Beranda / Mafia / Mantan Kakak Tiri / Bab 6 Kamu Memang Neraka Bagiku

Share

Bab 6 Kamu Memang Neraka Bagiku

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-19 16:14:40

Hujan deras mengguyur Firenze malam itu. Langit seperti sedang berduka, petir menyambar dengan suara menggelegar, dan setiap kilat yang menyinari kaca jendela memantulkan bayangan suram di dinding rumah keluarga Morreti.

Elara berdiri di dapur sendirian, hanya ditemani cahaya temaram dari lampu kecil di sudut ruangan. Tangannya menggenggam gelas air yang dingin, menatap kosong ke luar jendela. Ia sudah terbiasa dengan malam-malam seperti ini. Malam di mana Damian belum pulang, Giovanni sibuk di ruang kerjanya, dan rumah itu terasa lebih seperti penjara daripada rumah.

Namun malam itu berbeda.

Ada sesuatu di udara, berat, lembab, dan menyesakkan.

Suara pintu besar terbuka dengan keras dan kasar membuat Elara tersentak.

Langkah kaki berat bergema di sepanjang lorong. Ia tahu langkah itu milik Damian tapi ia tak tahu, kenapa malam ini membuatnya merasa gemetar ketakutan.

Biasanya, suara langkah itu membuatnya tenang tapi malam ini, ada nada aneh di sana, langkah yang terseret, berat, dan tak teratur. Elara tahu Damian baru pulang dari perjalanan bisnis bersama ayahnya tapi aroma alkohol yang tercium dari kejauhan membuat jantungnya berdebar tak karuan.

"Tuan." Beberapa orang pelayan dan pengawal menghampiri Damian.

"Pergi dan kosongkan seluruh ruangan pribadiku dan Elara!" ucapnya tegas dan keras.

Semua tak ada yang berani bertanya apalagi membantah. Semua pergi sesuai perintah. Mengosongkan rumah timur, khusus daerah kekuasaan Damian dan Elara sebagai putra putri Morreti.

“Elara.” Suara itu pelan, tapi dalam dan serak.

Elara menoleh dan di sana, di ambang pintu dapur, Damian berdiri dengan kemeja putih yang setengah terbuka, rambut basah karena hujan, dan mata kelam yang tampak lelah sekaligus, kosong.

“Kamu belum tidur,” katanya. Suaranya seperti hembusan badai yang menahan amarah.

Elara menelan ludah. “Aku hanya ingin minum air. Kamu sebaiknya istirahat, Damian. Kamu tampak lelah.” Ia takut dan ia masih terbayang saat Damian membunuh tapi ia tidak bisa pergi menghindari Damian begitu saja.

Damian melangkah mendekat, perlahan. Setiap langkahnya membuat Elara mundur selangkah. “Aku memang lelah, Elara. Semuanya terasa kacau. Ayah menuntut terlalu banyak. Dunia ini menuntut terlalu banyak tapi hanya kamu,” ia berhenti, menatapnya dengan mata yang hampir putus asa “hanya kamu yang bisa membuatku tenang.”

“Damian,” suara Elara bergetar. “Kamu mabuk. Besok kita bicara lagi, sekarang lebih baik istirahat.”

“Tidak,” bisik Damian. “Sekarang.”

Tangan Damian terulur, mencengkeram pergelangan tangan Elara. Dingin, kuat, tak memberi ruang untuk kabur.

Elara mencoba menarik diri, tapi genggamannya semakin erat. “Damian, tolong,” bisiknya, hampir tak bersuara. Ia takut, sangat takut saat Damian terlalu dekat.

Damian tidak mendengar atau mungkin ia mendengar, tapi memilih untuk tidak memahami dan pura-pura tuli. Ia menarik Elara ke sofa dan merebahkan tubuhnya.

Elara berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan kabur tapi usahanya sia-sia. Tenaga Damian cukup kuat. Ia hanya bisa menjerit saat Damian melucuti pakaian miliknya.

"Kamu milikku, Elara."

Damian memandangi tubuh polos Elara dengan senyum yang menurut Elara sangat mengerikan.

Hujan yang sempat mereda kini kembali lebih deras seperti badai. Elara berteriak cukup keras dan mencengkram punggung Damian kuat saat Damian menembus pertahanan terakhirnya.

Air mata Elara mengalir bersama dengan darah kesuciannya yang direnggut paksa. Ia bersumpah akan membenci Damian untuk selamanya.

***

Keesokan paginya, matahari tetap terbit seperti biasa tapi bagi Elara, dunia tidak lagi sama. Ia duduk di lantai kamarnya, punggungnya bersandar pada dinding, selimut membungkus tubuhnya yang menggigil. Matanya kosong, wajahnya pucat, dan tangannya gemetar setiap kali mencoba bernapas.

Ia tak tahu banyak kejadian semalam, ia hanya merasakan sakit dan tiba-tiba semua menjadi gelap. Saat ia bangun, ia sudah berada di kamar.

“Elara?” Merry, ibunda Elara. Mengetuk pintu pelan. "Ayo kita sarapan, Sayang."

