LOGINSebastian membawa Sera pulang ke rumahnya. Sebagai anak pertama sekaligus anak laki-laki satu-satunya, Sebastian tetap tinggal di rumah orang tuanya, sebuah rumah besar yang terletak di kawasan elit.
Sera akan tinggal bersama mertua serta adik iparnya, ia akan mencoba mengenal seperti apa keluarga suaminya, ia harus bisa menyesuaikan diri pikirnya. Begitu mobil mereka berhenti di halaman, Mama Maya sudah berdiri di ambang pintu, menyambut mereka dengan senyum lebar. "Selamat datang, sayang." Ia memeluk Sebastian, lalu merangkul Sera dengan hangat. "Selamat datang juga, menantuku yang cantik." Sera membalas pelukan itu dengan senyum malu-malu. "Terima kasih, Ma." "Kamar kalian sudah siap, ayo Mama antarkan ke atas." Mama Maya menggandeng tangan Sera dengan penuh semangat. Sera merasa sangat lega, pertama kali menjejakkan kakinya ia disambut dengan hangat dan ramah. Sebelum menuju ke kamar, Mama Maya mengajak Sera berkeliling rumah, memberinya semacam "room tour". Ia menunjukkan letak dapur, ruang keluarga, kamar tamu, serta taman kecil di belakang rumah. "Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan ya, sayang," ucap Mama lembut. "Kamu bisa minta bantuan ke asisten rumah tangga. Anggap saja ini rumahmu juga." Sera tersenyum, merasa semakin nyaman. "Terima kasih, Mama." Akhirnya mereka tiba di kamar pengantin baru. Ruangan itu luas dan tertata dengan elegan. Di dalamnya, ada lemari pakaian besar, meja rias, dan ranjang dengan sprei bersih berwarna putih gading. "Ini kamar kalian," ucap Mama. "Kamu bisa menyusun bajumu di lemari itu. Mama menunjuk kearah lemari besar dikamar Sebastian "Mama tinggal dulu ya, kamu istirahatlah." Mama Maya membelai kepala Sera dengan penuh kasih. Sebastian keluar bersama ibunya, ia hanya melirik dan tersenyum pada Sera sebelum meninggalkan kamar. Sera mulai membereskan koper, menyusun pakaiannya ke dalam lemari. Setelah selesai, ia mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjang. Ia membuka kartu SIM yang baru saja ia beli pagi tadi dan memasangnya diponsel. Sekarang saatnya memberi tahu keluarga dan teman-teman dekat. Pesan singkat dikirimkan kepada Mama dan Papanya lebih dulu. Setelah itu, ia menghubungi seseorang yang tak kalah penting yaitu sahabatnya sejak SMA, Jelita Elara. "Halo Jel, ini aku, Sera. Ini nomor baruku. Jangan lupa disimpan." Beberapa detik kemudian, suara ceria Jelita terdengar dari seberang. "Eh, gimana pernikahan kamu? Apa suamimu menyenangkan?" tanya Jelita dengan nada penuh antusias. Sera tersenyum kecil, pipinya memerah hanya karena membayangkannya. Sera memegang pipinya malu. Walaupun tidak ada yang melihatnya. "Hmm… dia sangat baik. Ucapannya manis sekali. Dan bisa bikin aku tersipu tanpa sadar." Sera tersenyum menutup mulutnya, ia seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta "Wah wah waahh... Begitu cepat kau melupakan Aiden, ya?" seru Jelita sambil tertawa mengejek "Tapi aku setuju sih, kalau ada yang baik, perhatian, dan romantis di depan mata… kenapa harus mikirin yang jauh? Hahahaha!" Sera mencibir kesal. "Iisshh, kau ini!" katanya dengan nada jengkel yang dibuat-buat. "Sudah dulu ya, aku mau turun menyusul suamiku. Bye!" Tanpa menunggu balasan dari Jelita, Sera langsung mematikan panggilannya. Meski kesal, senyumnya tak hilang. Hatinyapun terasa hangat. Baru sehari menjadi istri orang, tapi rasanya, Sera sudah mulai belajar bahwa "rumah" tak selalu tentang tempat. Kadang, rumah adalah seseorang... yang membuatmu merasa diterima, dihargai, dan diperlakukan dengan lembut. . . Makan malam telah siap. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah, menggoda siapa pun yang menghirupnya. Mama memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul di ruang makan. "Ayo, semua turun. Makan malam sudah siap," serunya sambil tersenyum. Meja makan besar diisi dengan berbagai hidangan rumahan yang menggugah selera. Sebastian, Sera, Papa Aditya, dan Olivia duduk di sekeliling meja bersama Mama Maya. Sera duduk di samping Sebastian, merasa agak gugup, ini pertama kalinya ia makan bersama keluarga barunya. Makan malam berlangsung dalam keheningan yang sedikit kaku. Hanya dentingan sendok dan garpu di atas piring yang terdengar. Sera, yang masih merasa canggung berada di tengah keluarga barunya, sesekali mencuri pandang