Beranda / Urban / Mantan Jadi Suami / Bab. 1 Pernikahan

Share

Mantan Jadi Suami
Mantan Jadi Suami
Penulis: Yeyen

Bab. 1 Pernikahan

Penulis: Yeyen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-06 12:00:27

"Aku terima nikahnya Sera Aurora binti Abraham Addy dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"

"Sah" kata para saksi

Doa pun dipanjatkan dengan khidmat oleh Pak Penghulu. Suasana hening seketika, hanya lantunan doa yang mengisi udara. Setelahnya, Sera mencium tangan suaminya, Sebastian Aditya dan Sebastian membalasnya dengan kecupan lembut di kening istrinya.

Senyum manis merekah di wajah Sebastian.

Malam harinya, resepsi megah akan diadakan di sebuah hotel bintang lima. Para kolega bisnis Sebastian sudah pasti akan hadir, karena di kota X keluarga Sebastian dikenal dengan perusahaannya yang cemerlang

Sebastian merupakan seorang manajer di perusahaannya, dan ia adalah putra sulung dari Aditya Kenzo, pemegang kendali perusahaan S. Ibunya yang dikenal elegan bernama Maya Kayla. Keluarga Sebastian juga memiliki putri bungsu bernama Olivia Aditya.

.

.

Di sisi lain, Sera Aurora merupakan anak tunggal dari pasangan Abraham Addy dan Aisyah Zara. Keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan. Ayahnya juga pemilik perusahaan, namun perusahaannya tidak seterkenal perusahaan besannya. Ibunya memiliki toko kue yang cukup terkenal dikalangan perusahaan.

Saat ini, Sera tengah melanjutkan kuliah Sarjana di bidang bisnis. Mimpinya sederhana namun penuh makna, ia ingin membuat perusahaan ayahnya agar bisa berkembang dan berdiri sejajar dengan perusahaan besar lainnya.

Sera merupakan seorang gadis yang tangguh, walaupun anak satu-satunya, ia tidak manja dan cengeng, ia didik menjadi gadis pemberani namun penuh kasih sayang

.

.

Malam itu, resepsi pernikahan Sera dan Sebastian berlangsung megah di sebuah hotel bintang lima. Gaun putih panjang berhiaskan payet halus membalut tubuh Sera dengan anggun. Wajahnya bercahaya, membuat Sebastian yang berdiri di sampingnya terpana sejenak.

Sebastian menggenggam tangan Sera, sambil tersenyum ia berkata

"Mari kita buat semua orang iri dengan kecantikanmu malam ini."

Sera tersipu, rona merah menjalar di pipinya. Tatapan mereka saling bertemu sesaat sebelum mereka menuruni anak tangga bersama.

Pasangan pengantin itu menyapa para tamu yang hadir satu per satu. Sebastian dengan bangga memperkenalkan istrinya kepada para kolega dan rekan bisnisnya.

Meski awalnya canggung, namun perlahan sera mulai terbiasa, ia tersenyum anggun dan sopan.

Di antara kerumunan, Mama Aisyah menatap putrinya penuh haru.

"Mereka sangat serasi ya, Jeng. Tampan dan cantik," ucap Mama Aisyah.

Mama Maya mengangguk setuju, senyumnya tak lepas sepanjang acara.

Tak jauh dari mereka, dua sahabat lama, Papa Aditya dan Papa Abraham, saling merangkul bahu.

"Kini kita benar-benar satu keluarga, seperti yang dulu kita impikan." ujar Papa Aditya dengan penuh semangat.

"Aku yakin kita akan membangun kerajaan bisnis yang hebat," balas Papa Abraham mantap. Mereka tertawa bahagia

Waktu terus bergulir. Musik pelan mulai mereda. Para tamu mulai meninggalkan ruangan.

Malam beranjak larut, saat acara telah usai, Sebastian menggandeng tangan Sera, membawanya menuju kamar mereka di lantai atas hotel.

Sesampainya di kamar, Sebastian membuka pintu, membiarkan Sera masuk lebih dulu.

Suasana kamar telah dihiasi bunga dan lilin aromaterapi yang lembut.

Sera berdiri di depan cermin, mulai melepas gaun pengantinnya, namun tampak sedikit kesulitan.

Sebastian melihat sekilas

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sebastian dengan suara rendah dan penuh kelembutan.

Sera menghela napas pelan, mencoba meraih kancing di punggungnya yang sulit dijangkau.

"Hmm... tidak, terima kasih..." jawabnya, meski nada suaranya ragu.

Sebastian memperhatikan sejenak, lalu melangkah mendekat. Sebastian melangkah pelan, lalu berdiri di belakang Sera yang tengah berusaha membuka gaunnya.

Ia menatap pantulan istrinya lewat cermin, perempuan yang kini telah sah menjadi pendamping hidupnya, walaupun mereka tak saling mengenal secara pribadi.

"Aku tahu, kita belum saling mengenal," ucap Sebastian pelan, suaranya terdengar tulus.

