MasukSelama penerbangan, Naya memilih duduk di kursi penumpang, sementara Lucas tetap berada di kabin.
Mereka tiba di tempat tujuan. Hotel yang telah disiapkan Bayu membuat mata Naya membelalak takjub.
"Tuan Lucas, ini kamar Anda dan Naya," jelas Bayu dengan lembut, sambil menekankan nama Naya.
"Apa? Kenapa kamu tidak memesan kamar sendiri untuk Naya saja? Aku tidak mau tidur di ranjang yang sama dengan wanita ini.” Lucas menatapnya dengan penuh kebencian.
Naya sebenarnya terkejut saat mendengar Bayu mengatakan hal itu. Naya mengira dia akan diberi kamar sendiri, sama seperti di rumah besar Lucas, di mana dia memiliki kamar sendiri.
“Itu perintah Nenek, Tuan. Nenek ingin saya memesan hanya satu kamar untuk Tuan Lucas dan Naya.”
"Wanita tua itu. Dia benar-benar membuatku merasa seolah-olah hidup di neraka," gerutu Lucas dengan marah saat memasuki kamarnya.
"Tuan Lucas biasanya yang menciptakan neraka bagi orang lain, dan sekarang sepertinya dia sendiri yang mengalami neraka dari neneknya," kata Bayu pelan, menahan tawa.
"Mas Bayu, bisakah aku memesan kamar sendiri saja?" tanya Naya pelan.
“Bisa saja, tapi aku tidak mau menentang permintaan ras paling kuat di bumi. Ya, Tuan Lucas adalah bosku, tapi Nenek Louisa berada di atas bosku.”
Naya sendiri tidak akan pernah bisa menentang permintaan Nenek Louisa.
“Ayolah, Nay, kamu tidak perlu khawatir karena Tuan Lucas tidak akan berani membunuhmu. Dia tidak akan melakukan apa pun yang bisa membuat neneknya terkena serangan jantung.”
Bayu mengajak Naya masuk, meskipun langkahnya terasa berat saat memasuki kamar hotel yang bagaikan surga itu, namun Naya terus berjalan dan setiap langkahnya diawasi oleh sepasang mata yang setajam mata iblis.
“Jangan berani-berani naik ke tempat tidurku. Aku mengizinkanmu berada di sini karena terpaksa, bukan karena mau. Sebenarnya aku sudah muak melihatmu di kamarku.” Lucas pun pergi.
Naya hanya berdiri di sana dalam diam. Tangan Bayu sekali lagi mengulurkan saputangan kepada Naya.
“Untuk menyeka air matamu. Aku punya banyak saputangan yang bisa kuberikan padamu nanti.”
Naya menggeleng perlahan. "Aku akan berusaha tidak menangis. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan Tuan Lucas, tapi kali ini aku akan berusaha tegar, apalagi tempat ini seindah surga." Naya benar-benar terpesona oleh kamar hotel yang dipesan Bayu.
"Ini hotel terbaik di Miami dan ini juga kamar termahal di sini. Seperti surga, kan? Tapi surga yang dihuni iblis.” Bayu menunjuk ke arah Lucas, yang sedang menuangkan vodka ke dalam gelas.
Naya hanya bisa diam tanpa menanggapi kata-kata Bayu, meskipun apa yang dikatakan Bayu memang benar.
*
Malam itu, Kanaya ditinggal sendirian di kamar hotel karena Lucas dan Bayu memiliki urusan bisnis yang sangat penting, dan Naya jelas tidak boleh tahu tentang urusan Lucas.
Pada tengah malam, Lucas memasuki kamar hotelnya dan melihat Naya tertidur di sofa ruang tamu dengan televisi yang masih menyala.
“Ugh! Sungguh menjijikkan melihat wanita ini di kamarku!”
Lucas masuk ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air dingin. Ia melakukan ini untuk menenangkan pikirannya yang sedang memanas akibat perbuatan salah satu orang kepercayaannya yang telah mengkhianatinya.
