تسجيل الدخولMendengar pertanyaan itu, Lucy merasa jantungnya berhenti seketika. Pandangan tajam pria tua di hadapannya membuat tubuhnya kaku. Dia tahu, lelaki itu bukan orang sembarangan. Melainkan Robert Shane—ayah mertua Vicktor, pemilik Shane Group—yang kini menatapnya penuh curiga.
"A-aku... aku tidak tahu, Tuan," bisiknya gugup, suaranya bergetar. Robert menghela napas kasar, lalu berbalik badan. "Vicktor! Kau benar-benar membuatku marah!" serunya sambil merogoh ponselnya, jari gemetar menekan nomor anak menantunya. Detik itu, Lucy seperti kehilangan akal. Panik bercampur rasa takut menguasainya. Perlahan, ia mendekat dari belakang. Tanpa pikir panjang, kedua tangannya mendorong keras bahu Robert. "Bugh!" Tubuh renta itu terhempas ke dinding pinggir kolam. Kepala Robert terbentur keras hingga meninggalkan lecet membiru. "Sialan... kau...!" erang Robert, berusaha menahan sakit. Napas Lucy memburu. Ketakutan mencekik tenggorokannya. "Maaf... maaf, Tuan..." gumamnya panik sambil menyeret tubuh Robert yang sudah lemah. Dengan satu tarikan putus asa, ia mendorong pria tua itu masuk ke kolam. Cipratan air memecah keheningan. Robert meronta, mencoba berenang, namun sia-sia tubuh tuanya tidak mampu melawan. Ia megap-megap, berusaha meraih tepi, tapi kekuatannya habis. "Ya Tuhan..." Perasaan Lucy semakin tak karuan, lalu melompat. Dengan sisa tenaga, ia menarik tubuh Robert kembali ke daratan. Tubuh pria itu tergeletak tak bergerak. Gemetar, Lucy meraba nadi di pergelangan tangannya. Masih ada denyut tapi sangat lemah. Tanpa menunggu, ia meraih ponselnya menghubungi Vicktor. "Vick! Cepat pulang! Ayah mertuamu ada di sini!" suaranya pecah, nyaris menangis. Lima belas menit berlalu, akhirnya Vicktor tiba di kediamannya setelah Lucy menghubunginya lewat panggilan telepon. Pandangannya seketika membeku saat melihat Robert tergeletak tak berdaya di pinggir kolam, tubuhnya pucat seperti mayat. Yang lebih mengejutkan lagi, Lucy berdiri di dekatnya dengan pakaian basah kuyup. “Lucy! Apa yang terjadi pada Deddy?!” seru Vicktor panik, langkahnya terburu menghampiri. Lucy menunduk, wajahnya bergetar. Hening menyelimuti beberapa detik sebelum ia menjawab dengan suara lirih. “Aku… aku tidak tahu kejadian sebenarnya, Vick. Aku hanya melihat Ayah mertuamu di dalam kolam, meminta bantuan… jadi aku langsung menolongnya.” Vicktor mengusap wajahnya kalut. “Aku harus segera menghubungi dokter!” Tangannya sudah merogoh saku jas, tapi Lucy cepat menahan. “Tidak, Vick! Tolong… bawa saja beliau ke rumah sakit sekarang. Itu lebih tepat.” Tanpa pikir panjang, Vicktor mengangguk. Dengan tenaga terburu-buru, ia mengangkat tubuh Robert. “Lucy, bantu aku! Cepat!” Mereka berdua bersusah payah menggotong Robert hingga masuk ke dalam mobil. Nafas Vicktor terengah, matanya penuh cemas. Saat ia hendak menyalakan mesin, Lucy mendekat. “Vick… aku ingin ikut,” ucapnya lirih. Namun Vicktor menggeleng tegas. “Tidak. Kau tetap di rumah. Aku khawatir jika Amora melihatmu di sana, dia akan salah paham.” Lucy memegang tangan Vicktor erat, suaranya gemetar penuh kepura-puraan. “Aku takut, Vick. Aku takut Amora menuduhku yang tidak-tidak. Demi Tuhan, aku tidak mencelakainya…” Vicktor menatap matanya dalam. “Tenang, Sayang. Aku percaya padamu. Tidak ada yang akan mencurigaimu.” Lucy pun mengangguk, seakan lega. Dan begitu mobil Vicktor melaju meninggalkannya, wajahnya perlahan berubah. Senyum licik merekah di bibirnya. Ya, dia memang sengaja menghabisi Robert—agar cintanya pada Vicktor tak lagi terhalang siapa pun. Lucy berdiri angkuh di ruang tamu, menatap bayangan dirinya di kaca besar dengan senyum kemenangan. Dalam hatinya, ia merasa lebih unggul dari Amora. Dulu, saat masih SMA, Vicktor tega menolaknya hanya demi cinta seorang Amora—gadis pintar, kaya, dan tampak sempurna di mata semua orang. Kini keadaan berbalik. Amora yang gendut, tubuhnya di penuhi lemak terlihat menjijikkan. “Amora… dendamku belum berakhir. Masih banyak kejutan indah menantimu,” bisik Lucy, bibirnya menyeringai puas. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika pikirannya teringat sesuatu. Matanya membelalak. “CCTV!” serunya, lalu berlari panik menaiki tangga. Nafasnya memburu saat melewati lorong panjang hingga tiba di sebuah kamar yang dipenuhi layar monitor. Tangannya gemetar saat mengetik cepat, mencoba membuka rekaman. “Aku harus segera menghapusnya sebelum terlambat,” gumamnya. Ya, Lucy ingin menghilangkan barang bukti video CCTV yang mengarah ke kolam renang. Namun, tiba-tiba wajah Lucy berubah menegang. Di kotak penyimpanan, tempat memori card seharusnya tersimpan, sudah kosong. Flashdisk itu hilang entah kemana. “Sial!” teriaknya, memukul meja begitu keras. “Siapa yang lebih dulu mengambilnya?” Nafasnya semakin berat, matanya liar menyapu ruangan seakan mencari jawaban. Ada seseorang yang diam-diam menyusup kedalam rumah itu.Deru mesin mobil sport milik Amora meraung membelah kesunyian malam. Jalanan kota yang mulai sepi menjadi saksi bisu bagaimana wanita itu melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kemudi erat-erat, sementara tangan kirinya berulang kali mengusap pipi yang basah oleh air mata.Tangisan tanpa suara itu belum benar-benar terhenti. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang terasa menipis.Murahan.Kata itu terus berdengung di telinganya seperti kaset rusak. Kali ini, Maverick benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya menginjak harga dirinya, tetapi juga menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat tumbuh di hati Amora."Lima puluh kali lipat?" Amora berbisik getir, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang bergetar. "Akan kukembalikan, Maverick. Detik ini juga aku akan lepas dari nerakamu!"Pikirannya langsung berputar mencari jalan keluar. Tidak masalah jika ia harus menjual sebagian besar saham pribadinya di perusahaan. Baginya, kehilangan materi j
Cengkeraman tangan Maverick baru terlepas saat mereka tiba di depan mobil Amora. Tanpa sepatah kata pun, Maverick merebut kunci dari jemari Amora yang masih gemetar."Mav, mobilmu—""Biar diurus anak buahku," potong Maverick pendek. Suaranya serak, dingin, dan tidak membantah. Ia memberi isyarat samar pada salah satu pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di area parkir, lalu membuka pintu kemudi mobil Amora dan masuk begitu saja.Amora menghela napas panjang, menahan kekesalannya sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.Begitu pintu tertutup, Maverick langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuat jantung Amora berdegup kencang. Amora menoleh, mendapati rahang suaminya masih mengeras, lurus menatap jalanan di depan seolah-olah jalan aspal itu adalah musuh bebuyutannya.Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam dan menyesakkan."Mav, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita ke
Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d
Bugh! Bugh!Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Darius hingga pria itu tersungkur ke lantai teras kayu. Vicktor tidak peduli lagi pada pistol di tangan Darius yang sudah terjatuh, tidak peduli pada jeritan histeris Lucy yang memohon agar ia berhenti. Nafas Vicktor memburu, dadanya naik turun dihantam badai murka yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Kau dan bajingan ini... benar-benar sampah!" desis Vicktor dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.Ia menatap Lucy yang bersimpuh memeluk Kelly. Tatapan Vicktor begitu dingin, seolah wanita di hadapannya tak lebih dari seonggok kotoran. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Vicktor berbalik. Ia melangkah lebar meninggalkan rumah tua itu, mengabaikan teriakan panggilan Lucy yang menangis sekencang-kencangnya.Di dalam mobil, Vicktor mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kalut. Kepalanya terasa mau pecah.Bodoh! Kau sangat bodoh, Vicktor! rutuknya pada diri sendiri.Ingatannya berputar ke
"Daddy! Mommy! Tolong aku! Aku takut" teriak Kelly dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.Penculik itu mendengus di balik maskernya. Ia mengacungkan pistolnya ke arah kepala Kelly. "Jangan banyak drama. Serahkan koper itu sekarang!" gertaknya dengan suara yang disamarkan.Vicktor maju beberapa langkah, meletakkan koper itu di atas lantai teras kayu, lalu mendorongnya perlahan menggunakan kaki. "Lepaskan putriku sekarang. Uangnya ada di dalam."Pria bermasker itu berjongkok dengan satu tangan tetap menodongkan pistol ke arah Kelly. Tangan satunya membuka ritsleting koper dengan cepat. Begitu koper terbuka, matanya menyipit tajam. Di bawah lapisan uang dollar teratas, ternyata hanya ada tumpukan potongan kertas koran dan uang pecahan kecil. Jumlahnya jauh dari dua ratus ribu dollar."Brengsek!"Penculik itu berteriak murka. Dengan penuh amarah, ia menendang koper itu hingga melayang ke udara, membuat isinya berhamburan berantakan di tanah. "Kau berani mempermainkanku?!"Dala
Maverick tidak memberi Amora kesempatan untuk memprotes lebih jauh. Dengan satu gerakan mulus yang mengejutkan, ia berdiri dan langsung mengangkat tubuh Amora ke dalam gendongannya."Maverick! Turunkan aku! Apa-apaan sih?!" Amora memukul dada bidang Maverick, kakinya menendang-nendang di udara.Maverick sama sekali tidak menggubris. Ia melangkah lebar menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuh Amora ke atas kasur yang empuk. Sebelum Amora sempat berguling untuk kabur, tubuh besar Maverick sudah mengungkungnya dari atas, mengunci kedua tangan Amora di sisi kepalanya.Aroma maskulin yang pekat langsung mengepung indra penciuman Amora. Kesadaran mendadak menghantamnya dengan keras. Ia tahu persis ke mana arah tatapan lapar di mata suaminya itu."Aku harus ke kantor, Mav! Aku ada rapat penting jam sembilan pagi!" seru Amora panik, napasnya mulai memburu melihat jarak wajah mereka yang hanya tersisa beberapa sentimeter. "Aku harus mandi sekarang juga—""Kantor bisa menunggu, Amora. Tapi aku ti