Tanpa berkata, tangannya membantu membuka kancing gaun itu dengan hati-hati. Sera membeku ia belum terbisa dengan semua ini.

"Dan pernikahan ini... lahir dari persahabatan orang tua kita. Tapi aku berharap kita bisa menjalani semuanya perlahan. Membangunnya dari awal, bersama-sama."

Sera tak menjawab, namun hatinya berdesir. Setelah selesai membantu, Sebastian melangkah meninggalkan Sera menuju kamar mandi. Sera menatap sebastian, ada senyuman yang terukir diwajahnya.

Di kamar yang sunyi, Sera duduk di tepi ranjang, ia memeriksa ponselnya dan tertera 20 panggilan tak terjawab.

- Aiden Arsenio -

Sera menatap layar itu lama, lalu menghela napas dalam-dalam. Dengan tangan yang gemetar sera mengirim pesan.

"Maafkan aku, Aiden... Sekarang aku sudah menjadi istri orang. Tolong, jangan ganggu aku lagi."

Sera melihat kearah pintu kamar mandi. Ia takut Sebastian melihatnya. Segera ia mematahkan kartu SIM dari ponselnya.

Ia tahu, ini adalah keputusan yang menyakitkan untuk Aiden tapi juga yang paling benar menurutnya.

Pikiran Sera melayang ke kata-kata Sebastian tadi. Tentang membangun perlahan. Tentang harapan. Dan untuk pertama kalinya, Sera merasa yakin... mungkin Sebastian adalah takdir terbaiknya.

Ceklek...

Pintu kamar mandi terbuka. Sebastian keluar dengan rambut yang masih basah dan mengenakan piyama abu-abu sederhana. Ia terlihat santai namun tetap rapi.

"Sekarang giliranmu," ucapnya ringan.

Sera hanya mengangguk dan melangkah menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar. Rambutnya dikeringkan seadanya, wajahnya polos tanpa riasan, tapi Sera terlihat lebih cantik, pesonanya justru lebih nyata dan alami. Sebastian menoleh, memperhatikannya sekilas.

"Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu malam ini," katanya sembari membuka laptop di meja kecil dekat jendela.

Sera menatapnya, lalu tersenyum tipis. Tak ada tuntutan, tak ada paksaan hanya waktu yang akan membawa mereka pada kedekatan.

Malam pertama mereka tak diisi janji manis atau gairah berlebih. Tapi justru dalam ketenangan seperti ini, Sera merasa hatinya mulai membuka ruang untuk seseorang yang baru.

Bersambung. . .

Jangan lupa tinggalkan jejak kawan

Terimakasih

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 86 Puas

    Keriuhan langsung pecah begitu pintu ruangan terbuka dan sang pemilik baru perusahaan melangkah masuk. Tatapan penuh pesona sempat menyambut Aiden hingga dalam hitungan detik tatapan itu memudar. Semua mata sontak tertuju pada wanita cantik yang digandengnya dengan begitu bangga. Tanpa ragu, Aiden memperkenalkan Sera sebagai istrinya… sekaligus CEO baru perusahaan ini. Sera membelalakkan mata. Ia bahkan sempat menahan napas. "Sayang… kamu jangan main-main," bisiknya pelan di telinga Aiden. Sementara itu, Sebastian dan Olivia tampak seperti tersambar petir tidak percaya, marah, sekaligus terhina. "Aku tidak main-main, sayang. Perusahaan ini sekarang milikmu. Kau yang akan mengurusnya… tentu saja dengan bimbinganku," Aiden mengedipkan satu matanya, membuat seluruh karyawan terperangah melihat kemesraan itu. Bisik-bisik mengalir dari berbagai sudut ruangan. Banyak yang memuji, banyak yang iri tapi semua sepakat bahwa pasangan itu terlihat sangat serasi. Berbeda dengan Sera yang mula

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 85 Merasa Pulang

    Seminggu berlalu setelah bulan madu mereka berakhir. Kini Sera dan Aiden harus kembali pada realita menjalani hari-hari dengan bekerja seperti biasa. Mereka sudah tinggal bersama di apartemen baru yang Aiden beli khusus untuk istrinya. Sementara apartemen lama milik Aiden, kini ia sewakan. Pagi itu, Sera sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. “Kenapa tidak apartemen lama mu saja yang kita tempati, sayang?” tanya Sera sambil menata piring. Aiden mendekat, mengambil tangan Sera, lalu menciumnya lembut. “Itu rumah bujangku. Ini rumahku bersama istriku. Aku hanya ingin suasana baru.” Sera tersenyum kecil. “Oh iya… apa aku akan jadi ibu rumah tangga?” “Siapa bilang?” Aiden menjawab santai sambil menikmati sarapannya. Sera hanya mengangkat bahu, pasrah. “Kau tetap jadi sekretarisku,” ujar Aiden sambil mengedipkan sebelah mata. “Kau harus selalu ada di sampingku. Jadi kita bisa berbulan madu di mana saja.” Senyumnya berubah penuh makna. “Maksudmu?” Sera mengernyit, bingung denga