"Aku takkan biarkan bajingan Willy
itu merebut kekuasaanku. Besok, aku akan membuatnya menyesal telah menggangguku," geram Lucas, rahangnya mengatup seolah ingin menghancurkan sesuatu.
Beberapa menit kemudian, Lucas keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.
Tangannya dengan cepat meraih sebotol vodka dan meneguknya.
"Miranda? Apa dia masih berani menghubungiku?" Lucas menatap tajam nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, sayang, apa kamu benar-benar ada di Miami sekarang?" Suara Miranda terdengar kesal.
"Jangan berani-berani menghubungiku lagi, wanita menjijikkan."
"Aku hanya mencari kesenanganku sendiri karena aku terluka, Lucas! Istrimu adalah alasan aku melakukan ini. Aku kecewa karena kamu menikahi pelacur itu."
"Tapi kamu tidak seharusnya berselingkuh dengan sepupuku sendiri! Aku sudah memintamu untuk menunggu, agar aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan nenekku."
"Aku tidak suka harus menunggu dan membayangkan pria yang kucintai bercinta dengan wanita lain." Miranda menutup telepon.
Lucas yang marah melemparkan ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Sekali lagi, ia meneguk vodka hingga hanya tersisa setengah botol. Kemarahannya memuncak dan ia bangkit dari kursinya.
Lucas berjalan ke ruang tamu, tempat Naya masih tertidur. Lucas menatap tajam dan marah pada wanita yang sedang tidur dengan wajah polosnya itu.
"Kau, wanita pelacur! Kau tidak tahu di mana tempatmu! Seandainya saja kau menolak menikah denganku saat itu, tapi malah kau memilih menjadi istriku. Baiklah, aku akan tunjukkan padamu bagaimana rasanya menjadi istri Lucas."
Lucas dengan cepat mengangkat tubuh Kanaya. Kanaya terkejut karena tubuhnya tiba-tiba terangkat dengan kasar.
"Tuan, ada apa ini?"
Pertanyaan Naya sepertinya tak berarti bagi Lucas.Tubuh Naya dilemparkan dengan kasar ke atas tempat tidur.
“Tuan, kau kenapa?” Naya bisa merasakan ada yang tidak beres dari raut wajah Lucas.
Lucas segera menindihnya. Wajah Lucas sangat dekat dengan Naya, yang kini terbaring tepat di bawah tubuh Lucas.
"Diam saja dan nikmati setiap gerakanku. Bukankah benar kau suka mengambil risiko, seperti saat kau setuju menikah denganku?"
"A-aku hanya—."
Naya tak bisa melanjutkan karena bibir Lucas dengan kasar membungkam bibirnya. Sekali lagi, malam itu Naya merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya. Seolah-olah Lucas merendahkannya.
Naya berharap Lucas bisa bersikap lebih lembut dan tidak berada di bawah pengaruh alkohol. Atau lebih baik lagi, Naya berharap dia bisa menghabiskan malam pertamanya dengan seorang pria yang bisa menerimanya sebagai istrinya. Bukan sekadar sebagai pasangan yang memuaskan saat Lucas kecewa dan membutuhkan pelampiasan.
Naya duduk bersandar, memeluk erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Air mata mengalir di pipinya, dan dia membiarkannya jatuh. Tatapan Naya kini tertuju pada pria yang sedang tidur nyenyak di sampingnya.
“Sebaiknya aku keluar dari kamar ini sebelum Tuan Lucas marah saat melihatku di sini.”
Naya bangun perlahan agar tidak membangunkan Lucas. Naya mengambil pakaiannya dari lantai dan masuk ke kamar mandi.
“Ya Tuhan! Pakaianku kotor dan robek,” gumam Naya pelan.
