หน้าหลัก / Mafia / Mantan Istri Sang Mafia / Bab 3.Bulan Madu Dengan Sang Devil

แชร์

Bab 3.Bulan Madu Dengan Sang Devil

ผู้เขียน: Tri Setyorini
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-23 20:28:46

Brak!

Tiba-tiba sebuah pistol diarahkan ke arah wanita tua yang berdiri di depan pintu. Tanpa rasa takut, wanita tua itu mendekat dan bahkan tersenyum tipis.

"Begitukah caramu menyapa nenekmu, Lucas?" Wanita tua itu menunjukkan senyum manisnya. 

Pria bernama Lucas perlahan menurunkan pistolnya dan menyarungkannya di balik jasnya. Lucas merapikan kembali jas hitamnya.

"Nenek, kenapa kamu datang seperti itu? Apa kamu marah padaku setelah mendapat laporan dari wanita murahan itu?" Lucas berbicara tanpa menatap wanita tua itu, yang kini berusaha mengendalikan emosinya.

"Murahan? Setidaknya dia bisa menjaga martabatnya dibandingkan dengan wanita-wanita yang kamu anggap terhormat, sayang." Tangan wanita tua itu terangkat dan merapikan kerah kemeja cucunya.

"Bagi aku, dia tetap sampah yang Nenek ambil dari rumah bordil." Lucas menatap dingin.

Nenek Louisa tersenyum manis menanggapi kata-kata cucu kesayangannya. "Dia bukan pelacur meskipun aku bertemu dia di sana, bukan begitu? Kamu sendiri yang sudah membuktikannya cucu kesayanganku."

Wajah Lucas langsung membeku mendengar apa yang dikatakan wanita tua di depannya. Dia mengerti maksud neneknya, tapi bagaimana dia bisa tahu? Naya tidak akan seburuk itu sampai mengatakan bahwa dia dan Lucas baru saja menghabiskan malam pertama mereka bersama.

"Sayang, Nenek akan menunggu di ruang makan. Ada sesuatu yang harus kamu lakukan." Wanita tua itu mencium pipi cucunya dengan lembut, lalu berjalan dengan anggun keluar dari kamar Lucas.

"Sial! Apa wanita murahan itu baru saja berkata sesuatu kepada nenekku? Tapi, sekalipun wanita murahan itu masih perawan saat melayaniku, aku tetap tidak akan menganggapnya sebagai istriku. Aku akan mencari waktu untuk menyingkirkannya dari hidupku."

Di meja makan, ketiganya tampak menikmati sarapan mereka. Omelet buatan Naya sangat disukai oleh Nenek dan Bayu.

Lucas, yang baru saja memasuki ruang makan, membuat suasana yang tadinya hangat berubah menjadi dingin dan menakutkan saat Naya tanpa sengaja menangkap ekspresi kesal suaminya.

Lucas benar-benar orang yang sama sekali tidak memiliki kelembutan.

"Tuan Lucas, apa yang ingin Anda makan? Biarkan saya yang menyiapkan untuk Anda?" Naya, yang sudah berdiri dari kursinya, segera bertanya dengan raut wajah ketakutan.

"Tidak perlu! Bayu, kita berangkat sekarang. Sudahkah kamu menyiapkan semuanya?" Lucas bertanya pada pria yang menjadi tangan kanannya dengan suara dingin.

Bayu melirik nenek yang sedang menatap Lucas. "Sudah siap semuanya? Tapi aku tidak bisa menghubungi Miranda."

Lucas belum memberitahu Bayu bahwa dia tidak akan pergi bersama wanita yang dia tangkap semalam sedang bercinta dengan sepupunya sendiri di apartemen yang dia beli untuk kekasihnya.

Lucas juga tidak ingin membatalkan perjalanannya ke Miami karena dia tidak ingin berada di rumah yang sama dengan wanita yang merupakan istrinya.

"Ayo kita berangkat sekarang, Bay."

"Bawa istrimu bersamamu, Sayang," kata Nenek Louisa dengan tegas.

"Apa?" Mata Naya melebar.

