Home / Urban / Manjanya Nyonyaku / Bab 11 Cemburu sama Dewi

Share

Bab 11 Cemburu sama Dewi

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-16 09:47:52

"Saya cuma ngikutin yang Nyonya bilang, satu-satu. Yang kanan dari bawah, yang kiri ikut napas."

Laras tertawa setengah, lalu menahannya karena jempol Dimas kembali mengusap pentilnya. Tangannya mencengkeram bahu Dimas, dan kepalanya mendongak ke lampu ruang ganti.

Celana Dimas sudah mengencang dari tadi, tetapi kedua tangannya tetap di dada itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 56

    Dimas berjalan menyusuri lorong menuju mesin es di ujung. Sementara itu, karpet tebal meredam langkahnya, sehingga hanya dengung mesin yang terdengar dari kejauhan.Mesin es itu ternyata dipasang persis di seberang pintu 1512. Selagi bongkahan es berjatuhan ke ember, pintu 1512 terbuka dan Bella melangkah keluar memakai jubah mandi hotel dengan rambut yang masih basah. Dia juga membawa ember kecil, dan dia berhenti mendadak begitu matanya bertemu mata Dimas."Mas Dimaaas! Kok bisa ketemu di sini? Mas juga nginep di hotel ini? Kamarnya nomor berapa?""Sa-saya cuma nemenin Nyonya, Mbak. Beliau minta diambilin es, jadi saya turun ke sini."Bella terkikik dan mengalihkan pandangan ke ujung lorong yang jauh, tempat pintu 1507 berada. "Oh, jagain Nyonya. Setia banget ya jadi sopir pribadi. Pak Eja tahu Mas ada di sini?""Pak Reza kan di 1508, Mbak, jadi tentu beliau tahu kami nginap di sini.""Oh, di 1508, ya? Kok Mas Dimas yakin banget Pak Eja ada di sana?" Bella tersenyum makin lebar.Dim

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 55

    Di depan lift, Laras menahan pintu yang hampir menutup dengan satu tangan. Namun, dia tidak bertanya apa pun sampai mereka berdua berdiri sendirian di dalam lift. Dimas nyaris menceritakan kalimat terakhir Reza, tetapi dia menelannya kembali karena tahu kalimat itu hanya akan melukai Laras lebih dalam."Wajah kamu putih banget, Dim. Mas Reza bilang apa sampai kamu begini?""Beliau minta kita nginap lagi malam ini, Nya. Katanya jangan dulu pulang, soalnya sekali belum tentu berhasil.""Cuma itu? Kamu nggak pandai bohong, Dim, jadi ceritanya boleh ditunda sampai kamu siap." Laras mengelus lengan Dimas dua kali, lalu menatap angka lantai yang berganti.Di depan kamar 1507, Laras menyuruh Dimas menaruh tas dan langsung berangkat ke rumah sakit tanpa perlu menunggunya. Karena badannya masih lemas, dia mau tidur sampai sore, sehingga Dimas lebih baik menghabiskan siang bersama adiknya."Tolong sampaikan ke Kirana kalau Tante Cantik janji datang pas badan Tante udah segar lagi. Kamu juga jan

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 54

    Laras mengangkat pinggulnya, memegang milik Dimas, dan menurunkan tubuhnya sampai menyatu. Air bak bergoyang dan tumpah lagi ke lantai, dan Laras menahan napas dengan alis berkerut."Dim, aku mau kamu yang dorong dari bawah. Aku pegang pinggir bak aja biar nggak jatuh."Lalu, Dimas memegang pinggul Laras dengan kedua tangan dan mendorong dari bawah dengan gerakan cepat. Laras berpegangan ke pinggir bak, dan desahannya memantul keras di dinding keramik sampai dia sendiri kaget."Ahh... Dim, suaraku... kedengeran banget... ahh!""Tuan Reza pasti dengar, Nya. Tapi, saya nggak mau berhenti kalau Nyonya nggak mau.""Jangan berhenti, Dim! Terus, jangan berhenti sekarang!"Dimas menarik pinggul Laras makin dalam, dan air bak berombak keras mengikuti ritmenya. Napasnya berat dan otot pahanya menegang, sampai akhirnya dia menahan Laras erat-erat dan semuanya keluar di dalam.Blup.Mereka diam cukup lama di dalam air yang mulai mendingin. Laras menyandarkan pipinya ke bahu Dimas, dan Dimas meng

