak seperti patung yang diletakkan untuk mengingatkan bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak bebas. Aku mencoba menenangkan detak jantungku. Kabut di luar bergerak pelan, namun pikiranku bergerak lebih cepat. Aku teringat kat

  • Mandat Langit   Bab 13 — Pedang yang Terhunus di Tengah Malam

    Malam di Yunling biasanya sunyi. Sekte pedang tidak suka suara berlebihan setelah lonceng malam berbunyi. Para murid kembali ke paviliun masing-masing, tetua beristirahat, dan hanya penjaga gerbang yang tetap berjalan di lorong-lorong batu, langkah mereka teratur seperti ritme napas. Namun malam ini, kesunyian itu patah. Aku mengikuti Lin Suyin keluar dari Paviliun Samping dengan jubahku yang basah oleh kabut dan keringat dingin. Di belakang kami, lentera paviliun bergoyang pelan, seolah ikut gemetar. Lin Suyin tidak memberi waktu untuk menenangkan diri, tidak memberi ruang untuk bertanya. Ia menggenggam lenganku kuat, menarikku berjalan cepat di bawah pohon pinus yang menjulang seperti bayangan. “Kau yakin harus sekarang?” bisikku. Lin Suyin tidak menoleh. “Sekarang atau terlambat.” Kami melewati jalan setapak yang naik ke Aula Pedang. Kabut makin tebal. Aku hampir tidak bisa melihat ujung langkahku sendiri. Di kejauhan, suara gong kecil terdengar sekali, lalu dua kali seba

  • Mandat Langit   Bab 12 — Paviliun Samping

    Langit di Yunling selalu tampak lebih dekat. Kabut menggantung di antara pohon pinus, menyapu pelan atap-atap bangunan sekte yang berjajar rapi di lereng gunung. Angin membawa aroma kayu basah dan daun, serta satu bau lain yang tidak pernah ada di istana, bau besi dari pedang yang sering disarungkan dan ditarik, bau keringat latihan, bau tanah yang diinjak ribuan langkah. Aku berjalan mengikuti seorang murid sekte menuju Paviliun Samping, tempat aku ditempatkan. Di belakangku, Aula Pedang sudah tertutup kembali, namun suasana barusan tidak hilang begitu saja. Kata-kata tetua masih menempel di telingaku. Mandat Langit. Aku bahkan tidak tahu sepenuhnya apa maksudnya, tapi aku tahu itu bukan istilah ringan. Istana tidak akan mengirim Burung Hitam, sekte tidak akan menghunus pedang di gerbang, hanya untuk sesuatu yang kecil. Murid yang membawaku tidak berbicara banyak. Wajahnya muda, mungkin baru belasan, tetapi langkahnya tegas. Di pinggangnya ada pedang pendek, tangannya sesek

  • Mandat Langit   Bab 11 — Gerbang Yunling

    Gerbang Sekte Pedang Yunling berdiri tinggi, terbuat dari kayu hitam tua dengan paku-paku besi besar. Di atasnya, papan nama sekte digantung, tulisannya tegas dan rapi, seolah setiap garis tinta merupakan sumpah yang tidak bisa ditarik kembali. Di sisi gerbang, dua patung batu berbentuk singa penjaga menatap ke bawah, matanya tajam meski hanya pahatan. Kabut gunung menyelimuti lereng dan merangkak di kaki tangga, membuat tempat itu tampak seperti batas antara dunia manusia dan dunia para pendekar. Namun yang paling membuat nafasku berat bukan gerbang itu. Melainkan orang-orang yang menunggu di depan gerbang. Lima pendekar sekte berdiri membentuk setengah lingkaran. Mereka masih muda, tetapi aura mereka tidak demikian. Jubah mereka berwarna putih kebiruan dengan sabuk gelap. Di pinggang masing-masing tergantung pedang Yunling, sarungnya sederhana, namun bentuk gagangnya seragam, menandakan kedisiplinan. Semua pedang mereka sudah terhunus. Itu bukan sambutan. Itu semacam vonis y

  • Mandat Langit   Bab 10 — Aturan di Dunia Jianghu

    Kami meninggalkan penginapan sebelum hujan benar-benar reda. Langit masih gelap. Awan menggantung rendah seperti kain basah yang tidak mau terangkat. Jalan batu yang tadi ramai kini berubah licin dan sunyi. Tidak banyak orang berani keluar pada malam seperti itu, kecuali mereka yang tidak punya pilihan atau mereka yang justru memilih gelap sebagai tempat tinggal. Lin Suyin berjalan lebih dulu, memimpin jalur yang tidak biasa, bukan jalan utama, melainkan jalur setapak di balik kebun dan ladang, melewati pagar bambu, menyusuri tepian hutan kecil yang dipenuhi bau tanah basah. Aku mengikutinya, meski langkahku berat. Setiap kali kakiku menginjak lumpur, sepatuku terasa semakin berat, seolah aku menarik masa laluku sendiri. Nafasku tidak teratur. Lututku masih nyeri karena jatuh dari jendela. Namun aku tetap berjalan karena rasa takut mengalahkan rasa sakit. Kami tidak bicara untuk waktu yang lama. Baru ketika kami melewati bukit kecil dan tidak lagi melihat cahaya penginapan d

  • Mandat Langit   Bab 9 — Hujan dan Burung Hitam

    Malam turun cepat setelah senja, seolah langit tidak ingin memberi waktu untuk bersiap. Aku baru saja duduk ketika Lin Suyin berkata bahwa orang-orang yang mengejarku bukan bandit. Kata-kata itu belum sempat kupahami sepenuhnya, tetapi tubuhku sudah lebih dulu merasakan bahaya. Udara di lorong penginapan terasa lebih berat, suara di bawah makin berkurang, dan entah kenapa, pelita-pelita di dinding tampak lebih redup daripada biasanya. Lin Suyin berdiri dekat jendela, membuka celah kecil pada daun kayu dan menatap keluar. Beberapa saat kemudian, ia menutup kembali jendela dengan gerakan cepat. “Hujan akan turun,” katanya. Aku menatapnya. “Itu masalah?” Lin Suyin tidak langsung menjawab. Ia memungut jubah luarnya yang tergantung di kursi, menyampirkannya ke bahu, lalu berkata, “Hujan menutupi jejak, tapi juga menutupi suara. Orang-orang yang datang tidak akan peduli apakah kau mendengar mereka atau tidak. Mereka hanya perlu tiba di tempatmu.” Jantungku berdetak keras. Aku in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status