Home / Rumah Tangga / Mantan Istri Jadi Adik Ipar / Bab 3. Gejolak Yang Kembali

Share

Bab 3. Gejolak Yang Kembali

Author: buchaa
last update Huling Na-update: 2023-12-11 23:14:55

Jemari mungil Aurelia saling terpaut di antara jemari Rafa, yang lebih besar dan terasa lumayan kasar.

Kaki mereka seirama melangkah menyusuri keramik Botani Square.

Sudah dua bulan Rafa mulai bekerja di pemerintahan Kota Bogor. Aurelia pun menyusulnya ke sana karena tanggal merah sudah tiba sejak hari jumat kemarin. Ini adalah kesempatannya melepas rindu dengan sang kekasih. Saat itu mereka belum menikah.

Tiba-tiba kaki Rafa mengajak masuk ke sebuah toko perhiasan yang cabangnya sudah tersebar hampir di seluruh kota besar Indonesia itu.

Namun kaki Aurel malah berhenti melangkah di pintu masuk. Wanita berbibir mungil itu menatapi ruangan yang sangat terang itu dengan kening mengernyit.

Rafa, yang sudah masuk beberapa langkah, kembali ke arah kedatangan, menjemput pemilik hatinya yang malah berdiri dalam diam.

“Ayo,” ajaknya seraya meraih jemari yang tadi terlepas dari genggamannya itu.

Dalam satu hentakan kecil, tubuh Aurel pun sepenuhnya mengikuti langkah Rafa. Tidak ada penolakan lagi walaupun wajah Aurel masih terlihat bingung.

“Kamu boleh pilih yang mana aja.”

Aurel tercengang menatap Rafa. “Maksudnya?!”

“Pilih yang kamu suka, cincin tunangan kita,” jawab Rafa. Lalu, demi menyembunyikan pipinya yang memerah, dia berjalan duluan mengitari etalase.

“Tunangan?!” tanya Aurel hampir berteriak. Untungnya sempat dia tahan. Itu saja dua orang pegawai yang berada di dekat mereka langsung menoleh ke arahnya.

Aurel berusaha mengejar Rafa, tetapi lelaki itu sudah berada di ujung lain etalase.

Rafa mengangkat alisnya dua kali sambil tersenyum jahil. “Janji aku untuk menikahi kamu waktu kelulusan dulu, perlahan, mulai hari ini akan aku tepati.”

Kedua sudut bibir Aurel tertarik. Kini, jemarinya mendekat ke etalase. “Jadi, aku bisa milih sendiri cincin seperti apa yang aku mau?”

Rafa pun berdiri di sisi kekasihnya. “Iya, terserah kamu.”

“Cincin yang harus kamu pertahankan di jari manis ini.” Rafa menunjuk bagian kiri jari manis kekasihnya itu.

Sekarang, di masa ini, Aurelia menggenggam jemarinya erat tatkala Rafa melihat ke arah sana.

Ya, yang di depannya ini benar Rafa, kan? Sorot mata teduh itu sudah dipastikan milik Rafa. Lalu, tubuh tinggi, serta betisnya yang dipenuhi rambut halus itu memang benar milik lelaki yang pernah hidup serumah dengannya. Mereka sudah lama berpisah, tapi Aurel masih ingat setiap jengkal tubuh mantan suaminya itu.

‘Sedang apa dia di sini?’ benak Aurel benar-benar bingung kenapa harus bertemu Rafa di rumah ini.

Sebenarnya, Rafa juga tengah memikirkan hal yang sama. ‘Apa yang tengah dilakukan mantan istriku itu di depan rumah ini? Bagaimana dia bisa tahu aku tinggal di sini? Setelah bertahun-tahun, lantas kenapa baru muncul sekarang?’

Rafa ingin sekali menghapus pikirannya yang mulai bercabang-cabang. Karena dia sangat mengenal Aurel. Tidak mungkin kedatangannya kemari hanya untuk menghancurkan rumah tangganya. Atau, itu bisa saja terjadi?

Rafa menggeleng pelan. ‘Ngga mungkin Lia sepicik itu. Aku tahu betul kalau dia ngga suka segala sesuatu yang rumit dan melelahkan seperti itu.’