Lucas tiba-tiba berhenti di tempatnya. Lucas menarik napas dalam-dalam. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Nenek, aku tidak perlu ikut dengan Tuan Lucas. Aku akan tinggal di sini dan mengurus pekerjaan rumah," kata Naya dengan gugup.

Tentu saja, Naya sangat terkejut dan cemas. Dia khawatir jika ikut dengan suaminya yang kejam itu, dia mungkin tidak akan kembali hidup-hidup.

"Kamu yang harus pergi, Nay, bukan wanita bernama Miranda itu. Kamu adalah istri Lucas dan kamu lebih berhak berada di sisi suamimu."

Lucas berbalik dan berjalan menuju neneknya. Tatapan matanya seolah-olah menunjukkan bahwa dia sangat marah pada wanita tua di depannya saat itu.

"Sayang, ajak istrimu berbelanja dan nikmati liburanmu di sana. Sudah sebulan sejak kalian menikah, dan kalian belum berbulan madu. Nenek ada di sini, biarkan aku yang mengurus semuanya di sini." Tangan wanita tua itu dengan lembut membelai pipi cucunya.

"Aku tidak akan membawa wanita sampah itu bersamaku, Nenek," kata Lucas dengan lembut namun tegas.

"Nenek ingin Naya ikut bersamamu, dan jika aku mendengar bahwa Naya terluka atau kau mencoba menyingkirkannya, maka ucapkan selamat tinggal pada nenekmu juga," kata wanita tua itu dengan lembut.

"Apakah Nenek mengancamku?" Lucas menatapnya dengan dingin.

"Ini bukan ancaman, tapi itulah yang akan aku lakukan. Setidaknya Nenek akan senang bertemu dengan kakekmu di sana." Tangan Nenek Louisa merapikan tiga kancing atas kemeja Lucas yang terbuka.

Lucas terdiam, tapi rahangnya terkatup rapat seolah menahan amarah.

Bayu, yang melihat hal itu, hanya bisa menahan senyumnya. Hanya Nenek Louisa yang bisa menenangkan bosnya.

"Naya, pergilah bersama suamimu. Ini paspormu, yang kubuat untukmu karena tujuan kedatanganku ke sini juga untuk memberikannya padamu. Nikmati saja dan jangan khawatir soal persiapan apa pun. Lucas akan mengajakmu berbelanja dan membeli semua yang kamu butuhkan."

"Tapi, Nenek." Jantung Kanaya sudah berdetak dengan cepat. 

"Cepat pergi!" kata Lucas dengan tegas.

Sebelum Naya sempat menyelesaikan kalimatnya, Lucas memotong pembicaraannya. Masih bingung, Naya segera mengucapkan selamat tinggal kepada Nenek Louisa dan langsung berlari mengejar Lucas, yang sudah berada di dalam mobilnya.

Wanita tua itu tersenyum bahagia sambil menatap dari jendela saat mobil Lucas melaju keluar dari mansion besar cucunya.

Di dalam mobil, Lucas memilih untuk diam, ekspresinya secara alami membuat Naya ketakutan. Naya lebih memilih menatap ke luar jendela daripada melihat wajah menakutkan suaminya.

Ketika mereka tiba di jet pribadinya, Lucas langsung masuk, diikuti oleh Naya yang terpesona melihat jet pribadi untuk pertama kalinya dan bahkan lebih terpesona lagi karena dia akan berada di dalamnya.

“Jika suamimu mencintaimu, Naya, hidupmu akan sangat bahagia,” kata Bayu, yang berjalan di belakang Naya.

"Bahkan jika dia tidak memiliki semua ini, asalkan dia mencintaiku, aku juga akan sangat bahagia, Mas Bayu," jawab Naya.

Bayu hanya membalas dengan senyuman tipis sambil merapikan kacamatanya.

Naya diarahkan untuk duduk sendirian di dekat jendela. Sementara itu, Lucas memilih duduk bersama Bayu di kursi lain yang terletak tepat di depan kursi Naya.

"Aku takut," bisik Naya, dan hanya dia yang bisa mendengar kata-katanya.

Ini adalah pertama kalinya Naya naik pesawat dan dia benar-benar takut, tapi dia tidak berani mengatakannya, apalagi karena ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan di dalam pesawat itu.