Tak ada jawab, Merry merasa cemas. Ia membuka pintu kamar Elara perlahan. Begitu pintu terbuka ia melihat kondisi putrinya yang kacau tengah terisak.

“Elara." Ia berlutut, memeluk anaknya yang hancur tanpa tahu harus berbuat apa. Dunia mereka runtuh dalam diam.

Meski Elara tidak bercerita, ia sudah tahu apa yang baru saja dialami oleh putrinya.

"Tunggu, Ibu." Merry keluar kamar dan berniat untuk mencari keadilan.

"Dimana Elara, kamu datang sendirian?" Giovanni menatap Merry sekilas, lalu melanjutkan sarapannya.

Giovanni tahu. Ia tahu dari cara Damian tidak berani menatap mata siapa pun saat pagi tiba. Ia yakin Damian telah berbuat sesuatu yang fatal tapi ia tidak berniat melakukan apa pun. Hanya diam. Seolah menutup mata lebih mudah daripada menghadapi kenyataan dan kebenaran.

“Elara akan pergi bersamaku,” kata Merry. “Kami akan pindah dari neraka ini. Aku sungguh menyesal menerima lamaranmu. Kalian semua iblis!"

Giovanni tidak mencegah dan tidak berkomentar.

Damian sendiri hanya menunduk, wajahnya kelabu. Rasa bersalah begitu kuat. Ia mengingat persis detail kejadian semalam.

Tidak ada respon apa pun, Merry merasa sangat sakit hati. Ia pergi menuju kamar Elara kembali dan membantunya berkemas meninggalkan neraka dan para iblis.

Saat Elara berjalan melewati ruang tamu untuk terakhir kalinya, Damian menatapnya dari ujung tangga, mata yang dulu penuh perlindungan kini hanya menyisakan bayangan bersalah.

“Elara,” panggilnya pelan tapi gadis itu tidak menoleh. Ia hanya berjalan terus, keluar dari rumah itu, membiarkan hujan menutupi air matanya.

Bertahun-tahun kejadian kelan itu telah berlalu dan pria itu datang lagi. Mengingatkan neraka yang pernah membakar hidup dan hatinya menjadi abu.

"Pergi dari tokoku! Aku tidak ingin melihatmu lagi." Elara berusaha mengusir Damian dari toko bunga miliknya. "Kamu memang neraka untukku. Jadi menjauhlah dari hidupku."

"Baiklah tapi aku akan kembali lagi." Damian tersenyum tipis, melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan toko  tapi bukan pergi dari kehidupan Elara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 55 Kamu Berharap Aku Percaya?

    Elara duduk di kursi penumpang dengan tubuh tegang, tangannya menggenggam ujung jaket sampai buku-buku jarinya memutih. Kota Roma bergulir di luar jendela seperti lukisan yang diputar cepat, lampu pagi, bangunan batu tua, bayangan orang-orang yang belum tahu bahwa di salah satu mobil hitam tanpa plat itu, seorang wanita sedang memutus nasibnya sendiri.Lucas menyetir tanpa banyak bicara. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Rambutnya rapi, jas gelapnya sederhana, tidak mencolok, tidak pula terkesan berbahaya. Tapi Elara tahu, orang-orang paling berbahaya di dunia Morreti justru selalu terlihat seperti itu.“Kita hampir sampai,” ucap Lucas akhirnya, suaranya rendah dan datar, seperti seseorang yang sedang memberi kabar cuaca.Elara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, matanya tetap waspada. Setiap kali mobil berbelok, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membayangkan Damian. Tatapan gelap itu. Nada dingin yang bisa berubah menjadi hukuman tanpa suara. Ia tahu, setiap detik yang berlal

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 54 Kamu Sedang Mengulang Kesalahanku

    Giovanni Morreti merasakan keanehan itu bahkan sebelum ia membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" gumamnya pelan lalu ia membuka pintu kamarnya.Lorong lantai atas menyambutnya dengan keheningan yang tidak wajar, tidak ada langkah pelayan, tidak ada suara radio penjaga, dan tidak ada suara latihan senjata yang biasanya samar terdengar di pagi hari. Giovanni berhenti sejenak. Naluri lamanya berbisik bahwa sesuatu telah terjadi. Ia melangkah maju dan di ujung lorong, ia melihat dua penjaga berdiri tegak dengan senjata siap di tangan, wajah mereka kaku, rahang mengeras seperti patung. Saat melihatnya, mereka langsung menunduk, namun tidak ada sapaan hormat yang biasa mereka ucapkan. Itu bukan kelalaian. Itu ketakutan.“Kenapa kalian seperti menghadapi eksekusi?” tanya Giovanni dingin.Keduanya saling melirik sekilas, lalu salah satu menjawab, suaranya nyaris tak terdengar. “Perintah Tuan Damian, Tuan.”Nama itu membuat Giovanni berhenti melangkah. “Perintah apa?” tanyanya.Penjaga itu menela

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 53 Kamu Kira Dunia di Luar Sana Lebih Baik Dariku?

    Handuk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 52 Apa Kamu Juga Musuh Morreti?

    "Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 51 Lebih Baik Hancur Disisiku

    Elara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 50 Aku Sudah Membunuh Terlalu Banyak Orang Untukmu

    Kamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status