“Ada siapa, Mas?” Terdengar suara seorang wanita dari arah dalam. Sepertinya Aurel juga bisa mendengarnya, karena manik matanya tertuju ke arah belakang Rafa.

Rafa terlihat terkejut. Dia baru menoleh, tapi sosok itu sudah muncul di sisinya.

Seorang wanita berhijab biru gelap berdiri mendahului Rafa. “Siapa?” bisiknya pada sang suami.

Rafa hendak menjawab, tapi malah disikut oleh istrinya.

“Maaf, mau cari siapa, ya Mbaknya ini?” tanya wanita itu dengan nada lembut juga senyum yang ramah.

Rafa menatap tajam ke arah Aurel. Jantungnya berdegup kencang, takut akan setiap kata yang bakal keluar dari mulut mantan istrinya itu. Dalam hati dia berdoa, semoga Aurel tidak mengungkit tentang masa lalu mereka.

Aurel tertawa canggung. Jemarinya melipat kacamata hitamnya. Dia menatap Rafa, tersenyum penuh arti.

Rafa menggeleng pelan. Lewat matanya yang melotot garang, Rafa melarang Aurel menjawab pertanyaan sang istri.

Wanita berhijab biru itu mengernyitkan keningnya. Dia merasa kalau Aurel tengah berbincang dengan suaminya. Dia pun menoleh, tapi Rafa terlihat menengok ke arah lain.

“Saya mau cari Fathan,” jawab Aurel. “Kalau bener ini rumahnya, sih.” Dia sudah siap untuk pergi dari sini.

“Oh, Fathan,” ujar wanita itu.

Rafa mengernyitkan keningnya, bingung. ‘Fathan?!’

Mata Aurel mendelik. ‘Jadi, bener ini rumah Fathan? Padahal, aku berharap sebaliknya.’ Tatapannya kemudian berhenti pada Rafa, yang terlihat bingung.

Wanita berhijab biru tadi melihat ke arah dalam. “Fathan lagi sakit,” jawabnya kemudian.

“Iya. Makanya, Saya bawain roti kesu....”

“Bawa masuk aja,” ajak wanita itu sambil membentangkan tangan kanannya ke arah rumah, mempersilakan Aurel masuk.

“Hah? Apa?!” Aurel jadi terkaget-kaget sendiri dengan ajakan yang tak disangka itu. Niatnya hanya mau membawakan roti ini. Maksudnya, biar disambut saja sementara dirinya langsung pergi.

“Mas!” Wanita itu menepuk lengan Rafa, yang tersentak karena masih kaget akan kedatangan Aurel, terlebih lagi malah nyariin Fathan.

“Apa, Ma?” rengeknya.

“Melamun aja. Ambilin atuh rotinya. Kasihan keberatan.”

Rafa menatap plastik putih yang tidak terlihat terlalu berat itu, lalu pada Aurel, yang juga sedang menatapnya. Lantas, keduanya tertawa canggung.

“Sini, biar Saya bawakan,” tawar Rafa bersikap seolah tak mengenal Aurel.

“Oh, ngga usah. Bisa Saya bawa, kok.” Bak gayung bersambut, Aurel juga meneruskan sandiwara Rafa.

Tapi, Rafa tidak mendengarkan jawaban itu. Dia mengambil plastik itu dari tangan Aurel. Jemari mereka sempat saling bersentuhan, namun Aurel menariknya cepat.

“Silakan masuk,” ucap Rafa sambil menunjuk ke arah dalam.

Aurel ingin menoyor kepala Rafa. Dia yakin sekali kalau lelaki itu memikirkan hal yang sama dengannya. Ingin dirinya cepat pergi dari sini, bukannya malah masuk rumah.

Tapi, sepertinya Aurel tidak bisa menolak. Diliriknya wanita berhijab biru itu yang ditebak Aurel memiliki kekuasaan teratas di rumah ini.

“Saya masuk dulu,” pamit Aurel.

Wanita berhijab biru itu tersenyum lebar dengan sorot mata berbinar. Dia mengangguk pelan seraya terus menatapi ke arah kepergian Aurel.