Bagaimana mungkin tidak kotor? Dia sudah memakainya selama hampir dua hari. Dia ingin berganti pakaian, tapi dia bingung harus meminta izin kepada Lucas. Lebih tepatnya, dia takut.
Apalagi pakaian Naya juga robek karena Lucas telah merobeknya dengan kasar tadi. Naya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia juga bingung kenapa harus berada di tempat dengan pria yang seharusnya dia hindari.
“Apa yang harus aku pakai? Apa aku minta bantuan Mas Bayu, tapi sekarang sudah tengah malam.” Naya berdiri diam di kamar mandi selama beberapa menit.
Suasana di lobi House Of Danner seketika membeku. Tatapan mata Lucas pun masih terlihat dingin. Raymond, yang tidak menyadari ada sesuatj di antara keduanya, tetap tersenyum ramah, tangannya masih terulur menunggu sambutan dari sang CEO baru.Lucas tidak membalas jabatan tangan Raymond. Alih-alih, matanya turun ke bawah, tertuju pada jemari Lana yang saling bertautan erat di depan tubuhnya. Lucas sekali lagi melihat pada cincin di jari manis Kanaya. "Lana?" Lucas mengulang nama itu dengan nada rendah, tapi terdengar dia merasa aneh. "Nama yang cantik. Singkat, padat dan terasa sangat asing."Lana merasakan lututnya lemas. Suara itu, suara yang dulu membisikkan kata cinta, namun sekarang suara itu terdengar begitu menyakitkan bagi Kanaya, dan entah kenapa, Kanaya langsung merasakan ketakutan bukan takut berhadapan dengan Lucas, tapi takut jika pria di depannya ini mengetahui tentang Hyden dan Hailey. "Ah, maaf Tuan Dinov," Raymond menyela, berusaha mencairkan suasana yang mendad
Saat ini, Kanaya atau sekarang dia lebih suka dipanggil Lana, ingin membesarkan kedua anaknya tanpa harus memohon apapun pada Lucas. Lana bahkan ingin menghapus nama Lucas dari hidupnya. "Kalian adalah hartaku yang paling berharga," bisik Lana sambil mencium kening kedua anak kembarnya yang kembali tertidur. "Mama tidak akan membiarkan ayah kalian mengetahui jika kalian ada di dunia ini. Dia telah membunuh nenek kalian, dan dia juga telah mencoba membunuh kalian sebelum kalian lahir."Lana menatap foto Lily yang terpajang di kamar si kembar. Lana ingin anak-anaknya mengetahui wajah nenek mereka yang sudah berani mengorbankan nyawanya supaya mereka bisa lahir ke dunia ini dengan selamat. "Mama, sekarang Mama bisa bertemu dengan Nenek Louisa dan Kakek. Kalian pasti bahagia di sana." Air mata Lana turun perlahan pada pipi. "Lana, maaf mengganggu." Suara Bibi Yaya ada di balik pintu. "Ini ada telepon dari Raymond." Bibi Yaya pun memberikan ponsel Lana. "Halo, Raymond." "Lana, aku a
"Lily!" Bibi Yaya yang tadi ikut menembak beberapa penjahat di sana, seketika membuang pistolnya dan menekan luka Lily dengan kuat. "Lukamu dalam. Lily, kita harus segera ke rumah sakit. Bibi Yaya mencoba membopong tubuh Lily, tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara mobil datang mendekat ke arah rumah. "Ke tempat rahasia, Bi!" seru Lily cepat. "Apa mereka datang lagi?" Kanaya panik, wajahnya pucat, tangannya memegangi perutnya yang seketika terasa sakit. "Bi, cepat!" teriak Lily. Mereka bertiga berjalan ke dalam rumah, menuju taman belakang. Bibi Yaya menyingkirkan beberapa tanaman, dan ternyata di tanah ada sebuah pintu kecil. Saat pintu dibuka, di bawahnya ada jalan kecil menuju ruang bawah tanah. "Masuk, Kanaya."Kanaya masuk diikuti oleh Bibi Yaya dan terakhir Lily. "Bawa Kanaya pergi, Bi," perintah Lily. Sebelum menutup pintu. Kedua mata Lily mengintip pada cela pintu.Terdengar ledakan yang sangat keras dari ruangan atas. Lily tadi melempar sebuah granat yang