Naya duduk dengan gelisah karena pesawat akan segera lepas landas dan Naya sangat takut akan hal itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" Naya bergumam pada dirinya sendiri dengan bingung. Dia mencoba melihat ke kursi-kursi lain, yang tampaknya kosong.

Naya, yang sudah panik, segera bangkit dari kursinya dan bergerak ke depan, ke tempat suaminya berada. Naya duduk tepat di samping Lucas dan segera menggenggam tangannya.

"Aku takut," katanya, suaranya terdengar getir dan sedih. 

Bukan perhatian yang dia dapatkan, melainkan  tatapan tajam. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 50. Mereka Bertemu

    Suasana di lobi House Of Danner seketika membeku. Tatapan mata Lucas pun masih terlihat dingin. Raymond, yang tidak menyadari ada sesuatj di antara keduanya, tetap tersenyum ramah, tangannya masih terulur menunggu sambutan dari sang CEO baru.​Lucas tidak membalas jabatan tangan Raymond. Alih-alih, matanya turun ke bawah, tertuju pada jemari Lana yang saling bertautan erat di depan tubuhnya. Lucas sekali lagi melihat pada cincin di jari manis Kanaya. ​"Lana?" Lucas mengulang nama itu dengan nada rendah, tapi terdengar dia merasa aneh. "Nama yang cantik. Singkat, padat dan terasa sangat asing."​Lana merasakan lututnya lemas. Suara itu, suara yang dulu membisikkan kata cinta, namun sekarang suara itu terdengar begitu menyakitkan bagi Kanaya, dan entah kenapa, Kanaya langsung merasakan ketakutan bukan takut berhadapan dengan Lucas, tapi takut jika pria di depannya ini mengetahui tentang Hyden dan Hailey. ​"Ah, maaf Tuan Dinov," Raymond menyela, berusaha mencairkan suasana yang mendad

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 49. Kehidupan Yang Diimpikan

    Saat ini, Kanaya atau sekarang dia lebih suka dipanggil Lana, ingin membesarkan kedua anaknya tanpa harus memohon apapun pada Lucas. Lana bahkan ingin menghapus nama Lucas dari hidupnya. ​"Kalian adalah hartaku yang paling berharga," bisik Lana sambil mencium kening kedua anak kembarnya yang kembali tertidur. "Mama tidak akan membiarkan ayah kalian mengetahui jika kalian ada di dunia ini. Dia telah membunuh nenek kalian, dan dia juga telah mencoba membunuh kalian sebelum kalian lahir."​Lana menatap foto Lily yang terpajang di kamar si kembar. Lana ingin anak-anaknya mengetahui wajah nenek mereka yang sudah berani mengorbankan nyawanya supaya mereka bisa lahir ke dunia ini dengan selamat. "Mama, sekarang Mama bisa bertemu dengan Nenek Louisa dan Kakek. Kalian pasti bahagia di sana." Air mata Lana turun perlahan pada pipi. "Lana, maaf mengganggu." Suara Bibi Yaya ada di balik pintu. "Ini ada telepon dari Raymond." Bibi Yaya pun memberikan ponsel Lana. "Halo, Raymond." "Lana, aku a

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 48. Identitas Baru

    "Lily!" Bibi Yaya yang tadi ikut menembak beberapa penjahat di sana, seketika membuang pistolnya dan menekan luka Lily dengan kuat. "Lukamu dalam. Lily, kita harus segera ke rumah sakit. Bibi Yaya mencoba membopong tubuh Lily, tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara mobil datang mendekat ke arah rumah. "Ke tempat rahasia, Bi!" seru Lily cepat. "Apa mereka datang lagi?" Kanaya panik, wajahnya pucat, tangannya memegangi perutnya yang seketika terasa sakit. "Bi, cepat!" teriak Lily. Mereka bertiga berjalan ke dalam rumah, menuju taman belakang. Bibi Yaya menyingkirkan beberapa tanaman, dan ternyata di tanah ada sebuah pintu kecil. Saat pintu dibuka, di bawahnya ada jalan kecil menuju ruang bawah tanah. "Masuk, Kanaya."Kanaya masuk diikuti oleh Bibi Yaya dan terakhir Lily. "Bawa Kanaya pergi, Bi," perintah Lily. Sebelum menutup pintu. Kedua mata Lily mengintip pada cela pintu.Terdengar ledakan yang sangat keras dari ruangan atas. Lily tadi melempar sebuah granat yang

