Share

Bab 46

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-24 18:43:34

Beberapa detik kemudian, Dimas tidak lagi bisa menahan diri. Dia menekan pinggul Laras rapat ke tubuhnya sampai bunyi kulit beradu terdengar di antara deru pengering. Di detik itu juga, cairannya menyembur jauh ke dalam.

Crat!

"Hnnghh... Nya... maaf. Saya di dalam, Nya, saya nggak sempat nahan." Dimas menggeram pendek ke bahu Laras, tubuhnya kaku, dan napasnya tersendat sebelum akhirnya melemas.

Setelah itu, Laras tidak langsung bergerak. Dia bersandar di dada Dimas dengan napas pendek, mencium
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 62

    Begitu jam besuk selesai, Pak Lik dan Bulik Sri berjalan kaki ke kos di gang belakang rumah sakit. Reza bilang Pak Sardi sudah dia suruh pulang duluan membawa sedannya, jadi dia ikut mobil Laras. Tanpa bertanya, dia membuka pintu depan dan duduk di sebelah kursi kemudi, sedangkan Laras masuk ke jok belakang.Mobil merayap di jalan raya yang padat oleh orang pulang kantor. Reza menatap kaca depan cukup lama, lalu bicara pelan tanpa menoleh."Jangan lupa siapa yang bayar operasi adikmu, Dimas. Keluargamu harus tahu diri."Dulu, kalimat semacam itu cukup untuk membuat Dimas menunduk sampai dagunya hampir menyentuh dada. Malam ini, kedua tangannya tetap di setir dan matanya tetap ke jalan."Saya ingat, Pak. Bapak bayar 112 juta, dan saya bayar 28 juta, jadi seperlimanya saya yang nanggung. Keluarga saya tahu diri, Pak, dan mereka juga tahu siapa yang kerja."Lewat spion tengah, Dimas melihat Laras menunduk dan menggigit bibir bawahnya supaya senyumnya tidak terlihat. Sementara itu, Reza t

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 61

    Di belakang bangku, Laras diam-diam mengeluarkan kartu debit dari dompet. Namun, Dimas menoleh dan menggeleng sebelum kartu itu sempat disodorkan. "Yang ini biar saya aja, Nya. Saya sudah ngitung dari semalam, dan uangnya pas.""Aku tahu kamu bakal bilang gitu, Dim. Aku cuma mau lihat mukamu waktu nekan tombol kirim." Laras memasukkan kartunya kembali dan melipat tangan di dada.Jempol Dimas salah menekan angka sandi sekali, jadi dia mengulang dari awal dengan tangan gemetar. Begitu centang hijau muncul, petugas itu mencetak struk dan menempelkan stempel biru bertuliskan Lunas.Dimas memandangi struk itu lama. Uang 112 juta dari Reza datang karena Reza mau Dimas menghamili istrinya. Meski begitu, 28 juta sisanya dia bayar dari kerjanya sendiri, dari berdiri di depan latar hijau memegang selang, dari begadang mengetik data riset Wulan, dan dari mukanya yang nanti ditempel di kotak boxer butik Dewi."Seperlima, Dek. Seperlima biaya operasimu Mas yang bayar..." bisik Dimas, walaupun adik

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 60

    Napas Bella yang wangi kopi masih terasa di telinga Dimas. Dia tidak menjauh, karena dia jelas sedang menunggu wajah Dimas berubah.Dimas menatap gelas kopinya yang tinggal separuh. "Mbak salah tebak! Saya cuma sopir Nyonya Laras, dan kerjaan saya cuma nyetir."Bella menegakkan badan, lalu menepuk bahu Dimas dua kali dengan ujung jari, pelan dan santai. "Aku nggak minta Mas ngaku, kok. Aku cuma mau Mas tahu kalau aku tahu. Terus, kalau nanti Pak Eja mulai aneh ke aku, Mas kabarin aku duluan, ya. Kita kan sama-sama orang suruhan, harus saling jaga."Dengan senyum yang sama, Bella mengambil tasnya, menaruh selembar uang lima puluh ribu di bawah gelasnya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh. Dimas masih duduk di kursi pojok sampai blus krem itu hilang di balik pintu kaca.Dia memijat keningnya dengan dua jari. Kalau soal Bella dan foto lab itu dia ceritakan ke Laras sore ini, Laras pasti tidak bisa tidur, padahal besok pagi Kirana masuk ruang operasi dan Laras sudah janji menemaninya. Mak