Lily segera menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya pergi dari sana. Lucas terdiam di tempatnya. Dia sebenarnya sedikit kaget melihat Kanaya bersama ibunya, tapi saat teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Kanaya, Lucas merasa, dua orang itu pantas bersama. "Wanita murahan," ucap Lucas lirih. "Ada apa, Lucas?" tanya wanita yang sedang duduk bersama Lucas. "Tidak ada apa-apa, Selena. Kita lanjutkan saja makan malamnya. Di dalam mobil, Lily meminta Kanaya untuk tidak menangis. Lily juga tidak mengenal wanita yang bersama dengan Lucas. "Dia benar-benar sudah melupakanku, Ma. Aku kira, dia masih sangat mencintaiku, tapi ternyata aku salah." Tangan Kanaya menghapus air matanya. Lily bingung harus mengatakan apa. Dia teringat akan pengkhianatan mendiang suaminya dan sahabatnya. Sekarang menantunya pun harus merasakan hal yang dia alalamai."Kanaya, di dalam perutmu, ada dua bayi yang membutuhkan ibunya yang kuat dan kamu jangan terlalu memikirkan tentang Lucas. Sekarang, hal ut
Dinginnya aroma rumah sakit selalu berhasil menciutkan nyali Kanaya, namun rasa sakit yang melilit perutnya jauh lebih menakutkan daripada aroma obat-obatan di sekelilingnya.Lily terus menggenggam tangan menantunya itu, membisikkan doa-doa yang tidak putus, sementara Dokter Rose dengan sigap melakukan pemeriksaan darurat."Tenang, Kanaya. Tarik napas perlahan, jangan biarkan pikiranmu menguasai tubuhmu," instruksi Dokter Rose dengan nada tenang namun tegas.Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, kram di perut Kanaya mulai mereda. Dokter Rose melepaskan sarung tangan karetnya dan menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara simpati dan kekaguman."Ini adalah tension cramp yang cukup hebat, Kanaya. Tubuhmu bereaksi terhadap trauma emosional yang kamu alami. Apa ada hal yang sudah terjadi?" tanya Rose pada Lily."Ibuku meninggal, Rose." "Oh Tuhan! Aku turut berduka, Lily. Kehilangan Nenek Louisa adalah pukulan besar, tapi kamu harus ingat, ada n
Belum Lily berucap, tangannya segera ditarik menjauh dari Lucas oleh Deasy. "Lily! Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah muncul lagi dihadapan Lucas? Dia itu sangat membencimu dan aku tidak mau dia sampai merasakan kesedihan seperti dulu." Deasy berbicara dengan suara lirih dan ditekankan. "Kau tahu, kan? Aku tidak menyakiti Lucas.""Iya, aku juga sudah berusaha selama ini untuk memberitahukan Lucas untuk tidak membencimu, tapi dalam pikirannya, Lucas sudah menganggap kamu wanita yang buruk karena meninggalkannya dan aku bingung harus menjelaskan bagaimana?""Deasy, aku hanya ingin bertemu ibuku yang kata Kanaya, dia sedang sakit parah di sini.""Apa? Kamu bertemu Kanaya?" Kedua alis Deasy mengkerut kaget."Iya, dan kamu tahu? Dia sedang mengandung anak dari Lucas. Kita akan segera memiliki cucu!" Lily tampak bahagia, hingga dia menggenggam tangan Deasy. "Kanaya hamil?""Iya, Deasy. Lucas harus mengetahui hal ini dan kesalahan pahaman antara mereka akan berakhir. Aku tidak mau Lucas mem







