LOGINKabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k
"Ini adalah dokumen terakhir yang harus kamu tanda tangani sebelum tim bergerak ke sektor barat, Marlon," ucap Tante Goldies sembari menggeser sebuah map kulit berwarna hitam.Marlon tidak segera meraih map tersebut, ia hanya menatap permukaannya dengan sepasang mata elang yang tampak begitu tenang namun sedingin es. Di dalam ruang komando utama yang kedap suara itu, atmosfer ketegangan militer terasa sangat pekat menindas udara."Apakah ini berarti seluruh sisa jaringan Kobra Hitam di Asia Tenggara telah berhasil dipetakan oleh unit intelijen kita, Tante?" tanya Marlon dengan suara rendah."Benar. Mereka berkumpul di sebuah pelabuhan logistik swasta di pinggiran pulau. Ini adalah kesempatan emas untuk memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya," jawab Tante Goldies tegas.Marlon perlahan menarik map kulit itu, membukanya, dan menyisir setiap baris data taktis yang tertera di atas kertas dokumen dengan sangat jeli. Jari-jari tangannya yang kekar berotot mengetuk meja marmer secara ritm
Pent house yang luas itu terbungkus dalam kesunyian yang mencekam setelah kepergian Marlon dari hiruk-pukuk kelab malam. Hanya ada suara desis halus dari pendingin ruangan yang berembus konstan, menemani langkah kakinya yang terasa berat menapak di atas lantai granit hitam.Marlon melempar kunci mobil sport miliknya ke atas meja kaca tanpa memedulikan bunyi dentingannya yang menggema tipis di dalam ruangan. Ia melangkah menuju kamar mandi utama, bermaksud membasuh seluruh sisa penat dan rasa anyir yang masih membayangi pikirannya.Lampu kamar mandi yang benderang seketika menerangi sosok tubuhnya yang tegap berotot saat ia melucuti kemeja hitam satinnya. Di depan cermin besar, Marlon berdiri mematung sembari menatap pantulan dirinya sendiri dengan sepasang mata elang yang tampak begitu sayu.Pandangannya perlahan turun, menyisir lekuk-lekuk otot dadanya yang kokoh hingga berhenti tepat di bagian perut sebelah kiri. Di sana, di atas kulitnya yang kecokelatan, terdapat sebuah bekas luka
Malam di sudut ibu kota selalu menawarkan gemerlap yang sama. Bagi Marlon Pramudya, semua kemewahan itu perlahan berubah menjadi sekadar fatamorgana yang membosankan. Di usianya yang menginjak dua puluh lima tahun, rutinitasnya terasa seperti lingkaran tanpa ujung.Membunuh musuh organisasi di kegelapan malam, lalu menenggelamkan diri dalam pelukan wanita cantik. Dua hal yang dulunya memacu adrenalin, kini terasa sangat hambar. Jiwanya seolah mati rasa, terkikis oleh tumpukan mayat dan desahan yang silih berganti.Siang tadi ia baru saja menyelesaikan laporan taktis bersama Tante Goldies. Malam ini, ia sudah berdiri di koridor VIP kelab malam paling eksklusif, The Red Velvet. Kemeja hitam satinnya terbuka tiga kancing atas, memamerkan dada bidang berbulu halus.Namun, matanya yang sedingin es tidak lagi memancarkan gairah berburu. Ada kabut kejenuhan yang tebal di balik tatapan mata elangnya. Langkah kakinya yang tegap membawanya menuju sebuah ruangan privat di ujung lorong.Di dalam
Deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam tebing-tebing karang di kawasan Uluwatu, Bali, terdengar bagai gemuruh yang menenangkan jiwa yang terluka. Di atas tebing terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk pusat pariwisata, sebuah vila mewah bergaya tropis minimalis berdiri kokoh, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan kamboja dan pagar batu alam yang tinggi. Bagi dunia luar, vila tersebut hanyalah sebuah properti peristirahatan milik seorang ekspatriat kaya raya. Namun bagi Marlon, tempat ini adalah sebuah suaka rahasia, sebuah pelarian pelepasan hasrat yang paling ia butuhkan setelah melewati badai pertempuran yang paling mengerikan sepanjang kariernya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai bloody killer, Marlon baru saja menghadapi sebuah konfrontasi skala penuh di sektor barat yang hampir saja merenggut nyawa mudanya akibat kepungan ratusan prajurit bayaran bersenjata berat.Meskipun ia berhasil menghancurkan seluruh markas musuh tanpa menyisakan satu pun nyawa,
Langit di atas sektor barat ibu kota malam itu tampak laksana kanvas hitam yang koyak, menumpahkan hujan badai yang sangat deras disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar membelah kegelapan. Gemuruh guntur yang bersahut-bersahutan seolah menjadi musik latar yang sempurna bagi bentangan takdir berdarah yang sebentar lagi akan digulirkan oleh jaringan The Shadow of Death. Di bawah guyuran air hujan yang pekat, sebuah kompleks pergudangan logistik tua yang terletak di pinggiran pelabuhan tampak mati dan sunyi dari luar. Namun di balik dinding-dinding beton tebal berlapis baja itu, faksi mafia gabungan lintas negara sedang mempersiapkan sebuah konspirasi besar untuk memutus total jalur suplai bisnis persenjataan rahasia milik Tante Goldies. Tindakan nekat tersebut adalah sebuah deklarasi perang terbuka yang secara otomatis mengaktifkan protokol pembersihan total dari sang hakim terakhir dunia bawah tanah.Bagi Marlon, yang kini telah memasuki usia dua puluh lima tahun dengan kemat
Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila







