Share

Part 14

Penulis: Umi Kulsum
last update Tanggal publikasi: 2026-09-26 15:29:49

Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan.

Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan.

Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting.

Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya.

Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun potongan yang selama ini ia pikir tidak berarti.

Dan di antara potongan-potongan itu, ia menemukan sebuah nama yang sudah lama tidak ia pikirkan.

Marcus Reed.

Seorang senior dari masa kuliah yang dulu sering membantu mahasiswa baru dengan tugas dan magang. Claire mengingatnya samar, Marcus tipe orang yang ramah, tidak mencolok, selalu tahu lowongan dan kampus mana yang bagus. Beberapa kali, dua tahun lalu, Marcus mengiriminya pesan, menanyakan kabar, menawarkan bantuan, dan sekali, mengajaknya minum kopi.

Claire mengingat pertemuan itu. Ia pernah menerimanya, sekali, di sebuah kafe dekat kampus. Mereka bicara tentang pekerjaan, tentang masa depan, dan tanpa ia duga, tentang Ethan. Marcus bertanya dengan santai tentang siapa pacar Claire, bekerja di mana, bagaimana hubungan mereka. Claire, yang waktu itu bahagia dan tidak curiga pada siapa pun, menjawab dengan ringan.

Sekarang, dua tahun kemudian, ia menatap nama itu di layar dan merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.

Ia mengulang percakapan itu di kepalanya. Marcus Reed. Kafe dekat kampus. Ia membuka kalender dan menghitung. Ya. Pertemuan itu terjadi tepat di sekitar masa ketika Ethan mulai menerima surat-surat. Beberapa minggu sebelumnya.

Ada hal lain yang membuatnya yakin sebulan setelah pertemuan itu, Marcus menghilang dari kehidupannya. Tidak menghubungi lagi, menghapus akun, pindah entah ke mana. Claire waktu itu tidak memikirkannya. Orang datang dan pergi.

Ia membuka internet dan mencari nama itu. Butuh waktu lama, tetapi ia menemukan sesuatu di halaman arsip sebuah perusahaan, di bagian yang sudah usang. Daftar kecil berisi nama staf lama, dan di antaranya, sebuah nama dengan foto yang sudah berumur bertahun-tahun. Wajah yang ia kenali.

Nama: Marcus Reed. Jabatan dulu: Staf Pengembangan Bisnis.

Perusahaan tempat ia bekerja dua tahun lalu.

Kantor Strategi.

Claire menutup laptopnya perlahan, dan duduk membeku di kegelapan kamar. Ia mengingat percakapan itu berkali-kali, Marcus bertanya tentang Ethan, tentang keluarganya, tentang di mana mereka biasa bertemu. Ia mengingat Marcus yang ramah, yang tidak mencolok, yang selalu tahu hal-hal sebelum orang lain tahu. Dan ia mengingat bahwa setelah percakapan itu, minggu-minggu berikutnya adalah minggu-minggu ketika Ethan mulai gelisah, mulai menolak panggilan, mulai menatap ponselnya dengan cara yang aneh.

Bukan kebetulan. Semuanya terhubung.

Esoknya, Claire bekerja seperti biasa, lebih hati-hati dari biasanya. Siang itu, ia naik ke lantai lima belas untuk mengurus berkas pameran. Ketika ia menunggu di depan ruang penyimpanan, pintunya kebetulan terbuka, dan seorang staf keluar, membawa map-map ke ruang lain, lalu melewati Claire tanpa banyak bicara. Pintunya tidak tertutup sempurna.

Claire menoleh ke kanan dan kiri. Lorong itu kosong. Ia melangkah mendekat, berpura-pura memeriksa sesuatu di tasnya, dan melirik ke dalam melalui celah pintu.

Di dalam, di atas meja panjang, ada beberapa map yang belum diberi label. Pada salah satunya, di sudut atas, ada tulisan tangan kecil dengan tinta biru, ada beberapa kata, singkatan, dan sebuah nama.

Proyek KH. Claire Bennett.

Claire menahan napas. Ia ingin mendorong pintu, mengambil map itu, membukanya di sana. Dan mungkin sekalian ia minta dipenjara, biar lengkap. Ia menahan diri. Tetapi sebelum ia sempat bergerak, terdengar langkah kaki di belakangnya, dan sebuah suara yang tenang, sopan, dan sangat terkendali.

"Mencari sesuatu, Claire?"

Claire berbalik. Adrian Callahan berdiri beberapa langkah darinya, dengan dua cangkir kopi di tangan, tersenyum tipis. Pintu ruang penyimpanan tertutup pelan di belakangnya, bukan oleh angin.

Claire menelan ludah dan mengangkat kepala.

"Tidak," katanya, berharap suaranya tidak setegang yang ia rasakan. "Aku sedang menunggu berkas."

"Bagus." Adrian menyerahkan satu cangkir kopi ke arahnya, seperti seorang senior yang baik hati. "Kita sedang bekerja keras. Kamu banyak membantu, kamu tahu." Ia menatap pintu penyimpanan sekilas, lalu kembali ke Claire, dan senyumnya tidak berubah. "Aku ini orang yang menyukai orang rajin. Tapi kadang, orang rajin juga perlu tahu kapan harus berhenti membaca."

Claire menerima kopi itu tanpa meminumnya. "Terima kasih."

"Kapan-kapan kita bicara lebih panjang," kata Adrian, berjalan pergi. "Tentang Proyek KH, mungkin."

Claire berdiri di lorong itu dengan cangkir kopi yang belum ia minum, mengetahui satu hal dengan pasti. Dua tahun lalu, namanya pernah tertulis di dalam map seseorang. Dan orang itu masih bekerja di gedung yang sama.

Malam itu, ia mengirim pesan kepada Ethan. Bukan lewat telepon, hanya satu kalimat singkat. Aku perlu bicara. Bukan di kantor.

Balasannya datang cepat. Aku juga. Besok, jam tujuh. Aku akan menjemputmu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status