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 59

    "Kamu tunggu di parkiran sampai rapat direksi selesai, dan jangan ke mana-mana." Reza turun di lobi gedung Hadikusuma Group sambil merapikan jasnya.Dimas memarkir mobil di sudut yang teduh, lalu membuka buku saku cokelat dan mencatat uang bensin hari ini. Di halaman belakang buku itu, angka sisa uang untuk berkas operasi Kirana masih belum berubah sejak kemarin. Tepat saat dia menutup buku, ponselnya bergetar di dasbor dan nama Laras muncul di layar.[Dim, aku udah sampai rumah, tadi Pak Sardi nyetirnya hati-hati banget. Makasih buat semalam, ya. Jangan lupa makan siang.][Sama-sama, Nya. Saya makan nanti, sekarang masih nunggu Tuan Reza rapat.]Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi, tetapi kali ini nama yang muncul di layar adalah Bella.[Mas Dimaaas, aku lihat kamu di parkiran. Turun ke kafe bawah dong, aku traktir kopi. Pak Eja rapat sampai jam 3, jadi aman kok.]Dimas menatap layar itu lama. Kalau dia mengabaikan pesan itu, Bella pasti mencari cara lain untuk bicara denganny

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 58

    Krek.Krek.Laras mendesah makin keras, lalu memanggil nama lengkap Dimas keras-keras sambil mencengkeram bahunya dengan kuku. "Dimas Ardana... ahh... Dimas Ardana! Jangan pelan-pelan, Dimas Ardana!""Nya, suara Nyonya keras banget sampai lorong bisa dengar. Saya takut ada tamu lain yang lewat.""Biarin aja, Dim! Kamar sebelah kosong, dan aku udah nggak peduli siapa yang dengar!"Namun, lama-lama kaki kiri Laras yang menahan berat badannya mulai bergetar hebat. Dimas merasakannya di tangannya, jadi dia berhenti dan mengangkat Laras ke gendongannya."Kaki Nyonya gemeteran, kita pindah ke kasur aja ya, Nya? Saya nggak mau Nyonya jatuh.""Iya, Dim, gendong aku. Aku masih mau lanjut."Dimas membawa Laras ke ranjang dan membaringkannya telentang. Dia menaruh kaki Laras di bahunya, lalu masuk lagi dalam-dalam dan berhenti di situ sebentar supaya Laras bisa mengatur napas.Laras memejamkan mata, dan lehernya terangkat sedikit dari bantal. Napasnya putus-putus, dan kedua tangannya menarik sep

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 57

    Dimas duduk di sebelahnya dan menggenggam tangan Laras yang dingin. Dia ingin ini terjadi, tetapi dia juga tidak mau Laras menyesal besok pagi, jadi dia memutuskan bertanya dulu sebelum apa pun dimulai."Nya, sebelum kita mulai, saya mau Nyonya jawab jujur. Nyonya benar-benar mau sama saya, atau Nyonya lagi sakit hati sama Tuan Reza dan butuh tempat melampiaskan? Kalau jawabannya sakit hati, saya nggak keberatan cuma duduk di sini nemenin Nyonya sampai pagi."Laras menoleh dan menatap Dimas lama, lalu tertawa pelan untuk pertama kalinya tanpa air mata."Dua-duanya, Dim, aku nggak mau bohong sama kamu. Aku sakit hati, dan aku juga udah mau kamu dari sore, sebelum aku tahu apa-apa soal kamar itu. Jadi lanjut aja, dan kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti saat itu juga.""Baik, Nya, saya pegang janji itu. Kalau Nyonya mulai nangis, saya juga bakal berhenti dan peluk Nyonya dulu."Setelah itu, Laras berdiri di depan Dimas dan menarik kausnya ke atas sampai Dimas mengangkat kedua tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status