Aurel pun melangkahkan kakinya ke arah dalam, menyusuri lorong rumah yang terbuat dari dinding kaca. Benar dugaannya kalau rumah ini luar biasa besar. Buktinya, lorong kaca ini terasa sangat panjang baginya.

Manik mata Aurel melihat Rafa dari sudut mata. Dia tahu kalau lelaki itu berada tepat di belakangnya, mengekori setiap langkahnya.

Entah kenapa, jantung Aurel seolah tengah berontak dari tempatnya. Aurel berusaha tetap berjalan santai seperti biasa. Dia tidak mau Rafa memergoki kekalutan hatinya.

Sementara itu, Rafa memperhatikan punggung Aurelia. Dia memegang dada kirinya. Entah kenapa, jantungnya terasa bergejolak hebat. Perasaan yang sama setiap kali dia menatap Aurelia, dulu, ketika mereka masih menjalin kasih.

Jadi, kini gejolak itu kembali? Ketika mereka bertemu lagi? Ketika mereka memiliki ikatan dengan orang lain?

Bersambung ...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 87. Seorang Cindy

    Bel panjang berbunyi nyaring, menggema di seluruh sudut sekolah. Suaranya seperti simfoni kebebasan bagi para siswa yang sudah lelah duduk berjam-jam di dalam kelas. Mata Shanum langsung berbinar mendengarnya. Tanpa menunggu aba-aba, dia mulai memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas dengan gerakan cepat tapi tetap rapi. Ketika guru sudah keluar, Shanum berdiri dan menoleh ke arah Cindy, yang masih sibuk membereskan barang-barangnya. “Cindy, mau ke mana abis ini? Pulang bareng, yuk? Jalan ke mana gitu?” tanya Shanum sambil tersenyum, berusaha terdengar santai walau hatinya sedikit tegang. Gadis di hadapannya itu masih dingin seperti salju di kutub.Cindy menatap Shanum sekilas, lalu kembali membereskan barang-barangnya. “Aku ada les. Nggak bisa,” jawabnya singkat tanpa ekspresi. Seolah tak ingin ada percakapan lebih panjang.‘Pasti karena omongan Ghani tadi. Dia terlalu takut sama Ghani. Yah, apa boleh buat. Daripada dia makin tersiksa sama Mas-ku itu, kayaknya aku harus ngalah

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 86. Rahasia Ghani

    Senyum riang Shanum tidak membuat seluruh isi kelas bahagia menyambutnya. Buktinya, wajah Cindy datar saja saat cewek yang membuat kekacauan pagi itu duduk di meja—tepat di sebelahnya.Cindy bisa merasakan tubuh Shanum sedikit condong ke arahnya. Ia berusaha menghindari tatapan teman sekelas barunya itu, tapi malah tertangkap ketika sedang melirik lewat sudut matanya.“Hai, aku nggak nyangka kalau kita ternyata satu kelas,” ucap Shanum seraya memamerkan deretan giginya, begitu cerah dan percaya diri.Cindy tidak tahu harus merespon seperti apa karena hampir semua mata tertuju padanya. Status Shanum sebagai orang yang berani melawan Ghani sungguh tidak aman baginya. Semua orang tahu, Ghani adalah pusat gravitasi sekolah ini, dan siapa pun yang berani menentangnya, akan terlempar keluar dari orbit sosial mereka. Cindy pun hanya menarik ujung bibirnya sedikit saja, bahkan hampir tidak terlihat. Lalu, langsung sok sibuk membuka tasnya. Padahal, tidak ada yang dicari.Puas menyapa Cindy,

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 85. Di Sekolah Yang Sama

    Kedua jemari tangan Shanum terkepal erat seiring geraman kesalnya karena diturunkan jauh dari sekolah. “Ghani, nggak sopan!” teriaknya walaupun tahu kalau cowok itu nggak bisa mendengarnya.Sama sekali tidak mau menyerah, diambilnya langkah cepat supaya bisa mengejar mobil Ghani. Namun, kakinya melemah ketika menemukan tanjakan. Hanya setengah tanjakan dia sanggup berlari, selebihnya berjalan kaki dengan napas ngos-ngosan. Ternyata gerbang sekolah ada di ujung tanjakan. Shanum berdiri sebentar di depan pintu gerbang sambil memegangi kedua lututnya. “Dia ngerjain aku,” gumamnya sambil mengatur napas.Beberapa murid melewatinya dengan tatapan bingung.Setelah cukup bisa mengatur napasnya, Shanum pun memasuki gerbang berpintu besi warna cream itu, senada dengan cat dinding gerbang dan sekolah.Sebenarnya, sih, Shanum ingin melihat kemegahan sekolah ini, akan tetapi sosok Ghani mengganggu pemandangannya. Terlebih lagi ketika dilihatnya cowok itu melemparkan tas pada gadis, yang jauh le