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 84 Di Cintai

    Pagi hari, Aiden sudah bersiap, begitu pula dengan Sera. Dengan gaun sederhana yang melekat di tubuhnya, Sera tampak cantik tanpa perlu usaha berlebihan. Aiden menatapnya lama, tersenyum, lalu mendekat dan memeluk pinggang istrinya dari belakang. “Terima kasih,” bisik Aiden sambil mengecup ceruk leher Sera. Sera menatap pantulan mereka di cermin, memegang tangan Aiden yang di perutnya. “Terima kasih untuk apa?” “Untuk semua yang kau berikan.” Sera berbalik menghadap suaminya. Dengan lembut ia memegang kedua pipi Aiden. “Dengar… aku tidak memberikan apa pun selain cintaku. Dan aku rasa itu pun belum cukup. Aku ingin memberimu seorang anak.” Ia lalu mengecup bibir Aiden penuh kelembutan. Aiden terdiam sejenak, menatap Sera dengan penuh cinta. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Kalau kau tidak berjuang, aku tidak akan bersamamu sekarang… dan tidak akan sebahagia ini.” Air mata Sera mulai mengalir. “Terima kasih,

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 83. HoneyMoon

    Pagi-pagi sekali mereka sudah berkumpul di restoran hotel. Aiden tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya, seolah takut Sera menghilang barang sedetik. Mereka menyapa keluarga satu per satu sebelum akhirnya duduk dan ikut menikmati sarapan hangat bersama. “Aku akan membawa Sera berlibur, Dad,” ucap Aiden sambil tersenyum pada Daddy dan Mommy. “Itu bagus. Sudah seharusnya kalian berbulan madu,” jawab Daddy ringan. “Papa akan mensponsori tiket keberangkatan dan kepulangan kalian. Ke mana pun.” Papa berkata dengan bangga. Hari itu, ia baru benar-benar melihat anaknya tersenyum tanpa tekanan, sepanjang hari bersama Aiden. “Dan Daddy akan mensponsori penginapan kalian,” Daddy menimpali tak mau kalah. Mommy ikut menggoda, “Enak ya punya orang tua dan mertua kaya.” Tawa pun pecah di meja itu. “Terima kasih Pa… thank you, Dad,” Aiden bertos ria, seperti kebiasaannya sejak dulu bersama Daddy. Sera dan keluarganya bisa merasakan kehangatan keluarga Aiden, sesuatu y

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 82 Nakal

    Sebastian dan keluarganya naik ke panggung untuk memberi selamat kepada pengantin baru. Aiden menatap mereka dengan ekspresi datar, namun ia menggenggam tangan Sera erat seolah ingin melindungi pujaan hatinya dari apa pun yang mungkin datang. “Selamat, Sera… akhirnya kau menemukan pengganti kakakku,” ucap Olivia dengan cibiran yang jelas merendahkan. Aiden tidak langsung turun tangan. Ia ingin melihat sejauh apa Sera bisa melawan. “Ada apa dengan kakakmu? Siapa dia? Dan kau sendiri… siapa? Aku rasa aku tidak mengenalmu. Bagaimana bisa kau datang ke pestaku?” Sera berpura-pura masih hilang ingatan, dengan ekspresi yang begitu tenang. Olivia terkekeh meremehkan. “Dasar amnesia. Kau itu janda, jangan bermimpi terlalu tinggi. Aku rasa…” Olivia mendekat dan berbisik di telinga Sera. “Kau akan bernasib sama seperti dengan kakakku dulu. Habis manis, sepah dibuang.” Sera tetap tersenyum, senyum yang justru semakin memancing emosi Olivia. “Kita lihat saja. Jika suamiku dibandin

  • Mantan Jadi Suami   Bab. 81 Hari Bahagia

    Hari ini adalah hari bahagia Sera dan Aiden. Berbeda dengan pernikahannya yang dulu, kali ini Sera benar-benar bahagia menikah dengan hati dan pilihannya sendiri. Sekali lagi, kebaya putih menyelimuti tubuh mungilnya. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Sera, senyum manis terukir begitu sempurna. “Ayo sayang… Aiden sudah menunggumu,” ucap Mama dan Mommy lembut. Mereka menggandeng Sera menuju tempat Aiden berada. Aiden menatap Sera dengan senyuman yang langsung melembutkan seluruh raut wajahnya. Air mata menggenang di matanya, akhirnya ia sampai pada titik ini, menikahi perempuan yang benar-benar ia cintai. “Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta. Akhirnya kau menikahi wanita yang kau cintai, brother,” Mike menepuk pundak Aiden. “Aku acungkan jempol untuk perjuangan cintamu,” tambah Vincent dengan bangga. Aiden tersenyum sambil mengusap sudut matanya. Ia terharu, ini hari yang sudah ia nantikan sejak lama. “Terima kasih sudah membantuku. Hari ini tidak akan ada tanpa kalian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status