ke arah satu per satu. Papa yang kalem dan berwibawa, Mama yang tampak penuh kasih, dan Olivia... perempuan muda yang selama ini terkenal sebagai sosok yang sangat angkuh. Tiba-tiba suara Olivia memecah keheningan. "Apa besok kamu sudah mulai ke kampus?" tanyanya sambil menatap Sera. Sera sedikit terkejut, namun segera menjawab "Ya... sepertinya aku harus ke kampus. Aku perlu mengurus berkas untuk wisudaku" Olivia mengangguk kecil. "Baiklah. Besok kita pergi bersama." Kalimat itu terdengar datar, tapi sopan. Namun bagi Sera, itu terdengar cukup asing. Di kampus, Olivia dikenal sebagai gadis dingin dan sedikit arogan. Mereka memang berkuliah di universitas yang sama, tapi berbeda jurusan. Dan selama ini, mereka nyaris tak pernah berinteraksi. Sera sempat ragu. Tapi ia cepat menenangkan diri, berusaha melihat dari sisi positif. Mungkin orang-orang hanya menilainya dari luar saja. Bisa jadi, Olivia tak seburuk yang dikatakan orang-orang. Sekarang Olivia adalah iparnya. Dan di keluarga ini, Sera ingin menanamkan kedamaian, bukan jarak. Sera pun mengangguk pelan. "Baiklah, kita pergi bersama." Sebastian sempat melirik istrinya sekilas, lalu melanjutkan makannya tanpa berkata apa-apa. Malam itu berlalu tenang. Tak banyak percakapan, tapi juga tak ada ketegangan. Sera merasa sedikit lega, langkah kecil untuk mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya telah ia ambil. Bersambung . . . Jangan lupa tinggalkan jejak terimakasih . . .Keriuhan langsung pecah begitu pintu ruangan terbuka dan sang pemilik baru perusahaan melangkah masuk. Tatapan penuh pesona sempat menyambut Aiden hingga dalam hitungan detik tatapan itu memudar. Semua mata sontak tertuju pada wanita cantik yang digandengnya dengan begitu bangga. Tanpa ragu, Aiden memperkenalkan Sera sebagai istrinya… sekaligus CEO baru perusahaan ini. Sera membelalakkan mata. Ia bahkan sempat menahan napas. "Sayang… kamu jangan main-main," bisiknya pelan di telinga Aiden. Sementara itu, Sebastian dan Olivia tampak seperti tersambar petir tidak percaya, marah, sekaligus terhina. "Aku tidak main-main, sayang. Perusahaan ini sekarang milikmu. Kau yang akan mengurusnya… tentu saja dengan bimbinganku," Aiden mengedipkan satu matanya, membuat seluruh karyawan terperangah melihat kemesraan itu. Bisik-bisik mengalir dari berbagai sudut ruangan. Banyak yang memuji, banyak yang iri tapi semua sepakat bahwa pasangan itu terlihat sangat serasi. Berbeda dengan Sera yang mula
Seminggu berlalu setelah bulan madu mereka berakhir. Kini Sera dan Aiden harus kembali pada realita menjalani hari-hari dengan bekerja seperti biasa. Mereka sudah tinggal bersama di apartemen baru yang Aiden beli khusus untuk istrinya. Sementara apartemen lama milik Aiden, kini ia sewakan. Pagi itu, Sera sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. “Kenapa tidak apartemen lama mu saja yang kita tempati, sayang?” tanya Sera sambil menata piring. Aiden mendekat, mengambil tangan Sera, lalu menciumnya lembut. “Itu rumah bujangku. Ini rumahku bersama istriku. Aku hanya ingin suasana baru.” Sera tersenyum kecil. “Oh iya… apa aku akan jadi ibu rumah tangga?” “Siapa bilang?” Aiden menjawab santai sambil menikmati sarapannya. Sera hanya mengangkat bahu, pasrah. “Kau tetap jadi sekretarisku,” ujar Aiden sambil mengedipkan sebelah mata. “Kau harus selalu ada di sampingku. Jadi kita bisa berbulan madu di mana saja.” Senyumnya berubah penuh makna. “Maksudmu?” Sera mengernyit, bingung denga
Pagi hari, Aiden sudah bersiap, begitu pula dengan Sera. Dengan gaun sederhana yang melekat di tubuhnya, Sera tampak cantik tanpa perlu usaha berlebihan. Aiden menatapnya lama, tersenyum, lalu mendekat dan memeluk pinggang istrinya dari belakang. “Terima kasih,” bisik Aiden sambil mengecup ceruk leher Sera. Sera menatap pantulan mereka di cermin, memegang tangan Aiden yang di perutnya. “Terima kasih untuk apa?” “Untuk semua yang kau berikan.” Sera berbalik menghadap suaminya. Dengan lembut ia memegang kedua pipi Aiden. “Dengar… aku tidak memberikan apa pun selain cintaku. Dan aku rasa itu pun belum cukup. Aku ingin memberimu seorang anak.” Ia lalu mengecup bibir Aiden penuh kelembutan. Aiden terdiam sejenak, menatap Sera dengan penuh cinta. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Kalau kau tidak berjuang, aku tidak akan bersamamu sekarang… dan tidak akan sebahagia ini.” Air mata Sera mulai mengalir. “Terima kasih,