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 47. Penyerangan Di Rumah Lily

    Lily segera menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya pergi dari sana. Lucas terdiam di tempatnya. Dia sebenarnya sedikit kaget melihat Kanaya bersama ibunya, tapi saat teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Kanaya, Lucas merasa, dua orang itu pantas bersama. "Wanita murahan," ucap Lucas lirih. "Ada apa, Lucas?" tanya wanita yang sedang duduk bersama Lucas. "Tidak ada apa-apa, Selena. Kita lanjutkan saja makan malamnya. Di dalam mobil, Lily meminta Kanaya untuk tidak menangis. Lily juga tidak mengenal wanita yang bersama dengan Lucas. "Dia benar-benar sudah melupakanku, Ma. Aku kira, dia masih sangat mencintaiku, tapi ternyata aku salah." Tangan Kanaya menghapus air matanya. Lily bingung harus mengatakan apa. Dia teringat akan pengkhianatan mendiang suaminya dan sahabatnya. Sekarang menantunya pun harus merasakan hal yang dia alalamai."Kanaya, di dalam perutmu, ada dua bayi yang membutuhkan ibunya yang kuat dan kamu jangan terlalu memikirkan tentang Lucas. Sekarang, hal ut

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 46. Shock

    Dinginnya aroma rumah sakit selalu berhasil menciutkan nyali Kanaya, namun rasa sakit yang melilit perutnya jauh lebih menakutkan daripada aroma obat-obatan di sekelilingnya.Lily terus menggenggam tangan menantunya itu, membisikkan doa-doa yang tidak putus, sementara Dokter Rose dengan sigap melakukan pemeriksaan darurat.​"Tenang, Kanaya. Tarik napas perlahan, jangan biarkan pikiranmu menguasai tubuhmu," instruksi Dokter Rose dengan nada tenang namun tegas.​Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, kram di perut Kanaya mulai mereda. Dokter Rose melepaskan sarung tangan karetnya dan menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara simpati dan kekaguman.​"Ini adalah tension cramp yang cukup hebat, Kanaya. Tubuhmu bereaksi terhadap trauma emosional yang kamu alami. Apa ada hal yang sudah terjadi?" tanya Rose pada Lily."Ibuku meninggal, Rose." "Oh Tuhan! Aku turut berduka, Lily. Kehilangan Nenek Louisa adalah pukulan besar, tapi kamu harus ingat, ada n

  • Mantan Istri Sang Mafia   Bab 45. Dua Iblis

    Belum Lily berucap, tangannya segera ditarik menjauh dari Lucas oleh Deasy. "Lily! Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah muncul lagi dihadapan Lucas? Dia itu sangat membencimu dan aku tidak mau dia sampai merasakan kesedihan seperti dulu." Deasy berbicara dengan suara lirih dan ditekankan. "Kau tahu, kan? Aku tidak menyakiti Lucas.""Iya, aku juga sudah berusaha selama ini untuk memberitahukan Lucas untuk tidak membencimu, tapi dalam pikirannya, Lucas sudah menganggap kamu wanita yang buruk karena meninggalkannya dan aku bingung harus menjelaskan bagaimana?""Deasy, aku hanya ingin bertemu ibuku yang kata Kanaya, dia sedang sakit parah di sini.""Apa? Kamu bertemu Kanaya?" Kedua alis Deasy mengkerut kaget."Iya, dan kamu tahu? Dia sedang mengandung anak dari Lucas. Kita akan segera memiliki cucu!" Lily tampak bahagia, hingga dia menggenggam tangan Deasy. "Kanaya hamil?""Iya, Deasy. Lucas harus mengetahui hal ini dan kesalahan pahaman antara mereka akan berakhir. Aku tidak mau Lucas mem

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status