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 84 • Tantangan

    Bunyi jemari mengetuk meja besi putih nan bundar terdengar begitu nyaring di telinga Shanum. Beberapa kali dia meringis akibat nyilu yang menyayat hatinya. Setelah berusaha menghindar, akhirnya Shanum beranikan diri melirik ke arah wanita cantik yang duduk di hadapannya. Dia tahu kalau wanita itu tidak melepaskan tatapan darinya sedari tadi, tapi Shanum tetap terkejut dan refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bunyi ketukan menghilang karena Fania menarik tangannya. Kedua kakinya yang jenjang terekspos jelas ketika melipat kaki hingga rok span pendek sebatas lutut yang dikenakannya tertarik sampai paha. “Jadi, kamu anak dari wanita yang membuat Papa-ku sering bolak-balik ke Jogja,” gumamnya lebih ke sebuah tudingan. Seringainya muncul di akhir kalimat. Mata elangnya enggan melepaskan Shanum dari pandangan. Shanum meliriknya. “Aku ngga tahu tentang itu. Buktinya, aku ngga kenal Papa-nya Kakak.” “Tapi, Papa mengenalimu. Aku kira dulu dia punya anak lain selain kami kar

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 83 • Terlanjur Bad Mood

    Dengan mata yang membengkak, Aurel sudah bersiap dengan peralatan membersihkan pekarangan rumah. Selepas Subuh tadi, diperhatikannya halaman depan yang rumputnya sudah memanjang. Begitu juga dengan bunga-bunga dan tanaman yang dulu peliharan almarhum ibunya sudah tumbuh tidak karuan, dia hendak merapikannya. Hitung-hitung bisa menghilangkan sejenak kesedihannya.Namun, langkah Aurel terhenti. Dia terkejut mendapati Ridho berada di depan pagar rumah ini.“Ngapain kamu di sini, Dho?” tanyanya seraya menghampiri pagar dan membuka kuncinya. Seharusnya jam tujuh begini, Ridho sudah berada di kantor. Kok malah ada di depan rumah ini? Kalau bukan urusan yang penting, tidak mungkin mau ke sini.“Itu ....” Ridho terlihat meragu. Bukannya lekas menjawab, dia malah menoleh ke arah jalan gang ini.Aurel juga ikut melihat ke sana. Menerka sekiranya ada jawaban di ujung jalan i

  • Mantan Istri Jadi Adik Ipar   #Bab 82 • Bukan Anak Haram

    Selesai sarapan, Shanum memegangi perutnya. “Padahal, hanya semangkuk kecil begitu. Tapi, udah bikin kenyang banget,” ujarnya dengan bibir yang tersenyum puas.Saat mengangkat pandangannya, dia menemukan Ghani yang berjalan cepat di lorong hendak ke arah luar. “Ghani,” gumamnya senang. Lalu, berlari kecil ke arah cowok itu.Ghani sudah berpakaian seragam putih abu-abu lengkap dengan tas punggungnya, yang hanya tercantol di bahu kanannya. Dari langkahnya yang cepat, cowok itu masih terlihat penuh emosi.“Ghani, Ghani,” panggil Shanum.Yang dipanggil sempat menoleh, tapi begitu tahu suara itu milik siapa dia langsung malah kian mempercepat langkahnya. Namun selebar-lebarnya langkah Ghani, tetap terkejar oleh Shanum, yang pantang menyerah.Gadis itu menangkap pergelangan tangan Ghani. “Tunggu," pintanya agak memaksa. Kemudian, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Aku harus jelasin kalau tujuanku ke sini bukan untuk menjadi penerus perusahaan Fadel Group. Aku cuma mau ....”“Bullshit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status