Pagi-pagi sekali mereka sudah berkumpul di restoran hotel. Aiden tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya, seolah takut Sera menghilang barang sedetik. Mereka menyapa keluarga satu per satu sebelum akhirnya duduk dan ikut menikmati sarapan hangat bersama. “Aku akan membawa Sera berlibur, Dad,” ucap Aiden sambil tersenyum pada Daddy dan Mommy. “Itu bagus. Sudah seharusnya kalian berbulan madu,” jawab Daddy ringan. “Papa akan mensponsori tiket keberangkatan dan kepulangan kalian. Ke mana pun.” Papa berkata dengan bangga. Hari itu, ia baru benar-benar melihat anaknya tersenyum tanpa tekanan, sepanjang hari bersama Aiden. “Dan Daddy akan mensponsori penginapan kalian,” Daddy menimpali tak mau kalah. Mommy ikut menggoda, “Enak ya punya orang tua dan mertua kaya.” Tawa pun pecah di meja itu. “Terima kasih Pa… thank you, Dad,” Aiden bertos ria, seperti kebiasaannya sejak dulu bersama Daddy. Sera dan keluarganya bisa merasakan kehangatan keluarga Aiden, sesuatu y
Sebastian dan keluarganya naik ke panggung untuk memberi selamat kepada pengantin baru. Aiden menatap mereka dengan ekspresi datar, namun ia menggenggam tangan Sera erat seolah ingin melindungi pujaan hatinya dari apa pun yang mungkin datang. “Selamat, Sera… akhirnya kau menemukan pengganti kakakku,” ucap Olivia dengan cibiran yang jelas merendahkan. Aiden tidak langsung turun tangan. Ia ingin melihat sejauh apa Sera bisa melawan. “Ada apa dengan kakakmu? Siapa dia? Dan kau sendiri… siapa? Aku rasa aku tidak mengenalmu. Bagaimana bisa kau datang ke pestaku?” Sera berpura-pura masih hilang ingatan, dengan ekspresi yang begitu tenang. Olivia terkekeh meremehkan. “Dasar amnesia. Kau itu janda, jangan bermimpi terlalu tinggi. Aku rasa…” Olivia mendekat dan berbisik di telinga Sera. “Kau akan bernasib sama seperti dengan kakakku dulu. Habis manis, sepah dibuang.” Sera tetap tersenyum, senyum yang justru semakin memancing emosi Olivia. “Kita lihat saja. Jika suamiku dibandin
Hari ini adalah hari bahagia Sera dan Aiden. Berbeda dengan pernikahannya yang dulu, kali ini Sera benar-benar bahagia menikah dengan hati dan pilihannya sendiri. Sekali lagi, kebaya putih menyelimuti tubuh mungilnya. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Sera, senyum manis terukir begitu sempurna. “Ayo sayang… Aiden sudah menunggumu,” ucap Mama dan Mommy lembut. Mereka menggandeng Sera menuju tempat Aiden berada. Aiden menatap Sera dengan senyuman yang langsung melembutkan seluruh raut wajahnya. Air mata menggenang di matanya, akhirnya ia sampai pada titik ini, menikahi perempuan yang benar-benar ia cintai. “Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta. Akhirnya kau menikahi wanita yang kau cintai, brother,” Mike menepuk pundak Aiden. “Aku acungkan jempol untuk perjuangan cintamu,” tambah Vincent dengan bangga. Aiden tersenyum sambil mengusap sudut matanya. Ia terharu, ini hari yang sudah ia nantikan sejak lama. “Terima kasih sudah membantuku. Hari ini tidak akan ada tanpa kalian
Sore itu, Aiden tiba di rumah Sera bersama kedua orang tuanya. Ia sengaja tidak memberi kabar lebih dulu, ia tahu, sebentar lagi Sera pasti akan tiba di rumah. “Om, Tante… perkenalkan, ini orang tua saya,” ucap Aiden sopan. Papa dan Mama menyambut hangat calon besan mereka dengan senyum penuh ke
Aiden akhirnya tiba di kota kelahirannya. Ia pulang dengan satu tujuan, yaitu memberi kabar kepada kedua orang tuanya bahwa ia akan menikah. Dalam hati, ia berharap kabar ini membawa kebahagiaan bagi mereka. “Morning, Dad... morning, Mom,” sapanya hangat. “Aiden…” seperti biasa, Mommy langsung
Rapat diadakan di kantor Sebastian. Naomy dan timnya menyambut tamu serta rekan bisnis dengan hangat, sementara Sebastian tampak asyik mengobrol dengan beberapa kolega sebelum rapat dimulai. Kali ini, Sebastian benar-benar menjaga jarak dengan Naomy, sesuai perintah sang Papa. Naomy paham, di kant
Keesokan harinya, Aiden berniat memberi sedikit shock therapy kepada Sebastian dan keluarganya. Ia memerintahkan Vincent untuk menyebarkan video kejadian kemarin Vincent pun menjalankan perintah itu tanpa ragu. Siang harinya, perusahaan milik keluarga Sebastian gempar. Video yang memperlihatkan Se







