ANMELDEN"Kumohon, angkat teleponnya, Zakie! Jangan membuatku gila seperti ini!" jerit Kemala dengan suara yang serak dan tubuh yang gemetar hebat di dalam kamar apartemennya yang berantakan. Ia terus menekan tombol panggil pada gawainya, namun hanya suara operator yang menjawab secara berulang-ulang.Di atas meja riasnya yang mewah, tumpukan surat tagihan utang dari bank dan beberapa rentenir pasar gelap sudah menggunung dengan cap merah bertuliskan peringatan terakhir. Kemala berjalan mondar-mandir laksana singa kelaparan yang terkurung di dalam kandang sempit, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh gaun sutranya."Ini tidak mungkin terjadi! Semuanya sudah aku atur dengan sangat rapi! Zakie seharusnya sudah berhasil membawa Erinka pergi dan memeras Sugalih untuk menyerahkan takhta perusahaan hari ini!" ratap Kemala, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang tebal hingga tampak sangat mengerikan.Tepat pada saat itu, layar televisi besar di sudut kamarnya y
"Apakah kamu melihat angka-angka ini, Nak Marlon? Ini benar-benar tidak masuk akal! Semua grafik pergerakan saham kita melonjak tegak lurus ke atas!" seru Sugalih dengan suara yang bergetar hebat karena rasa tidak percaya yang bercampur dengan kegembiraan yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah layar monitor raksasa yang memenuhi dinding ruang rapat utama.Marlon yang duduk di ujung meja panjang hanya tersenyum tenang, menatap papan elektronik bursa saham internasional yang menampilkan warna hijau pekat untuk kode emiten Megah Hardiyata Group. "Ini baru permulaan, Pah. Ketika sebuah produk medis menjadi satu-satunya jawaban atas krisis global, maka pasar finansial dunia tidak punya pilihan lain selain tunduk pada nilai produk.""Tapi Nak Marlon, kenaikan ini sudah mencapai batas atas penolakan otomatis di beberapa bursa saham saking cepatnya perdagangan berjalan!" tambah Sugalih lagi, tangannya sedikit gemetar saat menyeka keringat dingin di keningnya. Sebagai seorang pebisnis senior,
Pagi itu, langit di atas kota Jakarta diselimuti oleh kabut abu-abu yang pekat, seolah mencerminkan suasana mencekam yang sedang melanda seluruh dunia. Berita-berita di televisi dan media sosial tidak lagi menyiarkan tentang politik atau hiburan, melainkan deretan angka kematian yang terus melonjak naik setiap jamnya. Sebuah pandemi global yang mengerikan mendadak melanda berbagai belahan dunia, memicu kepanikan massal di kalangan masyarakat dari semua lapisan sosial. Rumah sakit di kota-kota besar mulai penuh sesak, dan obat-obatan konvensional sama sekali tidak mampu membendung laju infeksi paru-paru yang menyerang dengan sangat cepat.Di tengah situasi yang sangat kritis ini, suasana di dalam pusat kendali operasi Megah Hardiyata Group justru tampak bergerak dengan kecepatan penuh dan disiplin yang sangat ketat. Ratusan layar monitor besar menampilkan data permintaan logistik, peta penyebaran penyakit, serta jalur pengiriman barang yang dijaga ketat oleh tim keamanan. Peluncura
"Apakah kamu benar-benar yakin dengan persentase royalti ini, Nak Marlon? Bagi perusahaan, ini adalah kesepakatan yang teramat sangat menguntungkan," ujar Sugalih dengan mata yang sedikit membelalak tak percaya. Ia menatap lembaran draf kontrak kerja sama baru di atas meja kerjanya.Marlon yang sedang duduk santai di hadapan bapak mertuanya hanya mengangguk tenang dengan senyuman tipis. "Aku sangat yakin, Pah. Tujuan utamaku mendaftarkan paten ini atas nama pribadi bukanlah untuk memperkaya diri sendiri secara tamak.""Aku hanya ingin mengunci hak kepemilikan agar tidak bisa dimanipulasi oleh musuh-musuh kita di masa depan," lanjut Marlon, suaranya mengalir dengan sangat halus namun tegas. "Bagi saya, kemajuan finansial dan kejayaan Megah Hardiyata Group adalah hal yang paling utama demi kedamaian hidup Erinka."Sugalih menarik napas dalam-dalam, merasakan keharuan yang mendalam di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Menantunya yang semula dianggap sebelah mata oleh keluarga besar
"Apakah kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini, Marlon? Mengapa kamu tidak mendaftarkannya langsung atas nama korporasi Megah Hardiyata Group?" tanya Sugalih dengan kerutan yang cukup dalam di dahinya. Ia menatap menantunya itu dari balik meja kerja di ruang kerja CEO.Marlon yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela kaca besar hanya tersenyum tipis. Ia membalikkan tubuh tegapnya secara perlahan, lalu menatap sang bapak mertua dengan sorot mata elang yang penuh dengan ketegasan mutlak."Aku sangat yakin, Pah. Jika formula Yellow Pil ini didaftarkan atas nama perusahaan, maka hak kepemilikannya akan menjadi milik bersama seluruh pemegang saham," jawab Marlon, suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki penekanan yang tidak bisa dibantah. "Papah tahu sendiri bagaimana liciknya sisa-sisa kaki tangan faksi Adam dan Andhika di luar sana. Mereka hanya butuh satu celah hukum kecil untuk merebut kembali aset ini melalui manipulasi dewan komisaris."Sugalih terdiam, mencerna kata
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kaca tebal di lantai tujuh laboratorium utama Megah Hardiyata Group. Pendar cahayanya memantul di atas jajaran tabung reaksi dan mesin inkubator biometrik steril. Udara ruangan berbau antiseptik tipis, dipenuhi deru halus sistem penyaring udara yang terus bekerja.Di tengah laboratorium yang dijaga ketat pasukan Alpha, Erinka berdiri dengan jubah medis putihnya. Ia menatap lurus ke arah botol vial kaca kecil berisi cairan keemasan yang berkilau pekat. Matanya yang lelah mendadak berbinar cerah, memancarkan rasa lega yang teramat sangat mendalam.Perjalanan untuk mencapai detik ini bukanlah hal yang mudah bagi tim riset medis Hardiyata. Sejak faksi Adam dan Indra disingkirkan, cetak biru proyek pneumonia lama harus dirombak total. Bahan kimia berbahaya yang sengaja disisipkan demi menekan biaya produksi kini telah dibuang sepenuhnya.Di bawah pengawasan ketat Marlon sebagai mentor, arah penelitian diubah seratus delapan puluh derajat. Mereka f
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya
Erinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon. “Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per