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 53

    Dimas menekan lebih dalam, dan menarik pinggul Laras ke arahnya setiap kali dia maju. Bunyi kulit yang beradu terdengar di kamar yang sunyi, dan Laras memegang kaca erat-erat sampai buku jarinya memutih."Nya, saya sudah nggak tahan. Saya boleh keluar di dalam?""Boleh, Dim. Ini masih masa subur, dan aku mau kamu selesai di dalam."Dimas menekan sampai pangkal, lalu menempelkan dahinya ke bahu Laras. Tubuhnya bergetar hebat, dan semuanya tumpah di dalam Laras dalam beberapa hentakan pendek.Crat."Hangat banget, Dim. Jangan dicabut dulu, diam begini sebentar aja."Mereka berdua terus menempel di kaca dan memandangi lampu kota yang berkedip di bawah. Dimas merasakan jantungnya berdetak kencang di punggung Laras, dan dia sadar dia berada di sini karena dia sendiri mau. Dia ingin tetap di sini lebih lama, dan itu membuatnya takut.Lalu terdengar tiga ketukan pelan dari tembok sebelah, masing-masing berjeda cukup lama.Tok, tok, tok.Begitu ketukan ketiga dari tembok sebelah selesai, Lara

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 52

    "Bagus, soalnya kamu emang nggak boleh cepet-cepet dilepas." Laras terkekeh, lalu merangkak naik dan duduk di pinggang Dimas.Dia mendekatkan bibir ke telinga Dimas, kemudian bicara dengan suara yang sengaja dinaikkan supaya terdengar sampai tembok sebelah. "Dim, tahu nggak, waktu kamu angkat karung tanah di halaman, aku sering ngintip dari jendela kamar. Lengan kamu waktu itu ngencang begini, dan aku susah banget ngalihin mata.""Nyonya ngintip? Saya kira Nyonya lagi nyiram anggrek di teras.""Dua-duanya, Dim. Nyiram anggrek sambil ngintip kamu, dan aku nggak merasa bersalah sedikit pun." Laras mencium leher Dimas, lalu turun ke tulang selangkanya.Bibirnya bergerak ke dada, berhenti sebentar di puting, lalu menyusuri perut Dimas sampai ke pinggang. Dimas menarik napas dalam, dan otot perutnya menegang di bawah bibir Laras."Perut ini yang bikin aku susah tidur dua minggu, Dim. Dan paha ini, yang tiap hari nahan badan kamu waktu nyangkul.""Terima kasih, Nya. Tapi, kalau Nyonya terus

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 51

    "Kantong apa itu, Bu? Kok warnanya krem semua?"Laras tersenyum lebar dan memeluk kantong-kantong itu ke dadanya. "Titipan teman, Bi. Dim, tunggu di mobil sebentar ya, aku naik dulu ke atas."Sepuluh menit kemudian, Laras turun dengan tas kecil yang lebih tebal daripada tadi pagi. Dari ruang kerja Reza di lantai satu terdengar suara ketikan, dan pintunya tertutup rapat."Ayo berangkat, Dim, aku udah siap," kata Laras sambil menaruh tas kecil itu di jok belakang.Dimas mengira isinya pakaian ganti. Karena itu, dia tidak bertanya apa-apa.Setelah itu, mereka berangkat jam delapan lewat sedikit dan sampai di Hotel Arunika hampir jam sembilan. Sedan Reza sudah terparkir di lobi, dan Pak Sardi berdiri di sampingnya dengan wajah datar. Reza menunggu di dekat sofa lobi dengan kemeja biru tua, lalu dia menghampiri mereka tanpa menyapa Laras sama sekali.Di tangannya ada dua kartu kamar berwarna putih. Reza menyodorkan satu kartu ke tangan Dimas, lalu memasukkan kartu satunya ke saku kemejanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status